Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 921 - Pasar Setan


__ADS_3

"Apa semuanya masih segar...?" Tanya Shinobu kepada ibu itu yang langsung menjawab dengan anggukan, ia tidak menjawabnya dengan suara melalui mulutnya.


"Ibu... tidak bisa berbicara... tapi Ibu... akan memberikan... isyarat dari harganya..." Kata anak itu sampai Shinobu mulai melihat-lihat semua daging Manusia itu.


Shinobu menggigit bibirnya sendiri sampai kedua matanya berubah menjadi merah agar ia bisa merasakan kehausan darah akan apapun untuk tidak merasa bersalah dalam memakan daging Manusia.


Pendengaran Shinobu yang begitu tajam mendengar keramaian yang begitu besar sampai suara gamelan juga terdengar, ia terpaksa harus membeli semua itu untuk bisa bebas dan tentunya membantu anak kecil tersebut.


"Kalau begitu, Koneko beli ini saja." Shinobu mengambil satu bungkus berisi jantung yang terlihat masih berdetak dan segar lalu menanyakan harganya.


"Anu... bahasa Indonesia saja?" Tanya Shinobu kepada anak itu yang langsung tersenyum dan mengangguk.


"Harganya berapa?" Shinobu memberikan kantung itu kepada Ibu tersebut yang langsung mengukurnya, tanpa mengeluarkan suara lagi Ibu tersebut langsung menunjukkan lima jari melalui lengan kanannya.


"Fueh...? Lima...? Lima apa ya..." Shinobu mulai mengeluarkan dompetnya lalu menoleh kepada ketiga temannya yang mulai merasa sangat tidak nyaman dengan sekitarnya.


"Aku bisa merasakan sesuatu di belakang..." Kata Koizumi yang mencoba sekuat mungkin untuk tidak melirik ke belakang.


"Jangan... Shinobu bilang untuk tetap diam dan tidak mengganggu apapun, di depan kita terdengar keramaian besar seperti pasar." Peringat Konomi yang terus menatap rumput-rumput.


"Pasar... Dieng..." Ako melihat sebuah papan yang memiliki tulisan [Pasar Dieng], ia tidak melihat pasar apapun tetapi suara keramaian itu terdengar sama dengan yang dinamakan pasar itu.


"Lima ratus ribu rupiah...?" Tanya Shinobu sambil menunjukkan lima kertas rupiah merah, Ibu itu hanya bisa diam sampai membuat Shinobu semakin bingung.


"Itu benar... Kakak... harganya itu..."


"Lima ratus ribu ya." Shinobu memberikan uang itu kepada ibu tersebut lalu ia melihat anak tersebut mulai berterima kasih kepada dirinya sampai ia mulai mendekati Shinobu.


"Kakak... terima kasih... sekarang aku akan membantu... karena sudah membantu ibu maka balasannya adalah bantuan lain..." Anak itu langsung naik ke punggung Shinobu.


"Tu-Tunggu... berbahaya loh." Kata Shinobu yang mulai memegang erat kantung tersebut, jantung manusia itu bisa ia jadikan sebagai eksperimen yang cocok untuk lainnya.


"Kalau begitu... terima kasih." Shinobu berbalik badan lalu ia kembali pergi mendekati ketiga temannya yang langsung berdiri ketika melihat Shinobu sudah kembali selagi memegang kantung.


"Bagaimana Nobu... apakah kamu tahu dimana Hinoka?" Tanya Ako.


"Tidak, Koneko hanya membantu sebentar." Jawab Shinobu yang mulai memberikan isyarat untuk pergi mundur sekarang.


"Apakah kamu tahu dimana sepupuku yang bernama Hinoka?" Tanya Shinobu kepada anak itu.


"Dia sudah mengganggu... sejak masuk ke dalam gunung Lawu... semuanya merasa terganggu dengan sikapnya itu..."


"...terakhir kali, Hinoka bertemu dengan... pocong... teriakan tadi memancing semuanya untuk langsung menariknya menuju kediaman kita semua..."


"Kediaman? Kalau tidak salah pos 4 dan pos 2 adalah perbatasan dari gerbang dimensi atau kediaman kalian semua...?" Tanya Shinobu dengan tatapan penasaran sampai anak itu mulai tertawa.


"Kakak hebat ya... kapan-kapan kita main lagi ya..."


"Tentu, Koneko akan kembali suatu saat nanti." Jawab Shinobu yang langsung mendekati mereka bertiga.


"Kita harus turun sepertinya... apa kita mau beres-beres dulu sebelum mengunjungi pos empat?" Tanya Shinobu.

__ADS_1


"Karena Hinoka menghilang di tempat itu... lebih baik kita langsung pergi saja." Jawab Ako yang mulai berhenti melangkah karena ia ingin Shinobu yang memimpin dari depan.


"Ikut... aku..." Anak itu turun dari tubuh Shinobu lalu melayang ke depan untuk memberikan jalan bagi Shinobu agar ia bisa sampai tujuan dengan selamat tanpa harus menerima gangguan.


"Kalau kalian melihat sesuatu yang aneh, jangan pikir untuk dilihat ya... Hinoka sudah di tangkap maka sisanya adalah kalian..." Kata Shinobu yang mulai melangkah ke depan, mengikuti anak itu yang menunggu Shinobu sampai ia mendekat.


"Aku mohon... setelah semuanya selesai, jangan ada saran untuk pergi ke gunung Indonesia... tidak, semua tempatnya saja..."


"...sekarang aku sudah mengerti dengan hawa dan perasaan yang sangat tidak enak." Kata Konomi yang terlihat ketakutan karena ia bisa merasakan banyak sekali pandangan yang mengarah pada dirinya.


"Yang menyarankannya sejak awal adalah si bodoh itu... tetapi dia sendiri yang tidak mau mematuhi peraturan terutama lagi dia memang tidak sopan begitu." Jawab Koizumi.


"Hahhh... sungguh peristiwa dan kejadian yang menyebalkan, liburku hancur begitu saja karena si bodoh Hinosapi." Koizumi menghela nafasnya, tidak sadar bahwa langkahnya saat ini bergerak menuju jurang.


Untungnya Koizumi sadar ketika mendengar suara Ako dan Konomi yang mulai mengecil di sebelahnya, Koizumi langsung menghentikan pergerakannya sampai ia bisa melihat jurang itu penuh dengan cahaya bahkan sesosok putih dan hitam.


"Apa yang... apakah aku melamun...?" Batin Koizumi, ia tidak sadar bahwa pergerakannya berubah seketika sampai ia mendekati jurang.


"Apa yang Kakak lakukan? Itu berbahaya... jangan kosongkan pikiran dan terlalu santai seperti itu, berbahaya!" Peringat Shinobu yang langsung menarik dirinya sampai Koizumi mengangguk dengan tatapan kaget.


"Ba-Baik."


Konomi dan Ako langsung merasakan keberadaan serta hawa yang tidak begitu enak, pendengarnya mereka menangkap suara yang terdengar jelas seperti 'huuuuuuu...' dan 'hihihi...' suara yang dihasilkan itu berdasar dari seorang wanita.


"Suara apa itu...?" Tanya Ako kepada Konomi yang mulai menutup kedua matanya selagi menggelengkan kepalanya karena ia tidak mau mendengar suara itu.


Suara tersebut terus terdengar sampai Koizumi dan Shinobu dapat mendengarnya juga, "Ayo, lanjut saja..."


"Aku sebenarnya ingin menceritakan sesuatu kepada Kakak, tetapi membutuhkan gambaran agar ceritaku tidak memancing mereka." Kata Shinobu sambil menyentuh kacamatanya beberapa kali tetapi ia masih belum mendapatkan sinyal apapun.


Dalam perjalanan mereka yang lumayan panjang, Shinobu bersama yang lainnya tiba di pos empat dimana Shinobu melihat seorang anak kecil sedang berbicara dengan seorang manusia yang duduk di sebelah pohon kecil.


Terlihat seperti melakukan meditasi tetapi ia bukan makhluk halus melainkan Manusia, pria yang begitu tua dengan janggut putih panjang sekali sampai mereka langsung menatap Shinobu bersama yang lainnya.


"Siapa di sana...? Apa tujuan kalian datang ke sini...? Menuju perbatasan yang dapat membawa kalian semua menuju perbatasan antar dua alam yang berbeda." Kata pria itu dengan suara yang sangat dalam.


Shinobu menatap mereka semua lalu ia memintanya untuk tetap tenang, selalu mengutamakan permintaan maaf dan kesopanan di hadapan pria itu yang saat ini sedang dirasuki oleh makhluk Astral yang ia anggap teman.


"Permisi." Kata Shinobu yang mulai duduk di sebelah pria itu sampai ia mengangguk lalu membalas dirinya dengan anggukan.


Kedua matanya tertutup rapat bahkan kedua tangannya disatukan oleh dirinya, "Ada apa, nak...? Kenapa tengah malam seperti ini dapat menuju pos 4?"


"Kamu bukan Manusia... melainkan ras petarung... yang sangat bar-bar, saya juga bar-bar... nak, kenapa kamu menampakkan dirimu di hadapan mereka?"


"Anu... aku bisa di bilang setengah mati dan hidup sih, tetapi lebih dominan dalam kehidupan." Jawab Shinobu terhadap pertanyaan pria yang mengetahui Shinobu memiliki esensial makhluk halus.


"Bolehkah Koneko tahu siapa nama Anda?"


"Tidak harus tahu..." Kata pria selagi melakukan pergerakan menggunakan kedua lengannya, kedua matanya juga tertutup rapat sampai ia terus melakukan pergerakan kecil yang terlihat mengerikan bagi mereka.


"Itu sembarangan...!"

__ADS_1


"Setiap tempat... sudah tersedia peraturan yang begitu jelas... orang ada peraturan kenapa di lawan... sungguh tidak ada kesopanan."


Pria itu mengetahui Shinobu bersama yang lainnya adalah teman dari Hinoka yang sudah diculik ke alam lain, Shinobu hanya bisa diam dan mencoba untuk melakukan pembicaraan yang sopan kepadanya.


"Kakak... tidak perlu khawatir dan takut... berbicaralah seperti biasa... Kakak sudah mematuhi semua..." Kata anak itu kepada Shinobu yang langsung mengangguk.


"Dimana saja... peraturan itu harus selalu ditaati... di duniamu juga seperti itu bukan...? Petarung juga harus bisa menjaga kesopanan dan menaati peraturan...!"


"Tidak boleh dilanggar... seperti kamu mau kemana-mana... gunakanlah kata salam agar terdengar lebih sopan santun... permisi..."


"Aku ingin menanyakan sesuatu... soal sepupuku yang bernama Shizukaze Hinoka... posisi hilangnya dimana...?"


"Dekat dengan tenda kalian... karena malam-malam dia... berisik sekali... mengganggu banyak bangsaku... sungguh gadis yang tidak memiliki kesopanan...!"


"Ada yang menarik... itu tidak diterima sama sekali... tata kramanya... sikapnya yang tidak sopan... melanggar banyak peraturan sampai mengganggu sekali..."


"Si gadis petarung..."


"Kalau diperbolehkan ya... apa saja yang sudah Kak Hinoka lakukan...?"


"Banyak sekali... semuanya mengganggu... setiap tempat... selalu saja ia sentuh dan pindahkan sampai duduk sembarangan... memisahkan alam..."


"...itu sebabnya... melanggar tata kramanya... alam semesta... aku tidak menjamin...."


"Tidak menjamin...?"


"Itu awalnya... dari diri sendiri... sebagai ras petarung..."


"...kenapa... datang ramai-ramai begini... gadis itu... mengganggu banyak sekali... sampai kalian... adalah korban selanjutnya..." Pria itu menunjuk mereka bertiga kecuali Shinobu.


Mereka terlihat ketakutan dan panik tetapi Shinobu langsung memasang tatapan tenang sampai menyempatkan waktu untuk tersenyum polos bahwa semuanya akan baik-baik saja asalkan mereka menjadi sopan santun dan tata krama.


"Tujuan... tujuanmu apa sebenarnya... nak..."


"...jika masih membahas tadi... saya juga terganggu... aku tidak suka... ada orang lancang... di daerahku..."


"...tidak suka ada orang lancar...  tidak suka yang namanya berisik... tidak sopan sampai mengganggu mereka semua...!"


"Anu... bisakah Kak Hinoka kembali kepada alam ini...?" Tanya Shinobu yang langsung kepada intinya sampai pria itu melirik kepada Shinobu lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak bisa... sejauh ini... dia sudah melanggar banyak hal... mengganggu semua orang yang mencoba untuk beristirahat dengan tenang..."


"...hanya satu hal yang dapat membebaskan dirinya... jika tidak maka... gadis petarung itu terpaksa menikah... dengan penghuni alam sana..."


Mereka semua memasang tatapan kaget, "Menikah dengan penghuni alam sana...? Me-Mengerikan sekali..."


"Kenapa semuanya bisa menjadi seperti ini... ketenangan dalam liburan hancur begitu saja." Batin Koizumi, ia mencoba untuk tetap dan membiarkan Shinobu yang mengurusnya.


"Kalau begitu... apakah memerlukan syarat...? Akan Koneko pertanggung jawabkan." Kata Shinobu.


"Ada nak... sebutkan saja... nanti saya akan menyetujuinya..."

__ADS_1


__ADS_2