Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 939 - Mengintai dan Membunuh Diam-diam


__ADS_3

"Entah berapa banyak minyak yang mereka butuhkan, tetapi aku yakin penghasilan besar minyak dalam Indonesia akan habis jika terus di bawa oleh pemerintah itu..." Kata Aditya.


"Daerah tersebut mampu menghasilkan 365.827 barel per hari dengan rincian minyak mentah sebanyak 359.777 barel dan kondensat sebesar 6.050 barel..."


"...dengan kecanggihan teknologi dan sistem mereka maka menghabiskan sumber daya minyak itu bukanlah masalah, kita hanya perlu mencegahnya secara diam-diam."


Wilhelm memperlihatkan sebuah layar yang menunjukkan banyak sekali titik merah yang mengartikan banyak sekali musuh di wilayah Riau yang sudah mengambil alih berbagai macam lokasi.


Semuanya juga sudah tertahan oleh militer Indonesia, tetapi mereka kebetulan berada di lokasi terdekat dengan jumlah pasukan pemerintah yang bersenjata kuat sampai salah satunya juga menguasai Mana.


"Semua hasil minyak ini diperoleh dari Kepulauan Natuna yang memiliki enam blok pertambangan yaitu Rokan, Mountain Front Kuantan, Siak, Coastal Plains dan Pekanbaru, Selat Malaca, dan Selat Panjang."


"... kebetulan kita berada di Coastal Plains sekarang... rencana yang paling efektif adalah diam-diam menghabisi mereka seperti ular yang bergerak di dalam rumput lebat." Kata Aditya yang menyiapkan senapan sniper.


"salah satu senjata andalan Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat buatan Pindad yang sempat bikin heboh dunia ya..." Kata Wilhelm sambil melihat Aditya memberikan sniper itu kepada dirinya.


"Selain Amerika Serikat dan dua negara di Eropa, Indonesia juga ternyata mampu memproduksinya..."


"...SPR 2, senapan anti material ini merupakan anggota senapan array presesi tinggi."


"SPR-2 ialah senapan tembakan tunggal, memiliki aksi baut dengan penglihatan optik dan a malt baffle muzzle brake untuk mengurangi kekuatan hentakan."


"Tak hanya itu, sniper berkaliber peluru 12,7 mm ini juga dilengkapi teknologi yang mampu melihat sasaran di malam hari."


"Deretan kemampuan SPR-2 antara lain bisa menembus kendaraan tank baja, memiliki jangkauan tembak hingga 2 Km dan memiliki 3 efek amunisi sekaligus yaitu menembus, membakar dan meledakkan." Kata Aditya yang mulai memasang peredam suara pada SPR-2 itu.


Andrian dan Wilhelm melakukan hal yang sama dengan memasang peredam suara itu untuk membunuh beberapa pasukan aliansi secara diam-diam karena memasuki medan tempur secara langsung sama saja dengan bunuh diri.


"Jika situasi memburuk sampai kita terpaksa untuk berperang maka gunakan senjata kedua yang kita simpan yaitu SSX..."


"...SSX memiliki jarak tembak efektif hingga 800m, mengalahkan AK-47, senjata legenda ciptaan Rusia, yang hanya di kisaran 300m."


"SSX fleksibel untuk menjadi senapan serbu maupun penembak jitu, dengan barel yang bisa diperpanjang untuk coverage yang lebih jauh."


"Baiklah... hanya kita bertiga saja sudah cukup untuk menghentikan perampasan minyak, semoga saja kita bisa selamat dan bertemu dengan Jenderal yang memegang aliansi ini." Kata Andrian.


"Adit, kami sudah dekat dengan lokasi..."


"...baik, helikopter akan datang selama dua jam."


Wilhelm menggunakan sebuah teropong untuk melihat situasi di depannya, ia bisa melihat seseorang mengenai baret merah yang memiliki lambang aliansi itu.


"Aku melihat salah satu kapten... dari aliansi itu, ia terlihat seperti memegang sebuah koper atau semacamnya..." Peringat Wilhelm.


"Bagus... kita tidak begitu jauh, tetaplah sunyi, ayo bergerak." Kata Aditya yang mulai merangkak ke depan untuk menjaga keberadaannya dari semua pasukan aliansi itu.

__ADS_1


Mereka semua mulai bangkit lalu jongkok karena area tersebut terlihat aman, namun pasukan aliansi itu sudah mengepung mereka agar tidak bisa mengunjungi pusat pengambilan minyak itu.


"Raden Aditya, cobalah untuk tidak terluka lagi." Kata Andrian.


"Kau khawatirkan dirimu sendiri." Jawab Aditya yang memimpin dari depan dengan melihat sekitarnya.


"Kendaraan datang... turun..." Peringat Aditya, mereka semua langsung tiarap dan bersembunyi di balik rumput untuk menghindari perhatian dari semua pasukan yang datang melalui kendaraan itu.


Mereka bertiga dapat mendengar jelas percakapan pasukan aliansi itu, "Manusia memang akan mendapatkan kembali puncak yang sangat atas ketika berhasil menerima banyak sumber daya untuk menyeleksi proyek."


"Bukan hanya proyek saja yang dapat kita selesaikan melainkan semua persenjataan kita akan bertambah kuat, para Jenderal pasti akan merasa senang untuk melakukan perang dengan bangsa asing."


Semua kendaraan itu melewati mereka semua tetapi Wilhelm dapat mendengar suara langkah tepat di dekatnya, ia mengeluarkan sebuah pisau lalu menusuk leher tentara itu dan menjatuhkannya di atas tanah.


Jika ia tidak membunuhnya maka tentara tersebut bisa saja melihat Andrian dan Aditya, "Ayo..."


Mereka bertiga kembali bergegas dengan melangkah pelan-pelan ke depan selagi memperhatikan sekitar untuk menghindari gerombolan musuh, "Dua bangsat di arah pukul dua belas..."


"Jatuhkan mereka..." Aditya dan Andrian mulai membidik menuju arah pukul 12 melalui teropong di sniper mereka masing-masing.


Aditya melebarkan matanya ketika melihat kedua pria itu mengangkat tubuh jasad semua tentara Indonesia yang sudah gugur bahkan salah satunya masih hidup dan menerima sengatan tongkat listrik.


Salah satu pria itu menempati mayat tersebut di atas tanah, Aditya dan Andrian langsung menarik pelatuk yang melepaskan dua peluru untuk menghancurkan kepala kedua pria tersebut.


"Aman." Mereka semua maju ke depan, melihat banyak sekali jasad tentara yang sudah gugur salah satunya orang yang habis tersiksa itu sudah mati karena kehabisan darah.


"Mereka memang merampas apapun dengan cara paksa... melihat mereka semua tersiksa seperti itu karena mereka, aku tidak bisa memaafkannya begitu saja."


"Tujuh orang..."


"...sekarang!" Seru Aditya.


Mereka semua membidik menuju kepala para pasukan itu sampai menghancurkannya tanpa sisa ketika menerima peluru dari SPR-2 yang tidak memerlukan aliran Mana karena sudah cukup kuat.


Mereka bergegas maju ke depan lalu melakukan tiarap secepat mungkin ketika melihat banyak sekali kendaraan di hadapan mereka, pasukan aliansi itu juga berjumlah cukup banyak.


"Jangan melakukan tindakan bodoh, prajurit..." Peringat Andrian karena ia yakin mereka bertiga tidak cukup untuk menghabiskan semua pasukan itu sekaligus.


Wilhelm melihat melalui teropongnya, semua tentara militer Indonesia itu menerima banyak tembakan dari jarak dekat yaitu kepala bahkan salah satunya sambil di masukkan ke dalam mulut seperti granat.


Wilhelm mulai memberitahu mereka untuk melewati arah barat selagi merangkak pelan-pelan karena semua pasukan itu hanya akan menghabiskan waktu lebih lama lagi.


"Dua bangsat di atas jembatan... tunggu sampai kendaraan di depan mereka lewat maka kita hancurkan kepala mereka." Peringat Aditya yang sudah membidik salah satu kepala tentara itu.


"Jatuhkan." Aditya dan Wilhelm menebak kepala mereka berdua lalu Andrian menarik kedua tubuh pria itu ke dalam sungai untuk menyembunyikan jasad mereka.

__ADS_1


Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju bangunan yang dipenuhi dengan menara, banyak sekali tentara di atas menara itu dengan senjata sniper dan mortar yang mereka semua pegang.


Andrian berpapasan dengan tentara di hadapannya yang langsung ia tarik lalu menghantam wajahnya di atas daratan, setelah itu ia menusuk lehernya dan mengambil amunisi yang ia miliki.


"Bagus, aku sudah bisa melihat mesin pengambilan minyak itu... terlihat begitu canggih, banyak sekali tentara yang menjaganya."


"Aku dan Andrian akan pergi diam-diam menuju mesin itu, lebih baik kau menjaga di salah menara itu untuk membunuh beberapa tentara yang menghalangi jalan kita, Wilhelm."


"Roger!" Wilhelm mulai menaiki tangga di hadapannya yang membantu dirinya tiba di atas menara.


Ia bisa melihat seorang tentara yang sedang tertidur di hadapannya, Wilhelm mendekati pria itu lalu menutup mulutnya dan menusuk leher pria tersebut sampai tubuhnya melemas.


Wilhelm mulai mengamankan lokasi di hadapannya dengan membidik beberapa tentara yang menghalangi jalan mereka berdua, banyak sekali tentara yang berjarak lima meter dan sepuluh meter darinya.


Aditya dan Andrian melewati beberapa bangunan yang sudah rusak, melihat banyak sekali jasad tentara Indonesia dan aliansi yang tentunya sudah dibunuh oleh Wilhelm dari atas menara.


"Tempat ini aman..."


"...aman? Terlihat sangat kosong, mesin penggali itu ada di depan kita." Andrian menunjuk mesin yang merebut banyak sekali sumber daya minyak.


Aditya mengeluarkan sebuah bom tempel kecil melalui sakunya lalu ia memberikannya kepada Andrian yang bisa melempar bom itu menuju sasaran baik tanpa diketahui oleh para tentara yang sedang sibuk merokok dan minum kopi.


"Kakek, aku bisa mendeteksi lambang elang di bagian tengah lokasi itu... bangunan yang memiliki lambang aliansi itu, salah satu Jenderal itu sedang beristirahat di dalam sana."


"Aku mendengarnya... setelah kita menghancurkan semua mesin itu, bersiaplah untuk melakukan perang!" Aditya mengeluarkan tombol yang dapat meledakkan bom tempel itu.


Andrian melemparnya langsung menuju mesin tersebut lalu Aditya menekannya sampai menarik perhatian banyak sekali tentara terhadap ledakan tadi sampai mereka semua langsung menerima banyak tembakan dari senapan otomatis mereka.


"Wilhelm! Cepat lari ke sini sekarang juga, kita tidak bisa mengintai lagi... perang secara terbuka adalah salah satu cara untuk membunuh Jenderal itu!" Seru Aditya.


"Dalam perjalanan!" Jawab Wilhelm yang menggantikan SPR-2 dengan SSX untuk menyingkirkan semua tentara yang menghalangi jalannya di depan.


Mereka bertiga berperang secara terbuka, rompi yang mereka kenakan mulai diperkuat dengan aliran Mana untuk menahan beberapa tembakan sampai mereka bisa mengamankan diri menuju bangunan kosong.


Namun...


"Serangan mortar---" Sebuah rudal yang dilepaskan oleh mortar itu terjatuh tepat di hadapan mereka sampai mendorong mereka ke belakang.


Wilhelm sempat terjatuh karena dirinya yang berada paling dekat dengan ledakan rudal itu, Aditya segera membantu dirinya sampai mereka bertiga mulai mengganti rencana dengan melarikan diri dari serangan mortar.


Ledakan rudal yang dilepaskan mortal itu terjadi dimana-mana sampai mereka perlu berhati-hati kemana harus pergi, mereka juga menerima banyak sambutan dari para tentara dengan senapan otomatis yang diperkuat oleh Mana.


"Sial...! Kita tertekan..." Aditya melihat banyak sekali tentara di sekitarnya, sebuah rudal juga berada dalam penerbangan menuju arah mereka tetapi seseorang berhasil meledakkannya.


"... ...!?" Mereka bertiga terkejut ketika melihat pesawat berbentuk kucing mulai datang, mulut dari pesawat itu terbuka lebar sampai mengeluarkan banyak senapan minigun yang membasmi semua tentara di antara menara yang mengendalikan mortar.

__ADS_1


 


"Bala bantuan...?"


__ADS_2