Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 536 - Crimson's Reality Vs Darkness Ice


__ADS_3

Asriel terus mendapatkan tekanan dari serangan yang Honoka lepas bahkan ia sampai tidak perlu menggunakan realitasnya, sihir Crimson sudah cukup untuk membuat Asriel terluka.


Menjatuhkannya adalah pekerjaan yang cukup sulit juga karena ia bisa melihat kedua kakinya yang membeku, bersatu dengan es kristal di arena tersebut.


Honoka terus melepaskan sihir Crimson nya melalui jari-jarinya dan Asriel terus meningkatkan pertahanannya bahkan sampai melepaskan sihir es dan kegelapan yang berbeda-beda ke arah nya.


Honoka mengubah kristal es di hadapannya menjadi udara dan udara itu tiba-tiba kembali membentuk es yang menyelimuti tubuhnya sendiri.


"Desperia Frost-Bound!" Asriel mengeluarkan serangan area tajam yang ber-elemen kegelapan dan es, diselimuti dengan pelapis alkimia yang mampu untuk menggagalkan sihir musuh dan memiliki daya serangan yang besar.


Bammm!!!


Terjadilah sebuah ledakan es yang mampu mengeluarkan banyak sekali asap putih, asap-asap itu mulai menghalangi arena.


"Ini yang aku katakan sebelumnya... Honoka berpikir cepat dan melakukan apapun serba cepat sedangkan Asriel hanya perlu menganalisis musuh lalu berpikir lebih dalam dengan kemungkinan berbeda."


Asriel melakukan beberapa lompatan ke belakang untuk menjaga jarak dengan Honoka, ia menatap ke depan dan melihat Honoka berdiri tegak dengan aura Crimson nya yang menyebar kemana-mana.


"Es mampu memperlambat musuh... membuat tubuh kedinginan bahkan kemungkinan sampai pembuluh darah mereka membeku dan mati." Honoka mulai mengepalkan kedua tinjunya beberapa kali.


Partikel bola merah di dalam auranya mulai terlepas kemana-mana bahkan sampai menusuk perut Asriel beberapa kali, menyebabkan dirinya berlutut di atas tanah dengan darah yang mengalir keluar melalui mulutnya.


"H-Hebat... Tidak di ragukan lagi dari kedua peserta yang berada di level berbeda!" Kata Morgan.


"Tidak ada kelemahan apapun sepertinya untuk Honoka..."


"Sihir realitas itu sama saja dengan kemenangan, dapat mengubah Apapun yang ia inginkan..."


Penonton mulai berkomentar dan Jorgez mulai terbakar penuh semangat melihat kedua pertarungan yang berjalan cukup berat sebelah, terkadang setara terkadang tidak sehingga para penonton terus bersorak sambil berkomentar.


"Siapa yang akan memenangkan final ini dan mendapatkan kubus permohonan juga mengikuti pertarungan terakhir...!?"


"Ya, aku tahu."


"Aku tidak tahu!"


"Setidaknya mereka bertarung dengan baik, Honoka dan Asriel sempat menerima serangan secara bersamaan hanya saja Asriel memerlukan sihir pemulihan yang cepat." Bakuzen mulai berbicara.


"Setara ya...?" Shuan terus menatap Honoka dan Asriel yang saat ini sedang menatap satu sama lain.


"Aku tidak mengerti... bagaimana mereka bisa mengatakan perkataan setara di pertarungan seperti ini? Aku kalah telak karena sihir realitas dan Crimson nya itu..." Ungkap Asriel selagi mengumpulkan nafasnya yang berat.

__ADS_1


"Sihir yang seharusnya dapat menghalau sihir apapun bahkan bisa di balikkan olehnya... sihir realitas ini cukup kuat dan Honoka sendiri memiliki kehormatan untukku."


"Biasanya musuh yang ia lawan akan di akhir selama pertarungan di mulai, jika Haruka dapat mengendalikan waktu dan kalah olehnya maka aku bisa apa?" Asriel mulai berpikir yang tidak-tidak tetapi ia langsung menghantam pipinya sendiri.


"Aku harus tetap berusaha... maju terus, jangan memberikannya kesempatan, pertahanan apapun itu akan aku terobos." Asriel terus memperhatikan Honoka dan tubuhnya merinding seketika Honoka berada tepat di hadapannya.


Honoka menghantam wajah Asriel lalu melepaskan beberapa tembakan Crimson yang menembus pakaian dan kulitnya, membakar seluruh dagingnya.


"Grrgghhh...!!!" Asriel segera membekukan tubuhnya untuk menghapus semua efek itu lalu ia menembak beberapa sihir kegelapan dan es secara terus menerus.


Honoka menunjuk ke depan dan melepaskan dorongan merah yang mampu menghapus semua sihir itu, Asriel mulai kebingungan dengan kecepatan Honoka yang tiba-tiba meningkat drastis.


Kecepatannya bahkan jauh lebih tinggi di bandingkan Shuan dan Minami, Asriel beberapa kali memperhatikan kecepatan mereka dan Honoka lah yang mampu membuat dirinya terkecoh.


"Apakah ini yang di maksud oleh Haruka...? Realitas yang membalikkan sebuah efek? Reversal...? Tidak, Honoka sebelumnya mengatakan sesuatu tentang es yang memperlambat pergerakan musuh."


Asriel melebarkan kedua matanya, mengetahui penyebab kenapa pergerakan dan kecepatannya meningkat sangat drastis, efek pelambatan atau pembekuan es yang terbalik.


Suhu arena juga bahkan terus bertambah semakin dingin, memberikan keuntungan besar untuk Honoka dimana kecepatannya terus meningkat setiap suhu ruangan bertambah dingin.


"Aku sudah tidak mengerti lagi... apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Semuanya terasa terbalik dan logika yang asli di ubah menjadi yang baru olehnya." Ungkap Asriel.


Asriel mencoba untuk menyelimuti dirinya dengan kegelapan, sihir yang dapat melindungi dirinya dari serangan mendadak, jika Honoka berhasil menyentuh kegelapan itu maka tubuhnya akan membeku.


Seperti kaca jendela dengan satu pukulan langsung hancur menjadi kepingan kecil, Asriel tetap fokus memperhatikan Honoka selagi berkonsentrasi memikirkan rencana dan strategi.


Honoka muncul tepat di hadapan Asriel lalu menghantam perutnya cukup dalam sampai melepaskan gelombang besar tepat di punggung Asriel, membuat dirinya memuntahkan banyak sekali darah.


Honoka melihat Asriel yang ia pukul tidak menjerit atau meringis kesakitan, ia melebarkan matanya ketika tubuh Asriel meledak dan melepaskan suhu ekstrem yang mampu membekukan seluruh tubuhnya.


Asriel yang asli saat ini berdiri tegak tepat di belakang Honoka dengan perut yang berdenyut-denyut, walaupun berhasil menghindari serangan dengan melepaskan sebuah perangkap patung.


Ia masih merasakan serangan yang di terima oleh patungnya itu bahkan pakaian yang menutup punggungnya telah robek, menunjukkan punggung Asriel yang begitu merah.


"Hah... Hah... Hah... kuat sekali, pembalikan ini... sungguh menyebalkan." Ungkap Asriel, ia bisa mendengar seluruh penonton mulai menyemangati dirinya.


"Suhu dingin ini akan terus bertambah lebih dingin dari sebelumnya... itu artinya efek yang Honoka dapatkan akan bertambah kuat, apakah memiliki batas...? Efek semacam itu..."


Asriel melihat Honoka melakukan serangan lainnya, kali ini sudah mengetahuinya dan berhasil menahan serangan tersebut dengan menciptakan tembok besar atau bersatu dengan kristal es yang berada di sekeliling arena.


"Apa yang terjadi sekarang?! Awalnya pertarungan berjalan sangat lancar tetapi sekarang terasa berat sebelah ketika kecepatan Honoka meningkat drastis!!!" Seru Jorgez keras.

__ADS_1


Honoka terus menekan Asriel beberapa kali tanpa memberi dirinya sebuah celah atau kesempatan untuk menahan, melarikan diri, dan menyerang.


Asriel terus menerima beberapa pukulan dan serangan sihir Honoka beberapa kali sampai bekas luka di tubuh Asriel terus berdenyut, membuat dirinya meringis kesakitan.


Ia langsung menggigit bibirnya dengan kasar, mencoba untuk menahan rasa kesakitan itu.


Haruki dan Chloe memiliki banyakan harapan dan keyakinan penuh kepada Asriel, bukan soal kemenangan atau kekalahan melainkan seberapa lama dan bisa Asriel bertahan melawan Honoka.


"Asriel terlihat seperti tidak memiliki kesempatan apapun... bertahan saja hanya akan menyebabkan dirinya menerima luka lebih menyakitkan lagi." Kata Methode.


"Itu yang aku rasakan... aku merasakan apa yang Asriel rasakan ketika melawan Honoka, dia cukup sulit untuk di tipu karena dia sendiri sudah cukup cerdas dan berpengalaman..." Kata Haruka.


Mitsuki terlihat khawatir ketika Asriel terus menerima beberapa kerusakan di bagian tubuhnya.


Serangan Honoka bertambah jauh lebih menyakitkan bahkan ia sekarang bertujuan untuk membangkitkan Legend's Boost milik Asriel.


"Satu-satunya yang bisa menghentikan kemampuan realitas Honoka adalah Kou... dengan pikirannya, Honoka dapat menggunakan realitas itu kepada dirinya sendiri." Kata Minami.


"Anggap saja cara bekerja dari sihir realitas Kak Honoka itu seperti makhluk hidup bagaikan buku yang begitu mutlak, misalnya kita menulis 'melompat' di dalam buku itu maka makhluk hidup itu juga akan melompat." Kou mulai menjelaskannya.


"Kakak Honoka juga bisa saja membalikkan kemampuanku itu... ia dapat mengetahui kemampuan seseorang dengan cepat hanya memaksa dirinya untuk mengeluarkannya..."


"Malang sekali untuk Asriel... tetapi setidaknya ia mendapatkan hormatku karena masih bertahan sejauh ini." Rokuro kembali menatap pertarungan.


"Tidak ada yang mustahil di setiap dunia... sekuat apapun... sehebat apapun... sebesarnya dirimu sampai memiliki kekuasaan tinggi, pasti terdapat satu kelemahan di dalamnya." Perkataan Minami membuat seluruh temannya setuju.


"Tidak ada yang sempurna bagiku di dunia ini... dunia luar... dunia lain..."


Asriel berlutut di atas lantai dengan tubuhnya yang meneteskan banyak sekali darah, "Aku sudah mencoba... aku mencoba sekuat mungkin, pada akhirnya... mendapatkan kesakitan seperti ini..."


"Asriel... Legend's Boost mu sudah pasti aktif bukan? Gunakan itu, hancurkan batasanku dan cobalah untuk membuat diriku terkesan!" Honoka mulai menyemangati Asriel.


Asriel menghantam daratan sampai memunculkan kristal es di sekitarnya, kristal itu mulai menyelimuti tubuh Asriel sampai membentuk sebuah zirah hitam yang melepaskan aura kegelapan di sekitarnya.


"Bangsa Legenda tidak pernah tahu arti dari kekalahan dan menyerah, itulah kenapa aku harus tetap bangkit... menghancurkan batas lebih kuat, tidak ada kata menyerah sebelum mencoba lebih keras lagi!" Seru Asriel keras.


Tubuhnya melepaskan dorongan besar dan aura kegelapan yang berskala sampai mengejutkan semua orang, membuat mereka bersorak keras dan mendukung dirinya.


Honoka sempat terdorong dengan dorongan itu sampai ia sekarang berada di perbatasan arena itu, "Ini dia... kemampuan alami Legenda kita..."


"Legend's Boost yang sangat kuat! Arwahmu masih menganggap dirimu dan tubuhmu layak untuk melanjutkan pertarungan ini!" Honoka tersenyum serius lalu mengepalkan kedua tinjunya.

__ADS_1


"Aku harus menang... aku harus bisa..."


"...mengalahkan realitas itu sendiri!"


__ADS_2