
Sebuah bola mata yang bersayap mulai berhenti tepat di depan Shelter yang begitu besar, mendengar suara kibaran dari sayap itu mulai menarik perhatian seorang pemimpin angkatan tiga dari kelas 3-C.
"Apa yang kau butuhkan dariku bos kecil?" Tanya Takatora yang baru saja selesai menikmati makan malam.
"Seperti biasanya Cranell tidak dapat memenuhi tujuan yang kita rencanakan, bukan hanya itu saja. Aku sendiri sudah cukup puas untuk melihat kemampuan yang dimiliki oleh Shiratori Minami dan Shimatsu Mizuhana."
"Hanya dua orang?"
"Begitulah, sisanya gugur karena di pindahkan oleh Cranell menggunakan kemampuan pembuka celah itu. Aku tidak perlu mencari tahu tentang kemampuan ketiga saudara itu..."
"Ahh, mereka ya. Cukup misterius juga, ketiga saudara itu cukup terkenal sih jadi tidak perlu memuaskan rasa penasaran untuk melihat mereka."
"Bukan itu masalahnya."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak melihat saudara yang kedua, Honoka Comi. Dia tidak bersama Minami dan Mizuhana..."
"Legenda satu ini cukup menyusahkan sih, semua murid yang aku lepas untuk menyingkirkan Minami dan Honoka kalah telak karena terkecoh oleh kemampuan mereka."
"Mengubah realitas itu terlalu berlebihan, ini lah kenapa beberapa dewa selalu membayar diriku untuk menyingkirkan Comi."
"Itu bukan tujuan utamamu bukan? Seharusnya kau fokus dengan tujuan itu, jangan menciptakan tujuan lainnya karena urusan ketiga saudara itu tidak ada artinya bagimu, bos kecil."
"Dengar, jangan sampai kau kalah. Aku masih membutuhkan dirimu untuk nanti..." Bola mata itu menghilang seketika.
Takatora menatap langit-langit lalu ia menghela nafasnya pelan, waktu ujian ini akan berakhir sebentar lagi dan ia sendiri sudah merasa cukup puas karena memiliki poin yang begitu tinggi bahkan sampai terlihat di pilihan [Leaderboard].
***
"Hachim..." Minami bersin pelan karena ia merasa sedikit tidak enak badan karena menerima serangan ombak tadi yang cukup besar.
"Kamu sih... Mempermainkan diriku seperti itu." Kata Hana sambil memasakkan dirinya sebuah sup hangat.
"Kali-kali 'kan, hehehe."
Hana dan Minami saat ini sedang berlindung di dalam hutan yang sangat luas, mereka sudah tidak bisa lagi mengumpulkan poin dengan jumlah yang banyak karena terlalu sulit.
Melihat Leaderboard saja membuat harapan mereka sedikit hancur karena kelas 1-C tidak tertera di dalam peringkat itu, mereka hanya bisa menunggu esok hari.
"Apakah kita benar-benar akan dikeluarkan ya?" Tanya Minami selagi memeluk dirinya sendiri karena kedinginan.
"Jangan hilang harapan duluan seperti itu, kita masih belum mendapatkan kabar dari Honoka." Hana mulai menyuapi Minami dengan sup yang baru saja ia buat.
"Panas..."
"Tahan sedikit..."
"Sangat panas..."
__ADS_1
"Hm... Itu artinya enak ya...?"
"Besar juga ya..."
"Tunggu, Minami..."
"Apakah kau mau menipu seseorang lagi dengan perkataan yang lumayan aneh itu?" Hana memasang wajah datar, Minami membalas ekspresi itu dengan bingung karena perkataannya itu tidak terdengar aneh bagi dirinya.
"Hm? Apa maksudmu...? Sup itu emang sangat panas bahkan sayuran yang kau masukan tidak di potong sedikitpun, sangat besar jadi susah di kunyah karena aku kucing..."
"O-Ohhhh...."
Keheningan yang lumayan canggung bagi Hana karena ia membenci pikirannya sendiri, mungkin karena pernah melihat Minami yang dulu sangat mesum dan aneh sampai sekarang perkataannya itu tidak pernah berubah sedikitpun.
Mereka menikmati malam hari yang dingin ini dengan berbaring di atas daun-daun selagi menatap langit-langit gelap yang menunjukkan bintang berkelap-kelip, ujian ini bisa dianggap menyenangkan bagi mereka.
Hanya saja Lyazen dan Marie terpaksa harus dikeluarkan karena serangan Cranell, mengetahuinya saja membuat Minami merasa bersalah karena ia terlambat menyelamatkan mereka berdua.
"Sepertinya kita tidak bisa bersama-sama di daftarkan ke dalam turnamen itu, seharusnya aku masih memiliki waktu untuk menyelamatkan Lyazen dan Marie." Minami memulai pembicaraan.
"Mereka sudah bekerja keras seperti biasanya, kau juga... Mari kita sama-sama berjuang untuk memperbaiki kekalahan mereka, kita gantikan dengan nama kita yang tertera di dalam pendaftaran turnamen itu!"
"Benar sekali, semoga saja besok kita masih memiliki waktu untuk menyimpan nama 1C di peringat satu..." Minami mengerutkan dahinya, kembali memikirkan tentang kejadian ledakan yang dahsyat tadi.
"Entah kenapa pikiranku saat ini dipenuhi dengan seseorang yang mencoba untuk mengincar Ayah... Apakah dunia ini tidak akan pernah merasakan kedamaian abadi?"
"Aku tidak ingin diam saja dan terlalu mengandalkan kedua orang tuaku. Kita lahir di dunia ini pasti memiliki tujuan, dunia yang membuat kita nyaman sudah seharusnya mempertahankan kenyamanan itu."
"Aku juga tidak ingin mengandalkan teman-temanku, aku ingin bisa mengandalkan diriku sendiri dalam melindungi sesuatu yang seharusnya pantas aku lindungi..." Perkataan Hana menarik perhatian Minami sampai ia menatap dirinya itu.
"Minami, jika aku berakhir menghalangi dirimu, kau bisa meninggalkan diriku sendirian... Aku tidak ingin merugikan siapapun seperti sekarang..."
"Tidak mungkin lah, kau teman masa kecilku. Jangan berpikir seperti itu, semua Legenda membutuhkan seseorang di sisi mereka untuk berkembang dan menjalani tujuan mereka masing-masing."
"Melakukan sesuatu yang begitu menyulitkan sendirian adalah cara Legenda yang sangat layak tetapi membantu seseorang yang dekat juga termasuk..." Minami tersenyum lalu menunjuk ke atas langit dengan kedua tapaknya.
"Sudah aku duga... Alam lebih indah dibandingkan langit-langit malam, mungkin itu hanya opiniku saja."
"Aku akan melindungi dirimu, Mizuhana. Jadi santai saja, kita sudah bersama sejak awal bahkan sampai memikirkan gaya pertarungan bersama..."
Hana tidak bisa berkata apapun ketika melihat Minami mengatakan sesuatu yang dapat menyentuh hatinya, rasa pertemanan mereka semakin ketat sampai Hana tersenyum senang karena terus mengingat dirinya sejak kecil yang ingin melindungi sesuatu berharga.
"Bukan hanya aku saja, yang lain juga sama. Kita ada untuk satu sama lain terutama Honoka." Minami terkekeh.
Mereka mulai tertawa lalu saling mengadu tinju seperti biasanya untuk menunjukkan hubungan ketat yang tidak bisa putus dengan mudah, sudah saatnya mereka beristirahat dengan tidur karena hari esok adalah penentuan.
***
"Sepertinya kemenangan sudah pasti berada di tanganku. Semua bendera dan poin sudah cukup untuk membawa nama kita menuju pendaftaran..." Takatora mulai menulis beberapa poin yang ia dapatkan.
__ADS_1
Ia berhasil mengumpulkan semua bendera dengan melepaskan beberapa murid-murid, sepertinya tidak ada satupun anggota yang dapat menghalang dirinya karena mereka pasti akan berakhir dikeluarkan dari ujian ini.
Rasa kepercayaan diri Takatora menambah sampai ia terus membaca kembali rencana yang ia rancang sejak awal, beberapa Shelter juga sudah ia kuasai sebagai, tambahan poin terus bertambah bagi dirinya.
***
Hari penentuan telah tiba, seluruh murid terpaksa berkumpul di tengah lapangan yang begitu luas ketika selesai membersihkan semua kehancuran yang mereka sebabkan.
Membersihkan sesuatu yang rusak itu seperti melestarikan alam jadi mereka akan mendapatkan bonus poin, hanya saja Minami dan Hana saat ini sedang mengkhawatirkan Honoka yang masih belum kembali sama sekali.
"Honoka sama seperti Korrina ya... Tidak pernah kembali..." Kata Minami.
"Hm..."
"Kalian mencari diriku?"
Minami dan Hana dikejutkan dengan keberadaan Honoka yang muncul secara tiba-tiba di belakang mereka, dengan cepat Minami langsung memastikannya dan ternyata benar bahwa Honoka kembali ketika hari penentuan baru saja di mulai.
""Honoka!""
"Yo, maaf tidak memberi kabar. Aku terlalu sibuk mengumpulkan poin untuk kalian sepertinya..."
Hana dan Minami merasa begitu terkejut sampai mereka tidak bisa mengungkapkan rasa rindu mereka, Honoka bisa melihat raut wajah mereka yang mencoba untuk menyembunyikan rasa khawatir itu.
"Kenapa? Apakah kalian merundingkan diriku, kucing-kucingku yang tersesat?" Honoka mulai menyentuh dagu mereka sambil menunjukkan ekspresi romantis.
Mampu membuat mereka berdua tersipu sampai Hana mendorong wajah Honoka ke belakang karena ia terlalu dekat, ketiga sahabat itu kembali bertemu dan membahas tentang kedua temannya yang gugur karena terkena serangan yang begitu kuat.
Minami dan Hana terus menceritakannya kepada Honoka sampai ia sendiri tidak memiliki pilihan lain selain menerimanya, bukan hanya itu saja ia sendiri mencoba untuk merahasiakan rencana yang sudah ia jalani saat ini.
"Marie dan Lyazen... Aku harus berbicara dengan mereka nanti." Honoka menepuk tubuhnya beberapa kali yang dipenuhi dengan debu.
"Kamu sebenarnya kemana saja sih?" Tanya Minami.
"Mondar-mandir... Kalian kucing-kucingku melakukan apa saja tanpaku?"
"Hei, dengar, Honoka!" Minami tersenyum nakal.
"Hana loh---"
"Injak remnya!!!" Hana menutup mulut Minami sehingga membuat Honoka memiringkan kepalanya, mereka terlihat berbeda hari ini mungkin karena lelah bertahan hidup di wilayah terpencil seperti ini.
"Ada apa?"
"B-Berapa poin yang sudah kau kumpulkan?"
"Zero."
""Z-Zero!?""
__ADS_1