Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 983 - Valentine


__ADS_3

"Pagi~ pagi~ pagi~" Terdengar suara pembukaan radio di belakang Shinobu bahwa pagi hari telah tiba dengan terbitnya matahari sampai menyinari dunia bagian timur.


"Selamat pagi, bangkit dan bersinar lah seluruh penghuni Yuusuatouri...! Kau telah mendengarkan Yuuradio, saya akan menemani Anda di pagi hari yang begitu cerah untuk merayakan hari cinta...!"


"Itu benar, Valentine! Sebuah hari yang cocok untuk merayakan cinta bersama seseorang yang sukai, tetapi jika kau tidak memiliki pasangan maka setidaknya berikan seseorang yang dekat denganmu sebuah coklat lezat!"


"Hari Valentine sudah pasti akan dipenuhi dengan coklat yang begitu manis untuk diberikan kepada seseorang penting..."


"...jadi tetaplah bersantai dan jangan lupa untuk memberikan coklat itu! Tetapi lebih baik diawali pagi hari yang cerah ini dengan melakukan pemanasan seperti mengangkat beban yang melebihi jutaan planet!"


Radio itu mulai menyalakan lagu santai agar semua Legenda yang mendengarnya dapat berlatih dengan tenang, Shinobu mematikan sistem di hadapannya karena ia baru saja selesai mempelajari Eldritch di dalam tabung itu.


"Hari Valentine...?"


"Ya, hari kasih sayang dimana semua orang menerima banyak sekali cinta terutama lagi coklat yang begitu lezat." Jawab Cyber.


"Hohhh...! Coklat...!" Shinobu memasang tatapan yang terlihat tertarik sampai bibirnya dilumuri dengan air liur karena tidak sabar mencicipi berbagai macam coklat.


"Kalau begitu, kita harus memeriksa setiap tempat untuk melihat-lihat coklat itu--- Ohh!" Shinobu baru saja mengingat bahwa dirinya memiliki empat orang yang sangat ia sayangi yaitu kedua teman dan sepupunya.


Mungkin sudah saatnya ia melakukan sesuatu di hari spesial ini seperti membuatkan sebuah coklat, hampir setiap hari Valentine Shinobu selalu saja mencicipi banyak coklat tanpa memberikan mereka satu pun coklat buatan sendiri.


"Mereka semua sangat mahir dalam memasak tetapi jika dibandingkan diriku... Koneko hanya sekedar anak bawang yang tidak tahu cara memasak karena selalu memakan apapun asalkan itu makanan." Shinobu terkekeh pelan.


***


"Astaga, banyak sekali coklat yang sudah kau dapatkan." Kata Konomi yang melihat Hinoka membawa banyak sekali hadiah merah muda yang berisi coklat di dalamnya.


"Aku tidak bisa menghitungnya lagi~ banyak sekali hadiah berisi coklat sampai diriku lebih memilih untuk menerima coklat dari seseorang yang dekat."


"Biar aku tebak... kau sampai sekarang masih belum memiliki pacar?" Tanya Koizumi selagi menempati beberapa mangkuk di atas meja untuk membuat sebuah coklat.


"Tentu saja tidak~ tetapi aku yakin suatu saat nanti seorang pangeran akan datang menunggangi seekor kuda hanya untuk menjemput diriku yang kesepian ini."


"Setelah kita saling bertemu... pandangan kita fokus terhadap satu sama lain sampai bibir akan saling bersentuh, di saat itulah dia akan mengajak diriku menuju kamar lalu menunjukkan pedang suci yang begitu besar dan pan---"


Wajah Hinoka menerima lemparan panci oleh Koizumi sampai ia terjatuh di atas lantai lalu sampai menjatuhkan semua coklat itu, Konomi dan Ako hanya bisa menghela nafasnya ketika mendengar cerita pangeran yang sama dengannya.


"Masa pubertasmu masih belum selesai ya...? Kau selalu saja membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan hal mesum." Kata Ako.


"Tidak, bukan itu... aku hanya menyukai senam lima jari~" Hinoka terkekeh sambil mengumpulkan semua hadiah itu untuk dimakan nanti ketika lima pemberontak bertemu di dalam restoran Shimatsu.


Shinobu menerima semua panggilan dari Koizumi bahwa mereka memiliki urusan penting di akademi atau bisa dibilang sebagai pengalihan agar dirinya tidak datang melihat proses pembuatan coklat yang sangat spesial.


Itulah kenapa Shinobu memilih diam di rumah selagi membaca buku memasak coklat, bibirnya sudah penuh dengan air liur ketika membaca setiap halaman dari buku tersebut sehingga dirinya tidak memiliki pilihan lain selain berkeliaran di kerajaan Ghisaru.


"Menyedihkan sekali ya~ kalian para gadis tidak menerima coklat apapun dari pria, fufufu~" Hinoka mulai menyombongkan diri tentang penghasilan coklat yang ia peroleh dalam satu jam.


"Wajar saja... kau ini bisa dibilang tenar untuk kalangan pria sampai dijadikan bahan hasrat mereka."


"Hm~ itu benar, semua pria menyukai diriku! Itulah kenapa aku menerima banyak sekali coklat lezat dari mereka... sayang sekali aku tidak akan mencicipinya karena..."


Hinoka memasang tatapan nakal sampai pikirannya dipenuhi dengan gambaran dari ketiga temannya yang berenang di dalam kolam coklat dimana tubuh telanjang mereka tertutup dengan coklat, ia ingin membersihkan semua coklat itu dengan lidahnya.


"Hah... Hah... Hah...!" Hinoka bernafas berat sampai ia mulai menggerakkan jari-jarinya tetapi Koizumi menghantam kepalanya lagi dengan panci karena ia tahu apa yang sepupunya pikirkan.


"Hinoka, kami tidak akan tertipu dengan trikmu itu." Kata Koizumi selagi memasang tatapan datar karena sudah bosan dengan trik yang selalu dilakukan oleh Hinoka di hari spesial.


"Cih... membosankan sekali."


"Sudah, sudah, coklat yang akan kita buat sulit sekali loh." Konomi mencoba untuk mengajak mereka kembali membuat coklat untuk Shinobu.


"Fufufu~ dasar gadis-gadis bodoh... kalian tidak tahu bahwa aku sudah merencanakan sesuatu demi memuaskan hasratku." Hinoka menahan tawanya selagi memasang tatapan nakal karena ia sudah merencanakan sesuatu sebagai pengakhiran.


***


"Garam..." Shinobu memasukkan banyak sekali garam ke dalam mangkuk sampai mengejutkan Cyber yang memperhatikan melalui kacamatanya.


"A-Apa yang kamu lakukan, putri kecil...?"


"Aku memasukkan garam."


"Tidak sebanyak itu..."


"Fuehhh... tapi Koneko ingin menciptakan resep yang baru agar mereka menyukainya." Shinobu memasukkan satu sendok garam sampai Cyber berpikir bahwa ia hanya melakukannya dengan kebalikan.


Sudah hampir sering Cyber melihat Shinobu membaca resep lalu melakukannya dengan cara yang terbalik, alasannya adalah menciptakan resep yang sangat baru untuk bisa mencatat sejarah baru.


"Racikan cabai..." Shinobu menjatuhkan banyak sekali racikan cabai di dalam mangkuk itu sampai Cyber mencoba sekuat mungkin untuk tidak membuatnya kecewa.


"A-Anda melakukan yang terbaik, putri kecil."


"Mm~ Koneko akan berjuang~~~!" Shinobu memasukkan kecap ke dalam mangkuk itu untuk menggantikan resep potongan coklat, kemungkinan besar hasilnya akan memiliki coklat berwarna hitam.


***


"Nobu, pasti akan menyukai coklat ini... nomor satu dari mereka semua yang tidak akan pernah bisa memiliki dirinya." Batin Ako.


Ako membentuk coklatnya agar mirip dengan wajah Shinobu yang sedang tersenyum polos, mereka semua melakukannya di balik tirai untuk merahasiakan apa yang mereka buat untuk Shinobu.


Seseorang yang berhasil membuat Shinobu senang dapat menerima sebuah izin untuk menginap di rumahnya itu, Hinoka hanya bisa tertawa pelan selagi membentuk coklatnya menjadi sesuatu yang membuatnya terus tertawa.


"Hinoka, kau ini berisik sekali! Apa yang kau coba buat?" Tanya Konomi yang mencoba untuk membuka tirai itu tetapi Hinoka menahannya menggunakan sihir realitas.


"Tidak boleh mengintip...! Itu curang sekali!" Seru Hinoka yang kembali tertawa ketika membentak Konomi.


"Ngomong-ngomong, apakah kalian masih ingat dengan makanan yang dibuat oleh Shinobu?" Tanya Koizumi yang mengingat camilan pemberian Shinobu.


...


...


"Ahh... lapar sekali, apakah tidak ada satu pun camilan yang bisa aku cicip sehabis latihan?" Tanya Koizumi selagi mengeringkan tubuhnya dengan kipas angin di depannya.


"Ini, Kakak~" Shinobu mendekati Koizumi dengan ekornya yang bergerak begitu cepat karena ia baru saja memasakkan sesuatu untuk Koizumi camilan yang ia inginkan.


"Kentang goreng?" Tanya Koizumi yang melirik ke sebelah kanan untuk melihat sebuah piring yang dipenuhi dengan kecoak goreng sampai mengejutkan dirinya seketika.


"B-Banyak sekali...!?" Koizumi menelan ludahnya sendiri lalu ia melihat Shinobu mengambil kecoak tersebut lalu memakannya sampai Koizumi dapat mendengar suara renyah yang begitu keras.


"Hugh..." Nafsu makan Koizumi hilang seketika sampai ia mulai menutup mulutnya sendiri.


"Rasanya sama seperti kentang goreng loh~"


"Ti-Tidak... aku sudah kenyang..." Kata Koizumi dengan ekspresi jijik sampai Shinobu hanya bisa diam selagi memiringkan kepalanya.

__ADS_1


...


...


"Satu Minggu aku tidak makan ketika melihat kecoak yang sudah digoreng sampai gosong itu..." Kata Koizumi.


"Kamu masih mendingan... aku lebih parah lagi." Kata Konomi.


...


...


"Gerah sekali..." Kata Konomi selagi menggerakkan kerah bajunya.


"Konomi~ mau minum?" Tanya Shinobu yang menawarkan dirinya sebuah gelas dengan cairan merah kehitaman di dalamnya sampai Konomi mencium bau busuk.


"Uh... minuman apa itu...?"


"Ini adalah darah tikus... rasanya masih enak dan segar loh."


"Ti-Tidak...!"


"Ehh...? Tapi Konomi terlihat kepanasan sampai membutuhkan air minum, aku juga memiliki gelas lainnya loh." Shinobu mengeluarkan satu gelas kecil berwarna merah di dalamnya.


"Apa itu...? Darah tikus...?"


"Bukan, ini adalah darah ular kobra!"


"Hugh... aku... mungkin aku akan menunggu Ako membawakan diriku minuman yang dipesan."


"Ehh?"


...


...


"Kakak... kau beruntung untuk menerima cairan saja..."


"...kau tidak mengetahui makanan menjijikkan apa yang Nobu berikan padaku ketika sedang lapar-laparnya." Kata Ako dengan ekspresi penuh ketakutan.


...


...


"Ako! Ako! Ako!" Panggil Shinobu selagi lompat-lompat.


"Hm? Ada apa?"


"Apakah kamu sedang lapar...?!" Tanya Shinobu yang terlihat begitu bersemangat sampai Ako menjawabnya dengan senyuman lalu mengangguk cepat.


"Ini~ Koneko baru saja memasak sesuatu yang mungkin akan disukai oleh Ako." Shinobu menempati sebuah piring besar yang langsung mengagetkan Ako ketika melihat tikus bakar di atas piring tersebut.


Terdapat banyak sekali jamur beracun di sekitarnya bahkan di atas perut tikus itu terdapat banyak sekali larva yang sudah digoreng sampai gosong, Shinobu menuangkan sebuah sirop berwarna merah.


"Ini~ selamat makan~" Shinobu tersenyum begitu polos sampai Ako mencoba sekuat mungkin untuk tidak muntah ketika melihat dan mencium aroma yang begitu menjijikkan dari hidangan tersebut.


"Aku... mungkin harus pergi ke toilet...?"


"Fueh?"


...


...


"Kalian memang lemah, fufufu~" Hinoka menertawakan mereka semua sehingga ketiga gadis itu berhenti membentuk coklat mereka karena penasaran dengan apa yang ia dapatkan dari Shinobu.


"Memangnya kau menerima makananĀ  atau camilan apa dari dia?" Tanya Konomi.


"Tidak ada..."


"...semua makanan yang ia berikan padaku dapat aku konsumsi dengan baik."


"Karena perubahan realitas atau kemungkinan makanan yang masuk ke dalam mulutmu itu akan meledak." Jawab Koizumi.


"Hm~ Sapizumi, kamu jenius sekali~"


"Enak sekali ya... Hinoka." Kata Ako.


"Jika kita tidak menerima makanan atau camilan darinya... seperti mencoba untuk menolak dan melarikan diri maka ia akan tahu karena isi pikiran serta perasaan kita..." Ucap Konomi pelan.


""Dia malah akan menangis.""


"Aneh sekali ya, seorang ratu masih bersikap seperti anak kecil." Kata Hinoka.


"Jika Shinobu mendengar itu mungkin dia akan menangis juga." Ucap Ako.


"Walaupun dirinya bersikap seperti anak kecil... kehidupan dan nyawanya pantas untuk dilindungi dengan semua hal yang kita bisa." Kata Koizumi dengan tatapan serius karena Shinobu adalah sesosok penting baginya.


""Kau benar.""


Beberapa menit kemudian, Koizumi mencoba untuk menghubungi Arata yang langsung menjawab dan mengatakan sesuatu yang buruk kepada dirinya bahwa restoran saat ini penuh dengan pasangan sampai tidak ada tempat tersisa.


Mungkin mereka akan merayakannya di rumah Koizumi seperti biasanya sampai mereka semua langsung menyiapkan coklat itu dengan menyimpannya di dalam kotak hadiah.


"I-Itu besar sekali, Ako..." Kata KonomiĀ  yang melihat hadiahnya hampir berbentuk setinggi perutnya.


"Begitulah..."


"Mari kita ajak Shinobu sekarang." Kata Koizumi.


***


Shinobu baru saja selesai menciptakan empat coklat yang berbentuk seperti kucing, ia tersenyum penuh dengan kepuasan melihat hasilnya yang begitu baik.


"Sekarang Koneko akan memberikannya kepada mereka karena sudah mau membantu diriku~" Shinobu tersenyum lebar lalu memasukkan semua coklat itu ke dalam kotak hadiah.


Kebetulan Cyber memperingati dirinya tentang panggilan dari Koizumi, Shinobu langsung meminta Cyber untuk memberitahu mereka bahwa ia dalam perjalanan menuju rumah Koizumi.


Satu detik saja Shinobu sudah muncul karena lompatan cahayanya sampai mereka langsung bersiap untuk memberikan dirinya hadiah Valentine berbentuk coklat unik yang berbeda.


"Aromanya wangi... coklat... Koneko suka coklat!" Shinobu menggerakkan ekornya cepat lalu ia melihat Koizumi mendekati dirinya dengan sebuah kotak hadiah.


"Selamat hari Valentine, sepupu kecil yang aku anggap sebagai adik tersayang..." Koizumi mengelus kepala Shinobu lalu memberinya sebuah kecupan di bagian pipi.


"Terima kasih, Kakak~" Shinobu membuka kotak tersebut lalu ia dikejutkan dengan coklat yang berbentuk dirinya bersama Koizumi bertarung.

__ADS_1


"Whoa~ keren... rasanya sayang sekali untuk dimakan ke dalam mulutku." Kata Shinobu yang mulai menurunkan kedua telinganya.


"Makan saja, lagi pula coklat ada untuk dimakan..."


"Am!" Shinobu memakannya dengan satu gigitan lalu ia memeluk Koizumi erat sampai gilirannya sudah habis.


Sekarang bagian Ako yang mendekati dirinya untuk memberikan kotak hadiah yang begitu besar sampai mengejutkan Shinobu lalu membuat dirinya penasaran, "Besar sekali...!"


"Apa isinya?" Tanya Shinobu.


Ako menarik pita merah tersebut sampai kotak itu menunjukkan coklat yang meniru wujudnya sampai Shinobu langsung memasang ekspresi yang begitu senang dengan tatapan terbinar-binar.


"Kamu membuat sebuah patung coklat berbentuk Koneko!? He-Hebat sekali!" Kata Hinoka yang melihat Shinobu memeluk Ako erat lalu menjilat wajahnya beberapa kali seperti kucing yang menyukai majikannya.


"Terima kasih, Ako~ sekarang Koneko bisa menerima pengalaman untuk memakan diri sendiri, hehehe." Shinobu langsung memakan patung coklat tersebut sampai meninggalkan Ako yang tergeletak di atas lantai dengan pipi memerah.


"Rasanya aku tertarik menuju surga..." Kata Ako yang mulai digusur oleh Konomi karena sekarang adalah giliran dirinya.


"Shino." Konomi melempar sebuah kotak kecil yang ditangkap oleh Shinobu menggunakan mulutnya lalu ia membukanya sampai melihat banyak sekali coklat kecil berbentuk Mecha-Neko.


"Uwahhhh~"


"Terima kasih, Konomi~" Shinobu tersenyum lebar lalu ia menerima sebuah usapan di bagian kepalanya.


Coklat mereka sudah dihabiskan begitu cepat oleh Shinobu sampai dirinya melihat Hinoka yang terakhir untuk memberikan sebuah kotak hadiah misteri dengan coklat yang sangat unik di dalamnya.


Koizumi bersama kedua temannya tiba-tiba tidak bisa melihat Shinobu karena tubuh Hinoka yang menghalanginya, ia melakukannya agar tidak ada yang mencoba untuk menghentikan dirinya.


"Koneko~ ini~" Hinoka mengeluarkan sebuah coklat berbentuk tongkat panjang di dalamnya atau yang bisa disebut dengan kelamin pria.


"Sosis...?! Be-Besar sekali...!"


"Mm~ tetapi kamu perlu memakannya dengan cara yang berbeda, jangan asal gigit." Hinoka memegang erat coklat tersebut lalu mendekatinya kepada Shinobu yang membuka mulutnya.


"Mmm..." Hinoka memasang tatapan kaget ketika mulut itu tidak muat dengan mulutnya.


"Besar sekali... itu tidak muat..."


"Paksa."


"T-Tidak muat... mmm..."


"Tolong jangan dipaksa... nanti hancur..." Shinobu mencoba untuk membuka mulutnya selebar mungkin tetapi ujung dari coklat tersebut yang berbentuk bulat tidak muat.


"Astaga... ternyata Koneko memang tidak cocok." Batin Hinoka.


"Oi!!!" Panggil Koizumi yang baru saja melihat coklat milik Hinoka, mengetahuinya saja sudah membuat dirinya merasa sangat kesal karena Hinoka mencoba untuk mengotori pikiran Shinobu yang begitu polos.


"Kenapa, Koizumi? Mau menikmati coklat ini menggunakan cara unik?" Tanya Hinoka yang mulai memasukkan coklat itu ke dalam mulutnya lalu mendorongnya ke belakang dan ke depan sampai wajahnya menerima satu pukulan dari Koizumi.


"Aww...!!!" Coklat itu hancur lalu dimakan oleh Shinobu yang bergerak secepat cahaya sebelum semua serpihan coklat itu terjatuh.


***


"Ehh? Kamu membuat coklat?" Tanya Ako.


Ketika mendengar Shinobu baru saja membuat coklat untuk mereka, entah kenapa perasaan di dalam diri mereka masing-masing mulai tidak enak karena ia tidak tahu dia membuatnya dari apa.


"Ini, hehehe~" Shinobu membuka kotak hadiah itu lalu menunjukkan empat coklat berbentuk kucing sampai membuat mereka semua kaget.


Hasilnya terlihat begitu imut sampai mereka tidak menghirup aroma aneh apapun, mereka hanya bisa tersenyum lalu memberikan pelukan kepada Shinobu sampai kepalanya menerima banyak gumpalan daging dari keempat gadis itu.


"Mffh..."


"Kalau begitu, kita akan coba untuk memakannya ya~" Hinoka mengambil coklat itu bersama yang lainnya lalu mencoba untuk mencicipinya dengan menggigit coklat tersebut.


Ekspresi mereka yang terlihat begitu bahagia berubah drastis menjadi jijik sampai merasakan keasinan serta kepedasan yang dicampur menjadi satu sampai mereka langsung menatap Shinobu yang masih tersenyum lebar.


"Enak~" Kata Hinoka yang sudah meledakkan coklat itu di dalam tenggorokannya tanpa sisa tetapi ia tetap merasakan keasinan itu.


"Hugghhh...!!!" Koizumi menutup mulutnya.


Ako dan Konomi menepuk meja beberapa kali sampai Shinobu mengetahui apa yang mereka pikirkan dan rasakan, ekspresinya ikut berubah drastis dimana senyumannya langsung terbalik.


"Tidak enak ya..." Shinobu menundukkan kepalanya.


"Tu-Tunggu, Shinobu."


"Koneko tidak akan... berjuang untuk memasak lagi." Kedua mata Shinobu berkaca-kaca sampai ia mulai menangis seperti anak kecil.


"Hweeeeeeeehhhhhhh!!!"


"Ahhhhh! Tidak, tunggu...! Enak kok...!" Ako mencoba untuk menenangkan dirinya tetapi percuma saja berbohong karena Shinobu pasti akan tahu.


"Hayo loh... Koneko menangis." Kata Hinoka sampai mereka bertiga memasang tatapan mengancam kepada dirinya yang menyebabkan Hinoka langsung bersembunyi di balik Shinobu lalu memeluknya dari belakang.


"Ssshhh..."


"...masih ada banyak coklat lezat yang bisa kamu nikmati, kali ini sangat amat lezat." Kata Hinoka yang sudah menyimpan rencana cadangan.


"Be-Benarkah...?" Tanya Shinobu yang berhenti menangis.


"Mm~ karena aku adalah Kakak figuranmu maka dengan senang hati aku akan melakukan apapun untuk adik kecilku yang sangat imut ini~" Ucap Hinoka selagi mencubit bibirnya.


Hinoka berdiri di hadapan Shinobu lalu ia melihat Koizumi bersama yang lainnya dengan sebuah senyuman lebar, "Tahan saja ya..."


"...Reality Object!" Hinoka menjentikkan jarinya sampai pakaian yang ia kenakan bersama sepupu dan teman-teman di belakangnya langsung berubah menjadi coklat meleleh yang menghalang tubuh telanjang mereka.


"Kyah!?" Koizumi memasang tatapan kaget ia telanjang bulat dengan coklat meleleh saja yang menutup tubuhnya.


"Tu-Tunggu...!?" Ako langsung menghalangi tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan, Hinoka!?"


"Koneko! Coklat terakhir itu adalah kami~ cicipi lah kami!" Seru Hinoka yang langsung menjentikkan jarinya lagi sampai lantai berubah menjadi coklat meleleh licin yang menjatuhkan mereka semua kecuali Shinobu.


"Coklat...!" Ekspresi Shinobu kembali terlihat senang dan polos sampai kedua matanya mulai terbinar-binar termasuk dengan bibirnya yang berlibur.


"Ti-Tidak, Shinobu...! Jangan!" Koizumi mencoba untuk bangun tetapi lantai terasa begitu lengket sampai ia tidak bisa bergerak sama sekali.


"Uwaahhhh~ Nyaaaaa~" Shinobu bergerak menuju mereka semua lalu mencicipi tubuh mereka yang dilumuri dengan coklat menggunakan bibir serta lidahnya.


""Kyaaaaaaaahhhhhhhhh...!!!""


( ͔° ĶœŹ– ͔°)

__ADS_1


__ADS_2