Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 454 - Tekanan Khawatir


__ADS_3

"Bos kecil, sepertinya seluruh bawahan yang sudah anda lepas tidak dapat memenuhi perintah yang anda berikan."


Seorang pelayan memberitahu berita buruk itu kepada seorang pria yang sedang duduk di atas kursi dengan meja dipenuhi kertas informasi.


Mendengar berita seperti itu membuat dirinya kesal, banyak halangan dan semua halangan itu akan ia singkirkan jika waktunya sudah tepat.


Pria itu menggerakkan cangkir tehnya selagi menempati pipinya di atas tapak tangannya, memikirkan seseorang yang terlihat begitu menawan. Perasaan yang ia rasakan tidak bisa diungkapkan begitu saja.


"Seorang Neko Legenda yang memiliki rambut panjang, yang ditemani oleh anak dari Legenda legendaris Shimatsu Arata..."


"...Shiratori Minami, dia terlihat berbeda. Aku merasakan sesuatu di dalam dirinya sampai aku tidak dapat mengungkapkannya melalui mulut dan perasaanku sendiri."


Pria itu meminum cangkir tehnya, berharap untuk bisa memperhatikan Minami lagi karena kemampuan yang ia miliki terlihat begitu unik, cahaya melalui keemasan dari alam.


"Apakah bos tidak akan marah?"


"Untuk apa aku marah, rasa penasaranku hilang. Justru aku ingin melihat sesosok anak Legenda yang sudah membunuh Ayahku dan menghancurkan rencananya itu." Pria itu mengambil buku di sebelahnya.


"Gadis misterius yang memiliki identitas misteri itu mengatakan banyak hal kepada Ayah, seseorang membutuhkan rekan dan sekarang bukan waktunya untuk menjalankan tujuannya."


"Tujuan yang begitu besar. Sama seperti Ayahmu, aku bisa melihatnya, sayang sekali kau tidak bisa melakukan semua itu bukan...?"


"Kau ada benarnya, perang yang seharusnya terjadi dulu. Perang antar semesta, bisa dibilang iblis menyerang seluruh semesta dengan penghuninya adalah pergerakan yang salah."


"Musuh utama itu adalah Legenda, sejujurnya mereka adalah kesalahan yang seharusnya tidak tinggal di semesta ini. Ras yang sangat sengit dan mengerikan soal pertarungan tanpa henti, bisa mengancam apapun."


"Tetapi... Sesuatu yang terjadi sudah seharusnya dibiarkan terjadi, melihat apa yang akan terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang semua orang nantikan."


"Tidak ada yang bertahan selamanya, evolusi dan revolusi itu ada... Andai saja dia tidak menggantikan posisiku, benar-benar perbuatan yang tidak bisa dimaafkan..." Pria itu menempati cangkir dan bukunya di atas meja lalu meraih jas hitamnya.


"...aku akan mencari cara untuk bisa membunuh dia." Pria itu memakai jas hitamnya.


***


"Dia membicarakan Ayahku tadi...?" Minami terkejut ketika mendengar semua perkataan Hana.


Beberapa menit yang lalu, Minami baru saja bangun dan kembali pulih seperti biasanya. Kejadian yang dilihat oleh Hana langsung ia ceritakan kepada Minami karena ia masih belum mengerti separuh perkataan bola mata bersayap tadi.


"Apa yang orang tua kita ambil darinya...? Dia juga tadinya bilang perang belum berakhir." Kata Hana.


Saat ini Minami dan Hana sedang berlindung di dalam sungai, tubuh mereka dipenuhi keringat karena bertarung keras tadi jadi mereka membutuhkan sedikit istirahat seperti mandi.


"Perang ya... Kalau tidak salah Ayahku sudah dua kali mengalami perang yang besar-besaran, perang pertama itu melawan bangsa iblis sedangkan kedua melawan cucu dari sang pencipta." Minami mengangkat kedua jarinya itu.


"Papaku tidak pernah menceritakan tentang lawan yang ia hadapi saat perang. Apa mungkin Papaku mengetahui identitas dari mata bersayap itu?"


"Ada benarnya juga tetapi sikap Cranell terlihat jelas menunjukkan bahwa aku lah inti dari tujuan yang mereka incar."


"Ayahku mengalahkan kedua pemimpin yang memulai perang itu." Ketika Minami mengatakan itu, Hana langsung mengingatnya.


Seseorang yang memulai perang sejak itu adalah Rxeonal dan Zangetsu, kedua musuh yang memiliki tujuan berbeda tetapi cara yang mereka lakukan hampir sama tetapi jika dipikir kembali.

__ADS_1


Tidak ada jawaban yang cukup kuat karena mereka tidak begitu mendapat banyak cerita dari Shira dan Arata tentang pertarungan yang mereka hadapi.


Menanyakan ketiga saudara Comi mungkin ide yang buruk karena mereka bisa saja bersikap egois dan ingin melakukannya sendirian.


"Sepertinya jawabanmu tadi sudah cukup memberi diriku keyakinan, dia mengincar dirimu atau mungkin Ayahmu. Shiratori Shira cukup kuat dan terkenal saat ini bukan...?"


"Tidak kok, semua orang menganggap perang berakhir oleh Korrina Comi, Ayahku hanya diketahui sebagai Legenda legendaris itu saja. Salah satu dari mereka tidak pernah menganggap sebagai pahlawan..."


"Hanya saja pergerakan yang Korrina Comi lakukan itu sangat terbuka, ia menyemangati seluruh ras dari alam semesta yang berbeda bahkan sampai menciptakan kedamaian yang begitu besar."


"Tetapi sekarang... Korrina Comi pergi untuk memeriksa gejala aneh yang berada di jarak yang cukup jauh dari Touriverse, dia tidak pernah kembali walaupun sudah beberapa tahun lamanya."


Minami meraih tangan Hana untuk membawa dirinya ke tempat aman karena ia mencium bau lawan yang berhasil mendapatkan benda lainnya.


"Apakah kamu akan melaporkannya kepada Shiratori Shira?" Tanya Hana.


"Aku harus, masalah ini terdengar penting sepertinya. Kita harus mencegah sebelum membesar, seseorang yang terlihat sangat membenci Ayah adalah masalah serius."


"Ngomong-ngomong soal yang kau katakan tadi... Korrina Comi pergi dan tidak pernah kembali..."  Hana menundukkan kepalanya, menunjukkan ekspresi yang pahit karena ia mulai memikirkan tentang ketiga teman baiknya terutama Honoka.


"Hm? Jarang sekali ya, wajah ceria yang selalu kamu pasang kemana, Hana?" Tanya Minami.


"Sayang sekali, sudah tertimpa dengan rasa khawatir. Apakah kamu tidak pernah berpikir tentang perasaan ketiga saudara itu?" Ketika Hana mengatakan itu dengan senyuman pahitnya, Minami melebarkan matanya sehingga pupilnya terlihat kosong seketika karena mengingat kejadian masa lalu.


Kejadian dimana ia tidak bisa memaafkan dirinya karena telah memarahi Kou sampai hampir melukai dirinya.


"Tentu saja, mereka itu sahabat sejak masa kecil... Aku tentunya khawatir kepada tiga saudara yang kadang aneh dan menggelikan." Minami menatap arah lain.


"...Korrina Comi pasti akan senang ketika melihat Haruka yang sudah kembali, Honoka yang memiliki sikap lebih berani, terutama Kou yang bisa berbicara sekarang."


"Aku benar-benar khawatir dengan Guru yang telah mengajari kita banyak hal sejak itu, ketika kita masih kecil..."


"...apakah kamu ingat, Minami?" Hana menatap Minami yang kembali menatap dirinya dengan senyuman.


"Kau tidak pernah berubah sedikitpun sejak itu sampai sekarang. Hana yang cukup klasik dengan senyuman dan cerianya itu." Minami terkekeh.


"Kau sendiri dulu sangat aneh, lebih aneh dari siapapun karena terlalu terobsesi dengan khayalan itu, pengembangan yang cukup baik ya, kau terlihat lebih dewasa sekarang."


"Begitu ya? Aku jadi malu, hahaha." Sedikit perkataan dari kedua teman masa kecil, awalnya situasi yang terasa cukup tertekan karena rasa khawatir berubah jadi tawa kecil.


Tetapi tawa itu hanya bertahan selama beberapa detik karena Hana terus memikirkan tentang Honoka yang selalu curhat kepada dirinya bahwa ia selalu merasa kesepian.


"Haruka, Honoka, dan Kou. Aku mengetahui jelas bahwa mereka terus memasang wajah ceria walaupun di dalam hati mereka terdapat rasa rindu yang begitu berat..."


"Begitulah, semua ini memang sudah seharusnya terjadi. Kau tidak pernah tahu apa yang dipikirkan oleh kedua saudara terutama ibunya yaitu Korrina Comi bukan? Banyak rencana yang berada di luar kepala, klasik sekali."


"Honoka selalu saja bercerita kepadaku, setiap malam. Dia selalu saja datang ke kamarku untuk meminta teh hangat..." Hana terkekeh, Minami mulai tertarik ketika Hana membicarakan tentang Honoka.


Ia sendiri bisa merasakan hubungan yang cukup spesial dari mereka berdua, mungkin karena sering melihat kejadian yang tidak bisa ia duga begitu saja, ia sendiri selalu pergi bersama Hana dan Honoka.


Terkadang kedua gadis itu selalu melakukan sesuatu yang berkaitan dengan topik di luar kepala sampai Minami hanya bisa melihat dan menjawab perkataan mereka dengan jawaban yang klasik seperti "ya." dan "oh.".

__ADS_1


"Honoka yang kadang bersikap seperti seorang laki-laki yang selalu menggoda kita selama ini bisa menunjukkan perasaan sedihnya itu."


"Jika kamu membicarakan tentang Honoka, dia memang seperti itu sih. Sikapnya yang begitu keren dan dapat di andalkan adalah ciri khas dirinya..." Minami menghela nafas panjang.


"...andai saja Honoka itu seorang laki-laki, mungkin aku akan jatuh cinta kepada dirinya." Minami tersenyum nakal.


"Heh!? Kenapa kamu mengatakan sesuatu yang memalukan seperti itu, Minami!?" Hana tercengang ketika mendengarnya bahkan wajahnya terlihat merah.


"Wah, wah, sepertinya ekspresi yang kau tunjukkan tidak klasik dari seorang Mizuhana. Akhir-akhir ini kau selalu membicarakan tentang Honoka ya..." Minami mulai berbisik kepadanya.


"...hubungan spesial?"


"Hu-Hubungan apa?"


"Itu loh, lebih dari teman atau sahabatnya. Setiap waktu dan hari pasti topik selalu berkaitan dengan Honoka bahkan setiap harinya selalu saja memikirkan tentang dirinya sampai terus berbicara bersamanya tanpa henti." Minami terus menggoda Hana habis-habisan dengan ekornya yang bergerak cepat.


"Terus dekat dan membicarakan dirinya adalah sikap biasa bagi seorang sahabat, jangan mempermalukanku seperti itu, Minami!" Hana menggembungkan pipinya.


"Wah, klasik, tidak ada ya. Kalau begitu Honoka tidak memiliki saingan, aku beruntung bisa memiliki dirinya sendiri."


"Tidak!!!" Seru Hana keras.


"Kau harus bisa membagi Minami, selalu mendekati Honoka dan membicarakan tentang dirinya bukan berarti aku suka loh...!" Hana mulai panik.


"Aku suka Honoka. Sangat di andalkan bukan, mungkin aku akan menjadikan dirinya sebagai partnerku di pesta romantis."


"Pergerakan yang cukup berani, Minami... Sayangnya aku sudah mengajak dirinya duluan."


"Kau suka ya..."


"Tentu saja!"


"Cinta?"


"Cinta sebagai teman!"


Hana memasang wajah kaku ketika menyadari Minami yang sejak awal menjebak dirinya sampai ia terbawa suasana.


"Kamu memang memiliki tempat yang pas untuk Honoka di dalam dirimu, Hana! Hahaha!" Minami tertawa terbahak-bahak, ia berhasil mempermainkan teman masa kecilnya.


"Itu tidak adil, Minami...!!! Kamu juga menyukai dirinya bukan!?"


"Aku sangat mencintainya! Sangat-sangat! Aku akan curi ciuman pertamanya dari kamu, Mizuhana!"


"Tidak akan aku biarkan! Aku lebih mencintai Honoka lebih dari apapun sampai hal pertama yang kami lakukan akan sama dan saling bertukar--- Ahh!" Hana kembali sadar bahwa telah menginjak perangkap lainnya.


"Tuhkan! Hahaha, sangat klasik! Kau mencintai Honoka lebih dari apapun." Minami tertawa terbahak-bahak bahkan ia sampai berguling-guling di atas tanah.


"Uckkk..."


"Minaaaaa..." Hana memasang raut wajah kesal yang di campur dengan rasa malu, tawa Minami berhenti seketika melihat langit-langit dipenuhi dengan air yang berbentuk ombak besar.

__ADS_1


"...MIIIIIIII!!!" Hana menjatuhkan semua air itu kepada Minami sampai ia terlempar sangat jauh.


__ADS_2