Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 215 - Bukti


__ADS_3

Sihir amarah Kuro mampu menimbulkan ledakan yang besar hingga asap hitam menghalangi Hikari bersama dengan kedua target-nya, keberadaan mereka mulai melemah yang mengartikan bahwa sihir itu benar-benar mengenai mereka berdua bersama Hikari yang sudah kebal dengan serangan Kuro sendiri, ketika asap itu menipis terlihat Hikari yang melepaskan Korrina dan Virra.


Mereka berdua terluka parah, Korrina bahkan kembali ke wujud normal-nya bersama Virra... tidak bisa lagi bertarung melainkan mengendalikan tubuh mereka yang masih merasa nyeri, Hikari muncul di sebelah Kuro lalu ia menatap mereka berdua dengan ekspresi yang terlihat serius.


"Waktu bermain sudah habis, monster... Sebaik-nya kalian menyerah saja dan biarkan kami menyucikan Korrina..." Kata Hikari, ia menjauhkan tubuh Virra dari Korrina menggunakan sihir telekinesis-nya lalu mereka berdua mengangkat tangan mereka bersamaan, menciptakan bola putih dan hitam yang bersatu menjadi satu.


"U-Uck..." Korrina mengerutkan dahi-nya ketika melihat sihir tersebut, ia mencoba sekuat mungkin untuk bergerak dan bersiap untuk menghindari-nya tetapi tidak bisa karena saking lemas-nya. Korrina hanya bisa melakukan pergerakan kecil jadi dia lebih memilih untuk menari tarian tradisional agar ia kembali pulih.


"... ..." Korrina memejamkan mata-nya, Kuro terlihat kesal dan semakin waspada ketika melihat Korrina melakukan tarian seperti itu, ia bersama Hikari mulai melempar bola itu ke arah Korrina tetapi bola tersebut berhenti bergerak sebelum mengenai tubuh Korrina.


"... ...!!!" Kuro melebarkan matanya ketika bola sihir-nya berhenti bergerak, seseorang sudah pasti datang dan menghentikan-nya, jika bola tersebut berhenti seperti patung maka penyebab-nya adalah Haruka dan Honoka yang tiba tepat waktu di depan Korrina sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat serius.


"Berani sekali kau mencoba untuk membunuh Mama, Kurooo...!!!!" Teriak Okaho keras, tubuh Honoka langsung diambil alih kesadaran Okaho karena ia kesal melihat Korrina hampir saja dibunuh oleh Hikari dan Kuro.


Haruka hanya diam sambil menatap mereka dengan ekspresi yang mengancam, entah kenapa rasa hormat yang ia miliki kepada mereka berdua mulai berkurang ketika menyerang Korrina yang salah, seseorang yang tidak bersalah terus diserang sampai mati, ia benar-benar tidak sabar untuk menunggu kapan mereka akan sadar bahwa seseorang yang mereka serangan adlah seorang pahlawan.


"Okaho dan Haruka... Lantas tujuan kalian apa mencoba untuk melindungi ancaman bagi seluruh alam semesta dan galaksi?" Tanya Hikari.


"Kalau begitu aku akan menjawab ketika aku membalikkan pertanyaan itu kepada kalian berdua, kepada kalian semua yang benar-benar bodoh... seharusnya kalian berpikir lebih teliti lagi dalam bertindak!!!" Haruka menghentikan waktu untuk mereka berdua agar Kuro dan Hikari tidak bisa bergerak atau melakukan serangan secara diam-diam kepada Korrina yang benar-benar lengah.


Korrina menatap Haruka dan Honoka dengan ekspresi terharu, air mata mengalir keluar melalui kedua mata-nya ketika melihat Haruka dan Honoka datang untuk memberitahu kebenaran kepada kedua mortal terkuat yaitu Hikari dan Kuro, Okaho ingin sekali mengubah realita tetapi Haruka menghentikan-nya.


"Dengar... apakah kalian tidak sadar bahwa kedua Touri asli dan palsu telah terbelah menjadi dua...? Menciptakan satu semesta Touri yang baru...? Apakah kalian sadar bahwa kedua semesta itu sudah pasti memiliki kesamaan yang sama, hal yang membedakan-nya hanyalah sejarah dan tujuan... itu adalah yang paling inti." Haruka menarik keluar sebuah kubus waktu melalui perut-nya lalu kubus tersebut melayang ke atas.


Ketika Haruka dan Honoka yang bertindak seperti itu, Kuro benar-benar sadar bahwa suatu aneh telah terjadi, Hikari sendiri mulai merasakan firasat dan perasaan yang sangat buruk ketika Haruka datang menghadapi mereka berdua dengan wujud dewasa-nya itu, akan sangat sulit untuk tidak mempercayai apa yang Haruka katakan karena bukti selalu ada di sisi-nya.


"Selama ini makhluk sialan yang sudah membasmi seluruh dimensi adalah Korrina Comi yang berasal dari dimensi palsu, Fake Touri... sejarah yang dia miliki itu berbeda dengan Mama-ku yang asli ini, Korrina atau bisa disebut dengan panggilan Komi telah memiliki kekuatan segala-nya..."

__ADS_1


"...kalian pasti mengetahui arti dari segala-nya bukan? Kemustahilan itu bukan apa-apa bagi dirinya." Tatap Haruka sambil mengancam mereka berdua.


Dengan inti penjelasan kecil seperti itu saja membuat Kuro dan Hikari berkeringat dingin, sepertinya semua populasi benar-benar tertipu oleh satu orang yang hanya mengandalkan kemampuan dalam menggunakan ilusi, tidak mungkin apa yang Haruka katakan itu palsu karena ia benar-benar datang untuk melindungi Korrina sendiri.


Tetapi mereka masih belum yakin, penjelasan atau bukti seperti itu masih belum bisa mengubah pikiran mereka. Haruka semakin merasa kesal, ia langsung menggunakan rencana lain-nya yaitu mengandalkan Okaho yang dapat menunjukkan realita asli kepada mereka berdua.


"Okaho, tolong-lah." Haruka membesarkan kubus waktu itu yang mulai menunjukkan peristiwa sebelum-nya, terlihat Komi berwujud Korrina sedang membasmi semua dewa-dewi itu.


"Dengan bantuan dari Okaho, bukti ini sudah cukup jelas untuk kalian semua. Tetapi aku ingin memperingati kalian bahwa Okaho sendiri tidak mengubah realita menjadi palsu melainkan mengubah realita yang kita melihat menjadi asli, masih ada bukti lainnya jika kalian tidak percaya..." Haruka menatap Okaho dan Okaho mengangguk lalu menggunakan sihir realita-nya hingga Komi menampakkan wujud-nya yang asli di dalam kubus tersebut.


Kuro dan Hikari tercengang ketika melihat itu, Haruka masih bisa merasakan penolakan di dalam diri mereka untuk mempercayai bukti itu jadi Haruka langsung melakukan telepati kepada Okaho untuk langsung menggunakan-nya saja karena mereka menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memperbaiki semua kesalahpahaman ini.


Okaho membelah celah angkasa hingga membentuk lingkaran, lingkaran itu menunjukkan Mortem yang berasal dari dimensi asli yang telah berhasil mengembalikan anggota tubuh Komi yang telah hilang, dalam waktu yang pas... Komi memberitahu Mortem bahwa ia telah menciptakan konflik besar dengan hanya mengandalkan istilah dari mengadu domba-kan.


Kuro dan Hikari terdiam sesaat, tidak ada penolakan lagi di dalam diri mereka masing-masing... harga diri yang mereka miliki seolah-olah turun drastis hingga Haruka sendiri menganggap mereka berdua sebagai makhluk rendah karena sudah mempercayai ilusi belaka, untuk Haruka... permintaan maaf saja tidak cukup karena banyak sekali yang mereka lakukan untuk menyakitkan Korrina secara keseluruhan.


"Itu saja bukti yang aku bisa rancang dengan benar, kami akan pergi sekarang..." Haruka mengangguk lalu menjentikkan jari-nya hingga mereka semua menghilang ketika jarum jam di mata Haruka bergerak mundur.


"... ..." Kuro tidak bisa mengeluarkan perkataan apapun, dia terus terdiam... hanya rasa salah yang sangat besar saja yang dapat ia rasakan hingga pikiran-nya terus dipenuhi dengan penyesalan.


"Kuro... sepertinya kita telah mengacaukan semua-nya..." Kata Hikari yang mulai meneteskan air matanya karena menyesal.


***


Haruka bersama yang lainnya tiba di semesta Kamitouri yang sudah diperbaiki oleh Haruka dan Honoka, dengan cepat Haruka memulihkan kembali kondisi Korrina dan Virra sepenuhnya menggunakan sihir waktu, rasa canggung menyerang Virra dan Haruka ketika mereka saling menatap satu sama lain.


"Maaf..." Haruka yang pertama untuk berbicara karena ia merasa bersalah untuk meninggalkan tempat tinggal-nya yang dulu, "Tidak... seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak pernah mengerti dengan perasaan dan pola pikiran-mu..."

__ADS_1


"Okaho..." 


"Siap, kak." Okaho menyentuh kepala Virra hingga ia langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat tercengang, dengan satu sentuhan dari telapak tangan Okaho yang mengandung sihir realita, Virra dapat mengerti dengan situasi yang ia hadapi saat ini serta pikiran Haruka dan Okaho yang sama muncul di dalam pikiran Virra.


"T-Tidak..."


"Beri kami waktu... ini adalah proses perkembangan-nya yang baru." Haruka menatap Korrina dengan ekspresi yang terlihat tidak tega, wujud-nya kembali seperti semula dimana ia berubah menjadi anak kecil, "Mama..."


"Haruka... terima kasih..." Korrina memeluk Haruka erat lalu ia menarik Honoka, "Okaho juga... terima kasih karena sudah menyelamatkan-ku." Korrina tersenyum lebar dan meneteskan air mata bahagia.


Dengan merasakan hawa dan keberadaan baru dari Kamitouri, ia merasakan sesuatu yang berbeda dan asing... seolah-olah semuanya terasa sepi di dalam semesta itu, sepertinya Komi benar-benar membasmi seluruh dewa-dewi hingga Haruka dan Honoka tidak sempat untuk mengembalikan mereka semua menggunakan sihir realita dan waktu mereka yang terbatas.


Korrina mulai teringat dengan kematian kedua saudara-nya, setelah itu ia baru saja sadar tentang kedua orang tua-nya yaitu Futsu dan Koura, ia masih belum mengetahui keberadaan mereka... apakah mereka selamat atau tidak? Korrina langsung menatap wajah Haruka dan ekspresi-nya terlihat seperti merasa sangat bersalah.


"Maaf... Mama... aku gagal lagi... terlambat juga..." Kata Haruka pelan.


Haruka menatap ke depan dan Korrina melirik ke belakang hingga ia melihat banyak sekali kuburan, tempat istirahat terakhir untuk semua dewa-dewi yang terbunuh oleh Komi. Korrina berhenti memeluk Haruka lalu ia menatap kuburan itu hingga ia sadar bahwa batu nisan yang ada di depan-nya tertulis dengan nama [Koura].


"... ...!" Korrina berlutut di depan batu nisan tersebut dengan ekspresi yang terlihat kaget, "A-Ahh..."


"Tidak... semua ini tidak nyata... t-tidak mungkin, semua ini pasti bohong 'kan...? Pasti ilusi belaka yang dilakukan oleh Komi...?" Korrina menyentuh tanah kuburan itu lalu ia merasakan aura Sacred kecil yang persis milik Ibu-nya, kenyataan... semua yang Korrina lihat adalah kenyataan.


"Tidak, Mama... sudahlah, semua makhluk hidup memiliki takdir-nya sendiri..." Virra mulai berbicara dan Korrina langsung menggali kuburan tersebut hingga ia melihat anggota tubuh Koura yang berpisah.


'I... Ibu...?" Air mata Korrina mengalir keluar hingga ekspresinya berubah drastis menjadi putus, "Aaaaahhhhhhhhhhhhh...!!!!" Korrina menjerit keras karena tidak menerima fakta bahwa ibu-nya telah terbunuh oleh sesosok dirinya yang palsu, itu sama saja menyakitkan karena seseorang yang membunuh-nya itu terasa seperti dirinya sendiri yang dulunya pernah membenci ibu-nya.


"Aaaaaaaahhhhhhhh...!!!" Korrina menjerit semakin keras hingga Haruka bersama yang lainnya terlempar ribuan meter ke belakang, menciptakan seluruh kuburan dan batu nisan itu memancarkan cahaya putih yang mampu mengeluarkan partikel putih yang bersatu menjadi satu di atas udara.

__ADS_1


"Tidak...!!! Aku tidak menerima ini...!!! Ibu...!!! Maafkan aku...!!! Maafkan aku...!!!" Teriak Korrina keras hingga ia melepaskan gelombang cahaya putih yang besar ke atas langit hingga melewati perbatasan Kamitouri lalu melewati perbatasan inti semesta Touri hingga semua populasi Touri dapat melihat gelombang cahaya tersebut.


"Aaaaahhhhhhhhhhhhhhhhh...!!!!"


__ADS_2