
"Terima kasih... saya sangat berterima kasih kepada Anda... cahayaku... cahaya yang menerangi kegelapan ini... sungguh mengerikan..." Lelaki itu mengeratkan pelukannya sampai pipi Shinobu semakin merah.
"I-I-I-Iya..."
Lelaki itu melepas dirinya lalu ia menghapus olinya sehingga ia mulai memasang tatapan yang terlihat sangat senang bahwa dirinya perlu berterima kasih kepada Dewa Erion yang sudah menurunkan bidadari ini.
"Terima kasih... namaku adalah... Keith... saya tidak mengingat nama margaku tetapi saya sungguh berterima kasih kepadamu."
"Saya dapat melihat lagi..." Keith langsung memegang kedua tangan Shinobu sampai ia terus memasang tatapan yang terlihat malu karena dirinya terus di sentuh oleh seorang lelaki.
"Mm... senang bertemu... anu... denganmu... Sh-Shinobu Koneko... itu adalah namaku." Ucap Shinobu sehingga Koizumi langsung memisahkan mereka berdua karena ia merasa curiga kepada Keith.
"Jangan seenaknya menyentuh seseorang yang berbeda jenis seperti itu, dia adalah sepupu kecilku dan aku tentunya tidak akan membiarkan dirimu lebih dekat dengannya."
"Kakak... jangan seperti itu..."
"Ahh... maafkan saya... mungkin karena saya merasa terlalu senang untuk kembali bisa melihat, semuanya terasa lebih keajaiban."
"Angin memang memberkati diriku... Dewa Erion ternyata memang membantu... beliau peduli terhadap pengikutnya yang kesulitan sampai menurunkan bidadari seperti Shinobu."
"Saya... akan menerima semua kebaikan Anda... dan tentunya mengingat semua ini, sekarang... sekarang tujuan Legendaku sangat jelas."
Shinobu mengangguk lalu ia ikut senang untuk Keith yang berhasil menggapai kembali tujuan dan alasannya untuk hidup, "Kalau begitu... kamu harus tetap berhati-hati."
"Jangan sampai... kepercayaan itu membutakan dirimu kembali... anu... aku harap kamu bisa menggunakan semua berlian itu dengan baik dan benar." Shinobu mengangguk.
"Mm... tentu saja... saya akan memakainya untuk sesuatu yang berguna." Keith mengangguk lalu ia menyentuh tangan Shinobu kembali, dirinya memang tidak memandang fisik karena apa yang ia lihat sekarang sangat indah.
"Ini pertama kalinya saya melihat sebuah keindahan yaitu Anda... saya biasanya selalu melanjutkan kehidupan dengan angin yang membawa diriku ke jalan yang besar."
"Mungkin embusan angin yang membawa diriku menuju kerajaan ini memang benar... Dewa Erion, terima kasih... Shinobu Koneko... aku sangat berterima kasih."
"S-sama... sama... kalau begitu... anu... aku akan pergi sekarang... semoga kamu bisa melanjutkan kehidupan dengan baik... dan benar." Shinobu mundur beberapa langkah lalu menundukkan kepalanya.
"Anda akan pergi secepat itu...? Sungguh menyedihkan... ini pertama kalinya aku merasakan kebahagiaan... Anda adalah sumber kebahagiaan itu."
Shinobu terus tersipu merah sampai membuat Koizumi merasa jijik karena lelaki berusia enam tahun seperti dirinya rasanya ingin menjatuhkan hati Shinobu agar mencintai dirinya.
Namun, Keith tidak memiliki niat seperti itu karena dia merasa terlalu bersyukur untuk bisa melihat dan bertemu seseorang yang ia anggap sebagai bidadari yang turun karena berkah dari Erion karena sudah mempercayai jalan apapun kepadanya.
"Mulai dari sekarang... kamu harus bisa melanjutkan tujuan itu ya... jangan sampai tersesat dalam kegelapan itu karena cahaya--- tidak, angin pasti akan menyeret dirimu ke jalan yang benar."
"Mm... tentu... sungguh menyenangkan untuk bisa berbicara denganmu... apakah kita bisa menjadi teman...?"
"Tentu..."
"Kalau begitu... teman... janji ya..." Keith mengangkat kelingkingnya, Shinobu tersenyum polos lalu ia mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Keith untuk melakukan sebuah perjanjian kecil.
"Apakah suatu saat nanti... saya akan bertemu dengan Anda lagi, Shinobu?" Tanya Keith yang memasang tatapan sedih karena ia ingin sekali menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama dirinya.
"Tentu... teman akan selalu bertemu kembali... anu... janji tadi mungkin akan mempersatukan kita kembali--- Tidak... maksudku... anu..."
"Aku pergi... dulu!!!" Shinobu langsung melarikan diri dari Keith karena ia tidak bisa menahannya lagi, berbicara atau berdekatan dengan seorang lelaki rasanya cukup memalukan apalagi dia sempat memuji rupanya.
"Shinobu! Tunggu!" Koizumi langsung mengejar Shinobu yang melarikan diri karena panik, wajahnya yang memerah dan sikap malunya bukan menunjukkan perasaan suka atau cinta melainkan canggung saja.
Sikapnya memang malu dan takut untuk berkomunikasi dengan seseorang yang baru, jadi ia akan terus seperti itu, melarikan diri dari seseorang yang belum ia kenal dekat.
Keith melihat mereka berdua pergi, ia tersenyum penuh rasa syukur lalu dirinya sempat memegang Insignia untuk berterima kasih kepada Erion.
Ia sekarang sudah bisa melihat dengan jelas, itu artinya ia dapat mengunjungi lokasi pertengahan dari kerajaan itu untuk melihat patung Erion yang sangat besar.
Dirinya segera mendatanginya lalu berlutut tepat di hadapannya selagi menepuk kedua tapaknya lalu menyatukannya, "Dewa Erion yang begitu baik hati... terima kasih karena sudah melepaskan angin yang memberikan saya jalan."
"Kebaikan Anda memang tidak bisa tergantikan kecuali oleh permohonan diriku dan tentunya rasa bersyukur... bidadari yang Anda turunkan juga sangat baik karena sudah menyinari kegelapan dalam penglihatan itu."
"Aku mohon... suatu saat nanti, saya ingin dipertemukan kembali dengan Shinobu Koneko. Dia begitu cerah... penuh rasa positif sampai tampangnya sendiri tidak mengganggu diriku."
"Tangan dan kaki buatan itu... bekas luka bakar di bagian kiri pipinya... semuanya sungguh menyedihkan sampai saya ingin Anda melindungi beliau..."
"...tolong jaga Shinobu Koneko... dan biarkan kami bertemu lagi suatu saat nanti." Keith bangkit dari atas lantai lalu ia menundukkan kepalanya untuk menunjukkan rada terima kasih terakhirnya.
__ADS_1
"Ternyata kau di sini, Saint Wind." Seseorang langsung memanggil dirinya dari belakang sampai Keith menatap dirinya dengan tatapan bingung.
"Iya... saya seorang Saint Wind berdasarkan keturunan yang di wariskan... apakah Anda membutuhkan---"
Keith seketika sadar bahwa Legenda yang memanggil dirinya adalah seseorang yang berpakaian seperti Dewa, ia cukup spesial sampai Keith dapat merasakan aura yang berbeda.
"Anda... terlihat persis seperti Dewa Erion."
"Itu benar. Aku sendiri adalah kandidatnya, kau kemana saja? Setiap waktu dan hari kami mencari dirimu dari tempat yang berbeda." Beval langsung melepaskan angin yang membawa dirinya.
"T-Tunggu... saya mau di bawa kemana ya...?" Tanya Keith yang terlihat takut tapi ia melihat beberapa pendeta mulai mendekati dirinya.
"Wah, wah, kamu imut sekali ya~ masih kecil tetapi menerima sebuah berkah yang sama dengan tuan Beval.” Ucap salah satu pendeta yang mulai mempersiapkan pakaian untuk dirinya.
"E-Ehh... tunggu dulu..."
"Kamu sudah melihatnya dengan jelas bukan? Diriku yang mirip dengan Dewa Erion, kau pasti sudah tidak perlu mencurigai kami."
"Mm... mungkin..."
"Kami berasal dari kuil, nak. Bisa di bilang Dewa Erion sudah pernah berbicara kepada kita dan memberikan berbagai macam tugas." Beval memutuskan untuk membawa dirinya menuju Temple of Wind.
"Kuil itu... bisa di bilang kediaman untuk kami yang menyembunyikan tentang kebenaran bahwa kita adalah pengikut yang paling mulai bagi Dewa Erion sendiri."
"Saat ini dia membutuhkan seseorang seperti dirimu... aku tidak menyangka seorang Saint Legenda angin masih berusia bocah seperti dirimu." Beval berhasil membawa dirinya ke dalam kuil itu.
"Namun, aku tidak memiliki rasa penyesalan atau kecewa. Jika Saint itu seorang bocah maka memberi dirinya berbagai macam ajaran tidak akan menghabiskan waktu yang lama."
Keith duduk di atas simbol angin itu lalu ia melihat para pendeta melingkari dirinya sampai ia bisa mempercayai perkataan Beval karena dirinya sangat mirip dengan Dewa Erion.
"Siapa nama Anda...?"
"Beval... kandidat Dewa angin selanjutnya, aku hanya perwakilan bagi Dewa Erion karena dia masih ingin melanjutkan tugasnya." Beval menempati buku itu di atas tangan patung Erion.
"Apakah kau sudah siap untuk bertemu dan berbicara secara langsung dengan Dewa...? Dia pasti akan memberikan dirimu banyak jawaban." Kata Beval.
"Hmm... aku siap." Keith mengangguk selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat bingung karena ia masih kecil untuk mengerti tentang situasi aneh ini.
Sebuah angin keluar melalui mulut patung itu lalu merasuki tubuh Beval sampai matanya terlihat berbeda sebelah, "Ternyata kamu sudah datang ya... Saint Wind."
"Apakah Anda Dewa...?"
"Ya... aku adalah Dewa yang sudah membantu kesulitan itu, kamu memang penyebar ya... aku menyukai sikap itu sampai kamu mendapatkan banyak berkah dariku."
"Aku adalah Dewa Erion, angin yang sudah memberimu berbagai macam jalan sampai sekarang... kau sudah menemukan jalan itu, dengan ini mereka akan memberikan dirimu tentang banyak sekali ajaran."
"Latihan yang cocok juga untuk Saint seperti dirimu. Aku tahu semua ini berjalan begitu cepat dan membingungkan untuk dirimu... tapi kami akan coba untuk menjelaskan ketika proses berjalan."
"Dewa Erion... puja Dewa Erion..." Keith bersujud di hadapan Beval dengan tatapan bersyukur karena ia sudah bisa mati tenang karena berbicara dengan tenang.
"Bagus sekali, kau sudah menjadi salah satu pengikut yang akan menerima berkah itu... maka akan aku berikan God Lenergy untuk dirimu!"
Sebuah angin yang memancarkan cahaya hijau langsung menyelimuti tubuh Keith sampai ia bangkit atas perintah Erion, "Nak... kau pasti akan mengabulkan permintaanku."
"Saya siap."
***
Koizumi membuka pintu kamar lalu ia memasang tatapan kaget ketika melihat ketiga gadis itu berbaring di atas lantai dengan tatapan yang terlihat lelah.
Dirinya juga melihat wajah Hinoka dipenuhi tanda tapak tangan yang berwarna merah, seperti bekas tamparan. Melihatnya saja sudah membuat Koizumi mengetahui situasinya bahwa Hinoka pasti macam-macam.
"Astaga... maafkan perbuatan sepupuku yang bodoh ini." Koizumi menghela nafasnya lalu membangunkan Hinoka yang tertidur.
"Fwahhh!? Ada apa...!?" Tanya Hinoka.
Koizumi langsung menyentil keningnya untuk memberi dirinya hukuman karena sudah bersikap seenaknya, "Jangan bermain-main lagi seperti itu."
"Awwwweee!"
"Ahahaha..." Shinobu hanya bisa terkekeh pelan lalu ia menatap keluar, kristal es mulai turun dari langit lagi sampai ia rasa bahwa liburan ini dipenuhi dengan kesenangan tiada batas.
__ADS_1
Mereka mengakhiri hari terakhir di planet itu dengan menikmati kue yang baru saja Koizumi beli, semua gadis itu mengadakan pesta kecil yang sungguh menyenangkan sampai mereka tidak akan melupakan kenangan di negara angin itu.
Walaupun semua penduduknya aneh dan terlalu fanatik terhadap kepercayaan angin, setidaknya fasilitas dan wisata yang diberikan cukup menyenangkan sampai mereka ingin mengunjunginya lagi nanti.
Satu hari kemudian, hari libur mereka di planet Lemia harus berakhir, semuanya langsung membereskan barang mereka dan berjalan pergi dari penginapan itu untuk pergi meninggalkan kerajaan angin.
"Rasanya cukup menyenangkan... untungnya waktu libur masih panjang ya~ setelah ini, mari kita bersenang-senang lagi!" Seru Hinoka.
""Ya!!!""
"Masih banyak negara yang belum kita kunjungi... tetapi menghabiskan waktu di negara angin dan air cukup memuaskan." Kata Konomi yang mulai melayang ke atas langit.
"Benar-benar... kita harus menjadikan kenangan ini sebagai satu-satunya hal yang sangat menyenangkan dibandingkan yang sebelumnya." Kata Koizumi.
"Libur masih belum berakhir...! Besok kita akan berpesta barbeque, malamnya kita pasti akan menikmati kembang api bersama~" Seru Hinoka yang terlihat bersemangat.
Mereka langsung melesat keluar angkasa dan terbang secepat mungkin menuju planet Legenia untuk bertemu kembali dengan keluarga mereka masing-masing.
Mereka semua mendapatkan sebuah pesan untuk mendarat di kerajaan Ghisaru agar keluarga mereka dapat menyambut kedatangan mereka yang sudah menikmati liburan selama tiga hari penuh dengan hak yang baru dan unik.
Tidak menghabiskan waktu sebanyak lima detik, mereka sudah mendarat dekat dengan restoran Shimatsu sampai mendapatkan banyak sambutan dari orang tua mereka.
"Koizumi~ selamat datang kembali, bagaimana liburannya?" Tanya Haruka yang langsung memeluk Koizumi.
"Lumayan seimbang... di antaranya buruk dan baik, setidaknya aku masih bisa menikmati liburan sepanjang tiga hari itu." Koizumi mencium aroma kentang goreng seketika, ia menoleh ke belakang lalu melihat Ophilia yang membawakan dirinya banyak sekali kentang goreng.
"Ahh! Kentang goreng... terima kasih, nenek~" Koizumi mendekati Ophilia lalu ia mengambil semua kentang goreng itu untuk memakannya pelan-pelan.
"Duh... jangan merebut putriku seperti itu! Aku masih merindukan dirinya!" Ucap Haruka yang merasa cemburu kepada Ophilia karena merebut dirinya dengan kentang goreng yang sangat lezat untuknya.
"Hehhh~ dia juga cucuku... itu artinya kita harus membagi." Ucap Ophilia selagi terkekeh pelan sehingga kedua gadis itu saling merebut perhatian Koizumi.
"Selamat datang kembali, Ako, Konomi. Kalian pasti memiliki banyak cerita untuk Mama di rumah nanti kan?" Tanya Mitsuki yang mendekati kedua putrinya.
"Mm! Banyak sekali... terdapat banyak hal unik dan menyenangkan yang perlu diceritakan kepada Mama!" Kata Konomi yang langsung memeluk dirinya.
Ako juga ikut memeluk, "Apakah Mama akan membiarkan kami berlibur lebih jauh lagi nanti...? Mungkin kita masih akan tetap menikmati liburan di tempat jauh yang unik."
"Tentu~ kalian kan sudah pernah bertarung dengan berbagai macam musuh, itu artinya pengalaman yang kalian dapatkan sudah cukup untuk menyelamatkan kalian dari segala bahaya."
""Baiklah...!!!"
"Hinoka! Bagaimana? Apakah kau menikmati liburan di negara angin itu...? Kau tidak berbuat macam-macam seperti menggunakan kekuatan realitas itu kan?" Tanya Bakuzen kepada Hinoka.
"Tentu saja... aku lebih mementingkan kesenangan dalam negara itu karena ledakan yang aku punya hanya pantas untuk orang menyebalkan!"
"Papa juga seharusnya bisa menikmati liburan sendirian di planet Lemia, banyak sekali negara aneh dengan penduduk fanatik aneh sampai Hinoka tidak tahan ingin meledakkan mereka."
"Begitu ya... kau harus menahan diri dan menahan emosi itu, nanti kau tidak bisa menjadi seorang idol."
"Aku ingin menjadi seorang idol, te-he~"
Mereka semua saling membagi kasih sayang, tawa, dan pengalaman liburan. Shinobu hanya bisa tersenyum polos melihat kedua sepupu dan temannya menikmati waktu mereka berbicara dengan orang tua.
Shinobu sendiri sebenarnya merasakan kesakitan dalam hatinya karena ia tidak menerima sambutan apapun, ia juga ingat bahwa Tech sudah tidak ada jadi dirinya memang sendirian.
Tetapi...
Seseorang mulai menyentuh pipinya sampai Shinobu melirik ke belakang tetapi pipinya menerima sentuh jari sehingga jari tersebut masuk ke dalam pipinya yang begitu lembut.
"Kena."
Shinobu memasang tatapan kaget ketika melihat seseorang yang datang untuk menyambut dirinya adalah Shira, ia menatap wajahnya yang terlihat serius seperti biasanya tetapi ia tetap tersenyum untuk cucunya.
"Yo, Shinobu. Kamu menikmati liburan---" Shira langsung menerima pelukan dari Shinobu dengan sangat erat karena ia merasa bahagia melihat seseorang menyambutnya dan itu adalah orang tuanya yang paling tua.
"Sangat menyenangkan..."
"Begitu ya..."
"...Kakek ikut senang untukmu."
__ADS_1