
Iblis itu mulai memberitahu Shuan bersama kedua temannya tentang beberapa murid angkatan tiga yang sudah membeli informasi.
Sebagian dari mereka benar-benar mengincar angkatan satu dan semua wajah mereka langsung di tandai oleh Shuan, besok adalah hari dimana mereka akan melaksanakan tujuan baru yaitu menyingkirkan angkatan ketiga dengan cepat sebelum terlambat.
"Sepertinya kita akan sibuk ya... banyak sekali angkatan tiga yang ingin menyingkirkan dirimu, Rokuro."
"Justru bagus, mereka bisa datang menghadapiku jika ingin tetapi mereka lebih memilih untuk menyerang dalam waktu yang tepat. Lebih baik kita langsung saja serang mereka."
"Aku tidak menyangka beberapa murid membeli informasi tentang diriku hanya untuk mencoba menyingkirkan ku." Rokuro menghela nafas panjang lalu mendengar kembali apa yang iblis itu katakan.
Angkatan ketiga bisa saja berakhir dalam waktu yang dekat karena jumlah muridnya yang begitu sedikit, Shuan dan kedua temannya sudah jauh dari cukup untuk menyingkirkan seluruh angkatan ketiga itu.
Walaupun mereka memiliki kemampuan yang berbahaya setidaknya mereka akan mencoba cara yang selalu dilakukan oleh Legenda, menyelesaikan semuanya dengan pertarungan dan pukulan.
"Yang terakhir sepertinya seorang pemimpin dari kelas 3T yang bernama Kyazaku Gram."
"Dia adalah ras Raijuu yang membeli informasi tentang seorang murid yang sangat cerdas, kalau tidak salah, hmmm..."
Iblis itu mulai membuka kembali lacinya untuk mencari murid yang sangat cerdas, ketiga Legenda itu tercengang ketika mendengarnya bahkan Shuan mengepalkan kedua tinjunya karena iblis seperti dirinya berani-beraninya membeli informasi tentang Kou.
"Kou Comi---"
"SIALAN!!! SIALAN!!! SIALAN!!! KENAPA KAU MENJUAL INFORMASI TENTANG DIRINYA, HAH!? KU BUNUH KAU, BRENGSEK!!!"
Shuan tiba-tiba mengamuk dan mencoba untuk masuk ke dalam ruangan iblis itu tetapi Rokuro dan Asriel mulai menahan dirinya untuk tetap mengontrol emosinya, semuanya terlambat karena Shuan telah memasuki fase Neko's Rage.
Ia tidak akan berhenti sampai seseorang yang membuat dirinya kesal terbunuh, kekuatan yang ia miliki bertambah besar bahkan sampai mendorong Rokuro dan Asriel mundur ke belakang.
"T-Tunggu...!!! Jangan mendekat...!" Iblis itu tercengang ketika melihat Shuan menghancurkan besi penghalang itu yang sudah terkandung dengan sihir pelindung.
Shuan mulai mendekati iblis itu dengan tatapan yang terlihat mematikan bahkan Iblis itu mulai menyerang dirinya dengan sihir api tetapi tidak mempan karena tubuhnya yang memancarkan cahaya emas.
Shuan mencoba untuk melompat dan menggigit kepala iblis itu tetapi Asriel menyelamatkan dirinya dengan melepaskan sihir es yang membekukan kedua kakinya termasuk dengan kedua lengannya yang mencoba untuk melukai Iblis itu.
Scara refleks Shuan melirik ke belakang dan melihat Asriel seperti musuh yang harus ia basmi karena pandangannya mulai kabur sehingga amarahnya mengontrol dirinya.
"Oi, Shuan, tenangkan dirimu! Kita bisa urus Raijuu itu bersama-sama, ya?" Kata Asriel.
Shuan mulai menghilang dan muncul tepat di belakang Asriel tetapi Rokuro menarik ekornya dengan sekuat tenaga, membuat Shuan tumbang bahkan sampai menjatuhkan dirinya di atas lantai dengan kondisi yang merasakan kesakitan.
__ADS_1
"Sadarkan dirimu, sialan! Kau benar-benar harus bisa mengontrol amarah alamimu sebagai Neko Legenda!" Dengan satu pukulan yang diberikan oleh Rokuro mampu membuat Shuan pingsan.
Melihatnya saja membuat Rokuro sadar bahwa ia bersikap berlebihan lagi tetapi Lenergy yang ia rasakan di dalam tubuh Shuan sudah sedikit, dia pingsan karena lelah dan memaksakan tubuhnya untuk menggunakan kemampuan tata suryanya itu.
"Untuk sekarang nyawamu aman, aku sarankan dirimu untuk berhenti menjual informasi itu atau Shuan akan mencari dirimu dan kemungkinan besar membunuh kau sudah menjual informasi tentang Kou Comi, sekarang pergilah!" Kata Asriel, iblis itu melarikan diri ketakutan dan tidak ingin melanjutkan pekerjaannya itu.
Asriel dan Rokuro mulai menatap Shuan yang terlihat kelelahan bahkan ekspresi menunjukkan kesakitan, "Kau bersikap terlalu berlebihan kepadanya, Rokuro, menarik ekornya saja sudah cukup untuk menenangkan dirinya dari amarah tadi."
"Maaf... hanya saja Shuan selalu meminta diriku untuk memukulnya ketika ia kehilangan kendali terhadap dirinya, amarah Neko Legenda sangat kuat bahkan bisa mengubah dirinya menjadi hewan buas yang tidak pandang bulu, untuk sekarang kita pulang dan membawa Shuan ke kamarnya agar ia bisa tidur, mengerti?"
"Tentu saja, aku merasa kasihan kepada dirinya, dia sangat membantu kita untuk memenangkan pertarungan tadi, Legenda seperti dirinya membutuhkan istirahat yang cukup."
"Apakah kau sadar...? Minami dan Shuan memiliki perasaan menyakitkan kepada Kou karena sudah menyakiti dirinya, Minami memarahi dirinya sedangkan Shuan membuat penyakit yang ia miliki kambuh."
"Ya... aku sudah tahu dari Haruka, mereka berdua memiliki rasa bersalah yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Lebih baik kita jangan membahas topik tentang Kou di hadapan mereka, hati mereka pasti akan terasa sakit ketika mendengarnya..." Kata Rokuro.
Asriel setuju lalu ia mengangkat tubuh Shuan dan membawa dirinya pergi dari gedung itu untuk memesan sebuah taksi agar bisa pulang dengan selamat.
***
"... ..." Minami menempati pipinya di atas tapak tangannya, ia baru saja selesai mengerjakan pekerjaan rumah dan menggunakan waktu tersisa untuk belajar.
"Ayolah, Hana, jangan terus berbaring di kasurku, jika kamu tertidur... siapa yang akan membawamu ke kamar?" Tanya Minami, ia baru saja selesai mempersiapkan bukunya untuk besok.
Minami bangkit lalu melakukan pemanasan kecil agar rasa pegalnya bisa hilang, Hana mulai memikirkan sesuatu yang tidak-tidak seperti pacar.
Entah kenapa ia ingin bisa memiliki sebuah kekasih yang mau mendukung dirinya. Rasa irinya terus bertambah dan berkurang ketika mengetahui teman sekelasnya masih belum memiliki pasangan terutama Minami yang kembali duduk di atas kursi untuk memeriksa kembali tasnya.
"Katanya nanti di minggu kelima akan dipenuhi dengan kesenangan dan hiburan untuk bisa menenangkan pikiran dan jiwa kita yang sudah berusaha untuk bertahan di akademi ini, kesenangan itu bahkan berkaitan dengan seorang kekasih..."
"Hahaha, bagus juga kan ada kesenangan dan hiburan yang bisa dinikmati?"
"Jarang sekali kita beristirahat, kita selama ini selalu ditekan dengan pelajaran berbeda dan pengumpulan poin, aku sudah belajar keras untuk bisa mendapatkan nilai yang sangat besar di ujian minggu kedua ini."
Minami tersenyum lalu ia menggerakkan ekornya, Hana merasa senang ketika melihat temannya merasa bahagia untuk hari ini.
Minami menghampiri kulkas untuk mengambil dua camilan, ia memberikan camilan itu kepada Hana lalu ia duduk di sebelahnya untuk menghabiskan waktu bersama temannya yang sudah mau mendukung dirinya untuk belajar dan mengikuti sistem nilai karena sistem tersebut dapat membawa dirinya ke zona yang sangat aman.
"Terima kasih camilannya, Minami, akhir-akhir ini kamu selalu memberikan diriku barang gratis, gunakan poin itu untukmu sendiri... kamu terlalu boros."
__ADS_1
"Tidak apa, aku masih punya banyak, tidak apa-apa kan saling berbagi. Aku juga harus berterima kasih kepadamu karena sudah mau mengerjakan pekerjaan rumah bersamaku, cukup sulit ya?"
"Aku tidak menyangka pelajaran yang diberikan oleh akademi ini cukup sulit dan ketat." Minami tersenyum dan Hana mengangguk lalu membalas senyuman itu dengan sebuah pelukan teman dekat.
"Minami, entah kenapa aku semakin lama melihat perubahan drastis darimu."
"Ehh... masa?"
"Kamu terlihat lebih dewasa sekarang bahkan aku selalu merasa tenang ketika bersama dirimu, terasa seperti alam yang mengikuti diriku dan alam itu sangat indah dan bersih tanpa sampah."
Mereka berdua mulai tertawa dan Hana terus membahas topik Minami yang sudah berubah menjadi lebih dewasa.
"Sangat berbeda dengan dulu, kamu dulu lebih bahagia dan bahkan terlalu sering berkhayal, aku jadi merindukan dirimu yang dulu tetapi yang sekarang tentunya lebih baik, eh, tunggu..."
"Aku menerima apa pun dari teman dekatku, aku sungguh senang bahwa kamu waktu itu pulang dengan selamat, aku kira kamu akan mati..."
"Aku sudah merasakan kematian yang berbeda-beda kok... hahaha, intinya aku lebih suka diriku yang sekarang. Aku juga merasa senang untuk bisa mendengar teman-temanku melihat diriku berbeda dan lebih dewasa dari sebelumnya."
"Sudah saatnya untuk memikirkan masa depan yang cerah, aku sangat ingin menjadi seorang guru karena terbiasa belajar rajin seperti ini."
"Seorang guru ya...? Hebat sekali, Minami, mimpimu begitu besar. Mari kita berjuang sama-sama untuk melihat masa depan yang begitu cerah, semoga kita bisa terdaftar di turnamen itu ya!"
Hana dan Minami mulai saling menepuk tinju dan tersenyum, merasa tidak sabar untuk esok hari.
Mereka hanya bisa berharap bahwa besok akan berjalan dengan lancar tanpa harus berpapasan dengan angkatan ketiga yang mencoba untuk menantang mereka bertarung.
Hana mulai berpikir tentang kesenangan yang akan nanti bahkan ia juga sempat menatap Minami dan sadar bahwa ia akhir-akhir ini mendapatkan surat cinta yang begitu banyak.
"Minami, aku selalu melihat dirimu mendapatkan banyak surat cinta. Apakah kamu tidak tertarik untuk memiliki seorang kekasih yang ingin menemani dirimu dan mendukungmu? Banyak sekali laki-laki yang menggemari dirimu loh."
"Ahhh... sepertinya aku tidak terlalu tertarik soal itu, aku hanya ingin mengejar tujuan dulu karena Ibuku pernah bilang kepada untuk mengutamakan tujuan terlebih dahulu, aku tidak seperti adikku yang memiliki tujuan untuk melindungi kekasihnya yang sangat ia cintai itu."
Minami tersenyum pahit, Hana terkejut ketika melihat ekor dan telinga Minami yang turun, ia baru saja mengatakan sesuatu yang membuat dirinya terlihat sedih seperti itu bahkan ia tidak tahu penyebabnya apa.
"Hana."
"Y-Ya?"
"Mau menginap?"
__ADS_1
"Tentu... dengan senang hati~"