Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 724 - Perbincangan Kebenaran


__ADS_3

"Mungkin... tidak ada gunanya bukan? Jika aku mencoba untuk mengatakan yang selalu aku ingin ucapkan di hadapan Ayahku sendiri." Shira mengatakannya dengan tatapan sedih.


"Ribuan tahun lamanya... dan hari ini, aku bertemu dengan Ayahku sendiri untuk pertama kali."


Shukaku hanya bisa diam selagi mengendalikan bintang yang berhasil ia serap, ia sudah mengakui sejak awa bahwa dirinya memang sudah gagal menjadi seorang Ayah ketika Shuri melahirkan tiga anak kembar yang unik.


Melihat ketiga anak memiliki perbedaan sendiri membuatnya tidak dapat mengendalikan situasi sehingga ia hanya peduli kepada Shinra yang sudah bisa mengatasi apapun sendirian sejak umur dua tahun.


Berbeda dengan Shira yang selalu bersembunyi di belakang Shuri, menangis dan bersikap seperti pengecut yang tidak mau berjuang seperti Legenda sejati, untungnya Shuri mengerti apa yang ia rasakan dan dia juga berharap bahwa Shukaku bisa mengerti juga.


"Aku sudah bertemu dengan Ibu sejak konflik Rxeonal muncul... beliau melatih diriku untuk tidak bersikap sombong dan naif..."


"...dia mengajarkan diriku untuk melakukan gerakan tanpa berpikir sampai aku sendiri sekarang bertarung dengan ketenangan tinggi karena nasehat dirinya." Shira menundukkan kepalanya.


"Aku tidak pernah bertemu secara langsung dengan Kakak Shiro tetapi aku sudah melihat Kak Shinra yang sempat menjadi musuhku sejak itu sampai kita bertarung lagi dan lagi..."


"...walaupun hanya beberapa tahun, aku tidak sempat mengunjungi dirinya lagi, dia sudah menghilang dan gugur ketika Zoiru menyerang bersama makhluk sihirnya itu."


Shukaku mendengar semua penderitaan Shira sejak awal, ia sendiri sudah melihat semua tetapi mendengarnya secara langsung membuatnya bertambah bersalah karena ia tidak bisa membantu sebagai seorang Ayah.


"Semua yang aku ingin tanyakan... mereka yang aku ingin terima kasih sayangnya telah menghilang begitu saja tanpa memberikan diriku jawaban yang ku inginkan..." Shira mengepalkan tinjunya.


"Ibu memberiku banyak harapan... Kak Shinra tidak pernah mengucapkan selamat tinggal kepadaku..." Shira mulai mengingat tentang kedua anaknya yang gugur sampai meninggalkan dirinya sendirian.


"Aku juga gagal menjadi seorang Ayah... gagal untuk melindungi mereka, mengerti perasaan yang selalu mereka sembunyikan sehingga yang aku ketahui... mereka sudah tidak ada lagi di sisiku." Shira mulai menangis dengan tatapan serius.


"Minami sebenarnya sejak kecil adalah seorang Neko Legenda ceria tetapi ia diperlakukan buruk oleh semua teman-temannya di akademi..."


"...dia berkembang cukup baik ketika mencoba untuk menyelamatkan temannya sendiri bahkan sampai akademi permohonan pun, dia tetap menjadi Legenda yang terkuat."


"Shuan juga sama... dia terlihat sangat mirip denganku sejak kecil, takut dan terus merasakan kegagalan yang tidak dapat membantu apapun sampai ia terus merasa frustrasi lalu menyerah begitu saja..."


"...mereka yang aku sayangi dan lindungi dengan sepenuh darahku... meninggalkan diriku bersama Megumi." Air mata Shira terus berjatuhan, Shukaku masih tetap diam di posisi.


"Jika di hitung... keturunan Shiratori sekarang hanya tersisa diriku dan cucuku Shinobu."


"Aku melihat takdir dengan jelas, tidak ada gunanya aku sembunyikan... Shinobu adalah keturunan terakhir dari Shiratori." Perkataan Shukaku langsung membuat Shira kaget.


"Ke-Kenapa bisa...?! Aku yakin dia dapat menemukan---"


"Untuk gadis seperti dirinya yang penuh dengan kutukan... lahir tidak sempurna sampai ia sendiri tidak dapat menarik perhatian para pria dengan penampilan setengah robot seperti itu." Jawab Shukaku.


"Apakah kau masih tetap ingin melanjutkannya? Membuat keturunan baru lagi dengan Megum---"


"Tidak bisa... jika aku memiliki anak lagi maka aku tidak mau kejadian yang sama terulang... kita tidak ingin kehilangan anggota keluarga yang begitu dekat..." Shira memegang erat celananya sampai air matanya terus berjatuhan.


"Ketika aku mengetahui dirimu sudah hidup... yang saat ini berada di hadapanku untuk melihat perkembangan serta curhatanku..."


"...melihatmu saja sudah mengingatkan diriku tentang banyak hal bahwa kau memindah diriku ke dunia nyata hanya untuk memberikan penderitaan tanpa batas, semuanya dapat aku ingat."

__ADS_1


Shukaku mulai berjalan pergi keluar dari kuil kuno itu untuk mengajak dirinya duduk di luar agar bisa melihat pemandangan cahaya yang begitu indah di dalam Realm of Light.


Shira mulai mengikutinya dari belakang lalu ia duduk di sebelah Ayahnya yang saat ini sedang menatap ke depan tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


Ia sudah tidak bisa menunjukkan ekspresi apapun sejak dulu karena ia memang Legenda yang tidak memiliki perasaan sejak mengetahui Touriverse ternyata akan terus memunculkan banyak konflik dan masalah baru.


Terkadang di sebabkan oleh calon pencipta dan orang lain yang berusaha untuk berkuasa lebih atas, Shukaku mulai mengingat dirinya sejak kecil pernah duduk bersebelahan dengan ayahnya yang bernama Shion seperti saat ini.


"Sejak itu... aku memiliki alasan sendiri kenapa diriku harus menyingkirkan ketiga anakku..." Shukaku mulai berbicara.


"Pada saat perang kerajaan menginjak puncaknya, semua raja memerintah para pasukan untuk mengumpulkan lebih banyak Legenda agar bisa bertarung, termasuk Legenda yang masih berumur kecil..."


"...mereka perlu bertarung demi melindungi kerajaan itu sendiri agar mereka tetap berjaya, sejak awal pola pikiranku tentang keadilan memang nol karena aku hanya memihak mereka yang sudah pasti akan merasa kemenangan."


"Aku lebih memiliki pihak kemenangan, itu artinya aku bisa di bilang tidak dapat di percaya dengan mudah karena akan terus membela hal yang berbeda setiap kemenangan mutlak yang ku lihat."


"Shinra awalnya tidak bisa mengikuti perang klimaks tetapi ia datang dalam waktu tepat untuk dipindahkan ke dunia lain yaitu alternatif agar ia dapat berlatih lebih giat lagi di sana..."


"...hanya kerajaan Legetsu yang di pimpin oleh Regulus dapat aku percayai sebagai pihak yang akan terus menang dan ternyata diriku memang benar."


"Aku juga bersikap peduli untuk pertama kalinya, rasa peduli untuk menyimpan sesuatu yang begitu yaitu kau, Shira."


"Ayahmu yang dulunya selalu menghancurkan apapun dan membunuh siapa pun yang menghalang pihak kemenangan itu telah berubah..."


"...aku memberikan banyak sejarah palsu kepada mereka yang sudah buta dengan pengetahuan serta keadilan termasuk dirimu sendiri yang seharusnya tidak ikut campur."


"Pihak kemenangan yang aku pilih... Regulus tidak bertahan cukup lama ketika planet Legenia mendapatkan serangan mendadak dari pasukan Diablo yang ingin mengakhiri bangsa Legenda karena terlalu merugikan."


"...bukan dunia yang seimbang jika masalah tidak ada, di situlah aku sadar untuk menyingkirkan dirimu ke dunia nyata agar kau tidak perlu merepotkan dan merasakan penderitaan di dalam dunia ini yang begitu kejam."


"Aku ingin putraku yang begitu cengeng bisa menikmati kehidupan biasa sebagai seorang manusia di dunia mereka... Seseorang yang mampu melupakan betapa menyakitkannya dunia ini..."


"Aku mencoba untuk mencegah Diablo sendiri karena pihak kemenangan yang aku lihat adalah diri sendiri berkat cahaya harapan dari bintang untuk menyegarkan Diablo dengan nyawaku sendiri..."


"...semuanya berhasil, aku tidak bisa selamat tetapi diriku tepat melanjutkan kehidupan baru di alam lain, berlatih sekuat ini selagi memperhatikan semua perjalanan yang aku tidak sangka akan muncul darimu."


"Perjalanan yang begitu panjang... sejak awal aku tidak mengharapkan dirimu untuk kembali agar kau tidak bisa melihat betapa kejamnya dunia ini dengan masalah yang terus bermunculan."


"Aku juga tidak ingin mereka mengetahui dirimu sambil membunuhmu karena semua orang yang mengenal diriku menganggap bahwa aku Legenda berbahaya yang dapat membunuh siapa pun dalam sekejap..."


"...itu benar... jadi aku tidak ingin mereka mengincar putra-putra ku. Semuanya aku anggap baik-baik saja tetapi mengetahui dirimu juga menderita di dunia asli membuat diriku bertambah semakin buruk."


"Kami juga tidak dapat memberitahu dirimu apapun atau menemui dirimu yang sudah pasti melupakan kita sejak dulu karena kau terlalu depresi..."


"...kami mengiri akan hidup panjang tetapi takdir mengatakan kita sampai kau berjuang sendirian lalu bertemu dengan cinta pertamamu yang membawa dirimu ke titik ini sampai banyak orang yang mempercayai dirimu sebagai Shiratori yang paling positif tidak seperti diriku."


"Aku sudah menyesal dengan aksi diriku yang dipenuhi riwayat jahat dan penyesalan... aku tidak ingin kau tahu semua keburukanku lebih lanjut lagi..." Kata Shukaku karena perkataannya tadi sudah cukup membuat Shira mengerti.


"Shira... aku tidak tahu kau akan melaksanakannya atau tidak tapi... keturunan Shiratori hanya tersisa dirimu dan Shinobu saja."

__ADS_1


"Tolong jaga Shinobu dengan baik..." Kata Shukaku karena ia juga mengharapkan banyak hal dari keturunan terakhir Shiratori yaitu Shinobu Koneko.


"Sudah pasti aku akan menjaganya..." Jawab Shira dengan tubuhnya yang terasa lemas sampai kedua air matanya terus mengeluarkan banyak air mata.


"Kita memiliki banyak perbedaan... kau sama sekali tidak memiliki riwayat keburukan dan berdosa seperti diriku yang perlu melakukan kejahatan demi memenuhi kebutuhannya."


"Walaupun kita berbeda, sebagai ayahmu... aku tetap bagi kepada seorang putri lemah yang sekarang telah menginjak tingkatan tak terbayang."


"Kau benar-benar anak yang baik... darah Ibumu yang membantu dirimu seperti ini agar kau tidak jatuh ke dalam jurang yang aku injak saat ini." Kata Shukaku dengan tatapan datarnya.


"Tidak ada yang harus aku katakan lebih lanjut lagi..." Shukaku mengangkat jarinya lalu ia menurunkannya sampai tubuhnya memancarkan sinar emas.


Shukaku berdiri tegak lalu menatap ke atas langit, "Aku sudah memberitahu dirimu semua kebenaran dan kejujuran yang selalu kau inginkan..."


"Aku adalah Legenda yang sudah gugur... keberadaanku perlahan-lahan kembali terhapus sesuai perintahku tetapi kau perlu membunuhku untuk bisa memuaskan rasa benci itu padaku." Shukaku menatap Shira yang terlihat kaget.


"Aku sudah tidak akan mengganggu dan membuat dirimu semakin membenci diriku... aku adalah Ayah yang buruk bahkan tidak bisa lagi di sebut Ayah olehmu karena sering menyembunyikan kebenaran."


"Aku terus berminta maaf dari jauh karena aku tidak ingin kau berurusan dengan kekejaman dari dunia ini... semuanya tetap terjadi sampai aku merasa semakin bersalah."


"Aku sudah menyampaikan semua kesalahan dan permintaan maafku demi kepentingan Shuri di atas sana..."


"...aku sudah mengatakannya." Shukaku menghela nafasnya lalu ia mulai berhadapan secara langsung dengan putranya sendiri.


"Sebelum aku pergi... aku merasa penasaran, apakah kamu menikmati kehidupan yang indah di sini? Apakah kau berhasil melindungi mereka yang kau sayangi dan cintai...?"


"Aku... tidak tahu, aku sudah mencobanya. Aku hanya bisa berharap bahwa diriku sudah melakukan yang terbaik." Jawab Shira.


"Sudah aku bilang sejak awal... diriku mengawasimu bersama Shuri di atas sana, kau memang memiliki kehidupan yang begitu kasar... Seperti roda berputar dimana kau akan selalu berada di atas dan bawah."


"Kau sudah bekerja dengan baik mengurusi semua kesulitan dan penderitaan itu sampai kau mendapatkan apa yang kau inginkan melalui kekuatan cahaya ini..."


Tubuh Shukaku perlahan-lahan menghilang sampai ia bisa melihat kedua kakinya telah berubah menjadi partikel karena ia membunuh dirinya sendiri sebelum Zenzaku mengetahui dirinya telah berkhianat.


"Sekarang... aku pikir kau dapat berubah menjadi keturunan Shiratori yang tidak memiliki riwayat keluarga buruk sepertiku dan kakek buyutmu itu... kau satu-satunya Shiratori yang tidak memiliki konflik antar keluarga..."


"Jika saja aku datang dan menemuimu sejak awal, melihat kedua matamu secara langsung lalu mengatakan semua kebenaran itu..." Shukaku mulai memberi putranya sebuah pelukan sebelum pergi.


Pelukan itu benar-benar menyentuh hatinya sampai ia bisa merasakan kasih sayang pertamanya dari Ayahnya sendiri, perasaan yang begitu berbeda dan mendalam sampai ia terdiam seketika.


"...jika saja semua kebenaran itu tersampaikan sejak awal maka aku tidak akan berdiri sebelum dirimu sebagai seorang kegagalan, memberitahu dirimu tentang semua ini..." Shukaku mulai menatap Shira lalu ia tersenyum ikhlas.


"Tapi... setidaknya aku ingin memberitahu semua kebenaran itu kepada dirimu, nak." Shukaku mulai mengelus kepala Shira dari belakang.


"...kau tidak perlu memaafkan diriku." Shukaku tidak menerima permintaan maaf apapun karena ia sendiri yang salah.


"Dan apa yang akan kau lakukan dari sekarang sampai seterusnya... ingatlah ini, putraku." Pelukan Shukaku mulai tidak bisa Shira rasakan sampai ia berubah menjadi partikel cahaya.


"Apapun yang terjadi... Aku akan selalu menyayangi dirimu dan tentunya... merasa bangga kepada putraku yang terkuat..." Shukaku tersenyum sampai arwah emasnya keluar dari dalam tubuh Ancient Legenda itu.

__ADS_1


Arwah Shukaku melayang ke atas langit dan ia masih tetap menunjukkan senyuman bangga itu, "Jagalah dirimu baik-baik..."


"...nak."


__ADS_2