
Setelah menikmati makan siang yang terasa sangat enak, mereka semua mulai mengelilingi Neko Isle hanya untuk melihat-lihat dan bersenang-senang dalam hari libur mereka tentunya.
"Sepertinya ayah kita tadi sempat bertarung..." Asriel memulai pembicaraan kepada Shuan dan Rokuro yang sedang bersantai.
"Jika tadi pertarungan sempat terjadi maka Ayahku tentunya akan menendang bokong kedua ayah kalian..." Kata Shuan sambil meminum segelas susu hangat.
"Sepertinya Pride yang kau dan Kakakmu miliki cukup besar dalam mengakui Ayahmu itu yang terkuat ya...?" Tanya Rokuro.
"Tentu saja... aku mencoba untuk tidak berlebihan tetapi faktanya ia telah mengalahkan Rxeonal dan Zangetsu, aku sendiri berhasil mengalahkan anak dari raja iblis itu..."
"Haruskah aku mengatakannya?" Tanya Rokuro kepada Asriel, Asriel langsung mengerti apa yang Rokuro coba maksud karena ia sendiri terlihat tidak sabar untuk memberitahu fakta lainnya.
"Jangan membawaku ke topik kalian... aku sendiri tidak begitu spesial."
"Tetapi kau menang melawan Honoka."
"Hanya sekedar keberuntungan, aku sendiri mendapatkan sebuah cerita kecil dari Honoka bahwa ia sempat melamun dan pindah ke alam yang berbeda..." Asriel mengambil sebuah camilan.
Shuan sejak awal sudah memasang tatapan kesal karena ia mengetahui apa yang akan Rokuro katakan, walaupun dirinya berhasil mengalahkan Oskadon.
Dia sendiri harus mengenal sebuah fakta bahwa dirinya belum pernah menang melawan Rokuro yang mengartikan dirinya masih mendapatkan kekalahan yang berturut-turut.
"Iya, aku mengerti, brengsek! Kau masih jauh lebih kuat dariku!" Seru Shuan dengan tatapan kesal, Asriel dan Rokuro langsung tertawa melihat tatapan kesal Shuan.
Beberapa menit kemudian, Rokuro mulai memikirkan sesuatu penting dan sepertinya situasi terlihat aman karena yang lain sedang bermain di taman hiburan dan menikmati setiap fasilitas yang ada di Neko Isle.
"Mungkin sudah saatnya aku mengatakan sesuatu kepada kalian..." Rokuro menghabiskan camilannya, Asriel dan Shuan menatap Rokuro dengan tatapan yang terlihat bingung.
"Mengatakan sesuatu? Jangan-jangan kau ingin mengajakku berkelahi lagi, Rokuro!?" Shuan menepuk tinjunya sendiri.
"Tidak, bodoh. Aku ingin membicarakan masa depan bersama kalian... kalian adalah sahabat yang bisa aku percayai soal masa depan yang aku maksud." Rokuro memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
"Sahabat? Bagaimana dengan Bakuzen?" Tanya Asriel.
"Bukannya dia sedang sibuk...?"
"Ahh, iya juga, di pikir-pikir ia selalu menghilang dan menjauh dari kita." Shuan menatap ke atas atap yang di lindungi dengan kaca jadi ia dapat melihat pemandangan langit.
"Kalau tidak salah Honoka juga sering menghilang..." Asriel menatap Shuan.
""Jangan-jangan mereka...!?""
"Topik yang aku coba bahas sepertinya sudah terlupakan dengan gosip, kita pikirkan mereka nanti setelah aku memberitahu kalian sesuatu yang penting..." Rokuro memegang erat sesuatu di dalam sakunya.
"Beritahu kami secepatnya, tentunya aku sendiri aku membantu dirinya semampu mungkin." Shuan menepuk punggung Rokuro.
"Aku juga sama, sebagai teman kita harus ada untuk satu sama lain." Asriel mengangguk, membuat Rokuro tersenyum serius lalu mengangguk.
__ADS_1
"Mungkin sudah saatnya kita untuk memikirkan sesuatu yang lebih tinggi lagi, misalnya masa depan yang begitu cerah... karena ada Kesempatan kenapa tidak melakukannya?"
"Masa depan ya... Masa depan apa yang kau maksud?" Tanya Asriel.
"Masa depan untuk meneruskan generasi, menciptakan sebuah kebahagiaan untuk satu sama lain dalam keluarga." Perkataan Rokuro langsung membuat Asriel kaget.
"Meneruskan generasi? Kamu ingin mengajak berkelahi kepada seluruh orang atau semacamnya...?" Tanya Shuan, membuat Rokuro dan Asriel menghela nafasnya.
"Shuan, kau ini memang tidak peka dan bodoh, itu lah kenapa Kou sedang marah kepadamu. Seharusnya kau sadar sejak awal karena panggilan dari Korrina." Tatap Rokuro serius.
"Korrina...?"
"Ahh! Kau ingin menepuk kepala orang dengan kipas ketika bertarung?" Shuan terkekeh, membuat Rokuro dan Asriel menepuk wajah mereka masing-masing.
"Apa yang terjadi denganmu, hah? Kenapa kau sudah melampaui batasan kebodohan itu selama sehari...? Apakah karena efek itu?"
"Tidak, sepertinya memang aku saja yang tidak mengerti apa yang kau maksud. Aku tidak menyukai teka-teki, cepat jelaskan secara terang-terangan!" Seru Shuan yang mulai marah.
Rokuro melihat sekeliling restoran, tidak ada orang yang ia kenal melainkan semua bangsa Neko Legenda sedang menikmati hidangan mereka.
Rokuro bersama kedua sahabatnya saat ini berada di ruangan yang cukup cocok untuk menikmati hidangan selagi melihat pemandangan yang begitu hijau dengan gunung besar di hadapannya.
"Bisakah kalian merahasiakan ini?" Rokuro mengeluarkan sebuah kotak kecil merah lalu ia membukanya, membuat Shuan melebarkan kedua matanya.
"Apa...?! Sudah saatnya...!? Kau ingin melamar Haruka!?" Tanya Shuan dengan nada tinggi.
"Soal itu... alasanku terdengar logis..."
"Logis?" Asriel terlihat kebingungan dan ia mendengar bisikan Rokuro.
"Shuan hanya ingin merusak anak kecil dan bahkan tidak ingin mati sebagai seorang perjaka." Bisik Rokuro, Asriel tercengang ketika mendengar.
"Shuan! Buruk sekali...! Kau bisa saja di tahan selama 20 tahun! Merusak ratu Touriverse sama saja merusak seluruh alam semesta...!" Perkataan Asriel membuat Shuan memandang arah lain dan ia sendiri bahkan bisa mendengar Rokuro menertawainya.
"Aku tidak menyangka kau akan mempercayai si bodoh itu, justru aku sendiri ingin menikahi Kou agar aku dapat menemaninya agar ia bisa menetapkan senyuman itu..."
"Dan apa yang terjadi sekarang? Kenapa Kou merasa kesal kepadamu...?" Tanya Rokuro.
"Aku sendiri tidak mengerti, setidaknya aku ingin coba untuk berbicara dengannya tetapi ia terus menghindari diriku." Shuan menghela nafasnya.
"Kau harus bisa bertanggung jawab sebagai pacarnya, Shuan. Memiliki pasangan seperti Kou, tanggung jawab yang kau miliki pasti sangat besar." Ucap Asriel.
"Kau benar... padahal aku sendiri memiliki pilihan yang sama dengan Rokuro, menikah secepat mungkin untuk menemani dirinya." Shuan mengeluarkan satu kotak merah kecil.
Asriel terkejut ketika melihat kedua temannya akan menikah sebentar lagi, "Aku tidak menyangka kalian akan menikah secepat itu..."
"...bukan itu saja, aku sendiri bahkan belum memiliki niat seperti itu. Menikah dengan Mitsuki bahkan tabunganku masih belum cukup untuk membelikannya cincin." Ucap Asriel.
__ADS_1
"Kami juga merasakan hal yang sama, bisa di lihat dari cincin merah ini bahwa keduanya terlihat persis dan cocok." Rokuro mendekati cincin itu kepada Asriel, ia langsung mengangguk.
"Benar juga... keduanya sama, walaupun berwarna merah setidaknya itu terlihat sangat indah dan pantas untuk di kenakan oleh Kou dan Haruka." Asriel menganggukkan.
"Aku memiliki caraku untuk melamar Kou dan sepertinya kau memiliki kendala dalam melamar Haruka...? Tinggal memberikannya saja." Kata Shuan, ia memasukkan kembali cincin tersebut.
"Bukan begitu, aku tidak ingin lamaran ini menjadi membosankan, aku ingin memiliki rasa romantis dan bermakna di dalamnya agar kami bisa mengingatnya sebagai kenangan yang begitu indah..." Rokuro menutup kembali kotak kecil tersebut.
"Ahh... Lamaran yang indah ya... Kau beruntung untuk melamar Haruka di Neko Isle, dipenuhi dengan pandangan alami bahkan terdapat pantai dengan air jernih juga." Shuan tersenyum serius.
"Aku ingin kalian membantu diriku malam, bisakah kalian melepaskan kembang api di malam hari agar suasananya terasa lebih pas." Rokuro mulai memikirkan sebuah rencana.
"Sebelum kita membahas rencana, apakah kau sudah memiliki semua kewajiban dan tanggung jawab untuk berkeluarga nanti? Biaya menikah... tempat tinggal... biaya untuk keluarga." Asriel mulai berbicara.
"Semuanya sudah siap, aku akan terus bekerja di restoran Ayahku atau mungkin membuka usaha sendiri..."
"...soal tempat tinggal aku ingin berada di sebuah pulau pribadi, pandangan alami dan tentunya rumah besar yang mewah agar Haruka merasa nyaman."
"Menikahi seorang keturunan Comi membutuhkan banyak hal loh, mereka lahir dari keturunan sang pencipta yang artinya kau harus kaya raya." Kata Shuan.
"Coba tatap dirimu sendiri, Shuan, kau menikahi gadis paling kaya dan terkenal di seluruh alam semesta, bagaimana kau akan menikahinya?" Tanya Rokuro.
"Mudah, aku akan membantu Kou dalam pekerjaan ratu Touriverse karena ia sendiri lebih cocok bekerja sedangkan aku mungkin menjadi bapak rumah tangga..."
Asriel dan Rokuro menatap satu sama lain, "Pfft..."
""HAHAHAHAHAHA!!!""
"Oi, oi, kau dengar tadi, Asriel? Bapak rumah tangga..."
"Hahaha! Perutku... perutku sakit...!"
"Grrrggghhh, brengsek...!" Shuan mengerutkan dahinya.
"Kau sendiri, Rokuro, kenapa ingin tinggal di pulau pribadi. Kau tahu para Legenda itu cukup kaya raya dan tidak ada lagi pulau tersisa yang mungkin---" Shuan melihat Rokuro sedang melambaikan tangannya kepada seseorang.
Shuan menoleh ke belakang lalu melihat Kou menghampiri Rokuro, "Kenapa, Rokuro?"
"Kou, bolehkah aku memberitahu dirimu sebuah rahasia?"
"Rahasia...? Menikahi kakak?"
"Kau cepat mengerti sepertinya, tidak salah lagi The Mind memang cukup mengerikan." Kata Rokuro, ia melihat Kou duduk di sebelahnya sambil menikmati hidangan madunya.
Shuan merasa canggung seketika melihat Kou berada di hadapannya tidak menyapa dirinya sama sekali.
"Kou, bisakah aku meminta sesuatu kepadamu?"
__ADS_1
"Hm~ boleh saja."