
"Selamat, Shuri...! Anda melahirkan tiga bayi laki-laki yang sehat, ini pertama kalinya aku mengatasi pasien yang melahirkan kepada tiga anak laki-laki kembar...!"
Shuri telah berhasil melahirkan tiga bayi kembar laki-laki sekaligus, ia untungnya masih diberi takdir untuk hidup tetapi dirinya saat ini sudah tidak bisa bergerak bahkan menggerakkan sedikit tubuh-nya saja tidak bisa karena rasa keram yang di alami dirinya mulai menyebar di sekitar tubuhnya.
Suster itu segera memberitahu suami Shuri untuk masuk ke dalam ruangan dimana Shuri berada, ekspresi suami itu terlihat sangat datar dan tidak menunjukkan perasaan apapun ketika ia baru saja mendapatkan tiga anak kembar, laki-laki itu masuk ke dalam ruangan Shuri dimana ia melihat istri-nya sedang berbaring di atas kasur dan tersenyum kepada diri-nya.
Laki-laki itu tidak mengatakan apapun bahkan ia tidak menanyakan tentang kondisi Shuri saat ini, ia hanya lebih mementingkan untuk melihat ketiga anak kembar-nya yang saat ini sedang tidur dengan damai. Shuri tidak merasa kecewa atau sedih karena dirinya sudah terbiasa dengan perilaku suami-nya kepada dirinya.
"Aku baik-baik saja, Shukaku... Lihat, berkat kepercayaan-mu... Aku mampu melahirkan tiga laki-laki kembar sekaligus, takdir kematian sepertinya tidak menyelimuti diriku ketika kau mencoba untuk melahirkan mereka semua..." Shuri tersenyum tipis, ia mencoba untuk duduk dan Shukaku segera membantu dirinya untuk duduk lalu ia bersama Shukaku mulai menatap keranjang bayi yang besar.
"Lihat-lah kaki dan lengan kecil mereka... Mereka terlihat sehat dan senang untuk bisa dilahirkan di dunia ini... Aku ingin sekali mencoba untuk menggendong mereka tetapi tubuhku terlalu lemah karena sudah melahirkan mereka." Ucap Shuri sambil menunjukkan senyuman pahit-nya.
Shukaku segera mengangkat ketiga bayi itu lalu ia mulai mendekatkan ketiga bayi itu dengan Shuri sampai ia bisa merasakan tubuh mungil dan kulit lembut mereka semua, "Ehehe... Sangat lembut... Sangat mungil..."
"Rambut mereka memiliki keunikan yang tersendiri... Anak kiri memiliki rambut hitam murni, anak tengah memiliki rambut emas murni, dan anak yang kanan memiliki rambut hitam serta beberapa helai rambut emas di sekitar rambut-nya..." Shuri terkekeh ketika melihat ketiga bayi laki-laki itu memiliki rambut yang berbeda, sepertinya mereka benar-benar kembar dan sedarah.
"Dia benar-benar mirip dengan Ayah-nya..." Ketiga bayi itu membuka kedua matanya sampai membuat Shuri kaget karena kedua matanya terlihat sama persis seperti dirinya, tetapi sebagian dari mereka memiliki warna pupil yang berbeda.
"Kau boleh memberi mereka nama sesuka-mu, Shuri..." Ucap Shukaku pelan, ia duduk di atas kursi dan menunggu untuk Shuri memikirkan nama.
__ADS_1
"Karena nama marga keluarga kita Shiratori... Mereka juga pasti akan memiliki marga itu ya... Hmmmmm..." Shuri mulai berpikir sambil memejamkan kedua matanya.
Shukaku menunggu dirinya untuk memilih nama, beberapa menit kemudian Shukaku masih menunggu sambil menatap anak-anaknya yang kembali tidur dan sebagaian dari mereka bangun hanya untuk bergerak sedikit demi sedikit sampai memegang erat tangan Shukaku dan membuat dirinya semakin diam.
"Aku akan memulai dari kakak tertua-nya yang memiliki rambut hitam... Dia bernama Shiratori Shinra! Adik yang berbaring disebelah-nya adalah Shiratori Shiro, dan adik terkecil mereka adalah Shiratori Shira...! Bagaimana!? Keluarga kita dipenuhi dengan nama yang diawali huruf S bukan!?" Tanya Shuri, ekspresi-nya terlihat bersemangat sampai membuat Shukaku mengangguk pelan.
"Jika kau menyukai nama-nama itu maka aku juga... Shinra, Shiro, Shira... Mereka benar-benar memiliki nama yang kembar juga." Shukaku mulai menepatkan mereka bertiga di sebelah Shuri dan Shuri mencoba untuk mengusap mereka dan ternyata bisa karena kekuatan dari seorang ibu yang mencoba untuk memberi kasih sayang kepada anak-nya sendiri.
"Hehehe... Aku sangat senang dan lega untuk bisa melahirkan mereka dengan selamat, aku lebih lega dan bersyukur lagi untuk melihat mereka bertiga yang lahir dengan sehat..." Shuri mengusap-usap pipi mereka sampai ketiga bayi itu mulai tertidur dengan pulas.
"Aku... tidak menjaminkan bahwa kehidupan keluarga kita akan terus berjalan dengan lancar, Shuri..." Ucap Shukaku pelan.
Shukaku memancarkan cahaya oranye ketika dia berada di ruangan itu, Shuri sempat terkejut sampai ia melebarkan matanya ketika Shukaku melakukan sesuatu yang bisa disebut sebagai sihirnya, contohnya dia pernah menggambarkan beberapa simbol di udara menggunakan cahaya-nya itu sampai Shuri diselimuti dengan cahaya hangat.
Cahaya hangat itu memberi dirinya efek kekebalan dan juga tenaga yang tidak terbatas, jadi Shuri sekarang mulai mengerti tentang identitas asli suami-nya... Jika Shukaku tidak melakukan ritual itu maka dirinya sudah pasti akan mati ketika melahirkan ketiga anak-nya, semua-nya bisa disebut masuk akal sih karena tidak ada satupun orang yang bisa mengetahui dunia dan rahasia-nya.
Shuri terlalu percaya diri tentang kehidupan damai-nya, kedamaian yang ia rasakan mulai hilang karena semakin hari berjalan semakin gejala aneh mulai terjadi dimana Shukaku mulai dipenuhi dengan garis-garis oranye di sekitar tubuhnya sampai ia mengalami demam tinggi yang membuat dirinya tidak bisa bergerak lagi kecuali berbaring di atas kasur-nya bernafas dengan berat.
Shuri sudah jelas akan khawatir karena dia sudah memanggil semua dokter dan semua dokter itu tidak mampu membantu Shukaku karena penyakit yang ia alami ini berjenis langka dan belum pernah diketahui sebelum-nya, beberapa tahun kemudian mulai berlalu dan kehidupan Shukaku sudah tidak aman ketika ketiga anak Shuri sudah berumur 20 tahun.
__ADS_1
Ketika Shuri masuk ke dalam kamar-nya, ia dikejutkan dengan sesosok berjubah hitam yang mengambil nyawa Shukaku, tubuh-nya mulai memancarkan cahaya yang silau sampai dirinya berubah menjadi partikel oranye yang mulai menipis lalu menghilang. Shuri tidak bisa bergerak karena gravitasi di dalam kamar-nya itu terasa berat.
Sesosok yang mengambil nyawa Shukaku segera pergi meninggalkan Shuri dengan menipiskan dirinya, Shuri tidak bisa melakukan apapun kecuali berlutut dan menangis sekeras mungkin karena ia tidak bisa membantu Shukaku, dia sudah benar-benar pergi meninggalkan dirinya sendiri bersama anak-anak yang sudah pergi untuk kulih.
Setelah pemakaman Shukaku, gejala aneh lainnya mulai terjadi dimana Shiro mulai dipenuhi dengan garis emas yang memancarkan cahaya silau, ketika Shuri mencoba untuk meraih tangan-nya untuk menyelamatkannya... Hal yang ia lakukan dirinya itu percuma karena tangan Shuri mulai menembus Shiro.
"Maafkan aku... Ibu..." Shiro menghilang.
Semakin hari berlalu, kedua mata Shuri terlihat mati bahkan pikiran-nya dipenuhi dengan pikiran negatif dan juga rasa depresi, ketika ia masuk ke dalam ruang kerja Shukaku... Sebuah kertas emas muncul di hadapan dirinya dan Shuri segera mengambil kertas itu lalu membaca-nya.
Kertas itu berisi tentang penjelasan reinkarnasi dan dunia paralel yang bernama [Touriverse], dimana Shukaku dan Shiro menghilang dari dunia asli ini karena mereka berdua dipilih untuk melakukan reinkarnasi ke dunia paralel, kehidupan mereka lebih berarti di dunia paralel yang bernama [Touriverse] itu.
Kertas itu juga mulai memberi Shuri informasi yang sangat penting bahwa Shukaku itu aslinya berasal dari dunia paralel yang melarikan diri dari dunia itu sampai ia sudah muak dengan dunia tersebut karena dipenuhi dengan konflik serta peperangan yang tidak masuk akal. Keluarga Shiratori sudah pasti akan mengalami reinkarnasi jika mereka semua mati di dunia asli ini.
Tetapi terdapat sebuah resiko dimana mereka semua akan mengalami reinkarnasi ke dunia yang berbeda-beda, sebenarnya dunia [Touriverse] ini ada dua, yang satu palsu dan yang satunya lagi asli. Keras itu mulai memberitahu Shuri bahwa Shukaku tereinkarnasi ke dalam Touriverse yang asli sedangkan Shiro tereinkarnasi ke dalam Touriverse yang palsu.
Ketika membaca surat itu, Shuri langsung dipenuhi dengan emosi amarah dimana ia segera merobek-robek keras itu menjadi bagian kecil, tetapi semua kertas bagian kecil itu mulai menciptakan kertas baru yang mengatakan bahwa kedua anak-nya akan menjadi korban selanjutnya untuk dipindahkan ke dunia paralel tersebut.
"Jangan memberikan diriku omong kosong...!!!" Teriak Shuri, ia segera menginjak keras itu tetapi keras tersebut muncul di hadapan-nya dan memperingati dirinya bahwa ia bisa menyelamatkan kedua anak-nya jika dia mau melakukan bunuh diri dan dipindahkan ke dunia paralel itu.
__ADS_1
"Apa...?"