Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 1043 - Pelatihan Shimatsu


__ADS_3

Koizumi dan Arata terus melakukan latih tanding dengan saling menghadapi satu sama lain, kali ini Arata mengikuti latihan yang sering dilakukan oleh keturunan Comi yaitu saling membunuh asalkan efek pemulihan bisa secepatnya terjadi.


Dengan latihan seperti itu mereka dapat menerima Legend's Boost sebanyak-banyaknya, mereka mengakhiri pertarungan itu dengan melancarkan satu tebasan yang saling berbenturan.


"Baiklah Koizumi, sebelum kita memulai latihan lainnya, aku ingin menanyakan satu hal kepadamu." Arata duduk di atas batu dan mengeluarkan pedang God Slayer miliknya.


"Apa kau bersedia untuk menjadi pengguna kekuatan tujuh dosa besar yang baru...?"


"Eh?" Koizumi yang mendengar itu langsung terkejut sekaligus kebingungan, karena awalnya ia mengira dirinya hanya akan dilatih untuk menggunakan pedang God Slayer saja.


"Apa maksudnya, kakek? Bukannya aku hanya akan dilatih beberapa sihir dan cara untuk menggunakan pedang God Slayer saja?"


"Jawabannya simpel, itu karena batasan kontrak Kuro denganku sudah hampir habis..."


"Hampir habis? Kalau begitu kenapa kakek tidak mewariskan kekuatan itu kepada Tante Hana?" Arata terdiam sebentar lalu mengingat waktu ia mencoba untuk mewariskan kekuatan tujuh dosa besar kepada Hana.


"Maaf, tapi... Aku tidak ingin kekuatan sebesar itu diwariskan kepadaku." Arata yang mendengar hal itu langsung terkejut, namun dia yakin Hana pasti memiliki alasan tertentu untuk menolak kekuatan sebesar itu.


"Kenapa kau menolak kekuatan sebesar ini?" Tanya Arata.


"Seharusnya kau merasa bersyukur karena bisa bertambah sangat kuat." Hana hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Akan sangat disayangkan jika kekuatan sebesar itu diwariskan kepada Legenda yang bahkan tidak bisa melindungi orang tersayangnya menggunakan kekuatannya sendiri." Jawab Hana.


"Hana, Legenda tidak pernah terpuruk dengan masa lalu, lebih baik kau menerima kekuatan ini agar bisa meraih kebebasan untuk masa depanmu sendiri..."


"Sudah kubilang aku tidak ingin kekuatan itu! Lebih baik aku terus meningkatkan kekuatan yang aku miliki hingga akhirnya aku bisa melindungi orang-orang yang kusayangi dengan kekuatanku sendiri!!" Arata yang melihat Hana marah hanya bisa menghela nafas dan membiarkan dia memilih jalannya sendiri.


"Hah... Baiklah, entah kenapa aku merindukan sikapmu yang ceria seperti dulu." Arata meninggalkan Hana yang terlihat kesal karena mengingat kembali masa lalunya yang kelam.


"Sial..." Hana langsung menghantam daratan lalu ia pergi untuk melanjutkan latihannya kembali agar bisa berjuang sebisa mungkin dalam Ragnarok.


"Dia menolaknya, alasannya tidak bisa kuberitahu, jika ingin tahu maka tanyakan saja kepada orangnya sendiri."


"Menolaknya?" Koizumi awalnya ingin memaksa Arata untuk memberitahu alasannya, terapi dia mengurungkan niatnya karena saat ini dia perlu fokus kepada latihannya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menjelaskan cara menggunakan pedang God Slayer ini." Arata menancapkan pedang God Slayer nya ke atas tanah sehingga menyebabkan gempa kecil.


"Seperti yang kau ketahui, pedang God Slayer memiliki satu syarat penting agar bisa digunakan yaitu membunuh dewa, jika kau belum pernah membunuh Dewa maka mengangkat pedang ini saja tidak akan mampu."


"Dan pedang God Slayer hanya bisa menyerang musuh beberapa kali sesuai dengan kemampuanmu dan seberapa sering kau melawan dewa, lalu jangan sampai menggunakan pedang itu di keadaan yang tidak mendesak, tapi untuk sekarang coba lah untuk menyerang gunung yang ada di sana."


Arata menunjuk ke arah sebuah gunung yang sangat besar, Koizumi langsung menarik pedang tersebut dan ia dikejutkan dengan kekuatan yang mengalir ke dalam tubuhnya.


"Rasanya pedang ini langsung mengakuiku..." Koizumi langsung melakukan kuda-kudanya dan setelah itu mengayunkan pedangnya sekuat tenaga sehingga menciptakan tebasan angin yang langsung menghancurkan gunung tersebut berkeping-keping.


"Hah... Hah... Hah... Kekuatannya memang hebat, tetapi rasanya kekuatannya langsung menghilang setelah menghancurkan gunung itu." Koizumi langsung meletakkan pedang itu ke tanah.


"Itu karena kau baru pertama kali menggunakannya..."


"...selanjutnya kau ingin belajar cara untuk menggunakan Tracer atau Logic Breaker terlebih dahulu?"


"Hmm... Tracer."


"Tracer ya, baiklah, kalau begitu tangkap ini." Arata melempar sebuah belati kepada Koizumi lalu ia langsung menangkapnya.


"Aku ingin kau menyalin senjata itu dengan cara menganalisis jejak sirkuit sihir terdapat di dalam senjata tersebut..."


"Sirkuit sihir...? Di dalam senjata?" Koizumi memperhatikan belati tersebut dengan ekspresi bingung karena apa yang ia lihat hannya lah belati biasa, bukan belati yang diperkuat dengan sihir.


"Itu memang belati biasa, tetapi selama belati itu pernah digunakan untuk bertarung maka akan terdapat jejak sirkuit sihir, cobalah untuk merasakannya dengan sirkuit sihirmu juga."


"Baiklah... Huft..." Koizumi mulai berkonsentrasi dengan kedua tangannya untuk menyentuh belati itu.


Kedua tangannya mulai memunculkan sirkuit sihir lalu merangsang lambang sirkuit yang terdapat di dalam belati tersebut sampai memperlihatkan sirkuit sihir yang terlihat tidak beraturan.


"Apa kau sudah mendapatkan gambaran belati tersebut?" Tanya Arata yang mulai melihat Koizumi langsung menjawabnya dengan mengangguk.


"Baiklah, sekarang lepaskan tangan kananmu dari belati itu dan bayangkan belati itu mulai membentuk di tanganmu, ini adalah proses yang sangat sulit karena bisa saja terjadi tubrukan sihir saat proses pembentukan senjata."


Sebuah belati perlahan-lahan mulai terbentuk di tangan Koizumi, namun saat di pertengahan tiba-tiba saja sirkuit sihir di tangan kanannya berwarna merah dan membuat belati itu langsung meledak.


"Akh?!" Tangan Koizumi langsung terpental dan telapak kanannya memunculkan sirkuit sihir yang merah.


"Ah sial, padahal sedikit lagi." Arata yang melihat telapak tangan Koizumi mulai memegang tangannya lalu memperbaiki sirkuit sihir miliknya.


"Jangan sampai fokusmu hilang, meniru senjata saja sudah sesulit ini apalagi meniru sihir milik orang lain terutama milik Dewa."


"Baiklah, aku akan mencobanya lagi." Koizumi terus berusaha meniru belati tersebut, dia memerlukan beberapa hari untuk bisa meniru belati tersebut.


Walaupun membutuhkan beberapa hari untuk menguasainya, mereka berada di dimensi buatan Arata yaitu Mugen No Kensei jadi waktu di dunia nyata tidak berpengaruh sama sekali.


"Akhirnya aku berhasil..." Koizumi berhasil meniru belati tersebut dan hasilnya bisa dikatakan cukup memuaskan, setelah itu ia mulai menyempurnakan sihir itu dalam beberapa minggu.


"Baiklah, kalau begitu tirulah semua senjata ini." Arata mulai menciptakan semua senjata yang pernah ia tiru lalu melemparnya menuju arah Koizumi.


Koizumi langsung menganalisis sirkuit sihir dengan memancarkan aura tipis yang mengenai semua senjata itu, dan dia berhasil menciptakan tiruan senjata tersebut.


"Bagus, mungkin karena DNA dari keturunan Comi yang ada di dalam tubuhmu jadi kau belajar cukup, kalau begitu selanjutnya!"

__ADS_1


Arata melempar sebuah bola api menuju arah Koizumi, dan ia langsung meniru sihir Arata lalu melemparnya sehingga kedua sihir itu saling bertabrakan.


"Karena kau sudah bisa menggunakan sihir Tracer maka tahapan selanjutnya adalah Logic Breaker, sihir ini hampir sama dengan Tracer hanya saja kau harus menghancurkan konsep dan sirkuit sihir tersebut."


"Logic Breaker... Sihir yang dapat mematahkan logika apapun ya... Apa aku juga bisa mematahkan salah satu kemampuan musuhku?" Tanya Koizumi.


"Ya tentu saja bisa, hanya saja itu bukan lagi sirkuit sihir melainkan inti sihir dan jiwa yang dimiliki oleh musuh..."


"...misalkan kau ingin mematahkan logika atau kemampuan dari sembilan nyawa yang dimiliki ras Neko Legenda, maka kau harus bisa menggapai inti sihir dan jiwanya lalu mematahkan konsep tersebut."


"Hmm... Dengan kata lain sihir ini bisa mematahkan gelar dewa juga?" Tanya Koizumi.


"Kalau kau melakukan itu maka sirkuit sihirmu akan hancur lebur, kau tidak bisa seenaknya mematahkan logika itu, bahkan Kakekmu ini sangat kesulitan untuk mematahkan logika sihir yang dimiliki Dewa Agung Oath."


"Tapi bukan berarti itu tidak mustahil kan? kalau begitu aku akan berusaha untuk menyempurnakan sihir ini!" Ucap Koizumi yang memiliki motivasi besar untuk tetap menjadi Legenda terkuat melebihi Shinobu.


Arata langsung tersenyum puas ketika melihat Koizumi memiliki semangat juang yang sangat besar, tidak seperti dirinya yang sudah mulai bosan dan lelah dengan semua konflik yang ia rasakan.


"Baiklah, pertama adalah ini." Arata memunculkan api di tangannya.


"Hancurkan sirkuit sihir ini." Koizumi mulai berkonsentrasi dan mulai menyebarkan aura tipis


Setelah aura tipis itu menyentuh sihir Arata, dia mulai lebih fokus dan merasakan sirkuit sihirnya lalu Koizumi mulai menghancurkan sirkuit sihirnya.


"Aku berhasi- agh?!" Tiba-tiba saja seluruh tubuh Koizumi memunculkan sirkuit sihir berwarna merah dan hasilnya ia menerima banyak sekali tekanan dan kesakitan.


"Sirkuit sihirnya overheat ya, sayang sekali..." Arata menyentuh kepala Koizumi dan menstabilkan kembali sirkuit sihir miliknya.


"Jangan langsung menghilangkan auramu dengan sirkuit sihir yang telah kau hancurkan, atau sirkuit sihir tadi akan memantul kepadamu sehingga menyebabkan sirkuit sihirmu overheat."


"Baiklah, lain kali aku akan berhati-hati." Koizumi terus melatih Logic Breaker untuk menyempurnakannya, dia terus berlatih selama berminggu-minggu dan hasilnya sangat memuaskan bagi dirinya sendiri.


"Aku sudah berhasil menghancurkan sihir tingkat menengah, jika aku dapat menyempurnakan kekuatan ini maka aku bisa memanipulasi logika!" Koizumi mengatakannya selagi memasang tatapan serius.


"Baiklah, hanya dua hal itu saja yang dapat aku ajarkan kepadamu, setelah ini aku akan mewariskan kekuatan tujuh dosa besar kepadamu."


“Sebelum aku mewariskan tujuh dosa besar, Kakek ingin memberitahu kalau kau juga akan diwarisi kekuatan tujuh kebijakan surgawi.”


“Eh?” Koizumi langsung merasa bingung ketika mendengar perkataan Arata, karena dia pikir dirinya hanya akan mewarisi kekuatan tujuh dosa besar.


“Jika kau ingin bertanya kenapa maka tanyakan saja kepada adikku ini.” Sebuah portal muncul di belakangnya sampai memperlihatkan seseorang melangkah keluar.


“Biarkan aku yang menjelaskan semuanya...” Akina terlihat gugup saat berhadapan kembali dengan Arata.


“Sudah lah, jangan gugup seperti itu, aku sudah tidak peduli lagi hubunganmu dengan malaikat itu.” Arata menghela nafasnya.


“Sudah lama tidak bertemu, Tante." Koizumi menundukkan kepalanya kepada Akina yang sudah lama sekali tidak bertemu karena terlalu fokus berlatih.


“Lagi-lagi masalah yang berkaitan dengan kontrak, memangnya kontrak Hikari dan Kuro itu seperti apa?” Tanya Koizumi yang mulai menyilangkan kedua lengannya.


“Kontrak yang mengikat kita hanya satu, setelah memenuhi syarat untuk menjalani kontrak maka batasan kontrak kita yaitu Hikari atau Kuro membantu kita di saat kita berada diambang kematian sebanyak lima kali.”


“Dengan kata lain kalian berdua sudah sekarat sebanyak lima kali?"


"Itu artinya jika Kakek berada di kondisi tersebut maka...” Koizumi mulai membayangkan Arata gugur dalam medan perang sehingga menyebabkan tubuhnya merinding seketika.


“Koizumi, walaupun kontrak Arata sudah habis bukan berarti dia akan melemah sepenuhnya, dia masih bisa membunuh Dewa hanya dengan kemampuan murni miliknya, tidak ada satu pun hal yang harus kau khawatirkan.”


“Aku tahu itu, Kakek sangatlah kuat bahkan tanpa mengandalkan Kuro sekalipun.”


“Apa kalian sudah selesai?” Arata menghampiri mereka berdua.


“Ya, kami sudah selesai kok.” Jawab Akina.


Arata menghampiri mereka berdua lalu ia mengalihkan pandangannya kepada Akina untuk membicarakan sesuatu, “Kalau begitu kita langsung saja memulai ritual itu.”


Akina dan Arata mengulurkan lengan mereka ke depan sampai tapaknya menyentuh punggung Koizumi, “Ingat Koizumi... sekali kau mendapatkan kekuatan dari tujuh dosa besar maka kemungkinan besar kau bisa akan mengalami sesuatu yang buruk."


"Seperti kekuatan yang tidak bisa kau kendalikan, jadi tahanlah sampai tujuh kebajikan surga diwariskan kepadamu untuk menjadi penyeimbang emosimu itu.” Koizumi menjawabnya dengan anggukan lalu ia memejamkan matanya untuk menerima semua kekuatan tersebut.


“Huft..."


"...dengarlah permintaanku wahai Kuro sang mortal terkuat yang  mengendalikan tujuh iblis yang mewakili emosi negatif!"


"Dengan kontrak yang kita jalani telah habis sepenuhnya maka aku memintamu untuk memindahkan semua kekuatanmu ke wadah yang baru!”


Sebuah lingkaran sihir muncul di bawah kaki mereka lalu tujuh iblis dari perwakilan tujuh dosa besar muncul sehingga mereka langsung berlutut, di saat yang bersamaan juga Kuro muncul tanpa menggunakan tubuh Arata.


“Kepada seluruh perwakilan dosa, masuk lah ke dalam wadah yang baru ini dan uji lah dirinya jika kalian perlu.”


Semua perwakilan itu mengangguk sehingga tubuh mereka berubah menjadi aura yang merasuki Koizumi kecuali Kizura yang melihat ke arah Arata.


“Tolong jaga baik-baik Koizumi, Kizura.” Ucap Arata sampai Kizura hanya bisa tersenyum lalu ia masuk tubuh Koizumi.


Di dalam alam bawah sadar Koizumi, ia diperlihatkan sebuah pintu besar yang memiliki ukiran mengerikan lalu pintu tersebut terbuka dengan sendirinya.


Memperlihatkan Lucifer yang duduk di takhtanya bersama perwakilan dosa lainnya yang duduk di takhta mereka masing-masing.


“Bocah surga, kau pikir kami akan patuh semudah itu pada dirimu?"

__ADS_1


"Akan sangat lucu bukan jika anak surga sepertimu bisa mengendalikan kita.” Tanya Lucifer dengan hawa membunuh yang sangat pekat.


Koizumi langsung melesat ke depan sampai mereka tidak bisa melihat pergerakan KOIZUMI yang mencengkeram wajah Lucifer di hadapannya, "... ..."


“Sesuai dengan julukanmu ya, Lucifer.” Koizumi terus mencengkeram wajah Lucifer dengan hawa membunuh yang lebih pekat sehingga Lucifer sendiri mulai mengeluarkan keringat dingin.


“Apa-apaan dengan bocah ini...” Para perwakilan lain ingin melawan Koizumi banyak saja mereka tidak bisa menggerakkan tubuh mereka sedikit pun karena hawa yang ia lepaskan.


“Dengar ini Lucifer, aku sudah bersumpah kepada diriku sendiri untuk menjadi lebih kuat agar bisa membunuh dewa bajingan itu yang sudah menyiksa ibuku sampai mati!"


"Untuk melakukan itu... aku akan melakukan apapun yang kubisa!” Kisetsu yang dikenakan oleh Koizumi mulai terbakar sehingga tergantikan oleh gaun.


Sebuah mahkota mulai terbentuk di puncak kepala Koizumi sampai ia terlihat seperti seorang ratu, “Mustahil... Apakah ini kehendak dari neraka itu sendiri?”


Setelah mahkota itu selesai terbentuk di atas kepalanya sebuah lingkaran sihir berwarna merah kehitaman muncul di punggung Koizumi sampai ia terlihat seperti seseorang yang berbeda sekarang.


“Oh rajaku yang gugur di peperangan... jika kau melihat ini maka kau sendiri akan berkeringat dingin.” Koizumi memfokuskan pandangan dinginnya kepada Lucifer sampai melepaskan cengkeramannya lalu mundur ke belakang.


“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, neraka telah menobatkan seorang mortal menjadi Ratu neraka.”  Lucifer dan yang lain langsung berlutut di hadapan Koizumi yang sedang menatap kedua tapaknya.


“Kami akan mematuhi semua perintahmu, Ratu Neraka Koizumi!” Koizumi hanya bisa menyeringai selagi memasang tatapan yang begitu dingin.


“Ternyata rasa benciku kepada para Dewa itu tidak sia-sia.” Koizumi langsung menghilang sehingga kesadarannya telah kembali.


“Koizumi?” Arata melihat Koizumi yang tidak menunjukkan amarah apapun yang dapat menyebabkan dirinya untuk mengamuk.


“Tidak kusangka akan berjalan semudah ini, padahal waktu dulu kesadaranku hampir di ambil alih sepenuhnya.” Kuro mulai mendekati Koizumi sampai  ia dikejutkan dengan sebuah cincin berbentuk mahkota yang terdapat di jari manisnya.


“Arata... Koizumi telah menjadi ratu neraka.” Arata yang mendengar itu langsung terkejut bahkan Hana dan Akina tidak bisa berkata apa-apa ketika mengetahui dirinya terangkat menjadi ratu neraka.


“Ratu neraka?! Bagaimana bisa?!”


“Aku juga tidak mengetahuinya, pemilihan raja atau ratu neraka hanya dilakukan oleh kehendakkan neraka itu sendiri."


“Hah... Cucuku ini memang penuh kejutan, kalau begitu sisanya bisa aku serahkan kepada dirimu, Akina." Arata mundur beberapa langkah untuk membiarkan Akina menjalankan ritual.


“Dengarlah permintaanku wahai Hikari sang mortal terkuat yang mengendalikan tujuh malaikat yang mewakili emosi positif..."


"...dengan habisnya kontrakku denganmu maka aku meminta dirimu untuk memindahkan semua kekuatanmu ke dalam wadah yang baru!”


Sebuah lingkaran sihir mulai muncul bersamaan dengan Hikari, seperti yang Koizumi alami tadi, dia langsung masuk ke dalam alam bawah sadarnya dimana gerbang surga muncul di hadapannya.


“Shimatsu Koizumi.” Seorang malaikat muncul di belakangnya selagi menyentuh kedua bahunya.


“Namaku adalah Rafael, malaikat yang mewakili kerendahan hati..."


"...karena kau adalah anak surga dari Haruki Comi maka aku tidak perlu memberikan dirimu sebuah tes karena semua tindakan yang kau lakukan selama ini tidak ada yang salah...” Setelah mengatakan hal itu Rafael menghilang sampai kesadarannya telah kembali.


“Hmm... Dua kekuatan terkuat dalam satu wadah, aku tidak sabar untuk menyaksikan kekuatan dan potensi yang akan ia perlihatkan.” Kuro langsung berubah menjadi aura untuk masuk ke dalam tubuh Koizumi bersama Hikari.


“Kuro dan Hikari masih perlu menyesuaikan kekuatan mereka dengan sirkuit sihirmu, jadi untuk sekarang kita istirahat sebentar, lagi pula Ophilia ingin berbicara sebentar denganmu.”


“Nenek?” Mereka bertiga langsung keluar dari dimensi itu untuk bergegas pergi menuju restoran kecuali Hana yang ingin melanjutkan latihannya.


Di sana hanya terlihat Ophilia yang sedang meminum segelas kopi sambil memainkan cincin pernikahannya, “Apa yang ingin nenek bicarakan denganku?”


“Bukan hal yang penting sih, tetapi nenek ingin memainkan rambut cucunya yang cantik ini sebelum perang akbar dimulai.” Ucap Ophilia sambil menunjukkan isyarat untuk duduk di sampingnya .


“...baiklah.” Koizumi langsung duduk di samping Ophilia, namun posisinya membelakangi agar Ophilia bisa memainkan rambut Koizumi dengan membentuk beberapa model rambut.


“Hari ini kamu sangat penurut ya Koizumi, biasanya kamu akan selalu menolak dan pergi begitu saja dengan alasan latihan...


"kamu memang mirip dengan ayahmu ya.” Ophilia mengikat rambut Koizumi menjadi twintail, namun di saat yang bersamaan Ophilia menggambar sebuah tato Phoenix di tubuhnya.


Tato yang berfungsi sebagai segel makhluk mitologi serta sihir, dan Koizumi tidak menyadarinya karena saat ini sirkuit sihirnya sedang membiasakan diri.


"Heh... kalau tidak salah Nenek pernah terlibat dengan Ragnarok sebanyak dua kali, pada saat ini apa yang nenek lakukan...?" Ophilia langsung berhenti sementara lalu tersenyum pahit.


“Yang nenek lakukan hanyalah menghindari musuh yang kuat dan membunuh musuh yang lemah, menyedihkan bukan?"


"Nenek pada waktu itu masih belum terlalu kuat, bahkan dewa saja tidak bisa aku lawan.” Ophilia telah selesai menggambar tato Phoenix itu lalu ia menepuk punggung Koizumi.


“Wah ternyata cucu nenek bisa secantik ini.” Ophilia mengambil sebuah cermin lalu memberikannya kepada Koizumi agar ia bisa melihat dirinya di hadapan cermin.


“Uhh... Aku lebih suka gaya rambut ikatan ekor kuda.”


“Ahahaha~ setidaknya gunakanlah model rambut yang lain, lagi pula rambutmu itu panjang dan indah sekali..."


"Ngomong-ngomong tadi nenek memasukkan kemampuan keturunan Phoenix, dimana saat kau berada di ambang kematian maka seluruh lukamu akan langsung pulih dan kekuatanmu akan meningkat...”


“...tetapi kemampuan itu hanya bisa dilakukan sekali dalam seumur hidup, jadi bertahanlah saat perang akbar nanti.” Ophilia mencium kening Koizumi lalu mengelus kepalanya.


“Nenek juga harus bertahan agar kita nanti bisa berkumpul, aku berjanji akan menghabiskan lebih banyak waktu dengan Kakek dan Nenek nanti setelah Ragnarok selesai.”


“Kalau begitu Nenek akan berjuang.” Setelah berbicara selama satu jam bersama cucunya, Koizumi memutuskan untuk melakukan meditasi agar mempercepat sirkuit sihirnya terbiasa dengan kekuatan Kuro dan Hikari.


“Apakah kau yakin memberikan kekuatan utama mu kepada Koizumi?” Tanya Arata sambil memeluk Ophilia dari belakang.


“Ya... Lagi pula aku tidak terlalu berharap diriku atau dirimu bertahan hidup hingga Ragnarok selesai.” Ophilia memegang erat tangan Arata dan air matanya mulai mengalir deras

__ADS_1


“Tapi tetap saja kita baru bertahan hidup di perang akbar itu, atau kita hanya akan memberikan kesedihan lebih kepada yang lain, terutama Hana...”


"...kita harus berjuang."


__ADS_2