
Ledakan nuklir tadi telah menjadi alarm untuk semua Legenda yang masih tidur, matahari perlahan-lahan terbuat dari timur dan planet Legenia mengalami kehancuran nuklir dari wilayah tertentu.
"... ..." Shinobu hanya bisa diam dengan tatapan yang terlihat kesakitan, ia tidak bisa bergerak sama sekali karena tidak memiliki tubuh ciptaannya.
Semuanya hancur tanpa sisa karena baterai berisi atomnya yang bocor sampai meledak ketika Shinobu menghantam pertahanan Leon dengan sekuat tenaga sampai menyebabkan gesekan dan tabrakan yang begitu kuat.
"Hah... Hah... Hah..."
Shinobu menggerakkan ekornya lalu ia mencoba untuk mendekati Leon yang saat ini sedang batuk-batuk sampai mengeluarkan banyak darah.
Dirinya masih bisa di bilang selamat, hanya saja luka yang ia rasakan terus menghentikan dirinya untuk berhadapan secara langsung dengan Shinobu yang tidak berdaya.
Dia sekarang bukan apa-apanya lagi melainkan makhluk hina, Leon bangkit dengan ekspresi serius sampai ia tetap menunjukkan harga dirinya sampai mereka berdua berada di jarak 10 meter.
"Aku menang, Shinobu..."
"Ya... aku tahu..." Jawab Shinobu yang mengakui kekalahannya sendiri.
Mendengar pengakuan itu langsung mengejutkan Leon seketika karena perkataannya bisa saja di bilang menyerah dalam arti yang tersembunyi, mungkin ia sendiri telah mencatat sejarah untuk membuat seorang Shiratori menyerah.
"Kamu... benar-benar mengikuti jalan sesuai dengan keinginanmu... bukannya begitu, pemimpin Leon...?" Tanya Shinobu.
Leon menaikkan kedua alisnya ketika mendengar Shinobu berbicara seperti itu, "Sungguh langka sekali, ternyata makhluk hina seperti dirimu mengetahui keinginanku."
"Aku ingin menjadi seorang kesatria yang loyal terhadap tuannya sendiri, sayang sekali keloyalan itu hancur ketika aku dikhianati oleh tuanku sendiri..."
"...itulah kenapa aku sekarang menjadi seorang Bounty Hunter yang melakukan pekerjaan sesuai keinginan terhadap bayaran."
"Aku menggunakan bayaran itu untuk membahagiakan diriku sendiri termasuk dengan keluarga yang menungguku..."
"Keluarga ya... aku juga sama... mereka semua menunggu dan mempercayai diriku dengan semua ini..." Shinobu tersenyum polos sampai senyuman itu mengganggu Leon seketika.
"Terima kasih, Shinobu Koneko. Aku tidak menyangka kau akan membicarakan hal itu di hadapanku." Kata Leon yang mulai mengeluarkan sebuah pisau melalui sakunya.
"... ..." Leon mengingat sesuatu dari Cordelia.
...
...
...
"Jadi ini masa depan yang kau lihat? Semua informasi ini benar-benar akurat mengetahui Kanzer dan Ariana telah di bunuh oleh Konomi."
Leon menatap semua gambaran masa depan yang Cordelia gambar sehingga ia menemukan sesuatu yang selalu ia nantikan yaitu pertarungan terakhir antar dirinya bersama Shinobu.
"Perlu di ingati bahwa masa depan dapat berubah... kamu hanya perlu mengikuti alurnya... jangan sampai mengubah atau menggantikan sesuatu atau masa depan akan berubah..." Peringat Cordelia.
Leon melebarkan matanya ketika mengetahui semua kekuatannya akan hancur oleh Shinobu yang berhasil menumpukan semua kekuatannya sampai ia mulai menghajar dirinya secara habis-habisan.
"Tetapi... hasil akhirnya...?!" Leon terkejut ketika ia melihat dirinya melempar sebuah pisau ke arah Shinobu yang tidak bisa melakukan apapun kecuali menerima takdirnya.
Pisau itu menusuk keningnya sampai masuk ke dalam dan menyebabkan lubang di dahinya yang menjatuhkan banyak darah, takdir kemenangan berada di sisinya.
"Kau perlu mengingat semuanya... jangan sampai mengacaukannya sedikit pun..."
...
...
...
"Ternyata semua itu benar-benar terjadi ya..." Ungkap Leon yang mulai menatap Shinobu.
__ADS_1
Entah kenapa dirinya masih memiliki rasa belas kasihan kepada gadis kecil berumur 4 tahun seperti dirinya, ia Bertarung dengan baik sampai sekarang ia bertambah menderita karena ledakan nuklir tadi.
"Nyawamu yang terakhir... jika saja kau tidak menggunakan semua kekuatan tadi maka kau tidak akan menjadi makhluk yang lebih hina dari ini."
"Aku bisa melihat luka bakar yang tertera di wajahmu itu..."
"Luka ini adalah bukti dari perjuanganku sendiri..." Jawab Shinobu.
Shinobu mengambil sebuah Keris yang berhasil ia temukan, setelah itu ia mengambilnya menggunakan ekornya sampai ia memberikan senjata itu kepada Leon dengan melemparnya sampai mendarat di sebelahnya.
"Tidak ada lagi trik... kejutan... atau apapun itu..."
"...gunakan senjataku untuk membunuh diriku yang dipenuhi dengan kesalahan... aku adalah makhluk hina yang pantas untuk di hukum... oleh dirinya sendiri..."
"...mereka bilang bahwa kita sendiri... adalah musuh yang paling kuat... maupun itu ingin percaya atau tidak percaya..."
Leon merasa terjebak seketika, entah Shinobu sedang merencanakan sesuatu atau ia benar-benar menyerah begitu saja sampai memberikan Keris itu kepada dirinya.
"Keris itu... bisa kau pegang... aku sudah menggunakan The Mind untuk menghapus... persyaratan terhadap penggunanya..."
"...itu artinya aku tidak bisa... menggunakan kemampuan alami dari pikiran ini..."
"Aku mempercayai dirimu... Pemimpin Leon..." Kata Shinobu, dirinya tidak berniat untuk berbohong.
"Pemimpin Leon... keinginanmu itu... tidak salah sama sekali... jika itu semua untuk keluarga... maka masih terdapat sisi positif di dalamnya..."
"...ilmu pengetahuan memberitahuku sesuatu... di dalam kegelapan terdapat cahaya... di dalam cahaya terdapat kegelapan... sedangkan terdapat keduanya yaitu keseimbangan..."
"...seperti Yin Yang..."
"...maka, tidak ada salahnya untuk membunuh kebaikan dengan kegelapan di dalamnya... ya, itu adalah diriku sendiri."
Leon berkeringat seketika karena ia tidak pernah mengetahui Shinobu akan mengatakan sesuatu yang rumit, setiap katanya bisa saja memiliki makna dan kaitan penting yang harus ia ketahui.
"Cobalah... angkat Keris itu... apakah kamu ingin... mengakhiri diriku dengan itu...?" Tanya Shinobu karena Leon terus menghabiskan banyak waktu.
Ia sekarang yakin bahwa kepercayaan memang sulit di berikan kepada dirinya yang sangat hina, musuhnya sendiri bahkan tidak mempercayai Shinobu walaupun sudah mengetahui riwayat dan kondisinya saat ini.
"Aku... mempercayai dirimu sebanyak 99 persen..."
"...maka biarkan aku menambahkan persentase itu menjadi seratus agar bisa sepenuhnya mati dengan rasa percaya..." Shinobu tersenyum lembut, terlihat seperti menerima takdirnya yang selalu buruk.
"Itulah kenapa... kamu harus percaya kepadaku... aku ingin mati dengan seseorang yang mau mempercayai diriku..."
"...ketika kamu mengangkat Keris itu... di baliknya tidak terdapat serangan mengejutkan atau trik licik..."
"...gunakan tanganmu yang kotor untuk mengumpulkan uang demi keluarga lalu mengangkat Keris yang sudah jelas lebih kotor karena menjadi bekas pembunuhan apapun..."
"...jika tidak ada hal yang terjadi maka semua ini akan berakhir dengan cepat... kamu bisa melihat keluargamu lagi..."
"...dan aku dapat mati dengan keadaan tenang dan dipercayai oleh seseorang yang tidak begitu dekat denganku..." Shinobu terkekeh pelan.
Leon hanya bisa diam dengan tatapan gugup sampai ia sendiri tidak tahu harus apa, "Cepatlah...! Ambil Keris itu...!"
Leon mengulurkan lengan kanannya kepada gagang Keris tersebut lalu tapak tangannya berhenti sebelum menyentuh senjata itu sampai ia mulai mengarahkan pandangannya kembali kepada Shinobu.
Shinobu memang tidak berniat apapun melainkan ia sudah menerimanya dengan syarat Leon perlu mempercayai dirinya sebelum mengakhiri nyawa yang terakhir.
"Hatiku tidak mempercayai pilihan itu! Karena hatiku telah di isi dengan keadilan yang aku pilih!" Bantah Leon sampai ia memegang erat pisaunya lalu ia lempar ke arah Shinobu.
"Kamu tidak mempercayai diriku ya..." Ucap Shinobu yang memasang tatapan murka seketika, mendengar musuhnya tidak mempercayai dirinya membuat hatinya sakit seketika.
Dengan Lenergy yang tersisa di dalam tubuhnya Shinobu menciptakan daun emas yang ia pegang menggunakan ekornya lalu di lempar ke arah Leon sehingga kedua serangan itu saling melewati satu sama lain..
__ADS_1
Daun emas Shinobu bergerak lebih cepat sampai menembus kening Leon lalu masuk ke dalam otaknya sehingga kedua matanya terlihat mati seketika lalu ia menunduk.
Pisau yang di lempar Leon langsung di tahan oleh Shinobu menggunakan ekornya yang putus seketika, melihat Leon mati karena penyebab dirinya sendiri membuat Shinobu bertambah semakin sedih.
Jika saja Leon mempercayai Shinobu dengan mengambil Keris itu lalu membunuhnya dengan senjata itu maka takdir yang ia lihat sebelumnya benar-benar akan terjadi dengan akurat.
Sayang sekali, kegagalan itu di sebabkan karena rasa tidak percaya terhadap Shinobu yang sudah menawarkan Leon untuk membunuh dirinya sendiri tetapi semua itu gagal karena rasa tidak percaya kepada seseorang.
"Aku memang makhluk hina yang tak bisa di percayai dan di andalkan ya..." Ucap Shinobu selagi menunjukkan senyuman pahit sehingga ia terjatuh di atas tanah.
Shinobu mengalami kondisi yang kritis, tidak ada satu pun orang yang melihat dan menyelamatkan dirinya sehingga ia memiliki waktu yang terbatas untuk hidup.
"Putri kecil...!"
Tech tiba dengan mendarat tepat di sebelahnya, sejak mengetahui sistem Tech mengalami kekacauan, ia segera mendatangi Shinobu dan syukurlah ia masih bisa di selamatkan dengan beberapa pemulihan.
Pertarungan kali ini di menangkan oleh Shinobu karena rasa tidak percaya Leon, jika saja kekuatan asli dari Leo adalah kepercayaan atau percaya diri maka dia sudah pasti bisa menang.
Keberaniannya sendiri yang membunuh dirinya karena saking yakin bahwa lemparan pisau tadi benar-benar akan membunuhnya.
Tubuh kecil Shinobu mulai Tech angkat sehingga ia segera bergegas menemui kedua teman dan sepupunya yang sedang dalam perjalanan menuju ledakan tadi.
Beberapa menit kemudian, mereka langsung berpapasan secara langsung, mereka semua sudah pasti akan terkejut ketika melihat Shinobu yang terluka cukup parah sampai mereka melihat beberapa luka bakar.
"Ledakan nuklir tadi... di sebabkan oleh Shinobu?" Tanya Konomi.
"Itu benar... pertarungan telah berakhir... Putri kecil telah memenangkan pertandingan dengan satu Lenergy tersisa yang ia ciptakan menjadi daun emas untuk menusuk otak kesatria Leo."
"Begitu ya..."
"Aku memiliki semua rekamannya karena mata kirinya itu sudah menjadi rekaman sejak awal di akses sistemku, hanya saja sekarang ia sudah tidak memiliki tubuh buatannya lagi."
"Semua hancur karena kebocoran baterai atom yang menyebabkan ledakan nuklir."
Mereka semua merasa berbelas kasihan kepada Shinobu seketika lalu segera menatap dirinya yang sedang tertidur pulas karena Tech sendiri sempat memberikan dirinya suntikan sumber Lenergy yang dapat menahan kondisi kritis itu.
"Shinobu benar-benar berhasil ya... hebat sekali, ternyata mempercayai dirinya adalah pilihan yang terbaik." Kata Koizumi sampai ia tersenyum bangga.
"Hahhh... membuat diriku kaget saja, aku tidak melihat sepupu kecilku seperti ini lagi." Kata Hinoka.
"Syukurlah jika Shinobu masih selamat..." Kata Ako.
"...kita sudah pasti perlu memberi dirinya waktu untuk pulih." Ucap Konomi.
***
Mereka semua pulang dengan selamat dan tentunya membawa kabar yang baik bahwa beberapa kerajaan yang mereka kunjungi terutama Leonial telah di hancurkan tanpa sisa sama sekali.
Zodiac Crusaders telah sepenuhnya di hentikan, hanya Koizumi bersama sepupu dan kedua rekannya melapor kepada Arata sehingga mereka mendapatkan pujian serta pendaftaran untuk akademi khusus pemberontak nanti.
Sayangnya Shinobu tidak berhadapan dengan Arata karena ia memerlukan pemulihan yang cukup di dalam ruangan pemulihan, untungnya hanya saja jam saja sudah cukup untuk membuat Shinobu kembali bangun.
Shinobu membuka mata kanannya lalu ia tidak bisa melihat melalui mata kirinya, ia baru saja ingat bahwa mata buatannya itu telah hancur dan sekarang terdapat perban yang menghalang mata dan pipi kirinya.
"Putri kecil, Anda sudah bangun." Tech membantu Shinobu untuk duduk di atas kasurnya sehingga ia terkejut ketika menatap dirinya sendiri di depan cermin.
Tubuhnya kembali pulih tetapi ia masih bisa melihat bekas luka bakar di balik perban tersebut, sepertinya Tech benar-benar mendengarkan keinginan Shinobu untuk menyimpan luka itu sebagai bukti perjuangannya.
"Tech..." Shinobu tersenyum lebar lalu memberikan dirinya sebuah pelukan menggunakan lengan dan kaki baru yang di ciptakan oleh Tech.
"...terima kasih~"
"Sama-sama, putri kecil."
__ADS_1