
"Perlu kalian ketahui, meniru wujud dan fisik tidak akan begitu berhasil jika kalian tidak bisa bersikap persis seperti mereka berdua." Shinobu mulai menumbuhkan pohon emas kecil yang ia ambil batangnya.
Setelah itu, ia langsung menunjuk Daria dan Marina menggunakan batang yang ia pegang untuk menciptakan sebuah buku yang berisi tentang sifat dan karakteristik mereka.
Dengan bantuan dari sihir alkemis serta The Mind, hanya dengan menghancurkan batang itu dengan satu genggam dari tangannya sudah cukup untuk menciptakan buka emas yang memiliki sampul dengan tulisan 'karakteristik'.
"Kayu dapat menciptakan buku dan kertas menggunakan sihir alkemis yang aku pelajari, kemudian isi dadi buku ini sudah terisi informasi ringkas tentang karakteristik mereka yang mudah dimengerti."
Shinobu membuka buku tersebut, tidak sampai satu detik ia langsung mengerti sikap mereka, dirinya dapat membaca buku begitu cepat karena sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya sejak kecil yang menamatkan berbagai macam buku.
Mereka sempat terlihat kebingungan dengan apa yang Shinobu bicarakan, mungkin karena dirinya memang terlalu cerdas untuk dimengerti tetapi dia memang bisa mengetahui identitas serta karakteristik seseorang sampai memindahkannya ke dalam buku.
"Kalian sudah mengerti kan?" Shinobu melihat Koizumi dan Konomi sudah mengenakan pakaian yang terlihat seperti putri duyung itu, banyak sekali anggota tubuh yang terlihat begitu jelas dan bening.
Konomi memasang tatapan yang terlihat malu sedangkan Koizumi merasa begitu kesal karena ia bisa saja menjadi pusat perhatian karena pakaian yang ia kenakan, ternyata negara air memiliki selera yang begitu memalukan.
Wajah mereka terlihat merah, Koizumi hanya bisa menyilangkan kedua lengannya untuk menghalang dadanya sedangkan Konomi terus membelakangi sampai Ako sendiri merasakan perasaan Kakaknya dengan menutup kedua matanya.
"Tidak-tidak... bukan seperti itu, mereka tidak memiliki rasa malu seperti itu." Kata Shinobu selagi menyilangkan kedua lengannya.
Ako mulai mendekati Shinobu untuk mengambil buku tersebut lalu melihatnya, ia memasang tatapan kaget bahkan wajahnya bertambah semakin merah sehingga Konomi dan Koizumi merasakan firasat yang tidak begitu baik.
Shinobu membuka meja laci di belakangnya lalu ia mengeluarkan dua kipas yang selalu digunakan oleh Marina dan Daria, ia menghampiri mereka lalu memberikan kipas tersebut.
"Mereka berdua selalu saja menggunakan kipas itu untuk menunjukkan keanggunan dan tentunya kecantikan mereka..."
"...seperti, ehem." Shinobu mulai membuka kipasnya lalu ia mencoba untuk memperagakan sikap Marina terlebih dahulu yang terlihat begitu sombong dan selalu membanggakan kecantikan serta tubuhnya.
"Nyohohoho~ kalian memang tidak bisa membandingkan kecantikanku, tidak ada satu pun hal yang bisa kalian kalahkan dari rasa cintaku terhadap Dewi Dallas!" Shinobu mulai tertawa layaknya seperti gadis yang memenangkan judi.
Mereka memasang tatapan kaget ketika melihat Shinobu tidak merasa canggung atau malu ketika bersikap seperti itu, Koizumi juga melihat lengan kanan Shinobu yang menempel dengan dadanya.
Melihat pose seperti itu, mungkin lengan kanan Koizumi memang perlu menahan kedua dadanya itu dengan tangannya yang menutup mulutnya selagi memasang tatapan yang begitu anggun seperti menggoda.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin...!!! Kenapa harus aku yang menyamar!?" Tanya Koizumi dengan tatapan yang terlihat kesal sampai Shinobu hanya bisa terkekeh pelan.
"Kakak lebih pantas... Marina juga sebenarnya galak." Shinobu memberikan kipas itu kepada Koizumi sampai mengambilnya dengan tatapan yang terlihat geram.
"Jika semua ini selesai... aku bersumpah akan membunuh mereka yang menatap diriku dengan tatapan busuk itu!" Seru Koizumi dengan tatapan yang terlihat sangat mengancam.
"Perlu diingat... aku juga akan berubah menjadi kucing yang Kakak simpan di belahan itu." Tunjuk Shinobu dengan tatapan polosnya sampai Koizumi tidak memiliki pilihan lain.
"Untuk Konomi yang menyamar menjadi Daria... kamu akan terus mengipas tubuhmu itu dengan kipas tersebut selagi menunjukkan belahan serta menggerakkan rambut itu untuk menunjukkan kecantikan dirimu."
"Heh!? Tidak mungkin...!"
"Mungkin kok, lagi pula Dewi Air ini melambangkan cinta dan kecantikan, sudah pastinya kalian perlu menyombongkan kecantikan dan tubuh kalian yang mereka sukai." Kata Shinobu yang ia ketahui dari isi buku tadi.
Sebenarnya Shinobu sendiri terlihat begitu polos dan tidak peka soal kecantikan serta keistimewaan dari tubuh seorang wanita yang berkembang terutama lagi gadis yang sudah tumbuh dewasa sampai proporsi tubuhnya terlihat sempurna.
"Daria memiliki sifat yang membanggakan cinta, itu artinya Konomi harus terus mengaitkan pembicaraan dengan cinta serta kecantikannya."
"Untuk Kakak mungkin... hanya perlu bersikap seperti ratu yang sombong dan hanya mementingkan kecantikan serta keindahan terhadap tubuhnya itu."
Shinobu menepuk tangannya dua kali sampai buku yang Ako pegang berubah kembali menjadi kayu, mereka masih memiliki waktu selama sepuluh menit sebelum pembukaan rapat dimulai.
"Hohoho~ bodoh sekali kalian ya, apakah rencana seperti itu dapat mempercantik diriku...!?" Tanya Koizumi dengan tatapan yang terlihat kesal tetapi suaranya sudah pas.
"Cinta adalah segalanya...! Tidak ada yang lebih kuat dibandingkan cinta diriku kepada Dewi Dallas!" Seru Konomi yang terlihat memaksakan untuk mengatakannya.
"Kalian masih kaku... tidak boleh seperti itu."
Shinobu mengembungkan pipinya lalu ia mengeluarkan dua daun sebagai persiapan agar mereka bisa memilih rupa yang sama dengan Marina serta Daria.
__ADS_1
"Koneko akan memasang kedua daun ini di atas kepala kalian... jangan sampai daun ini jatuh ya, jika terjatuh maka wujud kalian yang akan terlihat seperti Daria dan Marina akan menghilang."
Shinobu melayang ke atas untuk menempati daun itu di puncak kepala mereka, "Baiklah... ingat ya, jangan sampai jatuh. Ketika kita sedang berada di ruang rapat dan daun itu terjatuh maka aku yakin akan terjadi keributan besar."
"Kita terpaksa melawan mereka semua sekaligus dan itu bukan pilihan yang baik, kita hanya perlu menjatuhkan mereka semua satu per satu..." Peringat Shinobu dengan ekspresi serius.
"Te-Terserah..." Kata Koizumi yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi.
"Baik..." Konomi sendiri terlihat ingin menyerah ketika mengenakan pakaian yang terlalu terbuka itu, ia bisa membayangkan betapa banyak sekali orang yang akan berkumpul dalam ruangan rapat.
"Golden Morph!" Shinobu menggunakan kemampuan baru lagi yang tercipta dari cahayanya sendiri, daun yang berada di puncak kepala mereka mengeluarkan banyak sekali daun emas bercahaya yang membungkus tubuh mereka.
Bungkusan daun emas itu mulai transparan sampai menghilang, Ako masih bisa melihat Konomi dan Koizumi yang tidak memiliki kemiripan sama sekali dengan Marina dan Daria.
"Mereka masih terlihat seperti biasa, Nobu."
"Mmm, kita hanya akan bisa melihat mereka saja karena kamu sudah aku berikan penglihatan cahaya yang dapat melihat sesosok aslinya." Kata Shinobu selagi menunjuk jarinya yang bersinar.
"Kalau begitu kita latihan lagi ya." Shinobu menatap mereka berdua dengan tatapan polos sehingga Koizumi dan Konomi ingin sekali teriak keras lalu melarikan diri.
***
"Rapatnya akan mulai tujuh menit lagi, apakah kau sudah siap untuk melaksanakannya, Keith?" Tanya Beval dengan tatapan kalemnya.
"Semoga saja saya tidak gugup, di ruang rapat itu aku akan melihat banyak sekali kandidat dan pengikut yang mereka pilih sebagai kandidat selanjutnya ya." Keith menelan ludahnya sendiri karena merasa gugup.
"Biasanya kandidat selanjutnya yang mereka pilih adalah seorang Saint Legenda, kau adalah Saint Wind maka kau mungkin akan melihat Legenda dengan tipe yang sama denganmu."
"Lihatlah siapa yang memutuskan untuk datang, kau memang tertarik dengan rapat ini ya." Seorang pria yang mengenakan jas hitam mulai mendekati mereka berdua selagi memegang sebuah cangkir.
Beval melihat kandidat dari dewa tanah yang bernama Demetrio, dengan seorang kandidat yang bernama Admon serta Saint Earth yang ia bawa adalah seorang gadis dewasa bernama Demetra.
"Sudah lama sekali tidak bertemu ya, Admon. Bagaimana dengan negara tanah, apakah kamu masih menjadi kuli bangunan?" Tanya Beval.
"...intinya negaraku memiliki banyak sekali tambangan yang pas untuk dijadikan sebagai mata uang bahkan semua bangunannya juga sangat berkualitas."
"Begitu ya."
"Kau sendiri melakukan apa? Aku yakin negara angin yang katanya kebebasan tidak pernah melakukan apapun melainkan bersantai."
"Benar, itu adalah moto hidupku. Tetaplah bersantai karena semua kerajaan dan tugas masih bisa dilakukannya di hari lain dengan bersantai."
Keith menatap gadis yang jauh lebih tinggi dibandingkan dirinya, "Apakah Anda seorang Saint juga...?"
"Benar."
"Saint Earth ya... mohon bantuannya karena saya adalah penerus dari Saint Wind yang sebelumnya, mungkin karena Ayahku sendiri." Keith tersenyum seperti orang yang polos lalu ia mengulurkan lengan kanannya.
Demetra mulai berjabatan dengan dirinya, "Kau terlihat begitu polos dan muda untuk menjadi seorang Saint Wind, Beval bahkan memilih dirimu karena ia mempercayaimu."
"Saya baru saja memulainya." Kata Keith selagi menggaruk-garuk rambutnya sehingga ia melihat kandidat bersama seorang pria yang hampir memiliki usia sepertinya datang dengan banyak sekali gadis yang mengikuti dirinya.
"Rapat ini sepertinya akan lebih serius dari biasanya ya, bukan hanya kerajaan dan raja yang bangkit tetapi Legenda seperti kita yang memiliki kepercayaan terhadap Dewa juga tidak bisa kalah begitu saja dari mereka."
"Ahh, Tarrant, apakah kau masih memiliki kebiasaan untuk menjatuhkan petir di luar dimensi?" Tanya Admon.
"Tentu saja, banyak sekali manusia di dimensi luar yang aku bunuh dengan petirku sendiri demi bisa mengubah mereka menjadi seorang Reincarnator yang mau membantu kita semua."
"Saint yang aku bawa adalah seorang Reincarnator, Saint listrik yang bernama Andou."
"Selamat siang." Andou menundukkan kepalanya kepada mereka semua sampai Keith membalas sikap sopan tersebut tetapi tidak untuk Demetra yang hanya bisa diam dengan tatapan tidak tertarik.
Melihat kandidat Dewa listrik, angin, dan tanah berkumpul langsung menarik perhatian Anastasia yang baru saja menyelesaikan sebuah musik bersama dengan Hinoka.
__ADS_1
Anastasia mulai menyentuh pinggang Hinoka sampai membuat tubuhnya terangkat seketika karena ia tidak menyukai sentuhan kejutan seperti itu, "Jangan menyentuhku seperti itu, Anastasia."
"Aku sudah melihat ketiga kandidat itu..." Kata Anastasia yang langsung memperlihatkan mereka kepada Hinoka sehingga ia mulai memegang tatapan serius selagi memegang dagunya.
"Mereka berpakaian layaknya seperti Dewa dengan warna yang melambangkan sihirnya sendiri, aku juga bisa melihat jelas Insignia itu." Hinoka mencoba untuk bersikap cerdas tetapi ia tidak begitu tertarik.
Banyak sekali pria mulai mendatangi dirinya dengan sebuah kertas bahkan rela membuka baju mereka demi bisa mendapatkan tanda tangan Hinoka dimana saja karena dia sudah berdansa dengan sempurna.
"Hinoka!!! Hinoka!!! Beri kami tanda tangan!!! Dimana pun!!!"
"Baik-baik~ tolong mengantre ya, te-he~" Hinoka menjulurkan lidahnya selagi mengedipkan mata kanannya sampai menusuk hati mereka semua dengan keimutan yang besar.
"WHOOOAAAAAAA!!!"
Semua pria itu tergila-gila dengan Hinoka, mereka tidak tahu bahwa dirinya masih berumur 13 tahun hanya saja pertumbuhannya sudah mendekati masa-masa dewasa.
Anastasia hanya bisa memasang tatapan datar karena Hinoka hanya ikut dengan dirinya agar bisa mengumpulkan banyak penggemar yang mau melihat dirinya menari serta menyanyikan lagu.
"Rasanya aku memang membantu Shinobu, tetapi niat yang aku inginkan hanya Grimoire yang mereka semua miliki..."
"...lagi pula jika aku terus membantu mereka makan hubungan kita akan terasa semakin ketat sampai Shinobu akan mempercayai diriku terus."
"Membasmi Legenda fanatik ini juga terdengar cukup menyenangkan karena aku sendiri tidak begitu tertarik dengan hal tersebut kecuali Grimoire nya."
"Aku akan membantu mereka..." Anastasia mengeluarkan tongkat sihirnya lalu mengeluarkan nota lagu kecil yang melayang menuju ketiga kandidat itu untuk mendengarkan percakapan mereka.
Percakapan yang ia dengar tidak terdengar begitu penting sampai hanya bisa diam selagi menunggu waktunya tiba.
Lima menit telah berlalu, bahu Anastasia langsung disentuh oleh seorang gadis yang memiliki sentuh yang cukup hangat, ia menoleh ke belakang lalu melihat seorang kandidat Dewi api.
"Anastasia, sudah waktunya. Kita akan pergi menuju ruang rapat sekarang juga, jangan lupa untuk memainkan musik kepercayaan yang merdu ya."
"Tentu saja, aku juga membawa muridku yang mahir dalam berdansa serta menyanyikan lagunya, apakah dia boleh ikut?" Tanya Anastasia.
Kandidat api itu menatap Hinoka yang masih sibuk memberi tanda tangan, "Tentu saja, dia gadis yang cantik sampai bisa menarik perhatian banyak pria seperti itu."
***
"Ako, kamu sudah mengerti kan?" Tanya Shinobu yang baru saja memberi dirinya informasi tentang setiap ruangan yang berada di kerajaan itu.
"Baik, aku akan mencoba untuk mencari semua rahasia dan informasi yang kamu butuhkan, Nobu."
"Kalau begitu, mari kita beraksi. Golden Morph." Shinobu memancarkan cahaya emas melalui tubuhnya lalu ia mengecil sampai berubah menjadi kucing emas yang lucu.
Shinobu memasang daun di atas kepalanya agar bisa meniru wujud kucing milik Marina, Koizumi mulai mengangkat wujud kucing Shinobu yang terlihat jelas seperti kucing yang baru lahir.
"Kenapa harus belahan dada?" Tanya Koizumi.
"Mungkin Marina memang menyukai kucingnya merasakan kenyamanan." Jawab Shinobu yang masih bisa berbicara dalam wujud kucing itu.
Koizumi menghela nafasnya lalu ia memasukkan Shinobu ke dalam belahan dadanya dan kebetulan pas sampai Shinobu memejamkan kedua matanya karena merasa nyaman.
"Empuk dan lembut... Nyaaaaa..."
"Ge-Geli! Jangan banyak bergerak!" Seru Koizumi yang memasang tatapan kesal tetapi wajahnya tetap memerah.
"Fueh...! Maaf...!"
Ako membukakan pintu untuk mereka, "Semoga beruntung ya..."
"...jangan sampai rencana ini gagal karena kita perlu mengetahui apa yang akan mereka lakukan mulai dari sekarang sampai ke depannya."
""Baik.""
__ADS_1