
"Tadi benar-benar hampir saja, bung. Jika saja kau tidak memperingatiku maka kereta itu sudah pasti mengubah kita semua menjadi manusia geprek." Kata tentara itu yang sedang fokus mengendarai.
"Hindari semua peluru yang ditembakkan oleh mereka, kami membutuhkan pengemudi yang handal agar bisa mengejar kereta itu!" Seru Wilhelm yang mulai membidik menggunakan sniper nya, ia menahan nafasnya untuk mengontrol pembidikannya.
Semua mobil itu mampu menyusul kereta yang dikejar sampai mengepungnya dari arah yang berlawanan, Aditya dan Andrian hanya menggunakan satu pistol peredam untuk meninggalkan lubang di bagian kening mereka semua.
Di hadapan mereka memperlihatkan satu ruangan sempat yang cocok untuk satu kereta saja, mereka terpaksa mengikuti dari belakang dan menghindari semua tembakan rudal yang terlepas oleh RPG itu.
Tak lama kemudian, mereka menemukan banyak sekali jalan di dalam terowongan kereta itu, untungnya tidak ada kereta lain yang datang dari arah berlawanan jadi mereka fokus menjatuhkan tentara di dalam kereta tersebut.
"Indera, kita sudah mengamankan si bangsat itu dalam kereta... sekarang kami hanya perlu tahu kemana mereka akan pergi!" Ucap Andrian yang mulai menghubungi Indera.
"Semua jalan keluar dari terowongan itu akan membawa kalian secara langsung menuju pusat kota, selesai." Jawab Indera yang dapat melihat sesuatu di balik terowongan itu menggunakan kedua mata aliran Mana yang mengandung X-RAY.
"Jangan menembak...! Di depan kita banyak sekali warga!" Peringat Wilhelm yang sudah memasuki tempat perhentian kereta dimana banyak sekali warga yang mulai teriak histeris sampai tiarap.
Perhentian pertama langsung dilewati oleh mereka semua, ketiga mobil itu tetap mengejar kereta itu yang melaju lebih cepat dan kemungkinan akan hilang kendali dengan rodanya itu.
"Woi! Kereta di depan...!!!" Peringat Andrian sehingga pengemudi mulai berbelok ke sebelah kanan sampai kereta itu menghalangi dirinya untuk menembak ke arah kereta yang ia tandai.
"Adit! Indera...!!! Kemana kalian!? Cepat tembak kereta itu dengan minigun ketika sudah keluar dari dalam terowongan...!" Seru Aditya yang merasa kesal ketika kereta itu terus melaju lebih cepat.
"Sedang kami lakukan...! Tahan!!!" Jawab Adit yang bisa melihat kereta itu keluar dari dalam terowongan lalu ia menekan tombol kendali senjata untuk mengeluarkan minigun yang menembakkan
Tidak lama kemudian, kereta itu kembali masuk ke dalam terowongan lalu ini pengemudi yang mengendalikan kereta itu mengangkat jarinya lalu menyentuh kontrol yang langsung dimasukkan aliran Mana.
Kereta itu melaju lebih cepat sampai mengejutkan Aditya yang lainnya, mereka terpaksa melawan Mana dengan Mana yaitu mengalirkan mobil mereka menggunakan sumber Mana sampai knalpot itu melepaskan pembakaran besar yang mempercepat mobil itu.
Ketiga mobil itu berhasil mengimbangi kecepatan kereta itu sampai mengejutkan pengemudi yang mencoba untuk melakukan sesuatu agar bisa menghentikan Aditya dan yang lainnya.
"Kenapa pengemudi itu masih bernafas!?" Tanya Aditya.
"Aku tidak bisa menembaknya...! Bagian ruangan pengemudi dipenuhi dengan perisai RIOT yang sudah terselimuti dengan Mana!" Jawab Indera.
"Kereta ini sudah akan mendekati perjalanan menuju Malioboro...!!! Kita harus segera menghentikannya sebelum benda itu melakukan sesuatu yang berbahaya...!" Peringat Andrian.
Andrian mencoba untuk memfokuskan semua sumber Mana di dalam tubuhnya yang ia pindahkan menuju hatinya sampai dirinya langsung mengeluarkan Garuda yang menabrak kereta bagian belakang itu.
Garuda itu melesat maju melewati pintu di depannya sampai menembus perisai yang menghalangi pintu bagian ruangan pengendalian, tidak lama kemudian Garuda itu mematuk kepala pengemudi kereta itu sampai kendali kereta itu hilang kendali.
Sumber Mana yang pengemudi itu berikan hilang sampai menyebabkan kekacauan dengan kereta itu termasuk rodanya, pada akhirnya roda kereta itu meninggalkan rel kereta.
Kereta itu juga langsung terguling tepat di hadapan Aditya sampai menghancurkan pilar terowongan yang membatasi dua rel kereta yang pergi menuju arah berlawanan.
"Bertahan...!!!" Seru Wilhelm.
Mereka semua mencoba untuk menghindari semua tabrakan kereta yang berguling-guling sampai menghancurkan pilar di depannya, tentara yang mengendarai mobil itu hilang kendali karena menerima banyak sekali tabrakan dari kereta itu.
__ADS_1
Mereka terjebak di tengah-tengah kereta yang terus berguling itu, tidak lama kemudian mobil mereka terpental ke belakang sampai menjatuhkan semua tentara dan Aditya di atas tanah.
***
Adit dan Indera memasang ekspresi yang terlihat kaget ketika melihat terowongan itu mulai runtuh sampai menjalar luas menuju perhentian selanjutnya, "Kakek...! Apakah kau dengar aku...?!"
"Kakek...! Woi! Bangun...! Udah pagi---" Kepala Adit menerima tepukan dari Indera.
"Ini bukan waktunya untuk bercanda! Kita periksa sekarang juga...!" Ucap Indera, ia bisa melihat satu bagian kereta terlepas keluar dari dalam terowongan itu.
Aditya yang berada di dalam terowongan itu perlahan-lahan membuka kedua matanya sampai ia bisa melihat Wilhelm mendekati dirinya lalu ia mengulurkan tangannya.
"Apakah kalian baik-baik saja...?! Cyber baru saja memperingati diriku bahwa truk itu sedang dalam perjalanan menuju Malioboro!" Peringat Shinobu.
"Ya... kami mendengarnya... keberuntungan masih berada di sisi kami, terowongan ini sudah terlihat seperti bekas ledakan bom saja." Jawab Andrian.
"Para bangsat itu menggunakan kereta untuk pergi menuju Malioboro secepatnya, kami sudah menjatuhkan kereta itu tetapi tidak melihat benda yang mereka bawa." Kata Wilhelm yang baru saja selesai memeriksa setiap ruangan kereta.
"Arah jam dua belas...!" Seru Andrian yang mulai berlindung di balik tembok terowongan itu ketika melihat banyak sekali pasukan mulai berdatangan.
"Shinobu, kami membutuhkan bantuan lainnya...! Suruh semua tentara untuk datang secepat mungkin, jumlah mereka banyak sekali!" Seru Aditya yang sedang membidik kepala semua tentara itu menggunakan pistolnya.
"Dalam perjalanan." Jawab Shinobu yang mulai memutuskan sambungan karena ia sendiri akan membantu mereka.
Aditya bersama kedua temannya terpaksa untuk bertahan dari semua tembakan yang dilakukan oleh tentara itu, sebagian dari pasukan aliansi nekat maju ke depan demi bisa membunuh mereka tetapi Andrian terus menjauhkan mereka dengan melepaskan Garuda.
Aditya membidik ke arah bambu tersebut lalu ia menarik pelatuk pistol itu sampai menembakkan peluru yang mengenai granat itu sehingga menyebabkan ledakan besar di hadapan mereka yang memberikan cerah untuk menerobos ke depan.
Aditya bersama kedua temannya menjatuhkan Sniper yang mereka gendong lalu mengalirkan semua tubuhnya dengan Mana sampai pergerakan dan fisik mereka diperkuat.
Andrian maju paling depan dengan melakukan beberapa serangan seni bela diri seperti karate untuk menjatuhkan semua tentara itu satu per satu dengan pengakhiran tembakan di bagian kepala mereka.
Wilhelm sendiri membunuh semua tentara itu di balik asap yang ditimbulkan oleh ledakan granat tadi, ia menggorok leher semua tentara itu yang berada di jarak dekat.
Aditya di sisi lainnya maju ke depan dengan menghantam wajah tentara di depannya lalu menggunakan dirinya sebagai perisai yang menahan semua tembakan tentara itu sampai ia melihat banyak celah tembakan di bagian kepala semua tentara itu.
Aksi ketiga mereka berjalan cukup baik, tetapi semuanya berhenti ketika melihat sebuah tank besar yang menghalang jalan mereka untuk pergi menuju Malioboro, Aditya dan kedua temannya terpaksa mengangkat kedua tangannya itu.
"Wah, wah, lihatlah siapa yang dengan gegabahnya maju paling depan sampai membunuh semua pasukanku hanya mengandalkan seni bela diri yang diperkuat oleh Mana."
Pintu tank itu mulai terbuka sampai seorang Manusia yang menggunakan baret hitam menunjukkan tubuh bagian atasnya, "Kalian sekarang sudah terkepung..."
"...tidak ada lagi yang namanya jaya untuk tanah air ini, Manusia seperti kalian memiliki keterbatasan dalam kekuatan, tetapi untuk mereka yang mengikuti pemerintah..."
"...kekuatan kita hanya akan meluas dengan batas yang tersedia." Jenderal itu menodongkan sebuah sniper ke arah kepala Aditya untuk membunuhnya menggunakan senjata yang sangat mematikan.
"Jasa pahlawan kalian tidak akan pernah bisa dilupakan oleh kami... warga Indonesia yang merasa lebih aman berada di pihak... PEMERINTAH!!!" Jenderal itu menarik pelatuknya.
__ADS_1
Sniper yang ia pegang menembakkan satu peluru yang begitu cepat menuju arah Aditya, ia sudah memejamkan kedua matanya untuk menerima takdir kematiannya, tetapi...
Aditya mendengar suara peluru yang tertahan, ia membuka kedua matanya lalu melihat Shinobu berdiri di hadapan mereka dengan lengan kanannya yang menahan tembakan sniper itu sampai menyebabkan peluru tersebut langsung gepeng.
"Aku kira warga Indonesia akan tetap bersatu, tetapi sebenarnya aku salah... semua Manusia memang akan memilih jalan lain ketika berada di puncak kekalahan."
"Menyerah... memohon atas ampunan, setelah itu memasuki pihak kemenangan---" Tank itu menembakkan peluru penetrasi untuk memotong pembicaraan Shinobu yang sedang lengah.
Peluru itu menyentuh wajah Shinobu langsung terpental ke atas langit, menyebabkan dirinya untuk menatap ke atas langit juga karena menerima dorongan kecil tetapi tidak melukai dirinya sama sekali.
"Sampah!!!" Teriak Shinobu keras sampai terdengar suara gema monster, ia menghabiskan seluruh pasukan aliansi yang berada di sekitar tank itu menggunakan Golden Repulsor.
Setelah itu, ia menarik keluar Jenderal yang berlindung di dalam tank itu dan melemparnya tepat di atas daratan, Aditya langsung mendekati senapan pistol itu dengan kepala Jenderal itu.
"Kau akan berbicara..." Ancam Shinobu sampai mengagetkan Jenderal itu yang berpikir bahwa Shinobu adalah salah siluman sakti yang memiliki fisik mengerikan.
Shinobu tidak mendengar ucapan apapun dari tentara itu, ia terpaksa mengancam dirinya dengan mengangkat tank tersebut menggunakan lengan kirinya.
"Kau akan berbicara...!!! Atau kau lebih memilih untuk tertindih dengan tank ini, hah!?"
"Ba-Ba-Baik...!!! Isi dari truk itu...!!! Sebuah ledakan...!!! Ledakan---" Shinobu memasang tatapan kaget sehingga ia menghantam tank itu di atas tubuh Jenderal tersebut sampai menindihnya.
"Oi...!!! Cepat hentikan truk itu...!" Seru Shinobu keras yang mulai bergegas menuju Malioboro karena Jenderal tadi berbohong kepada dirinya sehingga ia tahu apa isi dari truk itu sekarang.
Mereka semua bergegas menuju Malioboro sampai melihat tentara Indonesia lainnya sudah mengamankan beberapa area dari kedatangan truk itu.
Shinobu bersama yang lainnya menunggu di tengah jalanan sampai mereka bisa melihat kedatangan truk dengan paniknya yang sedang dikejar oleh mobil polisi, "Jatuhkan!!!"
Andrian dan Wilhelm membidik ban truk itu menggunakan pistol mereka sampai ban yang dimiliki oleh truk itu meletus lalu terjatuh di atas jalanan dengan pengemudinya yang sudah mati karena tertembak oleh Aditya.
"Kita sudah mengamankannya... bagaimana dengan yang lainnya---" Ketika Aditya membuka pintu belakang truk itu, tidak ada apapun di dalamnya.
"Ko-Kosong..."
Shinobu memasang tatapan kaget sehingga mereka langsung mendengar suara ledakan yang begitu besar dari arah timur sampai Wilhelm dapat melihat gas beracun.
"Itu...!?"
***
"Kita kedatangan paket dari pusat persenjataan." Ucap salah satu tentara Rusia yang mulai membuka pintu belakang truk itu sehingga menerima sambutan dari ledakan bom gas beracun yang besar sampai menyebar di sekitar markas Rusia.
Makarov memasang tatapan kaget ketika mendengar suara ledakan itu, ia keluar dari dalam tank tersebut lalu melihat gas hijau dari dalam markasnya.
"Oi, apa itu!?" Tanya Koizumi.
"Gas..."
__ADS_1
"...gas Chemical... yang sangat beracun untuk Manusia!"