
"Semua ini karena diriku... anak-anakku perlahan-lahan menghilang... mati... begitu saja... tugas-ku sebagai ibu sebenarnya apa...? Melihat mereka mati begitu saja 'kah? Apakah aku benar-benar bisa menjadi seorang ibu yang dapat melindungi anak-anaknya sendiri...?" Korrina saat ini sedang duduk di pojok sambil memeluk kedua lutut-nya, ia tidak menghiraukan ruangan yang dipenuhi dengan kegelapan itu.
"... ..." Korrina mulai menatap ke depan, ia melihat semua anak-anaknya dan bahkan ia sendiri melihat anak-anak Komi... sebagian dari mereka memiliki penampilan tembus pandang... seperti hantu, tidak... seperti ras Astral dimana tubuh mereka tidak akan bisa disentuh dan bahkan terdapat cincin emas di puncak kepala mereka yang menandakan mereka sudah mati.
"Maafkan aku... aku benar-benar lemah... aku tidak bisa melindungi kalian, anak-anakku..." Kata Korrina yang mulai menangis, mereka semua hanya diam dan mulai menghampiri Korrina lalu memberi diri-nya sebuah pelukan hangat yang dapat membuat diri-nya tenang. Pelukan itu mampu membuat Korrina sadar kembali sehingga ia merasa nyaman.
"Anak-anak... kalian benar... tidak ada arti-nya jika Mama terus bersedih seperti ini, terus bersedih seperti ini tidak akan pernah bisa mengembalikan kalian semua." Korrina bangkit dari atas air sehingga semua anak-anaknya menghilang, terlihat tiga gadis yang melihat Korrina dari belakang, mereka bertiga tersenyum karena keturunan Comi yang satu ini benar-benar terus berjuang dan tidak pernah berhenti.
"...baiklah!" Korrina mengepalkan kedua tinju-nya.
"Lihatlah siapa yang terus membuat keturunan Comi maju... maju menuju masa depan yang dipenuhi dengan cahaya karena semangat diri-nya dan teman-temannya." Koina tersenyum ketika melihat Korrina.
"Itulah cucu-ku..." Konami tersenyum.
"Hahaha... apa yang kalian harapkan dari anak-ku sih? Tentu saja dia akan menjadi hebat seperti ini." Koura tersenyum.
Korrina melotot ketika mendengar suara ibu-nya sendiri, ia melirik ke belakang dan tidak melihat siapapun, "Aku... yakin aku mendengar suara ibu-ku sendiri... sepertinya dunia ini... apakah ini benar-benar mimpi atau hanya alam sadar-ku saja---"
***
Korrina membuka kedua mata-nya, ruangan yang baru saja ia lihat sepertinya alam sadar-nya... tidak mungkin itu mimpi jika dia bisa bergerak dan merasakan apa yang ia rasakan sekarang. Korrina mencoba untuk tidak menghiraukan-nya karena ia baru sadar... dirinya berada di dalam sebuah ruangan yang dipenuhi dengan warna merah serta api-api yang mampu membuat tubuh-nya hangat.
__ADS_1
"Tempat... apa ini...?" Korrina melihat sekeliling lalu menoleh ke atas... banyak sekali motif dan juga garis-garis yang memancarkan cahaya merah, sangat indah... mungkin saja apa yang Rianna lakukan benar-benar berhasil sehingga Korrina sekarang sudah berada di dalam inti semesta Palouce.
"Rianna... tenang saja, kamu pasti tidak akan hidup tenang di alam sana jika aku tidak mengalahkan Zangetsu dan Komi...? Tunggu saja..." Korrina mulai menyentuh kasur itu yang memiliki garis-garis merah, terasa hangat tetapi ia baru saja sadar bahwa kasur itu terbuat dari api... aneh-nya kenapa Korrina tidak terbakar? Hanya kehangatan yang bisa ia rasakan.
Korrina segera turun dari kasur-nya lalu menatap kasur tersebut, "Aneh sekali... kasur ini terbuat dari api tetapi ketika aku tidur di atasnya... aku merasakan kehangatan dan kenyamanan yang dahsyat." Korrina menyentuh kasur itu dan tangan-nya langsung terasa dingin, ia seperti menyentuh sebuah es batu.
"L-Loh? Sekarang kok jadi dingin---" Korrina mendengar suara pintu terbuka di belakang-nya.
"Ahh... sepertinya kau sudah bangun ya, selamat datang, mungkin ini akan terlihat membingungkan untuk orang asing seperti diri-mu... kalau tidak salah Shelldon baru saja menemukan diri-mu yang tidak berasal dari Palouce, apa ya namanya... ahh! Kau penghuni Touri 'kah?" Korrina dikejutkan dengan seorang gadis yang tiba-tiba muncul di belakang-nya.
Korrina menoleh ke belakang dan melihat gadis yang memiliki warna kulit merah, rambut-nya yang panjang itu terbakar dengan api... terlihat cukup indah bagi Korrina sih tetapi bagi orang lain mungkin itu terlihat cukup aneh dan mengerikan, Korrina dengan formal menundukkan kepala-nya, "M-Maaf... apakah aku tiba-tiba muncul di dalam kamar ini...? T-Tunggu, Shelldon?"
"Tidak apa-apa, bawa santai saja... jangan terbakar penuh dengan ******** seperti itu, ah! Jadi... Shelldon adalah seekor kura-kura yang menjaga semesta ini, aku akan menjelaskan dengan pelan-pelan agar kau tidak mendapatkan kejutan kultural..." Gadis itu menarik nafas dalam-dalam.
"Melihat penampilan yang sama seperti... pasukan Komi... apakah dia salah satu dari ras [Netherian] juga 'kah? Sepertinya ada juga yang baik dan buruk, satu ini sangat sopan dan cara bicara-nya... menunjukkan karakteristik seorang gadis yang sangat ceria." Ungkap Korrina yang sedang menganalisis gadis itu, gadis itu masih berbicara dan menjelaskan tentang Palouce.
"Terdapat banyak ras di dalam planet ini... ohh iya, aku lupa memberitahu-mu tentang nama dari planet ini... [Louce], nama yang cukup indah untuk sebuah planet bukan?" Gadis itu terlalu bersemangat untuk menjelaskan tentang semesta ini sampai Korrina merasa canggung sedikit untuk melihat ras yang belum pernah ia ketahui sebelum-nya.
"Dari ekspresi-mu itu... hahaha, ayolah, apakah kau tidak dengar apa yang baru saja aku katakan sebelum-nya? Tidak perlu ragu-ragu dan canggung bersama diriku, ahh... aku lupa untuk memperkenalkan diri-ku kepadamu, nama-ku adalah Idris Nethernia, salam kenal~" Gadis itu memperkenalkan diri-nya dengan nama [Idris], nama terakhir-nya itu terdengar aneh tetapi Korrina tidak menghiraukan-nya.
"Salam kenal, nama-ku adalah---"
__ADS_1
"Korrina Comi 'kan? Kau adalah anak dari Koura Comi 'kan?" Idris tersenyum, membuat Korrina sontak kaget ketika seorang Netherian mengenali diri-nya.
"B-Bagaimana bisa kau mengetahui nama-ku?" Tanya Korrina.
"Ahh... aku lupa, waktu itu kamu masih kecil... apakah kamu lupa bahwa Ibu-mu pernah datang berkunjung ke Palouce dan mengunjungi negara yang bernama [Netherwaste], ahh... aku baru saja ingat bahwa planet ini juga memiliki sebuah negara dan juga terdapat perbatasan negara di setiap negara." Idris kembali menjelaskan tetapi Korrina hanya diam, ini bukan waktu-nya untuk berkenalan atau berkunjung ke inti semesta yang lain.
Planet yang bernama Louce ini memiliki negara, setiap negara memiliki perbatasan sendiri dimana semua perbatasan itu dijaga oleh ras yang bernama [Guardina], jika orang asing dari luar negara mencoba untuk masuk ke dalam negara lain maka mereka bisa saja di interogasi atau diserang jika tidak memiliki alasan tertentu kenapa bisa datang.
"Cukup bicara-nya... aku tidak peduli, apakah kau melihat Legenda yang lain-nya...? Selain diriku?" Tanya Korrina, Idris bisa melihat ekspresi Korrina yang dipenuhi dengan kesedihan dan kekesalan karena ia ingin mengakhiri semua ini dengan cepat. Haruki dan Arata masuk ke dalam kamar dengan ekspresi yang terlihat serius.
"Kau sepertinya sudah bangun, Korrina..." Kata Arata.
"Kalian... syukur-lah kalian selamat dan berada di negara ini." Korrina menghampiri mereka berdua, "Apakah yang lain-nya selamat?" Tanya Korrina.
"Semuanya selamat, untuk sekarang kita menenangkan diri dulu disini, Korrina. Tidak perlu terburu-buru karena Haruka bilang bahwa Zangetsu tidak akan pernah bisa masuk ke dalam inti semesta ini, kekuatan-nya juga masih belum bisa disebut sempurna..."
"...resiko yang harus kita tanggung adalah Touri menjadi semesta yang sangat mengerikan dan terlihat indah bagi mereka yang sudah gila. Untuk sekarang, kita tenangkan mental dan tubuh dulu, tidak ada batas waktu juga... mari kita bersiap-siap saja dan berlatih sebisa mungkin untuk bertambah kuat agar bisa melawan Komi dan yang lain-nya." Kata Haruki.
Korrina memikirkan-nya untuk sebentar, sepertinya berlindung di Palouce dapat memberi mereka waktu untuk merancang sebuah rencana dan juga terus berlatih sampai batasan yang terus menghalangi mereka bisa hancur, Haruki dan Arata pergi meninggalkan ruangan itu karena mereka ingin beristirahat dengan menghabiskan waktu bersama keluarga-nya dulu.
"Kau tidak perlu memaksakan diri dulu kok, sepertinya kau masih lelah... mari kita makan dulu." Idris pergi menuju dapur dan Korrina mengangguk pelan.
__ADS_1
"Ya..."