
"Oooooo!!! Oooooo!!!" Regulus melompat ke atas, Haruka dengan cepat menggendong tubuh Koizumi lalu menghindarinya dengan kecepatan cahaya melalui sihir Crimson nya itu.
Ini pertama kalinya ia melawan musuh yang cukup menyulitkan karena kemampuan alami yang membuat dirinya kebal dengan konsep waktu, mengetahuinya saja membuat dirinya langsung serius.
"Koizumi, mau bertarung bersama...?" Tanya Haruka, di dalam hatinya, terdapat rasa percaya yang besar bahwa Koizumi dapat melakukan kombinasi yang baik dengannya.
"Benarkah...?"
"Mama tidak begitu mahir dalam mengendalikan dosa Greed... mungkin kamu bisa melakukannya karena Ayah sudah melatihmu sejak kecil." Kata Haruka.
Haruka terus menghindari semua petir yang Regulus lepaskan sehingga ia menambahkan sihir waktu untuk menyempurnakan penghindaran nya karena sihir listrik yang Regulus miliki sangat kuno sampai rasanya sangat menyakitkan.
Ia juga mendapatkan bantuan dari Legend's Charisma yang mengartikan kekuatannya terus meningkat tanpa henti karena bangsa Legenda yang mempercayai dan menyembahnya sebagai raja.
Haruka muncul tepat di hadapan Regulus, "Untuk sekarang kau bertarung denganku... jangan macam-macam dengan putriku, atau kau akan mati."
"Hohhhh... kau menantang seorang raja? Lebih baik kau menyerahkan putrimu itu maka tidak akan ada yang terluka sekarang." Regulus menyilangkan kedua lengannya.
Haruka hanya bisa diam, mencoba sekuat mungkin untuk tidak menggunakan kekuatan dari surga karena ia selalu mendapatkan gangguan entah itu dari mana.
Menghancurkan Limiter juga bukan pilihan yang baik karena ia hanya tersisa satu lagi, jika dia menggunakannya maka hukuman yang ia dapatkan kali ini adalah kematian atau eksistensi yang dipindahkan ke surga secara langsung.
"Oooooaaaggghhh!!!" Regulus melancarkan dua pukulan besarnya ke arah Haruka, dan ia langsung menahan semua pukulan itu menggunakan kedua lengannya.
Ia meningkatkan pertahanannya menggunakan sihir Crimson agar serangan yang ia terima tidak berefek terlalu besar, ia melakukan lompatan waktu ke belakang sehingga Regulus bisa melihatnya dengan jelas.
Regulus berubah menjadi petir lalu menabrak tubuh Haruka tetapi ia tiba-tiba melesat karena Haruka menghindarinya dengan melakukan lompatan waktu lainnya.
"Walaupun aku memang kebal dengan konsep memanipulasi waktu... lompatan waktu masih tetap menyebalkan bagiku!" Regulus merapatkan giginya.
Regulus menepuk dadanya beberapa kali sehingga mengumpulkan sumber listrik yang besar di atas langit sampai menyambar ke arah Haruka lalu melukainya.
"Hnggghhhh...!!!" Haruka berlutut di atas tanah, ia bisa melihat Regulus mulai mengarah kepada Koizumi yang sedang memejamkan kedua matanya selagi mengumpulkan kekuatannya itu.
"Koizumi...!" Haruka mulai memaksakan tubuhnya untuk bangkit, setelah itu ia mulai melakukan lompatan waktu untuk menendang wajah Regulus sampai ia terdorong ke belakang.
Haruka melakukan lompatan waktu ke belakang tetapi Regulus menyambutnya dengan sambaran petir yang terlepas melalui tubuhnya sehingga Haruka mulai menghapusnya menggunakan sihir Crimson.
Haruka mulai terus menggunakan lompatan waktu tanpa henti agar bisa membingungkan Regulus sampai bisa mengulurkan waktu lebih banyak agar Koizumi selesai melakukan persiapannya itu.
Koizumi mengalami perpindahan dengan cepat berkat bantuan Haruka lalu ia mulai melancarkan satu pukulan ke arah Regulus tetapi sihir petir yang berbentuk petir mulai menghantam wajahnya.
Haruka berlutut lalu ia melompat ke belakang tetapi tubuh Regulus yang berubah menjadi petir mulai menabrak tubuhnya beberapa kali sehingga kulitnya mulai terkupas sampai mengeluarkan banyak darah.
Setiap Haruka melakukan lompatan waktu, Regulus terus menyambut dirinya dengan tabrakan petir sehingga ia menerima semua luka itu dengan meringis kesakitan karena ia melakukan semua itu demi melindungi putrinya.
Ia tidak akan memberi Regulus satu kesempatan untuk menyentuhnya sehingga apa yang ia terus lakukan sekarang adalah menerima semua serangan itu agar Regulus tidak bisa mendekati Koizumi.
Koizumi terus berkonsentrasi, mengumpulkan kekuatannya karena ia mengetahui cara untuk menghentikan Regulus yang memiliki kekebalan terhadap konsep waktu, tetapi masih ada cara lain selain sihir waktu.
Haruka muncul di belakang Regulus, dan ia menerima satu pukulan petir yang mengenai perutnya sampai ia memuntahkan banyak darah segar melalui mulutnya.
__ADS_1
"Sialan...!!! Lama-lama semua luka yang aku terima darinya membuatku gatal ingin menggunakan Heaven dan wujud asliku...!!!" Haruka mengerutkan dahinya kesal.
Haruka melakukan lompatan waktu lainnya tetapi Regulus berhasil menangkapnya menggunakan kedua tangannya, setelah itu ia mulai membanting tubuh Haruka di atas pulau itu sampai terbelah menjadi dua.
Haruka menggunakan sihir ilusi sehingga genggaman Regulus mulai terasa seperti memegang sebuah udara, ia bisa melihat tubuh Haruka mulai menipis.
"Ilusi ya..." Regulus melakukan satu putaran sehingga melepaskan sambaran listrik besar yang mengenai Haruka di belakangnya.
"Aaaahhhhhhhhh...!!!" Haruka menjerit keras sampai mengganggu konsentrasi Koizumi yang mencoba untuk melakukan sesuatu, sebuah solusi untuk menghentikan Regulus.
Haruka mendarat di atas tanah lalu ia melihat Regulus melancarkan serangan pukulan yang bertubi-tubi, Haruka mulai menahannya tetapi serangan Regulus bertambah cepat sehingga ia bisa mendengar suara tulang di kedua lengannya patah.
"Uck...!!!"
"Ooooooo!!!" Regulus menendang kedua lengan Haruka sampai patah, kemudian ia melakukan satu putaran dan menendang wajahnya sampai ia terlempar ke belakang.
Haruka mulai melirik kepada Koizumi, "Koizumi... aku tidak akan membiarkanmu menerima luka apapun di umur kecil seperti itu..."
"...tetapi, aku yakin kamu memiliki solusi untuk menghentikan dirinya bukan? Rokuro masih memiliki tugas bersama teman-temannya..."
"...dan raja sialan ini malah menyerang begitu saja, apakah tidak ada yang bisa merasakan keberadaan kami yang sedang kesulitan?!" Haruka menghantam daratan sampai membuat Regulus tersenyum jahat.
"Ternyata melawan dirimu adalah hal yang mudah, Haruka... entah kenapa Zangetsu kesusahan ketika menghadapimu." Regulus merayakan kemenangannya seperti gorila dengan menepuk dadanya beberapa kali.
"Oh ya...? Padahal aku menahan diri loh... untuk sekarang aku menikmati kehidupanku sebagai seorang ibu, apa gunanya juga aku menggunakan kekuatan penuh melawan raja busuk sepertimu." Haruka kembali bangkit.
"Omonganmu itu besar... kau mungkin akan menjadi budak yang baik, Haruka."
"Hohhh...? Budak siapa?"
"Apa yang kamu lakukan di properti milikku, raja busuk? Kau apa kan istri dan putriku?" Rokuro datang dalam waktu yang tepat sehingga ia mulai menunjuk Regulus.
"Nrgghh...!!!" Regulus terjatuh di atas tanah dengan tubuh yang memunculkan banyak lambang Greed.
Kedua mata Rokuro yang terlihat mematikan mengandung lambang Greed, kemampuan dari kerakusan itu terus menghisap kekuatan Regulus tanpa henti sehingga ia merasa berat seketika dengan tubuh gorilanya itu.
Ia berubah kembali wujud Legendanya, setelah itu ia menatap kedua tapak tangannya yang terasa keram, Rokuro maju ke depan lalu ia menusuk kedua mata Regulus tanpa memberi dirinya kesempatan untuk bergerak.
"Aggghhhh!!!"
"Kenapa diam saja?! Apa yang telah kau perbuat dengan istriku!?" Rokuro menendang wajah Regulus menggunakan keningnya lalu ia menyerap semua kekuatan yang ia perolehi dari Regulus.
Rokuro bisa melihat tubuh Haruka dipenuhi dengan darah tetapi ia terlihat baik-baik saja, melukai dirinya sekecil apapun sama saja dengan siksaan tanpa ampun.
"Haruka, seberapa banyak dia melukaimu?" Tanya Rokuro.
"Rokuro..." Haruka tersenyum lega melihat suaminya datang dalam situasi yang genting.
"Dia melukaiku banyak sekali..." Jawab Haruka dengan tatapan serius sehingga Rokuro mengepalkan kedua tinjunya sampai menonjolkan urat.
Rasa amarahnya mulai terbakar karena raja satu ini sudah merugikan semuanya, melukai Haruka sedikit pun bukan pilihan yang baik karena ia langsung memegang erat pedangnya yang ia ubah menjadi sabit.
__ADS_1
"Koizumi! Apakah pasir waktu itu sudah jadi?" Tanya Rokuro.
"Sudah, Ayah." Koizumi memunculkan pasir waktu melalui tapak kanannya, terdapat lambang Greed di dalamnya karena Koizumi yang menggabungkan kekuatan waktu dengan dosa Greed.
"Hourglass of Greed... dengan ini, Ayah dapat menyiksanya sepuas mungkin bukan?"
Rokuro mengambil jam pasir itu lalu ia menatapnya, "Mari kita selesaikan dengan baik, raja busuk... apakah kau siap menanggung risiko karena sudah melukai istriku?"
"Sialan...! Sialan...!!! Kekuatan dosa dari Greed satu-satunya kelemahan yang aku miliki... semua kekuatanku terus di hisap oleh kerakusan dirinya...!" Ungkap Regulus selagi merapatkan giginya itu.
***
Ketiga saudara itu di serang secara bersamaan oleh tiga Ancient Legenda yang diperintah oleh Zenzaku, ketika Kou mengalami kesulitan di dalam reruntuhan gedungnya, terdapat Haruka yang terus menerima serangan dari Regulus.
Honoka juga sama, semua kejadian itu berjalan secara bersamaan sehingga mereka tidak sempat untuk menyelamatkan satu sama lain karena berpisah cukup jauh.
Honoka dan Hinoka yang sedang berjalan pulang menuju desa mereka bisa mencium bau nanah dan gosong, mencium aroma yang menyengat itu membuat Honoka mulai waspada seketika.
"Hinoka... berlindung lah di belakangku." Kata Honoka sehingga Hinoka mengangguk lalu berjalan di belakang Honoka selagi menikmati permennya itu.
Honoka bisa merasakan firasat yang begitu buruk bahkan tubuhnya berkeringat dingin seketika karena ia bisa melihat api hitam di hadapannya itu, kemungkinan besar desanya telah di taklukkan oleh seseorang.
"Honoka..."
Kedua mata Honoka terlihat mati seketika mendengar suara Korrina, ia mulai mendorong Hinoka ke depan lalu mengontrol realitas untuk menciptakan lubang besar dimana Hinoka terjatuh ke dalam lubang tersebut.
ZBAAASSSSHHHHH!!!
"AAAGGGGGGGHHHHHHH!!!" Honoka menjerit keras ketika menerima satu serangan yang tidak bisa ia lihat dan rasakan.
Serangan itu mengenai pinggangnya sampai menyebabkan luka besar yang mengeluarkan banyak sekali darah hitam, ia berlutut di atas tanah melihat sebuah api hitam mulai membentuk seorang Legenda di hadapannya.
"Semua itu hanya untuk keselamatan anakmu...?" Tanya Diablo yang sudah merencanakan pembunuhan Hinoka, ia awalnya mengarahkan tongkat Founder's Origin itu ke kepala Hinoka tetapi Honoka berhasil menyelamatkannya.
"Founder's Origin sudah melukaimu... lebih baik aku mengambil nyawa dari seseorang yang dapat mengontrol realitas dengan kekuatannya itu!!!"
Honoka bangkit dari atas tanah lalu ia mulai melancarkan beberapa pukulan kepada Diablo tetapi semua serangan tidak memberi efek apapun bahkan ketika ia mencoba untuk mengontrol realitas.
Apa yang ia dapatkan adalah kegagalan, rasanya sihir realitas yang ia miliki tidak bisa digunakan begitu saja bahkan ketika mencoba untuk memulihkan lukanya itu dengan Counter-Reality, rasa sakitnya malah bertambah semakin parah.
"AGGGGGHHHHHH!!!" Honoka menjerit keras sehingga Hinoka yang berada di dalam lubang bisa mendengarnya dengan jelas sampai ia mencoba untuk melihat keluar.
"Mama...?" Hinoka yang begitu polos mulai mengintip, Honoka dengan cepat melarikan diri kepada Hinoka lalu menutup kedua matanya dengan penutup mata.
"Hinoka... jangan membukanya sebelum Mama memberitahumu ya..." Honoka tersenyum lalu menutup kedua telinga Hinoka dengan penutup telinga agar ia bisa tetap tenang.
Honoka mengabaikan Diablo yang berada di belakangnya, ternyata ia bisa melihat seorang Legenda yang melakukan pekerjaan seperti ibu dengan sangat baik sehingga ia menghormatinya.
"Aku tidak akan membunuh anakmu---" Diablo mulai menunjuk Honoka dengan tongkatnya itu tetapi ia mulai muncul tepat di hadapannya dengan dua pedang yang terbuat dari sihir Crimson.
Dengan cepat ia menusuk dan menebas tubuh Diablo beberapa kali tetapi tidak memberi efek apapun.
__ADS_1
"Kau sudah terkena serangan dari Founder's Origin... apa boleh buat, aku harus mengganti rencana dengan membunuhmu..."
"...Honoka Comi!!!"