
Waktu telah berjalan dengan cepat sepertinya, bahkan semua peserta tidak sadar bahwa Tournament of Solicitation akan dimulai pada pukul jam sembilan, dipukul itu lah mereka yang telah lolos dari seleksi akan mendapatkan informasi tentang lawan mereka di pertandingan ke satu atau bisa disebut dengan ronde ke satu. Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh banyak sekali peserta termasuk Shira yang sudah bersiap-siap bahwa ia melakukan beberapa pemanasan setelah ia bangun dari tidurnya lalu ia tidak lupa untuk mandi juga.
Shira menatap dirinya sendiri di depan cermin-nya selagi memakai Kisetsu-nya yang berwarna emas dan hitam, ia menggunakannya dengan pelan-pelan lalu memasang talinya dengan sangat ketat agar Kisetsu-nya tidak mudah terbuka, Shira mulai membenarkan kerah baju-nya lalu ia mulai duduk di atas kasur-nya selagi membuka laci untuk mengambil sarung tangannya yang berwarna emas, "... ..." Shira mulai menatap mata kiri-nya yang dihalangi dengan penutup mata lalu ia membukanya sehingga matanya masih bersinar dan sinar itu tidak akan bisa padam, sinar itu bisa padam asalkan Shira mati.
Shira mulai mencoba untuk mengontrol mata kirinya sehingga perlahan-lahan sinar itu mulai membentuk sebuah pupil yang berwarna emas di mata kirinya dan sepertinya Shira baru saja berhasil mengembalikan mata kirinya untuk sementara, tetapi ketika ia bertarung nanti, ia sudah yakin bahwa pupil mata kirinya akan hilang dan membuat mata kirinya bersinar seperti biasanya. Shira juga mulai menatap lengan kirinya yang dikelilingi dengan partikel emas, jika ia bertarung maka lengan kirinya akan bersinar cerah atau sihir Enchantment Testament Light-nya akan aktif, "Hari yang telah aku tunggu-tunggu akhirnya datang... Saingan yang tangguh, aku pasti akan bertemu dengan mereka semua." Ucap Shira yang mulai memasang kedua sarung tangannya di kedua telapak tangannya.
Sarungnya yang berwarna hitam terlihat cocok untuk Kisetsu-nya, ia bangkit dari atas kasur lalu ia mulai melakukan beberapa gaya di depan cermin dan sudah jelas bahwa gaya itu akan gaya yang terlihat keren, "Aku berjanji... Akan menjadi yang terkuat!!!" Shira mengepalkan kedua tinjunya sehingga ia melihat refleksi seseorang yang terlihat jelas seperti Alvin.
"Ahhh...!!!" Shira membulatkan kedua matanya ketika ia melihat sesosok dewa yang telah mentransfer dirinya ke dalam dunia Touri, ia melirik ke belakang dan Shira tidak melihat Alvin sama sekali, "A-Apa itu... Tadi...?" Tanya Shira yang mulai berkeringat serta jantung-nya mulai berdetak cukup cepat seolah-olah ia merasakan keberadaan seseorang yang mengerikan mencoba untuk membunuh dirinya.
"D-Dewa Alvin...? Apakah kau disana?" Tanya Shira yang mulai menatap kembali cermin dimana ia melihat Alvin yang sedang berada di sebelahnya, "AHHH!!!" Shira mulai mencoba untuk memukul arah kiri dan kanannya, sepertinya serangannya itu tidak mengenai apa-apa karena Alvin sama sekali tidak berada di tempat itu.
"Hehehe... Dalam waktu dekat~" Tiba-tiba refleksi Alvin yang berada di cermin mulai berbicara dengan logat yang tidak biasanya di dengar dari sesosok dewa Alvin, Shira pernah mendengarnya dan sepertinya cara berbicara Alvin itu berbeda serta wajahnya terlihat jelas seperti seorang psikopat berat, "Sebentar lagi~ Kau akan mengetahui rasanya dari kesiksaan penderitaan yang semesta Yuusuatouri berikan kepadamu, Shira."
"Apa yang sedang kau lihat saat ini...? Ilusi? Refleksi? Mimpi buruk? Pikiranmu? Imajinasimu? Itu terserah dirimu jika kau ingin percaya atau tidak karena aku bisa memperlihatkan sedikit masa depan untukmu~" Ucap Alvin yang mulai tertawa seperti seorang monster karena setiap detik, nadanya mulai terdengar berat sehingga berubah menjadi suara iblis.
ZWOOOSHHH!!!
Shira mulai mengedipkan matanya beberapa kali sehingga ia tiba di sebuah planet dimana daratan dipenuhi dengan air lahar serta batu-batuan yang sangat panas. Ia mulai melihat sekeliling dan mencari sesuatu yang aneh, ketika ia berada di tempat tersebut. Shira berpikir bahwa semua yang lihat ini hanyalah sekedar mimpi saja.
Shira mulai merasakan sebuah sinar merah tepat di belakangnya lalu ia melirik ke belakang sehingga ia melihat pasukan iblis yang melesat melewatinya dan membuatnya terkejut sampai-sampai terjatuh di atas tanah, "Hah...?" Shira mulai bernafas berat lalu ia merasakan banyak sekali keberadaan seseorang yang mulai menghilang, ia melirik ke belakang lalu ia mulai membulatkan kedua matanya karena melihat banyak sekali mayat yang bertebaran dengan tubuh-tubuh mereka yang telah tertebas dan organ-organ mereka yang keluar sehingga darah mereka berserakan dimana-mana.
__ADS_1
Shira tidak bisa mengatakan apapun selain membuka mulutnya dengan sangat lebar, ia melihat Korrina yang tertebas di bagian jantungnya sehingga ia sudah tidak bisa disebut dengan masih memiliki nyawa, Shira juga bahwa melihat Arata dan Haruki dimana tubuh mereka terbelah menjadi dua serta semua peserta kelas tiga yang organ-organ tubuhnya dikeluarkan seperti Shizen dimana kedua matanya keluar serta mulutnya terbuka lebar, Akina dan Ophilia juga kehilangan seluruh anggota tubuh mereka kecuali tubuh mereka. Shira tidak bisa melakukan apapun kecuali melihat mereka.
Shira bergerak ke depan lalu ia menginjak tubuh Alvin dimana tubuhnya terlihat biasa kecuali ia kehilangan kedua lengan dan juga kakinya, Shira mulai meraba lehernya dan ia tidak bisa merasakan detakan nadi sehingga punggungnya mulai tertusuk oleh sebuah pedang, "Ahh!?" Mulut Shira mulai mengeluarkan banyak sekali darah sehingga hal yang ia lihat adalah Megumi yang terlihat seperti berada di kondisi sekarat, ia mulai mencekik leher Shira, "Seharusnya... Kau... Kau... bisa... mengalahkannya..."
"Kenapa kau... mempercayainya...?" Tanya Megumi sehingga mereka semua mulai menghilang dan Shira berlutut diatas karena seluruh tubuhnya terasa lemas, Shira melihat seorang Iblis yang mengangkat pedang merah darah ke atas sehingga planet yang ia tepati mulai berguncang dan mengeluarkan air lahar yang sangat panas dari dalam inti planet tersebut, ia melirik lebih atas dimana sebuah portal berwarna merah crimson terbuka dengan sangat lebar lalu menunjukkan beberapa prajurit berzirah warna crimson yang terbang keluar dari portal itu serta Dewa Agung Crimson.
"Shira! Shira! Shira!!!" Teriak Megumi keras sehingga Shira mulai menggelengkan kepalanya lalu ia menutup wajahnya karena kesadarannya telah sepenuhnya kembali, mungkin saja hal yang Shira lihat tadi adalah mimpi buruk, imajinasi-nya, atau masa depan yang akan terjadi di waktu yang dekat karena Alvin sudah memberi tau-nya, "Ahhh!!!" Shira mulai menarik nafasnya beberapa kali lalu ia menghembusnya dengan sikap yang sangat panik.
"Kenapa? Ada apa?" Tanya Megumi yang mulai menatapnya cemas, Shira mulai menatap kepada Megumi sehingga itu membuatnya lega bahwa ia saat ini berada di sebelah-nya, Megumi sejak datang ke kamar Shira, ia melihat mata kiri Shira yang bersinar cerah berwarna biru muda dan itu adalah hal yang baru baginya dan tentu saja membuat Megumi khawatir karena ia baru saja melihat Shira seperti tadi, ia merasa ketakutan walaupun dia melamun selagi menatap cermin.
"Shira...! Apakah kau mendengarku!?" Panggil Megumi kepada Shira yang sedang menatap cermin selagi bernafas cukup berat, ia mulai menunjuk Luz Legendaria-nya dan hal itu membuat Megumi terkejut karena mata kiri Shira masih bersinar berwarna biru muda dan itu sepertinya bukan pertandaan baik bagi dirinya, ia mulai menebas cermin yang berada di depannya sampai hancur dan Megumi langsung memeluknya dengan sangat erat sehingga membuat Shira kembali tenang lalu melepas Luz Legendaria-nya.
"Hah... hah... hah..."
***
Waktu telah menepati pukul sembilan pas dimana semua peserta yang telah lolos seleksi mulai berkumpul di luar Tournament of Solicitation, mereka merasa kagum dan terkejut ketika melihat tempat dimana turnamen itu akan di adakan, ketika mereka masuk melewati pintu yang diawasi oleh pemandu, mereka melihat banyak sekali hologram yang menunjukkan keseluruhan tempat turnamen itu dimulai dari arena, terdapat tiga arena di sana dan sepertinya soal tiga arena ini agar proses turnamen-nya tidak berjalan cukup lama.
Semua peserta tidak memiliki pilihan lain selain diam di lorong melihat hologram yang menunjukkan tempat turnamen dari luar dan dalam karena itu terlihat sangat indah dan keren sehingga beberapa peserta mulai mengambil sebuah foto menggunakan kamera yang mereka bawa, ketika semua peserta berhasil masuk ke dalam aula satu sampai lima, mereka mengambil sebuah kertas yang terdapat sebuah angka dimana angka-angka itu sangatlah penting untuk mereka bertanding nanti karena Morgan sebentar lagi akan muncul lalu mengacak semua angka itu seperti satu sampai sepuluh dan ronde pertama di mulai dengan satu melawan lima yang mengartikan peserta nomer satu dan peserta nomer lima akan bertarung di ronde pertama yang dilaksanakan pada tempat arena yang pertama.
Shira berdiri tepat di depan sebuah kardus berwarna merah dan di dalamnya terdapat sebuah kertas yang terdapat beberapa angka, semua peserta diwajibkan untuk berbaring dengan rapi agar mereka bisa mengambil kertas itu, Shira memasukkan lengan kanannya ke dalam lubang yang terdapat di puncak kardus itu lalu telapak tangannya mulai di tenggelam oleh banyak sekali kertas, "... ..." Shira mulai mengambil sebuah kertas lalu ia mengeluarkan lengan kanannya dan mulai melihat angka dari kertas tersebut, "Nomer 21..." Shira mulai menunjukkan kertas itu kepada pemandu yang berada di depannya dan pemandu itu mulai membuat sebuah celis di hologram yang terdapat di sebelahnya.
__ADS_1
Pengambilan kertas itu menghabiskan beberapa menit sehingga di setiap aula mulai muncullah sebuah hologram yang menunjuk Morgan serta 3 hologram yang menunjukkan 8 peserta yang akan berpartisipasi. Sepertinya Morgan sudah mengumpulkan banyak sekali informasi yang lolos dalam seleksi turnamen dan ia hanya bisa mendapatkan 48 peserta yang layak untuk bisa mengikuti Tournament of Solicitation. Beberapa peserta yang tidak lolos semua menangis bahkan terdapat beberapa peserta dari kelas tiga yang tidak lolos dalam seleksi dan itu membuat mereka menangis.
"Baiklah semua peserta yang akan mengikuti turnamen ini! Bersiaplah! Turnamen ronde ke satu akan di mulai pada pukul jam dua belas siang, diharap untuk peserta yang berpartisipasi di ronde pertama untuk bersiap!" Ucap Morgan sehingga membuat semua peserta merasa dipenuhi semangat dan tidak sabar, "Baiklah... Kita mulai dengan mengacak semua angka!!!" Morgan mulai mengacak semua angka di mulai dari satu sampai dua empat dan itu hanya menghabiskan waktu cukup lama dan semua angka telah muncul di ketiga hologram tersebut, "Jika tidak terdapat angka yang kalian pilih maka kalian akan berpartisipasi nanti di ronde yang kedua!" Ucap Morgan.
Shira dan Megumi tidak bisa melihat angka mereka di kedua hologram itu, sepertinya mereka berdua akan bertarung di ronde yang kedua, itu artinya mereka berdua hanya bisa melihat pertarungan yang diberikan semua peserta yang berkemungkinan menjadi lawan mereka berdua. Arata melihat arena ke satu dimana ia memilih nomer enam dan di hologram arena ke satu terdapat nomer enam yang melawan nomer sepuluh, sepertinya Arata lah yang pertama untuk bertarung nanti ketika waktu telah menepati pukul dua belas pagi.
Semua angka itu mulai berubah menjadi nama dan angka enam benar-benar menunjukkan nama Arata serta wajahnya, Shira membulatkan kedua matanya ketika ia melihat Arata yang akan bertarung dengan Yuuki nanti, "Sepertinya lawan pertamaku adalah raja yang memimpin kota Ghisaru ya...? Aku sangat menantikannya..." Ucap Arata yang mulai meninju telapak tangan kirinya sendiri.
Akina melihat Arata yang sangat bersemangat untuk bertarung melawan seorang raja serta putra dari keluarga Ghifari, Akina mulai menatap Korrina yang sedang menatap kertasnya yang menunjukkan nomer tiga belas dan disitulah Korrina tidak menunjukkan ekspresi apapun selain diam saja, Akina mulai bertanya-tanya dengan ekspresi itu seharusnya dia senang bahwa putranya akan bertarung di ronde pertama dan paling awal, "Korrina, ada apa? Bagaimana perasaanmu? Yuuki akan bertarung melawan Kak Arata loh!" Ucap Akina.
"Biasa saja sih, tujuanku berada disini dan mengikuti turnamen ini bukan untuk bersenang-senang atau mencari lawan yang tangguh." Ucap Korrina yang mulai menunjukkan tatapan seriusnya, dengan melihat itu Akina merasakan sesuatu yang berbeda di dalam diri Korrina. Beberapa menit kemudian, mereka semua mulai pergi dan melakukan aktifitas lain kecuali Korrina dan Akina yang sedang berada di kantin untuk makan siang, Akina melihat Korrina yang sedang meminum kotak susu stroberi selagi menunjukkan mood yang kurang baik.
Biasanya Korrina akan selalu membahas topik pembicaraan tentang pembesaran payudara, tetapi sekarang Korrina hanya diam selagi menunjukkan ekspresi yang gugup atau khawatir. Akina sendiri tidak memiliki topik pembicaraan melainkan ia hanya bisa meminum segelas teh-nya dan mencoba untuk memberinya motivasi, "Sepertinya aku sadar bahwa aku hanya peduli dalam kemenangan saja..." Ucap Korrina dengan nada yang pelan.
"Ehem..." Korrina mulai tersipu sedikit lalu ia menatap Akina dengan ekspresi yang terlihat serius, "Asalkan kau tahu saja bahwa diriku bisa menjadi sekuat ini berkat dirimu yang sudah mengajari dan melatihku tentang bermacam-macam hal! Dan sepertinya aku mampu mempelajari banyak tentang ilmu dalam menggunakan senjata dan juga bela diri karena aku lebih sering menggunakan sihir dan ilusi saja..." Korrina mengembungkan pipinya dan sepertinya ia berhasil mengungkapkan sesuatu yang ia ingin ungkapkan.
"Jika saja kau tidak membantuku maka aku tidak akan bisa berkembang kemana-mana, aku hanya akan berdiam diri disini... Sesosok gadis yang berasal dari keluarga Comi yang hanya mengandalkan ilusi." Ucap Korrina dengan nada yang pelan.
"Hahaha, itulah kenapa kita harus mengikuti turnamen ini dengan bersenang-senang dan menikmatinya! Lagipula kesenangan lebih penting di bandingkan mendapatkan Solicitation's Order bukan?" Tanya Akina.
"Bersenang-senang dan menikmatinya...?" Ekspresi Korrina mulai berubah menjadi ekspresi yang kesal dan frustasi sehingga membuat Akina memiringkan kepalanya, "Aku berlatih dan belajar dengan mati-matian untuk berkembang menjadi seorang petarung yang berpengalaman tinggi..." Korrina mulai mengepalkan kotak susu-nya sehingga kedua pupil matanya berubah menjadi warna Crimson dan membuat Akina sadar bahwa ia baru saja mengatakan sesuatu yang seharusnya ia tidak katakan karena Korrina pasti akan mengingat Alvin dan itu membuat pikirannya terbebani karena turnamen hanya bisa dimenangkan jika peserta menikmatinya dan bersenang-senang bukan serius dan bersikap seperti turnamen itu adalah turnamen yang mengambil nyawa seseorang.
__ADS_1
"Apakah kau pikir aku akan mengikuti turnamen itu dengan menikmatinya dan bersenang-senang!? Aku memiliki tujuan sendiri yaitu menyelamatkan suami bodohku yang terjebak di Crimson Realm!!! TUJUANKU HANYALAH MENANG!!! MENANG DALAM TURNAMEN INI UNTUK KETIGA KALINYA!!!" Korrina bangkit dari atas kursi lalu ia menghantam meja di depannya sehingga menarik beberapa perhatian dari semua murid yang sedang berada di kantin, hal itu membuat Akina terkejut juga karena ia bisa melihat tetesan air darah di kedua matanya, "Ugh..." Korrina mulai menunjukkan ekspresi pahitnya lalu ia berjalan pergi dan meninggalkan Akina sendiri sehingga membuat Akina khawatir dan juga merasa bersalah bahwa secara tidak langsung ia membuat Korrina mengingat Alvin.
"Sepertinya salah ya..."