
Futsu merapatkan giginya ketika ia merasa dihina oleh cucunya sendiri, Zenzaku memberi dirinya kesempatan untuk menghapus eksistensi Kou secara keseluruhan dengan senjata yang berada di tingkatan tak terbatas.
Futsu memegang erat senjata itu sampai bilah dari sabit tersebut mengeluarkan banyak sekali aura merah dan hitam yang menyelimuti tubuh Kou.
Kou hanya bisa diam selagi menatap Futsu, sabit itu menusuk lehernya cukup dalam tetapi Kou tidak bisa merasakan apapun dari efek Founder's Origin.
Semua luka dan tekanan yang ia rasakan bukan seberapa karena sesuatu yang berkuasa dan tak terhindar masih bisa di kalahkan dengan kekuatan alaminya dari The Mind yang di campur dengan pembangkit potensi penuhnya.
Dengan bantuan Bloodlust, Kou tidak perlu takut dengan risiko yang ia dapatkan karena tubuhnya sudah kebal dengan apapun sekarang bahkan ia dalam waktu yang dekat bisa melakukan seluruh macam manipulasi.
"Apa yang terjadi...? Seharusnya Founder's Origin adalah senjata yang tidak bisa di hindarkan...?! Apapun lawannya, lawan itu sudah pasti akan kalah secara seratus persen!" Ungkap Zenzaku dengan tatapan panik.
"Pikiranku dapat melakukan apapun... anggap saja aku sudah bisa menggunakan imajinasi dan pikiran untuk melakukan apapun." Kou memegang bilah sabit itu.
"Dengan memikirkan sebuah kehancuran... semuanya bisa terjadi secara instan, termasuk memanipulasi takdir yang mutlak. Hanya perlu memikirkan dan membayangkan saja sudah cukup."
"Menyerang otakku tidak akan bisa menghentikan diriku... aku tidak memiliki kecepatan karena semuanya berjalan secara alami, senjata dari Founder's Origin ini." Kou hanya menyentuhnya saja.
Setelah itu, senjata tersebut langsung patah hanya dengan satu kata yang ia keluarkan, pikirannya saat ini tidak sedang memikirkan apapun kecuali membunuh semua keturunannya yang sudah rusak.
"Kutukanku ini sebenarnya membuat diriku kuat jika aku dapat memanfaatkannya dengan baik... sekuat apapun lawan yang mencoba untuk menghadapiku..."
"...tidak ada jaminan untuk kemenangan karena The Mind dan tubuhku yang tidak dapat di sentuh karena sudah berada di level yang berbeda."
"Omnipotent, Omniscient, Omnipresent... aku tidak akan bisa kalah begitu saja dengan hal seperti itu, karena aku hidup... sebagai anak surga... dan anak terkutuk yang melakukan tugas aslinya."
"Aku dapat mengubah segalanya mulai dari sekarang... era kerajaan bisa saja aku cegah tetapi aku tidak ingin mengacaukan sesuatu yang seharusnya terjadi secara asli."
Kata-kata yang dikeluarkan oleh Kou mampu membunuh Futsu beberapa kali tetapi ia tidak bisa mati, bukan hanya Futsu saja tetapi seluruh keturunan Comi yang berada di sekitarnya merasakan hal yang sama.
"Dengan kekuatan The Mind, aku juga dapat memasukkan sebuah tulisan ke dalam tubuh kalian... anggap saja kalian itu seperti buku yang dapat aku ubah kapan pun."
"Semuanya dapat aku masukan... maupun itu makhluk hidup atau benda mati, semuanya bisa aku tambahkan dengan sesuatu..."
"... Founder's Origin dan semua senjata yang memiliki efek semutlak apapun mendapatkan takdir yang tidak bisa di putuskan yaitu membunuhku sendiri..."
"...dan semua benda mati itu memiliki nyawa di pandanganku sampai menganggap diriku sebagai penguasanya." Perkataan Kou membuat Zenzaku terus berkeringat dingin.
"Apa...!? Bagaimana produk yang gagal sepertinya...?! Bisa memiliki kekuatan dan kemampuan mengerikan seperti ini...!?" Zenzaku memasang tatapan kesal.
"Aku sudah mendapatkan jalanmu menuju Legenda yang layak, Zenzaku. Bukan hanya amarah atau perjuangan yang dapat memberikan dirimu jalan..."
"Walaupun aku marah, kemarahan tidak akan bisa mengubah apapun... Diriku sudah berjuang untuk bertahan hidup dengan menahan semua kutukan dan penyakit yang dapat membunuhku dalam waktu dekat."
"The Mind tidak akan bisa di lawan dengan apapun... sesuatu yang alami jika di hancurkan akan menghancurkan segalanya juga..." Kou memejamkan kedua matanya sampai mengeluarkan banyak darah hitam melalui matanya.
"Jalan yang menerima diriku sebagai Legenda yang layak... kekuatan dengan menerima apapun yang melanda dirimu, aku menerima penyakit dan kutukanku!"
"Jalan yang aku tempuh adalah penerimaan atas semua penderitaan, kesulitan, dan kutukan yang semua keluargaku rasakan!!!" Kou melepaskan suara keras sampai menghentikan konsep takdir untuk Touriverse.
Zenzaku yang sedang memperhatikan langsung terhempas ke belakang sampai ia terjatuh di atas takhtanya dengan lengan Holy Corpse nya yang putus seketika sampai kondisinya mulai pingsan seketika.
Kou mengembalikan konsep takdir itu, dan mencoba untuk tidak mengulanginya lagi karena tadi ia telah menerima amarah yang dapat menghancurkan apapun secara instan.
__ADS_1
Dia menerima kesakitan dan takdir buruknya bukan untuk mengubah atau menghancurkan sesuatu karena takdir yang asli atau konsep dunia asli harus di biarkan maju dengan sendiri tanpa mengalami gangguan apapun dari anak-anak surga.
"Arwah anak surga berkeliaran sepertiku tidak dapat menghabiskan waktu yang lama menggunakan Bloodlust..." Perkataan Kou langsung membuat semua sepupu dan tantenya melayang di atas langit.
"Katrina Comi, Sabrina Comi, Kojima Comi, dan Kotoko Comi... kalian semua akan menikmati akhir kehidupan kalian di dalam mimpi yang tidak akan bisa di hindari..."
"...dunia mimpi itu adalah tempat terakhir kalian yang tentunya akan menerima kapan pun dan siapa pun, tidak ada yang dapat kalian lakukan selain menikmati mimpi itu."
Kou mengubah mereka semua menjadi batu merah, Futsu melebarkan matanya ketika melihat keberadaan mereka semua menghilang seketika sampai ia mencoba memperbaiki Founder's Origin itu.
"Percuma saja, Kakek~ sejarah atau kekuatan sebesar apapun... tidak akan bisa melawan potensi asli dari The Mind yang masih berada di nol persen." Kou menunjukkan senyuman yang tidak berdosa walaupun tubuhnya dipenuhi darah.
Futsu langsung merasa sangat ketakutan, perasaan itu sampai sempat membunuhnya tetapi ia tidak bisa mati karena Kou menulis keabadian tanpa batas di dalam tubuh Futsu.
"Aku sudah menulis keabadian tiada batas untukmu, Kakek~ kamu tidak boleh menghindari seperti itu dari cucumu sendiri..." Kou melebarkan senyumannya yang polos.
Kou mulai menunjuk leher Futsu lalu memaksa dirinya untuk menatap tepat di wajahnya itu yang saat ini masih menunjukkan ekspresi yang begitu polos sampai ia terlihat tidak berdosa.
"Ayahku lahir sebagai pembunuh berdarah dingin... ibuku lahir sebagai Legenda yang terkutuk dengan penuh penderita dari keluarganya sendiri..."
"...aku menerima semuanya menjadi satu, walaupun aku berdosa. Semuanya dapat diperbaiki karena aku masih bisa di bilang anak surga." Kou terkekeh.
"Ibuku yang lahir... seharusnya menerima perlakuan yang sama dengan kedua putri yang kau asuh itu, lahir lemah bukan berarti dirinya akan terus gagal di masa depan."
Tubuh Futsu dipenuhi dengan keringat dingin bahkan wajahnya terlihat sangat ketakutan, ia sudah tidak bisa menganggap dirinya sebagai dewa agung Sacred lagi jika dipermalukan oleh produk gagal seperti Kou.
"Aku mempelajari banyak hal dalam kehidupanku... di mulai dari nol sampai menengah, dipenuhi dengan penyakit dan kutukan bukanlah hal yang buruk."
"Yang pentingnya adalah seberapa lama dan jauh kau akan bertahan... sesuatu yang lemah bisa menjadi sesuatu yang berkuasa jika mereka mau menerima sesuatu dan berubah."
"Neraka tidak layak untukmu... kematian juga, sedalam-dalamnya neraka... semua itu masih belum cukup untuk sesuatu yang busuk."
"Tidak... aku mohon..."
"...biarkan aku memperbaiki semuanya..."
Kou hanya bisa tersenyum lebar dengan penuh keikhlasan ketika mendengar Futsu memohon.
"berikan... aku kesempatan, cucuku... jangan bunuh kakekmu..."
"...ampuni semua perbuatan Kakekmu yang busuk ini..." Futsu mulai menangis dan tidak bisa bergerak sama sekali karena rasa ketakutannya itu.
Kou hanya bisa tersenyum, "Kakek..."
"A-A-A-A-Apa...?"
"Mengampunimu adalah urusan Ibuku... membuat menderita adalah urusanku." Kou memegang wajah Futsu dan menunjukkan senyuman ikhlas terakhirnya kepada Futsu.
"Mimpi yang indah ya, Kakek~" Kou tersenyum sambil memejamkan kedua matanya sehingga tubuh Futsu berubah menjadi merah dan ia mulai mengalami mimpi tiada batas yang terus membunuhnya dengan cara yang sadis.
Seluruh keturunan Comi telah Kou masukkan ke dalam mimpi yang tidak akan bisa berhenti, mimpi itu adalah kehidupan terakhir mereka yang dipenuhi dengan penderitaan tanpa batasan apapun.
Kou telah melaksanakan tugas yang tidak dapat Korrina laksanakan sejak itu, rasanya begitu memuaskan untuk keseluruhan tubuhnya sampai semua garis merah itu menghilang seketika.
__ADS_1
Kedua mata Kou yang berwarna merah berubah kembali menjadi biru sehingga bulan merah itu berubah kembali seperti biasanya, Kou menghela nafasnya lega.
"Mama... aku berhasil, aku sudah melaksanakan apa yang seharusnya di lakukan oleh dirimu sejak itu." Kou menatap kedua tapaknya, ia tidak mendapatkan risiko apapun.
"A-Apa yang kamu lakukan, Kou...?"
Terdengar suara Haruka di belakang Kou, mendengarnya saja sudah membuat dirinya tersenyum dengan puas karena ia berhasil melakukan sikap layaknya seperti pendosa yang sudah membantai seluruh Legenda yang memihak kerajaan Comitsu.
"Aku membunuh mereka semua..."
"...melakukan apa yang seharusnya Mama ingin lakukan sejak itu, semua keturunan Comi sudah aku bantai habis. Hanya tersisa kita yang asli..."
"...dipenuhi dengan kutukan." Kou berjalan menghampiri Haruka lalu memeluk dirinya erat, dan melepaskan tangisan yang begitu keras.
"AKU MERINDUKAN, MAMAAAAAA!!!" Teriak Kou keras karena perasaan kehilangan Ibunya tidak bisa diperbaiki dengan mudah sampai ia terus memikirkan kondisi Korrina yang terjebak di dunia lain atau bisa disebut dengan [Outerverse].
"Kou..."
Haruka hanya bisa diam karena ia dikejutkan dengan aksinya yang begitu mengerikan karena berhasil menghancurkan satu kerajaan dan meratakan semuanya tanpa menerima luka apapun.
***
"Untuk sekarang, Neko Isle akan berada di kondisi yang baik-baik saja..."
"...anggap saja Neko Isle sebagai kerajaan juga, dan kau adalah rajanya, Meko." Hana tersenyum.
Hana bersama kepala desa Neko Isle yang bernama Meko mulai mendiskusikan era kerajaan yang telah bangkit kembali, mereka tidak perlu mengkhawatirkan tentang perselisihan itu.
Hana akan tetap bersama mereka semi melanjutkan mimpi dan tujuan Minami yang sebenarnya, melindungi semua bangsa Neko Legenda lalu melatih mereka semua sampai memiliki masa depan yang sama dengan Minami.
".... ..." Hana menghela nafasnya lalu ia mendorong Meko mundur, dan melesat ke belakang untuk menghantam wajah seorang Legenda yang sedang menguping.
Pukulan itu mengenai wajah Legenda itu sampai menghempas dirinya ke atas langit, mereka mulai muncul tepat di atas udara selagi menatap satu sama lain.
"Apa yang kamu inginkan dari Neko Isle? Kami tidak menerima raja atau penjajahan..." Kata Hana dengan tatapan serius.
"Ternyata kau memenuhi harapanku... pukulan itu mengingatkan diriku kepada pemberontak yang paling berbahaya bernama Shimatsu Arata."
"Ayah...?!" Hana tercengang ketika mendengarnya, ia bisa melihat Legenda di hadapannya memiliki penampilan yang begitu kuno.
"Aku tidak sabar untuk melakukan sedikit tes menghadapi penerus dari Arata sebelum meratakan kembali seluruh bangsa Neko Legenda itu..."
"Meratakan kembali seluruh bangsa Neko Legenda...?" Hana menaikkan alisnya.
"Aaaahhhhhhhhh...!!!" Meko menjerit ketika melihat Legenda yang saat ini sedang berhadapan dengan Hana.
"Ada apa, Meko?! Apa yang terjadi...!?" Tanya Hana dengan tatapan serius.
"Dia adalah..."
"...se-seorang raja... raja yang berasal dari zaman kuno, dia satu-satunya Legenda berdarah dingin yang sudah membantai habis Neko Legenda!!!"
"Raja dari segala Legenda berdarah dingin..."
__ADS_1
"...Regulus Khan!"