
"Apa yang terjadi, Haruka? Apakah mereka baik-baik saja...?!" Tanya Bakuzen.
"... ..." Kou terjatuh seketika dengan kedua matanya yang mati karena ia bisa membaca pikiran Haruka dengan jelas sampai ia mengetahui situasinya.
"Kou...!" Ophilia mulai menghampiri Kou lalu melihat ekspresi yang terlihat datar, tidak ada ekspresi yang ia tunjukkan, hanya kehampaan yang bisa ia lihat dan rasakan.
"Mama! Mama! Mama!" Shinobu mulai menarik-narik baju Kou agar bisa menyadarkan dirinya.
"... ..." Kou memejamkan kedua matanya lalu ia menundukkan kepalanya ketika mengetahui masalah lainnya yang terasa menyakitkan, lubang di dalam hatinya itu bertambah lebih besar dari sebelumnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi...!?" Tanya Bakuzen dengan tatapan yang terlihat kesal karena situasi di sekelilingnya terdengar begitu hening.
Haruka berjalan keluar dari dalam gua itu selagi menggendong Hinoka yang masih tertidur, "... ..."
"Hinoka...!" Bakuzen mulai mendekati Hinoka lalu ia menggendong putrinya lalu memeriksa kondisinya.
"Hinoka baik-baik saja... hanya saja..." Haruka menggigit bibirnya sangat keras sampai mengeluarkan darah.
"Honoka... sudah... meninggal..."
"...beberapa menit yang lalu..." Air mata mengalir deras melalui kedua matanya tetapi ekspresinya terlihat seperti menahan emosi.
Mereka semua langsung terkejut seketika, kejutan yang mereka dapatkan sangat besar karena Legend kuat seperti Honoka yang dapat mengendalikan realitas di nyatakan gugur di situasi seperti ini.
Jantung mereka berdetak begitu cepat bahkan salah satu dari mereka tidak dapat menggerakkan tubuhnya karena kejutan itu, Bakuzen masuk ke dalam gua itu lalu ia terkejut dengan tubuh Honoka yang hancur.
"... ...!!!" Bakuzen melebarkan kedua matanya sampai air matanya mengalir keluar, ia mulai memberikan Hinoka kepada Haruka.
"HONOKAAAAAAA....!!!" Teriak Bakuzen keras, ia memeluk tubuh mayat Honoka yang sudah tidak memiliki esensi kehidupan apapun d dalamnya.
Gua itu mulai hancur seketika, berubah menjadi udara sampai menunjukkan tubuh Honoka yang hancur, sebagian dari mereka terkejut ketika melihatnya dan merasa takut karena seseorang yang melawannya ternyata cukup sadis.
"Honoka...?" Ucap Ophilia pelan.
"Tidak mungkin... oi... ini mustahil bukan!?" Tanya Haruki dengan tatapan yang terlihat kaget karena ia tidak menyangka seseorang akan membunuhnya dengan cara sadis seperti itu.
"Siapa yang bisa... melakukan hal ini kepadanya?!" Tanya Arata selagi mengepalkan keduanya sehingga Kuro yang berada di dalam dirinya merasakan sesuatu yang tidak asing.
"Tidak mungkin...!!! Semua ini mustahil...!!! Mana mungkin istriku akan mati seperti ini...!!!" Seru Bakuzen keras selagi menghantam daratan sampai hancur.
"Haruka...! Kau bisa menggunakan sihir waktu bukan!? Mundurkan waktu... cepat... tolong lah..."
"...selamatkan istriku...!!!"
Haruka hanya bisa diam dengan air matanya yang terus mengalir, ia menggelengkan kepalanya untuk memberikan Bakuzen jawaban bahwa pengunduran waktu dapat mengubah situasi menjadi jauh lebih buruk.
Haruka mulai memberikan Hinoka kepada Ophilia untuk menggendongnya sebentar karena ia ingin menunjukkan kemampuan pengunduran waktu itu di hadapan mereka.
"Time-Rewind..."
ZBAASSHHH!!!
Haruka terpental ke belakang sampai ia terjatuh di atas tanah, Koizumi langsung menghampirinya, "Mama...! Ada apa?!"
"Hukum surga melarangku untuk mengundurkan waktu... kematian adikku... sudah resmi tertera di dalam batu takdir." Kata Haruka sehingga ia menutup wajahnya sendiri.
"Aku juga sudah melakukan pengunduran waktu beberapa kali... tetapi... sejak aku pilih dari kelumpuhan itu..."
"...aku tidak dapat menggunakannya!" Haruka memegang erat rambutnya, ia mulai menangis karena kehilangan adik adopsinya yang terasa seperti adik kandung dekat baginya.
Mereka semua bertambah semakin kaget sampai tidak bisa melakukan apapun kecuali berduka cita kepada Honoka yang sudah gugur, Bakuzen juga tidak bisa melakukan apapun kecuali berlutut di hadapan mayat istrinya.
"Maafkan aku..." Ucap Kou pelan.
"Kenapa kamu meminta maaf, Kou? Kamu jelas tidak bersalah." Kata Arata.
"Tidak... maafkan aku... maafkan aku...! Maafkan aku...!!!" Ucap Kou selagi memegang erat rambutnya.
Kedua air matanya mengeluarkan banyak air mata sampai ia menganggap kematian Honoka sebagai kesalahannya juga, Shinobu mulai memeluk Kou dari belakang sampai memenangkan dirinya.
"Mama..."
"Koneko..." Kou memegang erat tangan Shinobu lalu ia menatap Honoka di hadapannya dengan tatapan bersedih.
"Sialan... siapa yang sudah melakukan ini...?!" Kou merapatkan giginya kesal.
"Kita harus mengubur tubuh Honoka... agar ia bisa hidup lebih tenang lagi." Kata Yuuna yang mulai mendekati tubuh Honoka tetapi Bakuzen menghentikan dirinya.
"Tidak... setidaknya... biarkan aku menghabiskan waktu sebentar saja bersamanya..." Ucap Bakuzen yang mulai memeluk erat tubuh mayat Honoka.
Situasi hening, perasaan sedih dan kesal muncul di hati mereka masing-masing bahkan air mata mereka sampai mengalir keluar karena Honoka sendiri telah melakukan banyak hal menguntungkan selama hidupnya.
Mereka memiliki rasa hormat yang besar kepada seorang Legenda yang sering menggunakan sihir realitas untuk memperbaiki sesuatu bahkan membantu mereka semua.
Kematian Honoka tidak terasa sia-sia karena ia menyelamatkan harapan yang di serahkan kepada anaknya sendiri yaitu Hinoka.
Hinoka perlahan-lahan membuka kedua matanya, ia bisa melihat Koizumi sedang menggendong dirinya dengan ekspresi yang terlihat khawatir dengan sepupunya itu.
"Koizumi~ Pagi~!"
"Ya... pagi... Hinoka." Ucap Koizumi pelan, ia menurunkan Hinoka sampai kedua pipinya mulai di raba oleh Hinoka.
"Kenapa dengan wajah itu? Mana ekspresi kejam dan dingin yang selalu kamu tunjukkan?" Tanya Hinoka dengan tatapan yang terlihat begitu ceria.
Melihat Hinoka bangun dari tidur siangnya membuat situasi bertambahnya semakin sulit, mereka tidak tahu harus mengatakan apa kepada Hinoka yang masih kecil, polos, dan ceria.
"Aku baru saja tidur siang dengan Mama... dimana Mama?" Tanya Hinoka.
__ADS_1
Hinoka melihat Bakuzen yang sedang memeluk tubuh Honoka selagi menangis, ia segera menghampiri Ayahnya dengan tatapan yang terlihat bingung karena Bakuzen.
"Papa... kenapa kamu menangis...?" Tanya Hinoka selagi memiringkan kepalanya.
"Hinoka..." Bakuzen terkejut ketika melihat putrinya sudah bangun, Hinoka mulai menatap Honoka yang terlihat masih tidur siang baginya.
"Mama! Mama! Bangun...! Mari kita makan!!!" Hinoka mulai melompat-lompat selagi meraba kedua pipinya.
Hinoka terus memanggil Honoka dan mengajak dirinya untuk makan tetapi ia tidak mendapatkan jawaban apapun sampai ia mulai merasakan sesuatu yang janggal, Honoka tidak menjawabnya sama sekali.
"Mama masih tidur ya... Mama bilang tidak boleh tidur siang terlalu lama, nanti jadi pemalas." Kata Hinoka sambil menatap Bakuzen.
"Papa! Mama baru saja bersikap nakal dan tidur siang lama!" Ucap Hinoka dengan tatapan polosnya itu.
"Hinoka... maaf..." Bakuzen mencoba untuk memberitahu putrinya yang masih berumur tiga tahun tentang kebenaran yang menyakitkan.
"Mulai dari sekarang... kamu tidak perlu bermain dengan Mama lagi ya...? Kamu memiliki kedua sepupumu itu bukan?" Tanya Bakuzen yang mulai memeluknya.
"Ehh...? Kenapa aku tidak boleh bermain dengan Mama? Sebelum tidur siang, Mama mau mengajakku untuk makan dan bermain."
"Hinoka... dengar ya, sayang... Mamamu akan tidur untuk selamanya, beristirahat... itu artinya dia bisa bermain denganmu lagi bahkan memperhatikanmu..." Ucap Bakuzen.
"Ehh...? Kenapa...?" Ekspresi Hinoka yang tadinya ceria dan terlihat begitu berubah seketika, ia terlihat kebingungan dan khawatir ketika mengetahui Honoka tidak akan bermain dengannya.
"Mamamu sudah bertemu dengan waktunya... kematian... kamu tahu kan...? Orang yang sudah bertemu dengan waktu kematian tidak akan pernah bisa bersama dengan kita lagi untuk selamanya..."
Bakuzen mengatakannya dengan perasaan yang terus bertambah sakit bahkan Haruka bersama yang lainnya hanya bisa diam, merasa malang kepada Hinoka yang di tinggalkan oleh ibunya di umur tiga tahun, masa-masa yang begitu polos bagi anak-anak sepertinya.
"Itu artinya... Mama tidak mau bangun dan bermain lagi...?" Tanya Hinoka.
"Itu benar... sebelum itu, Mama pasti memberitahumu untuk tetap kuat dan bermain dengan Papa bersama kedua sepupumu itu bukan...?"
"Tapi... aku masih ingin bermain dengan Mama." Hinoka menatap Honoka dengan tatapan khawatir, ia mulai berpikir bahwa Honoka sedang marah kepadanya sampai tidak mau bermain lagi.
"Mama, bangun... sudah pagi... bangun..." Hinoka mulai menggerakkan tubuh Honoka dengan tatapan yang terlihat khawatir sekarang.
"Sudah cukup, Hinoka... Mama akan merasa sedih jika kamu terus bermain dengannya."
"Tetapi... aku... aku tidak nakal, aku menurut kepada Mama...!" Hinoka mulai memeluk Honoka erat.
"Mama...! Bangun...!"
"Mama ingin menunjukkan sesuatu yang hebat kepadaku...! Mama ingin memasarkan hidangan enak untukku...!"
"Kesenanganku bersama Mama masih belum berakhir...! Mama, ayo bermain lebih lama lagi! Aku berjanji akan memakan semua sayuran!" Hinoka tersenyum lebar selagi menatap wajah Honoka.
"Mama masih belum bangun... Papa, tolong bangunkan Mama..." Hinoka mulai menarik baju Bakuzen.
"Tidak bisa, nak... Mamamu tidak bisa bermain dan menemani dirimu lagi... dia sudah beristirahat dan tidur untuk selamanya..."
"Papa! Aku mohon... Mama... Bangunkan Mama!" Hinoka mulai menarik lengan Bakuzen agar ia mau membangunkan Honoka untuk dirinya karena ia ingin bermain lebih lama lagi dengannya.
"Maaf, Hinoka... tidak bisa... mulai dari sekarang, bermain dengan Papa dan kedua sepupumu itu ya."
"Hinoka... sudah ya... kita pergi bermain yuk." Koizumi mulai mengajak Hinoka karena Haruka meminta dirinya untuk menjaga Hinoka sekarang.
"Kak Hinoka... ayo... main..." Ajak Shinobu sambil menyentuh jarinya dengan jari lainnya, Kou juga meminta Shinobu untuk menenangkan Hinoka.
"Boleh! Tapi aku masih ingin bermain dengan Mama... Mamaku tidak mau bangun... tolong bantu...!" Hinoka mulai menarik lengan Shinobu dan Koizumi untuk membantu dirinya membangunkan Honoka.
"Maaf, Hinoka... Mamamu... Mamamu sudah tidur dengan damai, dia tidak akan bangun... dia sudah beristirahat tanpa gangguan apapun." Kata Koizumi.
"Tidak mungkin...! Aku belum melakukan kesalahan apapun...! Aku masih bersikap seperti gadis yang baik, tidak melakukan kesalahan apapun!" Hinoka mulai menatap Honoka kembali.
"Itu benar kan, Mama...? Aku tidak nakal kan... aku tidak pernah menyusahkan Mama... iya kan...?"
Hinoka terus menanyakan Honoka tentang sebagai macam sampai ia tidak mendapatkan jawaban apapun darinya, mereka semua hanya bisa diam ketika melihat Hinoka terlihat begitu polos sampai ia tahu bahwa Honoka akan meninggalkannya untuk selamanya.
"Mama tidak menjawab... sepertinya aku memang bersalah ya..." Hinoka menundukkan kepalanya, ia mulai duduk di sebelah Honoka.
"Mama, maafkan aku ya... mungkin aku berbuat salah tanpa di sadari." Hinoka meraih tangan Honoka lalu menciumnya.
"Aku sudah meminta maaf, Mama! Sekarang... Ayo main, Mama!" Hinoka mulai menarik lengan Honoka sampai ia bisa merasakan tubuhnya tidak mau bergerak sama sekali.
"Mama... kenapa Mama masih tidak mau bangun...?" Tanya Hinoka dengan tatapan khawatir sekarang.
Bakuzen mulai memegang erat kedua bahu Hinoka, "Sudah ya, Hinoka... biarkan Mamamu beristirahat dengan tenang di atas sana."
"Jika kamu terus mengajaknya maka dia akan bersedih di atas sana..."
"Bidadari membawa Mama pergi...?" Tanya Hinoka dengan tatapan berbeda sekarang, Bakuzen bisa melihat ekspresinya yang terlihat sedih sekarang.
"Tapi aku... aku tidak melakukan keburukan apapun kok... aku tidak nakal, aku menurut kepada Mama..." Hinoka mulai menatap Honoka.
Kedua matanya berkaca-kaca seketika, ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari ibunya sendiri sehingga ia mulai merasa bersalah.
"Mama tidak mau bangun karena aku nakal dan cerewet ya..." Hinoka mulai memeluk tubuh Honoka erat, mencoba untuk memanggilnya beberapa kali.
"Mama...! Mama...! Mama...!"
"Mama! Mama...! Mama... bangun dong..."
"Hinoka kesepian... aku kesepian... aku berjanji tidak akan bersikap nakal lagi..."
"...mari kita lakukan janji kelingking." Hinoka menunjukkan senyumannya kembali lalu ia mengacungkan kelingkingnya dan mengangkat kelingking milik Honoka.
"Aku tidak akan nakal... aku akan menjadi gadis yang menurut dan kuat! Jika aku menghancurkan janji itu maka hukumannya adalah..."
__ADS_1
"...mmm... apa ya... Ahh! Hukumannya adalah aku tidak boleh manja kepada Mama!" Hinoka tersenyum kepada Honoka tetapi ia masih belum mendapatkan jawaban apapun.
"Mama memang marah ya... Mama tidak mau bermain denganku lagi...?" Hinoka menunjukkan ekspresi yang terlihat sedih sekarang.
"Mama, bangun... aku petik beberapa pir buat Mama ya!" Hinoka berjalan pergi lalu ia mengambil sebuah batu lalu mengubahnya menjadi pir dengan sihir realitas.
Hinoka menghampiri Honoka, terapi ia tidak sengaja terjatuh sampai hidungnya menabrak daratan cukup keras sampai berdarah, lututnya juga mulai tergores sampai berdarah.
"Aduh..." Hinoka mulai duduk di atas tanah sambil mengelus hidungnya itu yang mengeluarkan banyak darah.
Hinoka kembali bangkit, Koizumi terkejut ketika melihat kedua mata Hinoka berkaca-kaca, biasanya dia akan menangis ketika terjatuh tetapi sekarang ia menahan rasa sakit dan tangisannya itu.
"Hinoka..."
"Mama! Aku baru saja terjatuh dan rasanya tidak sakit...! Aku tidak menangis, aku gadis yang menurutkan sekarang?" Hinoka duduk di hadapan Honoka.
"Hinoka, hidungmu itu berdarah---" Koizumi mencoba untuk mengusap darah itu tetapi Hinoka memegang tangannya.
"Tidak sakit kok... aku baik-baik saja."
"Mama! Ini pir... makanan yang sangat Mama sukai adalah pir bukan, ini hadiah permintaan maafku." Hinoka menempati pir itu di atas tapak Honoka.
Honoka masih tetap diam, tidak mengatakan apapun sampai Hinoka mulai mengambil pir itu lalu mengupasnya menggunakan tangannya itu.
"Aku kupas ya, Mama... permainannya adalah saling menyuap!" Hinoka terkekeh lalu ia mendekati pir kepada mulutnya.
Hinoka bisa melihat Ibunya tidak memakan pikir itu bahkan mencium aroma pir yang selalu ia sukai, dirinya terlihat begitu diam dengan senyuman yang masih tertera di wajahnya.
"Oh, aku duluan ya? Kalau begitu..." Hinoka memakan pir tersebut.
"Mmm~ enak... sekarang Mama!" Hinoka mencoba untuk menyuapi dirinya lagi.
"Aku tidak bisa... aku butuh tempat." Haruki berjalan pergi karena ia tidak bisa menahan pemandangan yang ia lihat.
"... ..." Arata ikut membalikkan tubuhnya juga.
"Mama... tidak mau bangun... kenapa...? Kenapa, Papa...?!" Tanya Hinoka sambil menatap Bakuzen dengan tatapan yang terlihat takut dan khawatir sekarang.
"Mamamu tidak bisa bermain denganmu lagi, nak..." Ucap Bakuzen yang masih menangis karena ia merasa terharu melihat Hinoka yang begitu polos masih mau bermain dengan Honoka.
"Kenapa... kenapa...?! Koizumi...! Koneko... kalian pasti bisa membantuku untuk membangunkan Mama 'kan?!" Tanya Hinoka kepada kedua sepupunya.
Koizumi dan Shinobu hanya bisa diam selagi menatap arah lain, mereka sudah mengerti dengan arti kematian yang sebenarnya sampai mereka malang melihat Hinoka yang selalu bahagia telah kehilangan ibunya.
"Sudah ya, Hinoka... biarkan Mamamu beristirahat dengan tenang." Haruka mendekati Hinoka lalu ia mulai mengangkat tubuh Honoka.
"Mama mau di kemana kan?" Tanya Hinoka dengan tatapan yang terlihat bersedih sekarang.
"Aku akan membawanya... ke tempat tidur terakhirnya..." Ucap Haruka dengan tatapan yang terlihat sedih.
"Jangan dulu... tolong jangan membawa Mama pergi jauh-jauh dariku..." Hinoka mendekati Honoka tetapi Koizumi mulai menggenggam tangannya.
"Hinoka, Mamamu memintamu untuk bermain dengan kami, bagaimana kalau sekarang...?" Tanya Koizumi.
"Tapi Mama... aku masih belum... menunjukkan diriku sebagai gadis penurut yang hebat..." Kata Hinoka sehingga air matanya mulai mengalir keluar karena rasa sakit di bagian hidung dan lututnya.
Hatinya juga ikut tersakiti karena Honoka tidak menjawab apapun sampai ia merasa bahwa dirinya di benci sampai Hinoka terus di biarkan oleh Honoka.
"Aku tidak menangis, Mama... ini cuman... ini hanya... refleks karena terjatuh tadi... pasir masuk ke dalam mataku... perih, hehehe..."
"Mama! Ayo main~" Ajak Hinoka, untuk terakhir kalinya ia tidak mendapatkan jawaban apapun sehingga awan di atas yang menghalangi matahari mulai menghilang.
Matahari itu menyinari tubuh Honoka sampai Hinoka mulai mengingat dongeng yang selalu Honoka cerita sebelum ia tidur bahwa suatu saat nanti...
...Legenda akan tidur untuk selamanya, tidak pernah bangun karena mereka menikmati waktu istirahat untuk selama-lamanya.
Mereka dipindahkan ke dunia yang begitu indah dipenuhi dengan cahaya, di saat itulah Hinoka berpikir bahwa Honoka tertidur untuk selamanya karena di sebabkan oleh dirinya yang bersikap nakal.
"Apakah Mama pergi karena aku nakal...?! Aku mohon maafkan aku, Mama... aku tidak akan bersikap nakal lagi...!!!" Hinoka menjerit keras selagi melepaskan tangisan yang ia tahan.
"Aku tidak mau di tinggal oleh Mama...!!! Hiks... Mama...!!! Aku ingin bersama Mama...!" Hinoka mulai mendekati Haruka pelan-pelan selagi menunjuk Honoka.
"Tolong jangan tidur untuk selamanya... bangun, Mama... biarkan aku mendengarkan sambutanmu lagi..."
"...aku ingin ciuman dan kasih sayang Mama yang hangat...!" Hinoka terus menangis karena ia merasa bersalah ketika Honoka tidak mau menjawabnya.
"Jangan tinggalkan aku, Mama...! Aku masih ingin makan pir bersama Mama...!!!" Teriak Hinoka keras yang menangis seperti anak kecil, ini pertama kalinya ia menangis sekeras itu karena di tinggal oleh Honoka.
"MAMAAAAAA...! Hweeeeehhhhh...!!! MAMA...!!!" Jerit Hinoka keras.
"Mamamu tidak marah kepadamu, Hinoka... dia sungguh bahagia dan senang bahwa dirinya berhasil melahirkan gadis ceria sepertimu!" Haruka mulai berbicara.
"Jika kamu terus menangis seperti itu dan tidak membiarkan Mama beristirahat maka dia akan bersedih di atas sana..." Kata Haruka dengan perasaannya yang bertambah semakin menyakitkan.
"Tapi Mama... Mama...! Aku... jangan pergi...!" Hinoka mulai menghampiri Haruka yang membawa Honoka pergi.
"Apakah Mama pergi karena aku nakal...?! Hweeeeehhhhh!!! Mama...!!! Bangun, Mamaaaa...!!!"
"MAMAAAAAAA!!!" Hinoka terjatuh lagi, ia tidak bisa bangkit karena kedua lututnya yang mulai berdarah sampai ia melanjutkan tangisannya.
"HWAAAAAAAHHHHHHHH!!!"
"JANGAN PERGI...!!!"
"AKU GADIS YANG PENURUT... AKU MOHON MAAFKAN AKU, MAMA..."
"MAMAAAAAAAAAA....!!!"
__ADS_1