
"Nenek tua...? Bukannya manusia tadi adalah seorang ibu-ibu yang berbicara bahasa---" Shinobu langsung menutup bibir Hinoka karena ia hampir saja mengatakan sesuatu yang tidak sopan.
"Kakak... makhluk 'A' di Indonesia itu penuh dengan kekuatan mistis dan sakti, Koneko sendiri tidak bisa membujuk atau bernegosiasi walaupun memiliki campuran dari makhluk 'A'."
Shinobu sepertinya sadar bahwa ia memang bisa melihat makhluk halus apapun, jika mereka melihat nenek tua tadi sebuah seorang ibu-ibu maka kemungkinan nenek tua tadi adalah makhluk halus.
Mereka tidak bisa melihatnya, hanya Shinobu saja yang mulai berpikir Nenek itu pergi begitu saja, seharusnya ia bersama teman-temannya dapat melihat kepergian nenek itu.
"Nobu, a-ada apa? Kenapa kamu berhenti di pos ini?" Tanya Ako selagi mengusap kedua lengannya.
"Tidak kok... ayo lanjut saja, jangan lupa untuk mengikuti peraturan yang Koneko katakan sebelumnya." Shinobu pergi melewati pos itu sampai ia sudah menginjak kediaman para Astral.
"Nuwun sewu..." Shinobu menyebut kata permisi dari bahasa Jawa selagi melangkah ke depan dengan ekornya yang terus bergerak.
""Nuwun sewu..."" Mereka semua mulai mengikuti Shinobu yang memimpin, sebagian dari mereka tentunya merasa sedikit bersemangat untuk bisa menikmati perkemahan dalam gunung mengerikan.
Ako dan Konomi sudah merasa sangat tidak enak ketika menginjak kediaman yang Shinobu maksud sebelumnya, "Kakak... aku merasa sangat tidak enak semakin kita melangkah maju dan menanjak gunung ini..."
"Aku juga."
Koizumi tidak menunjukkan ekspresi apapun kecuali diam dan teratur seperti Shinobu yang penasaran sampai melihat-lihat, Hinoka di sisi lainnya perlu dijaga karena ia berjalan selagi melakukan tarian kecil.
"Shinobu, apakah kamu bisa melihat itu...?"
"Sedikit, mata kiri Koneko 'kan hanya mata buatan, jadi hanya bisa menggunakan mata kanan saja untuk melihat keberadaan yang terus buram dan memudar."
"Tetapi tenang saja, semuanya akan baik-baik saja jika kita mau mengikuti peraturan. Koneko juga ingin sekali bertemu dengan mereka atau berteman, hehehe." Shinobu terkekeh.
Melihat Shinobu tertawa kecil seperti itu entah kenapa membuat Koizumi langsung menelan ludahnya sendiri bahwa ia saat ini bersama seluruh temannya memang sudah ditemani oleh seorang campuran dari makhluk halus.
"Sebelum itu, Kakak, apakah manusia itu terlihat seperti ibu-ibu?"
"Iya."
"Beliau adalah Nenek tua dengan wajah yang sangat keriput serta rambut putih..."
"Jangan menakut-nakuti seperti itu, Shinobu..."
"Aku serius---"
"Hwaahhhh!!!" Ako sempat menjerit ketika mendengar suara ranting patah di sebelahnya yang ternyata Hinoka melakukan lelucon kecil kepada mereka selagi menahan tawanya.
"Pfftt...." Hinoka mulai menutup mulutnya sendiri sampai Ako mulai memasang tatapan kesal karena ia tidak menyangka akan terjatuh ke dalam leluconnya itu.
"Hinoka, hentikan...! Aku tidak mau menyebabkan masalah apapun denganmu, jangan menakut-nakuti seperti itu!" Seru Ako sampai Koizumi mulai menyentil kening Hinoka.
"Apakah kau bisa satu detik untuk tetap diam dan tidak menunjukkan sikap yang kelebihan gula itu?" Tanya Koizumi.
Shinobu yang sudah maju duluan hanya bisa menghela nafasnya, "Sepertinya perkemahan ini bisa saja menjadi hal yang paling mengerikan, kita harus bertahan hidup..."
"...aku kasihan untuk mereka." Kata Shinobu yang sempat melihat kuburan di sebelah barat sampai pandangan mata kanannya itu melihat banyak sekali bayangan hitam yang tidak jelas.
"Gawat..." Shinobu melirik kepada Hinoka yang sudah mendekat sampai ia bisa melihat ekspresi Ako dan Konomi bertambah semakin pucat bahwa mereka memang merasakan arwah yang jahat.
"Oh lihat, ada kubu---" Shinobu langsung mengendalikan pikiran Hinoka sehingga ia yang awalnya ingin menunjuk kuburan itu langsung menutup bibirnya.
__ADS_1
"Kakak, apa yang kamu katakan...?! Kamu tidak boleh menunjuk kuburan sembarangan... jangan melakukan apapun sebelum kita sampai di puncak gunung." Peringat Shinobu.
"Hahhh... apakah kita bisa bertahan? Aku sudah merasa tidak enak..." Kata Konomi yang mulai merinding karena ia bisa merasakan banyak sekali esensial makhluk halus dalam kuburan itu.
"Kita bisa saja bertahan jika si bodoh ini berhenti melakukan tingkah yang menyebalkan." Kata Koizumi selagi menatap Hinoka yang sedang menggaruk kepalanya selagi menjulurkan lidahnya.
"Te-he~"
Shinobu menatap kembali kuburan itu lalu ia memasang tatapan kaget ketika melihat semua makhluk halus itu sudah menghilang, ia mulai mengajak mereka semua untuk menanjak sekarang.
"Cyber, bisa beritahu jalan yang aman?" Tanya Shinobu.
Cyber tidak menjawab sama sekali karena sinyal yang ia dapatkan sangat buruk, ia juga mulai menyentuh kacamatanya lalu melihat lensa dari kacamata itu menunjukkan banyak informasi yang buram.
"Ah, ini benar-benar gawat." Shinobu mengeluarkan buku kecil karena tidak sabar kejadian seperti apa yang akan melanda mereka, ia akan menulisnya semuanya untuk dijadikan sebagai pelajaran.
***
Mereka terus berjalan dengan hati-hati dan pelan-pelan, Hinoka masih bisa dibilang terjaga aman karena ia bergerak paling belakang selagi melakukan tarian kecil.
"Apakah kalian takut akan ketinggian...?" Tanya Hinoka yang mulai membuka topik pembicaraan agar suara sepi di hutan itu tidak begitu mengerikan.
"Kenapa kamu menanyakan hal yang mudah untuk dijawab? Kita semua bukannya sudah terbang melewati berbagai macam dimensi dan alam semesta?" Tanya Konomi.
"Tetapi kalian takut akan makhluk halus ya, fufufu... menyedihkan, kita ini bukan anak kecil lagi loh." Hinoka terkekeh sampai membuat Konomi dan Ako memasang tatapan ketakutan.
"H-Hinoka, itu di belakangmu...!" Ako sempat melihat bayangan gelap di belakang Hinoka, ia tidak memasang ekspresi ketakutan melainkan tertawa bahwa mereka mencoba untuk menipu dirinya.
"Sebuah trik murahan tidak akan bekerja padaku! Lagi pula aku adalah seorang Idol Hinoka, mereka semua pasti akan terpesona padaku." Hinoka menoleh ke belakang, tidak melihat siapa pun.
"Hinoka, tolong jangan berlagak hebat seperti itu...! Seperti peringat Nobu tadi bahwa makhluk yang berawalan A itu tidak imut seperti dirinya di Indonesia!" Peringat Ako yang mempercepat gerakannya.
"Hahhhh... jadi kurang seru kalau ketakutan seperti itu 'kan. Bukannya kita melakukan perkemahan hanya untuk mengalami kenangan yang indah?" Tanya Hinoka yang melangkah mengikuti mereka.
Beberapa menit kemudian, Shinobu mulai menghentikan kedua langkah ketika melihat jurang tepat di hadapannya, penciumannya yang kuat menyebabkan dirinya mengetahui aroma yang tidak begitu sedap untuk di hirup dalam jurang tersebut.
"Ini bukan jalan yang benar... katanya, banyak sekali Manusia yang terjatuh di dalam lubang ini karena terlalu girang dan bersemangat sampai terjatuh ke dalam lubang tersebut." Kata Shinobu.
"Hii... mengerikan..." Jawab Ako yang mulai mundur beberapa langkah lalu memegang erat tangan Konomi sehingga Hinoka dari belakang mengagetkan mereka.
"Hwaahhhh!" Seru Hinoka keras.
""Kyaaaahhhhh!!!"" Konomi dan Ako menjerit lalu sadar bahwa mereka telah terjatuh ke dalam lelucon Hinoka yang mulai tertawa melihat mereka semua ketakutan seperti itu.
"Kalian ini kenapa sih, hahaha... bukannya kalian itu bisa mengendalikan arwah, tetapi dengan kejutanku sudah ketakutan seperti itu."
"Hinoka! Itu tidak lucu!" Seru Konomi.
"Benar-benar...! Tidak lucu sama sekali, hentikan...!!! Aku harap kamu di teror oleh mereka!" Kata Ako selagi menunjuk Hinoka dengan pipi yang ia kembungkan.
"Si bodoh itu... hahhh..." Koizumi menghela nafasnya pelan, mencoba untuk tidak membiarkan tangannya yang ringan mencoba untuk mendisiplinkan Hinoka yang sudah melanggar banyak peraturan.
"Ahh...!" Shinobu melebarkan kedua matanya ketika melihat tangan berwarna putih pucat di atas bahu Hinoka, ia juga bisa melihat banyak sekali bayangan di belakangnya.
"... ...!!!" Shinobu melirik ke belakang, melihat jurang itu juga memperlihatkan banyak makhluk bersosok hitam yang sedang menanjak sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Lewat sini." Shinobu mencoba untuk membantu mereka tanpa memberitahu situasi yang sudah memburuk, jika ia langsung memperingati mereka soal makhluk itu maka banyak sekali keributan yang terjadi.
Mereka menghabiskan waktu selama satu jam terus mendaki dan melewati berbagai macam hutan, semakin atas maka semakin kuat esensial makhluk halus yang dirasakan Ako dan Konomi.
"Alam memanggil diriku... apakah aku harus permisi untuk membuang air kencingku?" Tanya Hinoka selagi mengacungkan lengannya.
"Siapa yang mau menemani Kakak?" Tanya Shinobu.
"Aku sendirian---"
"Tidak, jangan. Konomi, ikut saja dengan Hinoka." Shinobu menatap Konomi yang langsung menunjuk dirinya sendiri sampai ia tidak memiliki pilihan lain selain ikut dengan Hinoka.
Mereka bertiga hanya bisa menunggu di tempat itu selagi memperhatikan peta, Konomi dan Hinoka mulai pergi ke arah timur untuk mencari pohon yang lumayan panjang agar ia bisa menerima panggilan alam itu dengan tenang.
"Nuwun sewu~" Ucap Hinoka selagi membuang air kecil di balik pohon besar itu dengan Konomi yang menunggu di baliknya selagi memastikan sekitar aman dengan makhluk halus.
Konomi bertambah semakin gugup seolah-olah ia seperti diperhatikan oleh sesuatu di balik pohon, entah itu apa tetapi ia tidak berani melihat ke balik pohon itu.
Rasanya ia terus diperhatikan sampai ia mencoba untuk tetap tenang tanpa menunjukkan rasa takut karena itu hanya akan membuat semua makhluk halus bertambah semakin agresif.
Penglihatan Konomi saat ini tertuju ke depan tetapi ia bisa melihat sedikit celah di sebelah kanan, menunjukkan sesuatu dengan warna putih di balik pohon yang begitu tipis sampai ia mencoba untuk berpikir positif bahwa itu hanya burung.
Namun, burung tidak mungkin memiliki tubuh yang sangat panjang, ia mencoba untuk menggerakkan bola matanya sedikit demi sedikit ke sebelah kanan untuk memastikan sesosok putih di balik pohon tipis itu.
"Bwaahhhhh!" Hinoka dalam waktu yang pas mengejutkan Konomi sampai menghalangi sesosok putih yang awalnya ia ingin lihat dengan keberaniannya sendiri.
"Ahh! Hentikan itu...!" Konomi langsung menepuk bahu Hinoka selagi memasang tatapan kesal, ia kembali memastikan dengan melihat ke belakang Hinoka.
Ternyata sesosok putih itu sudah menghilang ketika Hinoka datang, "Semoga saja tebakanku benar soal burung..."
"Burung? Yang kamu maksud itu pen-pen 'kan?"
"Hinoka, kenapa kamu semesum ini..." Konomi langsung melangkah kembali menuju Shinobu dan yang lainnya sebelum menemukan sesuatu yang lebih aneh dari tadi.
"Hahaha~"
Hinoka mulai membenarkan sepatunya lalu ia menyadari sesuatu yang aneh, "Tunggu, Konomi."
"Sekarang apa lagi?"
"Kita berdua yang hanya pergi ke arah ini bukan?" Tanya Hinoka.
"Iya... kenapa?"
"Jejak kaki siapa itu...?" Tanya Hinoka yang menunjuk jejak kaki yang bukan disebabkan oleh mereka berdua, melihatnya saja membuat Konomi kaget seketika karena jejak kaki itu mengikuti jalur pohon yang tipis itu.
Pohon tipis yang ia anggap mencurigakan karena dirinya sempat melihat sesuatu yang putih tetapi buram karena ia tidak melihatnya secara langsung dengan kedua matanya.
"Hinoka, hentikan dengan lelucon itu!"
"Aku tidak bercanda, jejak kaki ini cukup panjang sampai hilang begitu saja di pohon tipis itu." Hinoka menunjuk pohon tipis di sebelah kanan sampai ia mendekatinya.
"Oi! Kamu mau kemana...?!" Konomi terpaksa langsung mengikuti Hinoka, tetapi ia bisa melihat dirinya memasang tatapan jijik sampai mulai menutup hidungnya lalu pergi kembali menuju Konomi.
"Hwek, bau amis... kita pergi saja."
__ADS_1
"Bau amis...?!"