
Okaho tidak mengatakan apapun kecuali menatap temannya dengan tatapan yang terlihat kesal, Minami hanya bisa terkekeh pelan dan meminta maaf kepada Okaho karena ia sudah bersikap egois untuk melawan mereka sendirian. Kondisi Minami kembali pulih karena bantuan dari alam yang memberi dirinya pemulihan besar, Minami bangkit dari atas tanah lalu ia menatap Okaho dengan senyuman bersalah.
"Maaf ya, aku baru saja bersikap egois tadi---" Okaho menampar wajah Minami dengan ekspresi yang terlihat kesal, tamparan itu langsung membuat Minami terdiam dan merasa tambah bersalah karena tamparan itu memiliki sebuah arti yang membangkitkan sesuatu dari dalam tubuhnya sehingga ia mundur ke belakang sambil meraba pipinya yang terkena tampar itu, "Okaho..."
"Dasar bodoh!!! Kucing bodoh...!!! Apa yang akan aku lakukan jika aku benar-benar kehilanganmu, dasar bodoh!!! Kenapa kau harus melakukan semua ini sendirian... memangnya apa yang berharga dari hidupku dibandingkan kehidupan milikmu, Minami! Walaupun kau memiliki banyak nyawa, setidaknya kau bisa melarikan diri dan membiarkan mereka...!" Seru Okaho, Minami terkejut ketika melihat Okaho menangis sambil marah, Okaho ternyata menganggap Minami sebagai sahabatnya bahkan ia sampai menangis seperti itu.
"Aku tidak mau kau terluka dan tersiksa seperti tadi...!!! Apakah kau dengar aku, bodoh!? Menyia-nyiakan nyawa itu adalah sesuatu yang tidak berguna dan seharusnya kau melarikan diri... kau seharusnya memberitahu diriku, tidak... kenapa... kenapa aku harus tertidur di pelukanmu itu... seharusnya aku... aku melindungi Kou dan dirimu..." Okaho berlutut dan air mata mengalir deras melalui kedua matanya sehingga Minami hanya bisa diam selagi menatap Okaho dengan tatapan yang terlihat bersalah.
Minami mendekati Okaho lalu ia memberi dirinya pelukan yang sangat erat, Minami ikut menangis karena ia sendiri merasa bersalah untuk membuat Okaho menangis seperti itu. Sekarang mereka mulai menangis dan saling berpelukan, mereka juga mulai saling meminta maaf. Minami merasa senang dan bersyukur bahwa Okaho menganggap dirinya sebagai teman dan Okaho merasa senang untuk melihat Minami baik-baik saja.
Ternyata ia sempat untuk menyelamatkan Okaho sehingga ia mulai menatap Minami lalu menghapus air matanya, "Kucing garong bodoh... kenapa kamu ikut menangis juga, aku yang lebih bersalah karena menampar dirimu karena perilaku bodohmu itu, bodoh." Kata Okaho sambil tersenyum.
"Habisnya... aku benar-benar dianggap sebagai sahabat sejati oleh Okaho walaupun kamu terkadang bersikap sangat dingin kepadaku, nya... uwwww..." Kata Minami, mereka mulai tertawa ria bersama lalu bangkit untuk melanjutkan tujuan mereka. Minami menunjukkan beberapa kubus hitam besar yang baru saja ia ambil dari Rxeonal, The Virus, dan Rionald sehingga Okaho sekarang yakin bahwa ketiga kubus hitam itu sudah cukup untuk mengembalikan Haruka.
Mereka hanya perlu mengumpulkan kubus waktu sebanyak-banyaknya untuk mengembalikan Haruka, "Ayo, kita jemput Kou dan pergi dari masa---" Okaho mendorong Minami ke sebelah-nya lalu ia menciptakan pelindung besar menggunakan daratan karena ia melihat sebuah serangan yang mengarah ke arah mereka berdua.
Serangan itu dapat di tahan oleh Okaho dan ia bisa melihat kubus hijau yang memiliki ukuran seperti planet berputar di atas langit dan menunjukkan wajah Kuharu. Kuharu mulai tertawa terbahak-bahak karena sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyingkirkan seluruh keturunan Comi, ia sudah mempersiapkan seluruh rencananya sekarang juga dan kubus waktu besar itu adalah akhir dari kehidupan keturunan Comi dan Shiratori.
"Sialan!!! Apa yang kau coba rencanakan lagi, Kuharu!?" Okaho menunjuk kubus waktu itu lalu ia mencoba untuk mengubah kubus waktu itu menjadi udara tetapi ia tidak bisa melakukannya sehingga ia sontak kaget dan melebarkan kedua matanya karena sihir Realita-nya seperti tertahan oleh sesuatu yang kuat, Kuharu hanya bisa menertawakan Okaho karena ia sekarang tidak memiliki kesempatan apapun kecuali menyerah.
"Okaho... Okaho... Okaho... kau tidak mengerti ya? Aku memiliki banyak dendam kepada keturunan Comi seperti dirimu... kubus waktu yang sedang aku lihat ini memiliki dua keturunan Comi dan satu keturunan Shiratori yang benar-benar kuat dan berbahaya. Aku harus menghabisi kalian semua dengan seseorang yang aku kenal..."
"...kau juga pasti mengenal dirinya. Bersenang-senanglah di kubus waktu yang akan hancur ini, Okaho... Minami... Kou... hitungan detik menuju kematian kalian di mulai sekarang juga!" Kubus waktu itu berputar dengan sangat cepat sehingga Okaho bisa melihat lambang waktu hitam dimana-mana bahkan sihir realita yang ia lakukan masih ditahan oleh sesuatu dan itu berasal dari sebuah portal yang muncul dari dalam kubus waktu itu.
"Okaho!!! Apa yang kau lakukan... hentikan, Lenergymu terkuras dalam jumlah besar seperti itu!" Minami meraih kedua lengan Okaho dan ia bisa melihat ekspresi Okaho yang terlihat kaget karena ia melihat seseorang yang keluar melalui portal tersebut. Minami menatap portal itu dimana ia bisa melihat seseorang yang melompat keluar dari dalam portal itu lalu mendarat tepat di hadapan mereka berdua.
Seseorang yang baru saja keluar melalui portal itu adalah seorang pria kekar dengan kulit yang berwarna merah pekat. Okaho melebarkan kedua matanya bahwa ia dikejutkan dengan kejutan yang sangat besar ketika melihat pria tersebut, Minami tidak bisa merasakan kekuatannya tetapi ia bisa melihat Okaho yang terlihat ketakutan bahkan terkejut ketika melihat pria itu, "T-Tidak mungkin... sialan... sialan kau, Kuharu!!! Berani sekali kau memainkan waktu sejauh ini...!!!"
"Okaho, biar aku bantu." Kata Minami.
"Tidak!!! Aku tidak ingin kau terluka lagi, Minami! Pergi sekarang juga... bawa Kou dan pergi dari tempat ini, aku akan menahan dirinya." Okaho mengeluarkan sebuah kubus waktu lalu ia memberikannya kepada Minami, Minami mengambilnya dan ia masih tetap ingin membantu Okaho sehingga ia memberi Minami pelukan yang sangat erat, "Aku mohon... Minami, pergi... aku tidak ingin kau terluka lagi... satu-satunya sahabat yang sangat aku percayai."
"Okaho..." Minami mendengar suara Okaho yang benar-benar berbeda, sepertinya musuh satu ini bukan tandingan Minami melainkan Okaho. Minami mengangguk dan menatap Okaho dengan tatapan yang terlihat serius, "Legenda tidak akan pernah meninggalkan temannya, aku akan membawa dirimu bersama Kou pergi dari tempat ini, tunggu saja!"
"Hm, terima kasih, Minami." Okaho mengangguk dan Minami melompat pergi meninggalkan wilayah itu sehingga pria itu langsung menggunakan sihir realita untuk menciptakan labirin besar agar pertarungan mereka tidak bisa diganggu oleh siapapun, Okaho hanya bisa diam dan menatap pria itu dengan ekspresi yang kesal karena ia mengenal pria kekar itu.
"Wah, wah... sepertinya Dewi Agung yang bernama Kuharu itu cukup membantu juga ya, dia memberi diriku kesempatan untuk melihat putriku yang ternyata berkhianat dan menjadi seorang keturunan Comi. Aku tidak percaya bahwa kau baru saja meninggalkan jati dirimu yang asli sebagai keturunan Housaka." Pria itu mulai berbicara dan memanggil Okaho putrinya, "Sungguh tidak senang untuk bertemu denganmu, Ayah. Ternyata Kuharu benar-benar bisa membawa siapapun ya... terutama dewa realita menyebalkan sepertimu."
"Hohhh... tentu saja, keturunan Comi sepertinya benar-benar mengubah dirimu dan cara bicaramu, kau perlu hukuman, Okaho. Kau benar-benar mempermalukan diriku karena sudah di adopsi menjadi keturunan Comi, terima kasih kepada Kuharu... aku sekarang dapat memberimu hukuman yang sangat besar!" Pria kekar itu bernama [Housaka Moros] dan dia adalah ayah kandung Okaho.
Okaho bisa sudah melupakan tentang dirinya tetapi ketika ia menatap dirinya kembali, semua ingatan buruk tentang Moros muncul di dalam pikiran bahwa hal itu sampai membuat dirinya merasa sangat kesal. Okaho hanya perlu mengambil kubus hitam dari dalam tubuh Moros lalu pergi bersama Kou dan Minami, "Okaho... jangan pikir bahwa aku terpengaruh dengan kubus hitam itu, aku datang sesuai kehendakan diriku untuk menghukum dirimu."
"Diam, Moros... aku tidak ingin menganggap dewa realita sekejam dirimu sebagai ayahku! Lebih baik aku di adopsi menjadi keturunan Comi saja, untungnya keturunan Housaka yang terakhir yaitu Honoka tidak memiliki kaitan apapun dengan keturunan kita dan aku juga berharap dia tidak pernah bertemu dengan dirimu!" Okaho menyelimuti kedua lengannya dengan Crimson lalu ia menghantam daratan sehingga beberapa gelombang Crimson melesat menuju arah dirinya.
Moros mengubah semua itu menjadi udara lalu ia melepaskan gelombang realita untuk mengubah Okaho menjadi batu tetapi Okaho mengubah gelombang itu menjadi udara yang ia ubah kembali menjadi lahar api panas yang ia lempar ke arah Moros. Moros menahan serangan itu menggunakan tapak tangannya lalu semua lahar api itu berubah menjadi lubang hitam yang ia lemparkan ke arah Okaho.
__ADS_1
Okaho mulai berkeringat dan mengubah lubang hitam itu menjadi batu-batuan kecil, berkat kehadiran dari Ayahnya, kekuatan realita Okaho terasa berkurang dan melemah karena Moros menyerap seluruh kekuatan realitanya karena dia tidak memiliki batasan apapun dalam menggunakan realita sedangkan Okaho benar-benar terbatas bahkan ketika ia berubah menjadi wujud dewasanya, ia berubah kembali ke wujud anak kecil dengan tubuh yang melemah.
"Inilah yang kau dapatkan, Okaho. Teruslah menyombongkan diri karena diberi kesempatan hidup di masa depan, kekuatan realitamu tidak ada artinya jika aku menghadapi dirimu seperti ini." Kata Moros sambil menghampiri Okaho, Okaho mencoba untuk menghancurkan Limiter-nya tetapi ia berpikir kembali karena Limiter yang dimiliki Okaho dan Honoka itu sama jika ia menggunakan satu maka Honoka juga akan ikut terpengaruh, ia langsung mencoba untuk melawan Moros dengan caranya sendiri.
Okaho menggunakan ilusi tubuh dan membelah dirinya menjadi beberapa bagian tetapi Moros mengepalkan tinjunya sehingga ia dapat mengubah realita dengan semaunya, ia mengembalikan Okaho seperti biasa tetapi tenaga dan kekuatannya terus terkuras karena ulah sihir realita Moros dimana kekuatannya akan terus berkurang. Moros menarik Okaho dengan mengikat lehernya menggunakan rantai lalu ia mencekik lehernya sambil menatap Okaho dengan tatapan kesal.
"Kau mengecewakan diriku... benar-benar mengecewakan. Aku menyesal karena sudah membantu Ibumu untuk melahirkan dirimu yang benar-benar berubah menjadi sesuatu yang lebih rendah dari sampah!" Moros melemparnya ke depan dan Okaho tidak memiliki kesempatan apapun untuk menang sehingga ia merasa sangat kesal kepada Kuharu karena sudah memanggil Moros, ia mulai berharap bahwa Kou dan Minami bisa melarikan diri dengan selamat dari dunia ini.
Okaho bisa melihat langit-langit mulai memiliki titik hitam dimana kubus waktu itu mulai stabil, sesuatu pasti terjadi di sana dan itu bukan pertanda yang baik. Minami saat ini sedang menggendong tubuh Kou dan berhasil membawa dirinya kabur, ketika ia sampai di depan rumah Korrina... ia melihat Megumi dan Shira terpengaruh dengan kubus hitam itu sehingga mereka membunuh Korrina dan mencoba untuk membunuh Kou tetapi gagal karena kedatangan Minami, kubus hitam itu memberi mereka kekuatan yang sangat besar sehingga Minami hanya memilih untuk lari karena ia bisa melihat titik hitam yang menyebar di belakangnya.
Minami tidak bisa melihat jalan apapun karena di hadapannya itu dipenuhi dengan wilayah berbeda seperti labirin, ia hanya perlu mengikuti tujuan utamanya yaitu mencari Okaho tetapi itu pasti akan menghabiskan waktu yang sangat lama, suhu tubuh Kou bahkan bertambah panas karena hembusan angin yang masuk ke dalam tubuhnya, "Apakah Korrina sudah memberi dirinya sebuah suntikan?! Kenapa Kou bertambah panas lagi, nya!?"
Okaho terbang menghampiri Moros lalu ia menendang perutnya sehingga ia terlempar ke belakang, Okaho mengeluarkan beberapa sihir Sacred dan Crimson untuk menyerang Moros sehingga ia terlalu dan terlempar ke belakang. Sihir realita yang ia gunakan itu ternyata salah mengubah sesuatu karena Okaho terus mengerahkan seluruh Lenergy dan tenaga terakhirnya untuk menahan Moros sampai Kou dan Minami bisa aman.
Moros mengubah udara di sekitarnya menjadi gelombang angkasa yang meluncur menuju arah Okaho sehingga ia menahan serangan itu menggunakan tembok Sacred yang perlahan-lahan hancur dan mengenai tubuhnya tetapi ia memaksakan dirinya untuk maju lalu menendang wajah Moros lalu melanjutkan-nya dengan menghantam wajahnya, "Kau memiliki seni bela diri yang menakutkan ya, Okaho..."
Moros tersenyum lalu kedua lengan dan kaki Okaho berubah menjadi batu sehingga ia mulai mengangkat tubuh Okaho lalu menghantam perutnya sampai ia terlempar ke belakang, Okaho mencoba untuk mendarat di atas tanah tetapi Moros menyambut dirinya dengan menghantam wajahnya beberapa kali sehingga ia terluka cukup parah karena Moros memiliki kekuatan dan tenaga yang sangat besar di kedua lengannya.
Okaho melarikan diri dengan berubah menjadi gelembung lalu ia membentuk tubuh aslinya di belakang Moros sehingga Moros menoleh ke belakang sambil menunjukkan ekspresi yang kesal karena putrinya masih belum menerima banyak hukuman, ia masih terus melawan seperti itu dan itu membuat Moros merasa semakin kesal dan kecewa. Okaho melepaskan beberapa sihir Crimson dan Sacred tetapi semua sihir itu menembus tubuhnya sehingga ia perlahan-lahan mulai mendekat dengan Okaho.
Okaho melancarkan beberapa serangan tetapi serangan itu berubah menjadi pasir sehingga Okaho melebarkan kedua matanya lalu melihat lengan kanan Moros berubah menjadi pedang yang sangat tajam dan besar lalu ia menusuk perut Okaho dengan sangat dalam sehingga ia melebarkan kedua matanya karena sihir realitanya tidak bisa ia gunakan sama sekali, "A-Aahh... A-Ack..." Okaho hanya bisa merasakan kesakitan ketika menerima serangan pedang yang menusuk perutnya.
"Uhuggh... Ahhh.... Nrrghh..." Okaho terus menahan kesakitan itu sambil mundur ke belakang pelan-pelan dan Moros hanya melihat putrinya yang terlihat kesakitan dan dipenuhi putus asa, Kuharu tertawa terbahak-bahak ketika melihat Okaho dikalahkan oleh Ayahnya sendiri dan itu adalah pertanda yang bagus karena sebentar lagi Kou dan Minami akan terhapus bersama dengan kubus waktu itu.
Okaho mencoba untuk menyembuhkan lukanya tetapi Moros mengubah realita dimana ketika ia mencoba untuk memulihkan dirinya sendiri, hanya rasa sakit yang bisa ia rasakan, Okaho hanya bisa menundukkan kepalanya karena ia tidak bisa melanjutkan tujuan dan petualangan-nya sebagai Okaho Comi, "Apakah... apakah aku akan mati...? aku... gagal ya... aku benar-benar bodoh... lemah... tidak berguna... ketika melawan ayahku..." Ungkap Okaho.
"Itu bukan cara untuk hidup, melihat kembali... kepada masa itu... kehidupanku selalu berakhir dengan kegagalan terutama ketika aku bertarung bersama Konari saja, aku seharusnya sudah mati jika Kakak tidak membantu diriku. Lahir sebagai seorang keturunan yang dibenci oleh semua orang, tidak bisa melindungi sahabat dan saudaraku sendiri, aku berharap bahwa aku bisa mati ketika aku menyelesaikan tujuanku untuk menyelamatkan Kakak..."
"...ketika aku sudah menyelesaikan tujuan itu maka aku bisa hidup dengan tenang, memperbaiki semua kesalahan dan keburukan yang aku miliki, aku bisa mati dengan tenang dan membiarkan Kou menjalani hidupnya sebagai seorang Legenda yang layak. Ceritaku berakhir seperti ini... aku... seorang dewi yang lahir sebagai ras Eternal... tidak ada Eternal yang bisa hidup bahagia seperti ini."
"Aku kira aku dapat menyelesaikan tujuan ini dengan aman tanpa harus menghilangkan sedikitpun nyawa, aku ingin mengembalikan Kakak dan melindungi kembali Touriverse bersama dengan keluargaku... teman-temanku... pada akhirnya aku gagal, sehingga tidak ada yang bisa menyelamatkan diriku tetapi... apakah aku benar-benar seorang Legenda jika aku tidak bisa bertahan?" Okaho melebarkan kedua matanya lalu ia memaksakan dirinya untuk menyerang Moros sehingga Moros hanya bisa diam selagi menatap Okaho.
"Kau benar-benar sudah tumbuh, aku merasa puas sekarang melihat dirimu yang sudah tumbuh menjadi seperti ini." Kata Moros sehingga ia berlutut dan tubuhnya perlahan-lahan ikut hilang karena titik hitam yang muncul di bagian perutnya karena ia sendiri sudah berjanji dengan Kuharu bahwa ia akan bertarung hanya untuk menyingkirkan Okaho dan membiarkan Kou bersama Minami terhapus bersama dengan waktu itu sendiri.
Moros melihat Okaho yang masih ingin bertarung, "Berhenti, kau tidak bisa bertarung lagi." Okaho tidak mendengarnya dan ia terus memukul tubuh Moros dengan pelan sampai Moros menghantam wajahnya sehingga ia terlempar ke belakang dan terjatuh di atas tanah, ia bisa melihat langit-langit yang sudah berubah menjadi hitam dan daratan juga ikut terpengaruh dengan titik hitam itu.
"Aku... aku harus melakukan sesuatu... demi sahabat... dan adikku kecilku... bahkan jika aku tidak sempat... aku akan sempatkan... aku... tidak takut dan tidak tahu arti dari kematian..."
"...aku adalah Okaho Comi... seorang putri yang dipercayai oleh Mama untuk membawa nama baik dari keturunan Comi. Aku tidak pantas menjadi keturunan dirimu dimana semua orang mengincar kita semua... aku mendalami keturunan ini dan mencintainya... sama halnya aku mencintai keluargaku yang asli, ini... ini adalah tekadku... tekad sebagai keturunan Comi."
"Kau... tidak akan pernah mengerti perasaan ini... menjadi salah satu anggota dari keluarga yang bermakna dan berguna. aku... aku akan melakukan sesuatu sebelum semuanya berakhir! Tidak ada kata akhir untuk berjuang...!!!" Tubuh Okaho diselimuti dengan aura merah dimana ia mulai menjauhi Moros lalu membantu Minami dan Kou untuk tiba menuju tempatnya sehingga labirin itu langsung membawa Minami dan Kou mendekat dengan Okaho.
Kekuatan dan tenaganya langsung habis sehingga ia tidak bisa menggunakan apapun lagi, ia setidaknya berhasil menghentikan Moros karena gelombang kehancuran waktu itu menghancurkan setengah dari tubuhnya sehingga Moros hanya bisa diam dan menatap Okaho karena ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi, "Aku... aku... aku harus... memberi Honoka... semuanya... serahkan selanjutnya... kepada penerus..."
Okaho menyentuh kening-nya sendiri sehingga Limiter yang ia miliki mulai bersinar dan menghilang begitu saja karena ia menghapusnya dan menyerahkannya kepada Honoka agar ia bisa memiliki semua sihir realita yang ia miliki karena Honoka sendiri adalah tubuh asli dan versi asli dari Okaho sedangkan ia sendiri hanyalah ras Eternal yang pantas untuk mendapatkan takdir yang buruk, Minami dan Kou dalam perjalanan menuju Okaho dimana ia melihat banyak sekali gelombang hitam yang menghapus daratan.
__ADS_1
Tubuh Minami dan Kou juga bahkan terpengaruh sehingga ia mulai panik, "HONOKA!!! KOU!!! MINAMI!!! ASRIEL!!! ROKURO!!! HANA!!! MITSUKI!!! MARIE!!! AKU MOHON...!!! SEMUA INI...!!! SEMUA INI DAN SELANJUTNYA...!!! AKU SERAHKAN SEMUANYA KEPADA KALIAN SEMUA...!!! TOLONG...!!! TOLONG SELAMATKAN KAKAKKU...!!!" Okaho menjerit keras, Rokuro dan Asriel tidak bisa membaca pikiran mereka karena Kou benar-benar lelah sampai ia juga terpaksa harus melarikan diri sehingga ia kemasukan angin.
Okaho mengeluarkan semua kubus waktu tetapi ia menyisakan satu, ia melihat Minami dan Kou datang tepat waktu sehingga Minami melebarkan kedua matanya ketika melihat Okaho yang terluka cukup parah bahkan wilayah itu sudah akan hancur karena titik hitam itu, Minami mencoba untuk mendekat tetapi Okaho menghentikan dirinya menggunakan sihir realita terakhirnya, "T-Tidak!!! Tidak, Okaho!!! Jangan seperti ini!!! Apa yang kau lakukan...!?"
"Minami... Kou... aku serahkan selanjutnya kepadamu... kalian pasti bisa... maaf... aku tidak bisa ikut dengan kalian... karena aku harus mengurus Moros..." Okaho melebarkan matanya sehingga kubus waktu yang Minami simpan mulai berputar dan menyinari tubuh mereka berdua, "T-Tidak!!! Tidak, Okaho!!! OKAHOOO!!! OKAHOOOOOO!!!" Minami mencoba untuk mendekati Okaho tetapi ia tidak bisa sehingga ia mulai mendekati dirinya.
"MINAMI...!!! AKU MENYERAHKAN MASA SELANJUTNYA KEPADA DIRIMU...!!! AKU MOHON...!!! JAGALAH KOU...!!! JAGALAH DIA...!!!"
"LINDUNGI DIAAAAAAAAAA!!!" Teriak Okaho keras sehingga suaranya mulai menggema dan Minami hanya bisa menangis sehingga kubus waktu itu membawa mereka berdua pergi, Okaho memaksa tubuhnya untuk menggunakan sihir realita itu sehingga kedua matanya langsung meledak dan Okaho berlutut di atas tanah dengan ekspresi yang terlihat mati tetapi ia masih hidup karena tekadnya.
Okaho tidak bisa bergerak karena Moros terus menahan dirinya bahkan jika Minami dan Kou mendekat maka semuanya akan berakhir, Kuharu merasa sangat kesal karena Moros tidak melakukan tugasnya dengan cepat sehingga Minami dan Kou berhasil melarikan diri. Jika saja Kou bangun maka dia sudah pasti akan menyelamatkan Okaho tetapi semua ini adalah takdir, takdir sudah menyediakannya dari awal.
"Pilihan yang tepat... kau benar-benar berubah, kau sekarang menjadi lebih cerdas untuk mengorbankan dirimu demi keselamatan---" Moros terhapus dengan titik hitam itu sehingga sekitar Okaho sekarang dipenuhi dengan warna hitam dan perlahan-lahan kedua kakinya ikut terhapus sehingga ia menyentuh kubus waktu itu dua kali dan kubus waktu itu menunjukkan wajah Korrina.
Ia tidak bisa melihat wajahnya tetapi ia merasakan Korrina yang dekat dengan dirinya sehingga ia memeluk erat kubus tersebut, "Mama... sampai jumpa... tidak apa-apa... walaupun Mama dan yang lainnya tidak mengingat diriku... setidaknya... aku bisa dikenang... di dalam hati kalian... maaf..."
"...kalian tidak akan bisa mengingat diriku... tetapi Minami dan Kou pasti bisa..."
"Ahahaha... menyenangkan juga... bisa hidup lama seperti ini... Kou... hiduplah dengan tenang dan panjang... tumbuh lah... bertambah kuat... menjadi seorang gadis yang hebat... dan menjadi penerus Mama..."
"...sampai jumpa, semuanya." Okaho tersenyum dan tubuhnya langsung terhapus bersama dengan titik hitam itu, Kuharu langsung tertawa terbahak-bahak karena ia berhasil menyingkirkan satu keturunan Comi dan kematiannya pasti tidak akan bisa diingat oleh siapapun kecuali dirinya bersama Minami dan Kou yang menyaksikan-nya secara langsung di kubus yang sama.
Kematian Okaho membuat Kuharu merasa sangat senang bahkan ia bisa melihat Haruka yang mengeluarkan air mata melalui kedua matanya, sepertinya ia juga mengetahui tentang kematian adiknya itu, "Heh... sekarang... sekarang aku bisa menyingkirkan sisanya karena gadis pintar yang dapat mengendalikan realita itu sudah mati!" Kuharu menghancurkan kubus hitam di hadapannya lalu ia menyiapkan kubus lainnya untuk memanggil bala bantuan.
***
Minami dan Kou mengalami lompatan menuju masa dulu dimana mereka sekarang berada di masa kuno yang sangat jauh. Minami bisa mengingatnya, ia mengingat kematian sahabatnya sendiri sehingga air mata terus mengalir deras melalui kedua matanya karena ia berhasil melarikan diri tanpa sahabatnya sendiri, "Kita berhasil... tetapi... apa hasilnya...?" Minami berlutut lalu ia bisa merasakan suhu Kou bertambah dan berkurang, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
Ketika Okaho terhapus, Haruka menangis dan Honoka jatuh pingsan sehingga membuat Rokuro bersama yang lainnya terkejut sedangkan Minami hanya bisa merasakan kesedihan yang sangat besar di dalam dirinya.
"OKAAAHOOOOOOOOOOOO-AAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!"
"HWAAAAAAAAGGGGHHHHHHHHHH!!!" Minami menjerit keras selagi menangis sehingga menyebabkan sekitarnya berubah menjadi emas dan melepaskan cahaya yang sangat terang ke atas langit. Kou langsung bangun dan kembali sembuh karena cahaya yang menyinari dirinya sehingga ia melihat Minami yang sedang menangis tersedu-sedu, "... .."
Minami dan Kou sekarang terjebak di masa yang sangat jauh dari Rokuro dan Asriel, mereka tidak bisa mengandalkan siapapun kecuali diri mereka sendiri. Minami terus memanggil nama Okaho selagi menangis sedangkan kekuatan yang terlepas dari dalam tubuhnya membuat Kou kembali sembuh karena sinar itu, hati mereka merasakan kesakitan yang besar sehingga Kou sendiri bisa mengetahui apa yang terjadi, ia tidak bisa melakukan apapun kecuali ikut menangis bersama Minami.
Suara tangisan Minami bisa terdengar dimana-mana tetapi setelah itu hanya keheningan yang menyambut mereka, mereka terus menangis bahwa Okaho benar-benar menghilang dan tidak akan pernah bisa bersama mereka lagi karena waktu itu sendiri menghapus dirinya. Mereka mau tidak mau harus menerima fakta itu dan terus maju, walaupun Okaho sudah mati... ia akan tetap hidup di dalam hati mereka.
Hiduplah dengan tenang, Okaho Comi. [Okaho Comi Gugur/Terlupakan pada tahun 2020]
~1st Cour Ended - Time Conflict Arc~
"Apapun yang terjadi... Lihatlah..."
"...Kuharu, aku akan membunuhmu!!!" Kedua mata Minami bersinar dan berubah menjadi warna perak.
__ADS_1