
"Agggghhhh.... Nrrrgggghhh... Sakit....!!!! Sakiiitttt....!!!" Teriak Lang yang berkeringat dingin, ia saat ini sedang berbaring di atas kasur selagi menahan rasa sakit yang diberikan dari jantung-nya yang terus berdetak dengan sangat cepat. Tidak ada siapapun yang mampu menyembuhkan Lang bahkan dokter dan suster yang berada di akademi-pun tidak bisa.
Di peserta kelas tiga hanya terdapat beberapa orang yang mampu menyembuhkan Lang sepert Akina, Korrina, Mirai, dan Asuka dimana mereka saat ini sedang sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing bahkan di ruangan Lang saat ini hanya terdapat beberapa orang yang mulai merasa khawatir terhadap Lang, mereka merasa takut bahwa dalam waktu dekat Lang akan kehilangan nyawa-nya sendiri karena jantung-nya yang terus berdetak cukup keras, "Apakah tidak ada seseorang yang bisa membantu Lang?!" Tanya Shua selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat panik, Shira mencoba untuk meraba dada-nya menggunakan lengan kiri-nya sehingga lengan kirinya mulai bersinar warna emas cerah.
"Enchantment Light Reco---" *ZBASH!!!* Shira langsung terpental ke belakang sehingga mengenai tembok yang berada di belakang-nya, "Argghhh!!! K-Kekuatan apa tadi!?" Tanya Shira dengan ekspresi yang terlihat terkejut karena ia tadi mencoba untuk menyembuhkan Lang, tetapi ketika ia melakukannya ia tiba-tiba dipentalkan oleh sebuah dorongan yang sangat besar dan kuat. Lang mulai teriak lebih keras dari sebelumnya sehingga ia tidak berhenti teriak, "Aku yakin dia tidak pernah bernafas." Ucap Naoki yang menyadari suatu fakta tentang Lang yang terus teriak tanpa berhenti sedikitpun.
"Ini bukan waktunya untuk bercanda!" Ucap Haruki selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, "Maaf... Tapi semua obat yang diberikan oleh dokter dan suster-pun tidak mampu menyembuhkannya, itu hanya membuatnya merasa lebih sakit dari sebelumnya." Jawab Haruki sehingga membuat mereka semua terdiam selagi memikirkan cara lain untuk menyembuhkan Lang, Shira tidak bisa melakukan apapun melainkan ia hanya menundukkan kepalanya karena ia tahu bahwa takdir kematian Lang sebentar lagi akan terjadi, "Kita hanya harus berdoa agar keajaiban terjadi." Ucap Shira dengan nada yang terdengar pasrah.
"Bisakah kalian semua pergi dari ruangan ini dan biarkan diriku saja yang mengurus ini?" Suara seorang gadis mulai muncul dan itu membuat mereka terkejut sehingga mereka semua melirik ke belakang dan melihat Korrina yang datang selagi menggendong Haruka dan mereka juga sadar bahwa Korrina saat ini sedang menggunakan sebuah kacamata yang terlihat sangat pas untuk dirinya, "K-Korrina!" Akina mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut, ia mencoba untuk menghampirinya, tetapi Arata menghentikannya agar Korrina bisa membantu Lang tanpa hambatan apapun, "Semuanya, mari kita mengikuti perintah Korrina dan keluar dari ruangan ini agar Korrina bisa membantu Lang." Suruh Arata sehingga mereka semua mengangguk lalu berjalan pergi.
Akina hanya bisa diam selagi melihat Korrina yang jalan melewatinya tanpa mengatakan apapun, "Korrina..." Korrina langsung menutup pintu dengan sangat rapat, ia mengeluarkan sebuah kubus biru muda di dalam sakunya, "Buka sistem, Tech." Suruh Korrina dan Tech langsung merespon dengan membuat kubus itu melayang lalu membuat ruangan itu dipenuhi dengan sistem dan teknologi sehingga Korrina membuat kasur yang Lang tidur dipenuhi dengan teknologi canggih yang mampu melihat seluruh tubuhnya menggunakan x-ray yang tersedih dari kasur yang sudah Korrina modifikasi menjadi teknologi dan sistem.
"... ..." Korrina bisa melihat jantung Lang yang telah ternodai dengan racun berwarna hitam dengan aura kegelapan yang mulai melingkari jantung-nya, Korrina sendiri terkejut melihatnya karena racun itu bisa saja milik racun yang iblis tadi masukkan ke dalam Lang, itu seharusnya bisa membuat Majin di diskualifikasi jika Lang sempat mati di arena, "Tech, periksa kondisi Lang dan juga jangka waktu kehidupannya." Suruh Korrina dan dua barrier muncul tepat di depan Korrina, hologram itu hanya bisa dilihat dengan kacamata yang ia gunakan, semua peserta dari kelas tiga melihat Korrina dan merasa kagum.
Kondisi-nya saat ini sedang berada di kondisi sekarat karena racun-nya yang mencoba untuk memutuskan seluruh sel dan urat-uratnya serta darah-nya juga mulai berubah menjadi hitam karena racun yang terdapat di jantungnya, waktu kehidupan Lang juga bisa diprediksi bahwa lima menit lagi ia bisa saja mati, tapi itu hanya prediksi dan masih belum bisa disebut resmi karena Korrina tidak bisa memodifikasi-nya lebih, "... ..." Korrina mulai memerintah Tech untuk melakukan operasi kepada Lang dengan membuka dada-nya, Tech melakukan pekerjaan dengan membuat kasur itu mengeluarkan sebuah pisau tajam yang mampu membelah dada Lang.
"Access Storage!" Korrina mulai membuka sebuah portal biru kecil di sebelah kirinya menggunakan cincin yang berwarna biru dan hitam itu, ia memasukkan lengan kanannya ke dalam lalu ia mengambil sebuah botol yang terisi dengan air suci, "Maafkan aku, Mama. Aku akan menggunakan air suci tanpa perintah-mu." Ungkap Korrina dengan ia mulai membuka penutup botol itu lalu ai menuangkannya tepat di jantung Lang sehingga jantung-nya mulai bersinar serta seluruh tubuhnya juga ikut bersinar, "Tech... Selesaikan secepatnya." Suruh Korrina sehingga dada Lang yang terbuka mulai di jahit rapat menggunakan benang berwarna merah, benang-benang itu adalah darah malaikat yang Korrina olah menjadi sebuah benang karena darah malaikat mampu meregenerasi cepat sehingga tidak meninggalkan luka bekas apapun bahkan untuk dada Lang yang sudah di jahit, bekas jahit-nya sudah hilang beberapa detik yang lalu.
Lang membuka kedua matanya lalu ia menatap Korrina yang mulai mematikan semua sistem dan teknologi di ruangan itu sehingga kubus biru itu mulai perlahan-lahan mendarat di telapak tangan kanan Korrina, ia mengambilnya lalu menyimpannya di dalam saku celananya, "Nona...?" Ucap Lang yang mulai terkejut melihat Korrina baru saja menyembuhkan kondisi Lang sepenuhnya, "Kalau begitu, kau sudah aman. Dewa kematian tidak memiliki hak untuk mencabut nyawa-mu." Ucap Korrina yang mulai menunjukkan tatapan serius karena ia baru saja melawan dewa kematian secara tidak langsung, ia berjalan pergi meninggalkan ruangan dan melewati banyak sekali peserta dari kelas tiga yang menatapnya dengan ekspresi terkejut.
"Kau mau kemana, Korrina?" Tanya Catherine kepada Korrina dan Korrina hanya terdiam lalu ia melambaikan tangan kanannya, "Melakukan aktifitas sendirian." Jawab Korrina selagi melambaikan tangan kanannya dan Haruka mulai menampakkan dirinya di atas bahu kanan Korrina selagi melambaikan tangannya, "Tay~ Tay~~~" Haruka melambaikan kedua tangannya yang kecil.
Beberapa peserta mulai tersenyum seperti seorang pedofil lalu mereka melambaikan tangan mereka kepada Haruka yang terus berbicara dengan nada yang terdengar imut, "Dadah~ Harucaaa~" Ucap Naoki dengan nada yang terdengar imut, hal itu membuat Shira menunjukkan ekspresi yang terlihat terganggu terhadap tingkah laku Naoki kepada Haruka, Legenda tangguh dan kuat seperti Naoki ternyata masih sempat bersikap seperti itu bahkan suaranya juga bisa berubah menjadi suara lembut atau suara perempuan, "Haruca...?" Ungkap Shira.
Waktu ke waktu, setiap pertarungan di akhiri dengan cara yang spektakuler sehingga membuat semua penonton merasa puas karena pertarungan semakin lama dan semakin maju, bahkan setiap pertarungan juga sudah berjalan sangat intens dan sengit sehingga membuat Jorgez tergila-gila dengan bahasa inggris-nya yang mulai memburuk dan terdengar mengganggu, pertarungan selanjutnya adalah pertarungan yang Korrina tunggu karena Agfi Ghifari anak-nya yang kedua akan bertarung melawan seorang Saint Legenda yang bernama Yumemi Aisu.
Aisu dan Agfi mulai saling menatap selagi memegang senjata mereka erat, Aisu memegang sebuah rapier yang terbuat dari es dan Agfi memegang dua dagger yang terbuat dari racun-nya sendiri, ia sudah memastikan bahwa racun yang terdapat di kedua dagger itu aman dan tidak akan bisa membunuh musuhnya sendiri karena Agfi sudah menahan diri dalam memberi racun tersebut, "Pertarungan antara seorang Saint Ice melawan seorang putri kedua dari keluarga Ghifari serta pengguna racun terhebat! Pertarungan antara mereka---" Perkataan Morgan sudah pasti akan terpotong oleh Jorgez yang tiba-tiba teriak.
__ADS_1
"UHHHH YEAAAHHH!!! MULAAAAIIIIIIIII!!!!" Teriak Jorgez keras sehingga ia menembak senjata api-nya ke atas, arena pertarungan Agfi dan Aisu itu dipenuhi dengan es-es keras dan juga dingin, melihat itu Agfi sadar bahwa Aisu memiliki peluang untuk menang karena hanya harus mengandalkan arena yang dipenuhi dengan es karena dia adalah seorang Saint Ice.
Mereka berdua melesat menuju arah satu sama lain dan mulai mengayunkan senjata mereka beberapa kali sampai teradu dan menciptakan suara bising yang membuat es-es yang berada di sekitar mereka retak, Agfi dan Aisu mulai saling menahan serangan senjata mereka sehingga Agfi melihat bahwa kedua mata Aisu mulai berubah menjadi warna biru dan putih yang mengartikan dia akan mengendalikan es di sekitarnya, Agfi melompat ke belakang dan ia melihat ke depan dimana terdapat banyak sekali duri es yang muncul, "Dia bisa memprediksi sihir itu karena Aisu sebelumnya pernah bertarung menggunakan sihir tersebut..." Ucap Catherine yang terlihat serius.
"Apa yang kau harapkan dari putri Korrina?" Tanya Asuka.
Aisu mulai menciptakan beberapa pedang es di sekitarnya yang mampu mengepung Agfi serta ia melirik ke atas dan melihat meteor es yang meluncur menuju arahnya, dengan cepat Agfi menggabungkan kedua dagger itu menjadi satu dan menciptakan tombak berwarna ungu yang panjang, Agfi mulai memutar tombak itu selagi menghancurkan semua es-es itu, Agfi memutarkan tombak itu dengan hanya menggunakan tangan kanannya lalu ia mulai menciptakan bola crimson di telapak tangan kirinya untuk menyerang meteor es yang berada tepat di atasnya.
Agfi meluncurkan Final Shine Attack ke atas sehingga sihir itu mengenai meteor tersebut lalu menimbulkan asap yang besar, Agfi sadar bahwa Aisu sedang berada tepat di belakangnya selagi tersenyum sinis, "ICE BERG!!!" Aisu meraba punggung Agfi, tetapi dengan cepat Agfi langsung berubah menjadi debu dan membuat Aisu lengan karena sihir pembeku-nya tidak sempat untuk membekukan seluruh tubuhnya sehingga Aisu mulai menatap debu itu lalu ia sadar bahwa debu itu mulai membentuk kaki kanan Agfi yang langsung menendang dagu-nya sampai ia terdorong ke belakang dan tergelincir di atas es tersebut lalu terjatuh.
"Tsk...! Aku tidak pernah melihat sihir tadi---" Perut Aisu langsung tertusuk dengan tombak yang Agfi lempar dari atas langit, Aisu membulatkan kedua matanya karena ia melihat Agfi yang melayang di atas langit selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat mematikan, "Percuma!!!" Aisu langsung berubah menjadi es sehingga es itu hancur menjadi beberapa bagian lalu Aisu mulai kembali muncul dengan es di seluruh tubuhnya, sepertinya Aisu memiliki sihir klon karena bantuan dari es di sekitarnya.
Aisu terbang menuju arah Agfi lalu Agfi mulai menarik tombaknya sehingga mereka mulai kembali beradu senjata mereka, Agfi mulai mundur ke belakang lalu ia terbang memutari Aisu sehingga membuatnya lengah karena kecepatan dari pergerakan Agfi sehingga Aisu bisa melihat aura Crimson yang menyebar di sekitarnya, "Sihir Crimson...? M-Mustahil---" Agfi melompat ke atas dan itu membuatnya terkejut karena Agfi mengayunkan tombak-nya ke arah puncak kepala Aisu, tetapi Aisu masih sempat untuk menahan dan menangkis tombak itu ke atas.
CLAAANGG!!!!
"Aku mendapatkan warisannya dari Papa---" Agfi melirik ke bawah karena ia merasakan sesuatu yang janggal yaitu gunung es mulai muncul di atas arena dan melesat menuju Agfi, untungnya Agfi mengubah tombak itu kembali menjadi dua dagger lalu ia menahan puncak gunung yang runcing itu menggunakan kedua tombak-nya *CLANG!* Agfi melirik ke atas dimana sebentar lagi punggungnya akan menyentuh barrier, tetapi Agfi langsung berubah menjadi debu sehingga gunung runcing itu mulai meluncurkan banyak sekali pedang es yang besar ke arah debu Agfi yang mulai membentuk kembali wujud aslinya.
Agfi menghindari semua pedang-pedang itu selagi mencari cara untuk menghentikan Aisu yang memiliki peluang menang karena bantuan dari arena es ini, "Ahh!" Agfi melirik ke atas dimana seluruh tubuhnya langsung terkena dengan meteor es yang membuatnya terpental menuju arena.
BAAMMMMM!!!
Agfi melihat beberapa meteor besar yang meluncur menuju arahnya, dengan cepat Agfi langsung menciptakan sebuah busur lalu ia membidik semua meteor itu dan menembak panah yang mengandung racun yang mampu meleleh-kan es serta dengan airnya, Aisu muncul di depan Agfi dengan tinju kanannya yang terlindungi dengan es, "JYAGGHHH!!!" Aisu menghantam wajah Agfi sehingga membuatnya terpental ke belakang dan kepalanya hampir saja menyentuh daratan merah. Aisu muncul di atas Agfi lalu ia menginjak perut Agfi menggunakan kedua telapak kakinya.
"Hugghhh..." Agfi mulai meringis kesakitan, "Aku sudah mendapatkan peluang besar dalam kemenangan sekarang, Agfi. Jika aku menendang atau mendorongmu sekarang maka kau akan keluar dari arena." Ucap Aisu selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat naif, Agfi tidak bisa berubah menjadi debu karena Lenergy-nya saat ini berkurang sehingga membuatnya tidak bisa berubah menjadi debu untuk sementara, "RASAKAN INI!!!" Teriak Aisu keras sehingga ia menendang dagu Agfi dan membuatnya terpental ke belakang.
"Sial!!!" Teriak Agfi kesal sehingga berputar lalu mendarat di luar arena selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, di saat itulah Agfi sadar bahwa telapak kaki kanannya baru saja menginjak daratan merah yang membuatnya tereliminasi, "Ti-Tidak..." Agfi melirik ke bawah dan ia melihat kaki kanannya yang menginjak daratan merah.
__ADS_1
Semua penonton dan bahkan juri mulai terdiam seperti batu ketika melihat Agfi yang baru saja keluar dari arena, hal itu membuat mereka terkejut karena pertarungan berjalan cukup cepat dan kurang memuaskan karena Agfi kalah begitu saja dengan mudah, Korrina yang sedang menonton di kamarnya hanya bisa diam selagi tersenyum kecil, "Gerakan cerdik, Agfi." Korrina tersenyum.
"Itu tidak baik... Apakah dia tereliminasi?" Tanya Shira yang sedang menunjukkan ekspresi kaget-nya.
"OHHH YEAAAAA!!! DAN PEME---" Jorgez mulai berbicara, tetapi Lina mulai menghentikannya dengan mengambil microphone-nya, "Hah? Ada apa?" Tanya Jorgez dan Lina mulai menghilang lalu muncul di sebelah Agfi yang sedang diam di posisi dan tidak berani menggerakkan sedikit tubuhnya, Lina mulai jongkok lalu menatap teliti telapak kaki kanan Agfi, "Ahhh... Hebat..."
"Agfi Ghifari masih aman dan masih bisa melanjutkan pertarungan-nya melawan Aisu!" Ucap Lina yang mulai berbicara sehingga membuat semua penonton terkejut karena Agfi masih selamat dan belum sepenuhnya tereliminasi oleh Aisu, "ITU MUSTAHIL!!! Bagaimana bisa!? Telapak kaki kanannya itu menginjak daratan merah!!!" Ucap Aisu yang tidak menerimanya karena Agfi bisa selamat dan itu tidak masuk akal sekali bagi dirinya, Lina mulai menunjuk telapak kaki Agfi menggunakan cincin teknologi-nya sehingga terdapat banyak sekali hologram yang muncul di sekitar arena serta tempat penonton yang menunjukkan bahwa telapak kaki kanan Agfi menginjak bongkahan es yang ia hancurkan ketika menebas semua meteor es yang meluncur menuju arahnyal.
"Agfi bisa selamat berkat telapak kakinya yang menginjak bongkahan es, itu artinya pertarungan ini masih belum bisa disebut berakhir!" Ucap Lina yang kembali muncul di tempat juri. Semua penonton jelas menerimanya karena itu cukup masuk akal karena telapak kaki kanan Agfi tidak menginjak sedikitpun daratan merah dan itu membuat mereka bertepuk tangan sekeras mungkin lalu bersorak dan menyemangati Agfi, "APA YANG DIHARAPKAN ANAK DARI NYONYA KORRINA!!! KECERDASANNYA SUDAH PASTI ADA!!!" Teriak para penonton.
"Apakah semua keluarga Ghifari memiliki kecerdasan dan IQ yang tinggi...? Agfi bisa selamat karena ia pasti merencanakannya dari awal." Ucap Arata yang merasa cukup kagum melihatnya, "Bongkahan es bisa menyelamatkannya... Hebat" Akina mulai bertepuk tangan.
Agfi melompat ke atas lalu ia mendarat tepat di belakang Aisu, Aisu melirik ke belakang dan itu membuat jantungnya langsung berdetak dengan sangat cepat ketika melihat kedua tatapan Agfi yang terlihat mematikan, "... ..." Kedua mata Agfi mulai berubah menjadi warna Crimson dan aura yang sangat menyengat seluruh anggota tubuh Aisu langsung membuatnya sedikit ketakutan dan gemetar bahkan kedua lubang hidungnya merasakan bau yang tak sedap seperti darah busuk.
Aura Crimson dan aura ungu kegelapan mulai melingkari seluruh tubuh Agfi dan membuat arena bergetar serta membuat rambut Aisu bergerak karena dorongan yang dikeluarkan melalui aura milik Agfi sendiri, Agfi muncul tepat Aisu dengan jumlah yang banyak sehingga membuat Aisu terkejut karena Agfi mengepung Aisu dengan klon atau ilusi-nya, hal itu membuat Aisu bingung kemana ia harus menyerang, "HAGHHH!!!" Aisu menusuk Agfi yang berada di depannya menggunakan rapier-nya, tetapi ujung logam dari rapier itu menembus perut Agfi sehingga membuat seluruh tubuh Aisu langsung terkena serangan oleh Agfi yang berjumlah sepuluh.
Semua penonton tercengang sehingga mereka semua membuka mulut mereka selebar mungkin melihat seluruh klon Agfi yang menyerang Aisu secara bersamaan, Aisu terpental ke belakang dan ia melihat banyak sekali Agfi yang mengepung dirinya sendiri. Aisu mulai mengeluarkan sihir terkuatnya sehingga seluruh tubuhnya mulai mengeluarkan duri-duri es dan menghancurkan seluruh klon Agfi dan menyisakan Agfi yang asli. Agfi melompat ke atas selagi melihat Aisu yang mulai mengontrol es-nya, tetapi Agfi menghancurkan semua es itu sampai habis menggunakan racun yang terlindungi dengan Crimson.
Agfi muncul di depan Aisu lalu ia menendang wajahnya dua kali sehingga di setiap tendangannya mengandung dorongan besar yang keluar dari belakang kepalanya. *BAM! BAM!* Agfi muncul di belakang Aisu lalu ia menebas punggung Aisu menggunakan kedua belati-nya yang membuatnya terdorong ke belakang. Agfi meninggalkan luka yang melambangkan X di belakangnya sehingga luka itu mulai mengeluarkan banyak sekali darah, "Inikah mode serius-mu?!" Aisu mulai mengeluarkan banyak sekali es dengan meluncurkan kedua tinjunya ke depan dan menendang ke depan menggunakan kedua kakinya sehingga banyak sekali es runcing yang muncul di sekitar Agfi.
Agfi menghancurkan semua es itu menggunakan kedua belatinya dan ia melihat Aisu yang mencoba untuk menusuk seluruh tubuh Agfi menggunakan rapier-nya, rapiernya sempat membuat pipi kanan Agfi tergores sehingga mengeluarkan darah dan di saat itulah ia mengambil darah itu lalu mengoles-nya di kedua belatinya. Agfi melesat ke depan dan mulai menghancurkan banyak sekali tembok es yang menghalangnya dengan hanya menggunakan kedua kakinya saja.
Aisu mulai memilih untuk berlindung diri, ia menciptakan es yang tebal di sekitar tubuhnya dan semua es itu mulai meleleh karena aura Crimson yang Agfi lesatkan, "A-Aahh...? HUEGGHHH!!!" Aisu mulai memuntahkan banyak sekali darah, ia berlutut di atas tanah dan mulai memuntahkan banyak sekali darah. Agfi tiba di belakang Aisu selagi menatap luka X yang bersinar ungu di belakang punggungnya yang mengartikan bahwa racun itu telah bekerja dan merusak seluruh tubuh Aisu untuk sementara, "Kau sudah kalah." Seluruh tubuh Aisu mulai berurat dan di saat itulah Agfi menendang pantatnya sehingga ia terdorong ke depan dan keluar dari arena.
Seluruh tubuh Aisu telah mengenai daratan merah yang mengartikan dia telah tereliminasi. Semua orang mulai bertepuk tangan sekeras mungkin dan merasa puas melihat pertarungan tadi, "NAISSUUUUUUUUU FIGHTOOOOOOOOO!!! AGFI GHIFARI TELAH MEMENANGKAN PERTARUNGAN DAN RESMI AKAN MAJU KE RONDE EMPAT!!!" Teriak Jorgez keras sehingga membuat Agfi mulai berjalan pergi meninggalkan arena dan meninggalkan Aisu yang mulai kembali pulih karena racun itu hanyalah sementara. Semua peserta kelas tiga telah mengakui bahwa Agfi itu cukup kuat dan lawan yang cukup tangguh.
Beberapa menit kemudian, Agfi duduk di lorong selagi mengambil botol yang terisi air putih dan ketika ia mengambilnya, ia sadar bahwa botol tersebut sudah habis dan ia terpaksa harus membeli yang baru, "Hahhh..." Tiba-tiba sebuah botol berisi air dingin mulai menyentuh pipi Agfi dan itu membuatnya terkejut lalu ia menatap ke depan dimana ia melihat Korrina bersama dengan Agfi tersenyum kepada Agfi yang cukup membanggakan bagi Korrina sendiri, "Kerja bagus, Agfi... Kamu membuat Mama bangga."
__ADS_1
"M-Mama..." Agfi tersenyum kecil lalu ia memeluk Korrina erat, "Terima kasih." Ucap Agfi yang mulai meneteskan air matanya.