Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 59 - Bukan Tujuan untuk Bersenang-senang


__ADS_3

Semua peserta mulai membicarakan tentang keseharian mereka dan juga tantangan yang mereka ikut, beberapa dari mereka yang sudah lolos dalam seleksi merasa tidak sabar untuk bisa cepat-cepat bertarung di Tournament of Solicitation dimana mereka yakin bahwa saingan atau lawan mereka akan memiliki kekuatan yang sangat kuat dan tangguh, mereka hanya harus mempersiapkan kekuatan dan tubuh mereka agar bisa bertarung di turnamen itu tanpa harus merasa seperti memiliki masalah dalam kehidupan mereka, "Turnamen sebentar lagi akan dimulai, aku yakin waktu akan berjalan dengan cepat." Ucap Shira yang mulai meminum teh-nya dan tentu saja ia sangat menantikan turnamen itu, ia ingin sekali melawan banyak sekali petarung yang memiliki kekuatan unik.


"Ini sangat bermasalah jika turnamen itu akan datang di waktu yang dekat karena aku masih ingin berlatih dan belajar atas semua kesalahan yang pernah aku buat." Ucap Akina yang mulai memegang dagu-nya, beberapa orang dari kelas tiga mulai setuju apa yang Akina bicarakan karena mereka pasti akan terbebani dengan belajar di akademi itu juga serta tubuh mereka membutuhkan istirahat yang penuh, "Kenapa harus rusuh, Shira? Jalankan lah dengan santai, kita pasti akan sibuk berat sehingga kita tidak akan bisa bersama lagi, kita semua bisa saja bertarung melawan satu sama lain di turnamen nanti." Jawab Korrina selagi tersenyum.


"Sepertinya ini kesempatan kita untuk beristirahat dan menikmati waktu kita dengan bersenang-senang~" Korrina mulai meminum kopi-nya, "Aku bisa mengatakan hal yang sama kepadamu." Jawab Haruki, "Tapi aku selalu melihatmu berlatih di malam hari bahkan di tengah malam juga." Haruki pernah melihat Korrina yang masih terus berlatih walaupun ia sudah diberi waktu untuk beristirahat dan bersenang-senang.


"Ahaha... M-Menjalankan hobi di waktu yang santai itu boleh bukan? Seperti berlatih..." Tanya Korrina dimana nada-nya mulai terdengar lemas, "Bertarung dan berlatih itu tidak bisa disebut dengan hobi untuk kita para petarung, jalankan lah hobi biasa seperti melakukan sesuatu yang membuat tubuhmu tenang dan membuatmu benar-benar senang, Korrina." Ophilia mulai menjelaskan tentang hobi yang seharusnya Korrina lakukan, "Seperti bermain dengan Haruka?" Tanya Korrina yang mulai menunjuk Haruka, Haruka saat ini sedang bermain bersama Agfi, Rexa, dan Megumi. Akina mulai ikut bermain dengan Haruka karena tingkah lakunya yang imut.


"Itu bisa disebut sih karena kau adalah seorang ibu, Korrina. Bahkan figur-mu terlihat seperti ibu muda sih." Ucap Ophilia yang mulai melakukan observasi terhadap Korrina yang menggunakan baju putih panjang sampai menghalangi kedua lengan-nya dan juga ia menggunakan rok panjang sekali sehingga menghalangi ujung lutut-nya, "Yahhh... Aku tidak terlalu suka menyombongkan tubuhku sih~ Aku 'kan sudah menikah. Ahahaha~" Jawab Korrina dengan tawaan yang ia paksa karena ia tahu bahwa tubuhnya itu tidak terlihat seksi sama sekali karena dada-nya yang rata.


"Aku merasa iri bahwa kau bisa menikah dan memiliki banyak anak yang kuat serta imut." Jawab Ophilia dengan nada pelan sehingga hanya Korrina saja yang mendengarnya, "Justru aku lebih iri terhadap payudara-mu yang besar itu...! Sialan...!" Ungkap Korrina.


Topik pembicaraan akan terus berubah-ubah setiap mereka selesai membicarakannya, sepertinya mereka menikmati waktu mereka selagi berbicara tentang hal lain-lain juga menikmati makanan, cemilan, dan minuman mereka. Setiap waktu yang terlalui akan terdapat makanan yang baru disajikan mulai ditempatkan di setiap tikar agar mereka semua untuk bisa memakan semuanya, makanan dapat membuat tubuh tetap sehat dengan syarat makanan itu mengandung vitamin dan zat-zat yang berguna, "Silahkan nikmati makanan kalian semua." Ucap seorang pemandu.


"Aku menyediakan beberapa makan daging yang dimasak dan dibumbui dengan cara yang berbeda. Silahkan makan sepuasnya." Arata mulai menepatkan beberapa piring di atasnya dan membuat mereka semua dipenuhi dengan air liur karena daging-daging yang Arata masak terlihat sangat lezat dan gurih, "Wahhhh~ Ternyata kau benar-benar pintar masak ya." Ucap Shizen yang mulutnya dipenuhi dengan air liur karena melihat makanan yang Arata sediakan.


"Aku membawa manisan yang dibentuk menjadi bermacam-macam bunga, silahkan habiskan~" Asuka mengeluarkan beberapa manisan yang ia buat dan Haruki hanya bisa menatap manisan itu dengan fokus karena manisan itu berbentuk bunga dan Haruki sangat suka melihat bunga-bunga, "Aku membawa bir lebih banyak!!!" Suho mulai menepatkan tiga botol ukuran besar yang berisi bir di atas tikar lalu ia tersenyum lebar.


"BERSULANG UNTUK KEEMPAT KALINYA!!!" Teriak mereka semua sehingga mereka mulai bersulang lagi, Shira merasa penasaran dengan rasa dari bir, tetapi Megumi mengambilnya dan melarangnya bahwa mabuk itu tidak baik untuk kesehatan bahkan seorang Legenda. Mereka semua mulai menyantap daging yang Arata masak sehingga kedua mata mereka berbinar-binar karena rasa dari daging itu gurih dan lembut sekali sehingga hanya satu kali gigitan saja membuat daging itu terbelah menjadi dua, "Hmmmm~~~ Mantap~ Ternyata kau lebih pandai memasak daripada diriku, Arata." Ucap Korrina.


"Jika kau mengacaukan bahwa resep-ku maka aku akan membuatmu pingsan lagi menggunakan panci." Ancam Arata yang sedang menyuapi Ophilia dengan daging masakannya, semua makanan Korrina mulai mencicipinya dan membuat mereka kesal karena sepertinya Korrina akan menghabisi semuanya, "Korrina! Saling berbagilah, kau tahu kita semua juga lapar bukan?!" Tanya Naoki selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal.


"Maaf, maaf... Semua makanan yang disediakan ini semuanya terasa enak~ Aku tidak akan bosan memakannya." Korrina mulai menatap sebuah mangkuk ramen milik Lang dan ia langsung memakannya dengan cepat sehingga membuat Lang terkejut, "R-Ramen yang aku simpan...!!! Di makan olehmu!?" Tanya Lang yang mulai menunjukkan ekspresi kesalnya.


"Aku bisa mengatakan hal yang sama kepadamu karena sudah menghabiskan bir yang seharusnya aku minum." Korrina menunjuk Lang menggunakan sumpit-nya. Shizen mulai mengambil sebuah piring yang di atasnya terdapat daging yang diam-diam sudah ia taburi dengan bumbu paling pedas, "Catherine, daripada kau diam saja... Bagaimana jika kau coba daging burung yang Arata masak?" Tanya Shizen.


"Ehh? Benarkah?" Catherine mulai mencicipi daging itu sehingga wajahnya mulai memerah karena bumbu itu mengenai lidah-nya dengan tepat sasaran, "P-Pedas...!!!" Ucap Catherine yang mulai berkaca-kaca lalu meneteskan beberapa air mata, Mirai menghela nafasnya lalu ia memberinya jus jeruk milik dirinya yang sebentar lagi akan habis, "Minumlah dan habiskanlah." Suruh Mirai.


Catherine mengambil gelas itu lalu ia mulai meminumnya sampai habis, "Dasar sialan!" Ucap Catherine kepada Shizen yang sedang tertawa terbahak-bahak karena dia bisa tertipu dengan trik murahan. Mereka semua menikmati waktu menyenangkan mereka dengan menghabiskan makanan lalu berdansa, sebagian mulai pulang dan melakukan aktifitas lainnya karena sebagian dari mereka tidak memiliki pasangan untuk diajak berdansa. Megumi dan Shira-pun menolak untuk berdansa menggunakan baju mereka yang tidak terlihat formal sama sekali, mereka lebih memilih untuk melihat pemandangan luar angkasa selagi bergandeng tangan.


Arata dan Ophilia mulai berdansa selagi mengikuti irama yang terdengar merdu di kedua telinga mereka, kedua kaki mereka bergerak sangat pas dan cocok untuk irama yang sedang dimainkan oleh Morgan, Haruki lebih memilih untuk pulang karena di atap sekolah ia masih melihat Chiara yang sedang melihat pemandangan bersama Asuka berduaan saja. Korrina memilih untuk pulang ke kamarnya lalu menepatkan Haruka yang sedang tertidur nyenyak, "... ..." Korrina menepatkan bayi Haruka di atas kasurnya lalu ia mulai menyelimuti tubuh kecil-nya dengan sebuah selimut.

__ADS_1


"Fuuhhh... Fyuuuhh..." Haruka mendengkur dengan sangat imut hingga membuat Korrina tersenyum manis selagi memejamkan kedua matanya, "Mama berjanji bahwa turnamen yang ketiga Mama akan menang... Lihatlah, Haruka. Mama akan membawa Papa pulang tanpa bantuan siapapun bahkan kakak-kakakmu." Ucap Korrina yang mulai mengepalkan tinju kanannya, Haruka mulai membuka mulutnya lalu ia mulai mengeluarkan banyak sekali air liur.


"Tehehe~" Korrina mencium pipi-nya lalu tanpa disadari Akina juga ikut masuk ke dalam kamar Korrina, "Sepertinya kau dekat juga dengan Haruka ya." Akina tersenyum melihat tingkah laku Korrina yang terlihat seperti ibu yang sangat penyayang dan pengertian, "Uwa---" Korrina sudah membuka mulutnya lebar dan siap untuk teriak karena ia terkejut dengan Akina yang tiba-tiba berada di kamarnya, Akina mulai menutup mulut Korrina, "Ssshhh... Kau bisa saja membuat anakmu bangun." 


Korrina mengangguk, "Kenapa kau disini?" Tanya Korrina.


"Bukannya kau mengajak-ku sebelumnya, Korrina? Kamu bilang bahwa kita berdua akan pergi ke tempat yang sangat menyenangkan." Jawab Akina sehingga membuat Korrina teringat kembali, sepertinya pikiran-nya terus terbebani dengan Alvin yang masih terjebak di Crimson Realm dan ia masih belum keluar atau mendapatkan sedikit kabar darinya, "Aku baru saja ingat..." Korrina duduk di atas kasurnya lalu ia mulai mengusap-usap kepala Haruka yang kecil.


"Tunggu sampai Haruka benar-benar tertidur pulas ya, di saat-saat seperti ini... Dia akan terbangun dan menangis sehingga mengundurkan waktu." Korrina terkekeh sehingga membuat Akina membulatkan kedua matanya, "D-Dia memiliki sihir waktu di usia kecil seperti ini!?" Tanya Akina yang mulai melihat ukuran tubuh Haruka yang sangat kecil sekali.


"Ya. Padahal dia masih berumur satu tahun loh~!" Jawab Korrina dengan ekspresi yang terlihat senang serta bangga bahwa ia selalu saja dianugerahi dengan putri-putri yang kuat dan imut sekali, "Satu tahun dan bisa mengundurkan waktu...? Hebat juga..." Akina mulai merasa kagum terhadap Haruka karena dia bisa mengendalikan waktu di umurnya yang masih satu tahun.


"Dia bisa mendapatkannya mungkin karena diriku yang membuatnya memakan kristal waktu, sejak Haruka berumur delapan bulan... Dia sudah bisa menggunakan sihir waktu dimana kedua matanya berubah menjadi jam dengan warna hijau, ia bisa melompat waktu beberapa kali tanpa di beri batasan apapun berbeda dariku. Di saat itulah aku berencana atau ingin mencoba memberikan Haruka sebuah kristal waktu, siapa tahu dia bisa mengontrol semua sihir jenis waktu." Korrina mulai mengusap air liur Haruka, rumornya seseorang yang memakan kristal waktu tanpa memiliki bakat dalam sihir waktu maka mereka akan mati sehingga terjebak di dalam ruang dan waktu dan tidak akan pernah kembali, hal yang Korrina lakukan itu cukup beresiko juga.


"Jadi...? Haruka selamatkah?" Tanya Akina.


"Tentu saja, anak dari keluarga Ghifari memiliki bakat dan kemampuan yang hebat sekali, aku sangat senang bisa menikahi seorang laki-laki hebat yang berasal dari keluarga Ghifari." Korrina tersenyum pahit lalu ia melirik ke kanan, senyuman itu mengartikan bahwa ia merindukan Alvin yang sudah meninggalkannya lama sekali, Akina melirik ke kiri dimana ia melihat sebuah pigura yang menunjukkan Korrina dan Alvin yang menggunakan baju pernikahan, "Ahh, jadi inikah sesosok Dewa Crimson Alvin Ghifari?" Akina mengambil pigura itu lalu ia menatap gambar yang menunjukkan Korrina yang sedang melakukan gaya pose dua jari selagi menunjukkan senyuman-nya, "Kamu terlihat sangat cantik disini, Korrina. Seperti seorang gadis yang baru saja mendapatkan kebahagian seumur hidup."


"Yahhhh... Karena dia dulunya dingin dan cuek sekali sehingga senyuman-nya itu kadang aneh." Korrina tersenyum, "Tentang sihir waktu... Haruka sudah mempelajari semua sihir jenis waktu karena ia sangat menyukai kristal waktu itu, aku tanpa sengaja memberi banyak sekali kristal waktu kepadanya, walaupun dia sudah mempelajari semuanya, kau tahulah kita para Legenda harus berlatih dan berusaha untuk bisa membuat sesuatu menjadi sempurna, ketika Haruka sudah besar nanti... Aku yakin dia akan menyukai latihan." Korrina mulai menatap atap selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat seperti ibu bangga, Akina melihat ekspresi itu dan ia merasa terinspirasi darinya.


"Lihat, bahkan Haruka memiliki kalung pertamanya loh!" Ucap Korrina dengan kedua matanya yang berbinar-binar, ia mulai memegang kalung yang digunakan oleh Haruka, Akina bisa melihatnya dan itu terlihat imut bahkan cocok untuk Haruka, "Wahhh~ Imut sekali~"


"Ya 'kan?!" Korrina dan Akina mulai tertawa bersama dengan nada yang terdengar pelan, Akina duduk di atas kursi dan mulai merasa penasaran bagaimana proses tentang bayi pertamanya. Korrina mulai mengambil kaleng berisi bir lalu ia membukanya dan meminumnya, "Ngomong-ngomong... Bagaimana perasaanmu tentang kedatangan bayi anak-mu yang pertama...? Apakah kau gugup?" Tanya Akina.


"Penasaran ya? Iya sih... Aku yakin sebentar lagi kau akan menemukan seseorang yang sangat kau cintai." Ucap Korrina selagi menunjukkan senyuman-nya, "Seseorang yang sangat aku cintai ya...?" Akina mulai tersipu dan berpikir tentang kakak-nya yaitu Arata, tetapi ia sadar bahwa Arata sudah direbut oleh Ophilia dan ia harus berpikir lebih logis lagi bahwa Arata itu kakak kandung-nya jadi untuk apa mencintainya, "Yahhh... Mungkin saja dalam waktu yang dekat."


"Yahhh... Jadi gini, tentang kedatangan bayi pertamaku yang bernama Rina Ghifari... Aku merasa sangat gugup karena ini pertama kalinya aku bisa mengandung seorang bayi di dalam perutku serta seorang Legenda kecil... Sudah pasti anak dari seorang ibu akan memiliki darah milik Ayah dan Ibu-nya yang mengartikan bahwa anakku sendiri akan memiliki sihir atau kekuatan yang bisa saja baru atau jauh lebih kuat dariku!" Korrina tersenyum lebar dengan kedua matanya yang berbinar-binar, Akina bisa merasakan perasaan senang Korrina dan itu membuatnya lega bahwa ia sudah mengetahui semuanya dari Agfi bahwa pikiran Korrina selalu terbebani karena latihan dan Alvin.


Agfi menginginkan Korrina untuk bisa tenang dan bersikap senang seperti biasanya, jadi dia meminta bantuan kepada Akina dan sudah jelas bahwa Akina akan menerimanya karena Akina juga ingin menjadi teman baik Korrina atau bisa disebut sahabat, "Bulan-bulan yang terlewati, perutku terus berkembang menjadi bulat loh! Tidak bisa disebut dengan istilah gendut atau buncit sih melainkan itu terlihat imut, bahkan beberapa orang bilang bahwa aku terlihat seperti seorang Ibu asli...!!! Kyaaaa~" Korrina merasa senang sekali. Akina hanya bisa tersenyum.


"Jadi... Ketika waktunya tiba... Rina sepertinya sudah tidak tahan lagi berada di dalam kandungan-ku, ketika Alvin bilang bahwa aku akan melahirkan sebentar lagi, itu membuatku merasa sangat gugup sehingga aku takut bahwa proses melahirkan itu akan sangat menyakitkan." Korrina terkekeh sehingga perlahan-lahan membuat Akina ketakutan karena ia masih belum siap untuk mendengar sakitnya melahirkan seorang bayi, "Sudah! Sudah! Berhenti sampai titik itu...! Aku masih belum siap untuk mendengarkannya!" Ucap Akina dengan nada yang terdengar panik.

__ADS_1


"Hahaha! Iya juga sih, tetapi kau hanya harus bersiap ketika ingin memiliki seorang anakkk-----" Korrina melirik ke belakang dan ia tiba-tiba tidak melihat Haruka yang sedang tertidur di atas kasur melainkan ia hanya bisa melihat kalung miliknya saja, "UWAAAAHHHHHHHH!!!!" Teriak Korrina keras karena ia dikejutkan oleh Haruka yang menghilang dengan tiba-tiba.


"A-Ada apa!?" Tanya Akina.


"Dia melompati waktu ke masa depan lagi..." Korrina menghela nafasnya dan perkataannya membuat Akina yakin bahwa di masa-masa Haruka bayi, mungkin dia serang menjelajahi waktu ke masa depan atau masa lalu, "Dia melakukannya pada saat dia sedang tidur?!" Tanya Akina.


"Ya..." Korrina mulai mengambil kalung itu yang bersinar, "Anakku yang kelima ini memang sangat iseng dalam menggunakan sihir waktu-nya..." Korrina menghela nafasnya.


***


Setelah Korrina mengembalikan Haruka kembali, ia sudah membuatnya tertidur dengan pulas dan tenang sehingga Haruka tidak akan bangun bahkan menggunakan sihir waktu-nya seperti tadi lagi, di saat itulah Korrina dan Akina sudah berjanji bahwa mereka akan mengunjungi tempat SPA untuk beristirahat di sana dan menenangkan pikiran mereka juga.


"Uhhh..." Korrina mendesah pelan karena rasa nikmat dari panas-nya batu api yang berada di bawah perutnya, batu-batu api itu saat ini sedang menurunkan lemak perut Korrina dan membuat kulitnya merasa lebih mulus, rumornya batu api itu tidak akan membakar apapun melainkan hanya membakar lemak dan kolesterol yang ada di dalam tubuh. Batu api itu hampir sama seperti untuk penghangat ruangan, "Ahhh..." Akina mendesar karena rasa nikmati dari batu api itu yang mengenai punggung-nya.


"Ahhhhh~~~" Mereka berdua mendesah lega karena bisa masuk ke dalam tempat SPA yang mereka impikan, "Ahhh~ Hah~ Sudah lama sekali aku ingin menikmati fasilitas yang disediakan SPA..." Ucap Korrina dengan nada yang terdengar seperti menikmatinya karena seluruh tubuhnya terasa seperti beristirahat dan tenang.


"Ada denganmu dan sikapmu sekarang, Korrina...? Kamu terlihat seperti anak-anak." Akina terkekeh.


"Hmmm~ Yahhh... Begitulah ketika aku bersantai, bukannya tadi kamu bilang bahwa seluruh tubuh sakit dan lelah karena sudah menyucikan banyak racun? Di SPA ini... Tubuhmu akan terasa seperti sempurna loh! Lebih baik untuk menghangatkan perutmu terlebih dahulu." Korrina mulai memberi Akina sebuah saran dan Akina mulai membalik posisi tubuhnya sehingga perutnya sekarang yang dihangatkan oleh batu panas itu.


Korrina mulai menatap kedua payudara Akina yang sangat besar sehingga ekspresinya mulai berubah menjadi ekspresi yang terlihat sangat iri, Akina mulai menyadari ekspresi Korrina dan itu membuatnya penasaran, "Loh, ada apa?" Tanya Akina.


"Ahh... Hanya saja..." Korrina mulai mencari alasan agar ia tidak tertangkap basah bahwa Korrina selalu saja menatap kedua payudara Akina yang besar, jika ia sempat ketahuan maka ia bisa saja dicap sebagai gadis mesum dan ia tidak mau karena ia tidaklah mesum melainkan polos dan iri karena ingin memiliki dada yang besar juga, "Apakah berat badan-mu naik...? Kamu terlihat gendut." Jawab Korrina yang mulai berbicara seadanya agar ia tidak dicurigai.


"Hah...?!" Akina langsung terkejut sehingga mulutnya terbuka lebar dan kedua matanya mulai terlihat kosong, Korrina mulai menyentuh seluruh tubuh Akina termasuk payudara-nya dan di setiap sentuhan-nya Korrina merasakan sensasi yang sangat lembut seperti jeli, "Wah... Kulit-kulitmu terasa empuk dan lembut... Pertanda bahwa berat badan-mu naik loh." Ucap Korrina dengan nada yang terdengar polos.


Akina mulai duduk di atas batu itu selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal, "Hmm? Kenapa?" Tanya Korrina yang mulai menatap wajah Akina, perlahan-lahan Akina memanggil tombak Chastity-nya lalu hal itu membuat Korrina terkejut karena ia tiba-tiba memanggil senjata-nya, "Ahh..."


"KORRINA!!! UCAPANMU SANGAT TIDAK SOPAN!!!" Akina menghantam puncak kepala Korrina menggunakan bagian tombak yang tidak tajam melainkan ia menggunakan seperti tongkat yang hanya membuatnya sakit saja melainkan terluka seperti berdarah.


BAGGGHH!!!

__ADS_1


"SAKIITTTTT!!!" Teriak Korrina.


__ADS_2