
Haruka melebarkan kedua mata-nya, "Ahh...?" Ia baru saja terbangun di tengah-tengah ruangan gelap... kedua telapak kaki-nya menginjak genangan air yang berwarna hitam, hanya hawa dingin yang bisa Haruka rasakan bahkan ia bisa melihat diri-nya sendiri di depan... bukan hanya depan saja tetapi semua arah, ia melihat diri-nya yang berbeda karena setengah dari Limiter-nya telah ia hancurkan.
"Apakah... apakah ini hukuman yang aku dapatkan karena sudah menghancurkan Limiter-ku sendiri....?" Haruka menatap kedua telapak tangan-nya dengan ekspresi yang terlihat kecewa, ia tidak bisa melakukan apapun di ruangan itu sehingga tubuh-nya bergerak sendiri dan membawa diri-nya ke depan.
"Sepertinya kau memang bodoh ya... menghancurkan Limiter itu, hanya untuk mengalahkan seluruh dewa-dewi kuno palsu itu, aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini, Haruka... tetapi setidaknya kau dan Okaho bisa mengalahkan mereka semua dengan kekuatan kerja sama. Komi dengan energi kehidupan-nya itu tidak akan menghentikan kalian begitu saja bukan?" Haruka tiba-tiba menginjak sebuah tapak tangan, ia menundukkan kepala-nya lalu melirik ke belakang sehingga melihat Zangges.
"Kakek...Apakah ini hukuman-ku...? Apakah kau membawa-ku ke sini...?" Tanya Haruka.
"Tentu saja... ini adalah hukuman ringan untuk cucu-ku, tenang saja... tubuh-mu saat ini aman bersama Okaho yang saat ini bertarung sendirian melawan seluruh anak-anakku itu. Aku yakin Okaho dapat menang karena dia diberkahi kekuatan hebat yaitu mengendalikan realita sendiri." Zangges menunjukkan tapak lain-nya, terlihat sebuah bola merah yang menunjukkan Okaho bertarung sendirian melawan semua dewa-dewi itu.
Walaupun dia bisa bertahan, tubuh-nya dipenuhi dengan luka dan mereka semua bahkan menyerang tanpa menahan diri sehingga Okaho terluka sangat parah, "Kembalikan aku... aku ingin menyelamatkan Okaho!" Haruka menatap Zangges dengan ekspresi yang kesal.
"Tidak... Tidak bisa. Ketahuilah kesalahan-mu sendiri, pikirkan kembali apa yang telah kau perbuat...? Apakah kau Haruka atau apakah kau Haruka yang sudah terlalu menikmati kekuatan dari Limiter yang sudah hancur?"
"Aku tidak mengerti...!!! Aku tidak mengerti, kakek...!!! Aku benar-benar bingung dan tidak mengerti dengan diri-ku sendiri...!!! Semua yang aku lakukan salah...!!! Jika aku tidak melakukan apapun maka semua ciptaan kakek bisa hilang bahkan aku sudah pasti akan terbunuh oleh keluarga-ku sendiri...!!!" Haruka mulai menangis, Zangges hanya bisa diam dan mendengarkan keluhan Haruka, semua orang memiliki perbedaan tersendiri dan sudah wajar jika orang itu tidak akan pernah mengerti tujuan jahat atau buruk orang tersebut.
Haruka berbicara panjang lebar, dia benar-benar tidak mengerti apa yang mereka pikirkan tentang diri-nya, kebanyakan semua orang menganggap diri-nya lah yang memulai semuanya... penyebab dari seluruh ancaman dan konflik yang terus bermunculan. Zangges mulai berubah menjadi ukuran biasa sehingga ia berdiri tepat di depan Haruka yang sedang berlutut dan menangis.
"Tidak apa dianggap jahat... tidak apa dianggap buruk atas perbuatan-mu yang dapat kau sanggupi, Haruka... awal-nya memang begitu... semua orang akan memiliki sebuah cerita dimana mereka akan merasakan keburukan dan kebaikan, salah satu-nya kita semua... walaupun aku sang pencipta, aku juga memiliki keburukan sendiri yaitu kehadiran Zenzaku dan Zangetsu... tanpa mereka... kau tidak akan seperti ini." Zangges berlutut di depan Haruka lalu ia mengelus kepala-nya beberapa kali.
__ADS_1
"Tetapi... semua ras tidak akan bisa hidup sendiri... tujuan apapun itu, tidak akan ada yang bisa mengabulkan-nya sendiri... semua orang membutuhkan satu sama lain... bukan Legenda... bukan Dewa... semua makhluk hidup! Beritahu kakek, apakah kakek bisa menciptakan semua ini sendirian...?" Ketika Zangges mengatakan itu, Haruka melihat Koina yang berdiri di sebelah Zangges.
"Itu benar, Haruka... Zangges tidak sendiri dalam menciptakan apapun, dia memiliki diri-ku... kita menciptakan semua-nya bertahap dan meraih tujuan dengan pelan-pelan... bagi beberapa orang yang kita ciptakan, kita bisa disebut salah karena sudah menciptakan sesuatu yang dapat menghancurkan ciptaan kita sendiri..." Kata Koina
"Kami menciptakan berbagai ras... ras yang memiliki ideal dan tujuan sendiri, di dalam tujuan itu sudah pasti terdapat keburukan dan kebaikan... keburukan yang aku maksud adalah ras atau orang yang tidak dekat dengan mereka tidak akan pernah bisa mengerti tujuan itu baik atau tidak." Kata Zangges.
Haruka menghapus air mata-nya lalu ia bangkit dari atas air dengan ekspresi yang terlihat tenang, apa yang dia pikirkan selama ini selalu saja mengganggu pikiran-nya dan itu tidak baik... ia mulai menatap kedua telapak tangan-nya, "Aku sudah menghancurkan banyak ciptaan-mu, kakek... aku bahkan menciptakan sesuatu yang palsu dan ruang waktu yang seharusnya tidak tercipta."
"Tidak, Haruka... kematian dari kami berdua memiliki makna dan arti dalam kebebasan untuk semua hal yang aku ciptakan, mereka dapat bertindak apapun yang mereka mau karena aku sendiri yakin bahwa setiap tujuan pasti akan dihentikan dengan tujuan lain-nya, dua pihak yang berbeda di tambah satu pihak tambahan yang tidak berpihak kepada siapapun seperti kami berdua..."
"...mulai dari sekarang sampai generasi yang akan datang, aku senang bisa melihat keturunan-ku dan keluarga Comi bisa terus berlanjut. Semua ini berkat diri-mu, Haruka, tidak ada yang salah... aku tidak akan pernah marah melihat-mu melakukan sesuatu kepada ciptaan-ku, lebih baik kau mempercayai apa yang kau lakukan dengan satu syarat, jangan pernah kau jatuh ke dalam jurang... sama seperti anak dan cucu-ku yaitu Zenzaku dan Zangetsu." Zangges menyilangkan kedua lengan-nya sehingga ia langsung menghilang menjadi partikel, Koina tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Maka dari sekarang, kamu harus bisa mengerti, Haruka... kamu harus bisa bangkit dan melanjutkan apapun tujuan-mu itu. Selama ini yang kau lakukan terlihat biasa saja bagi kami berdua karena kami berada di pihak netral, tetapi apa yang kau coba lakukan dapat membuat kami terharu dan terkesan... Lanjutkan apa yang kau ingin lakukan." Koina tersenyum dan ia juga ikut menghilang sama seperti Zangges.
"Bangkit, Haruka...!" Koina tersenyum sehingga Haruka melayang lebih tinggi lagi, "Nenek..."
"Teruslah lanjut apa yang kau saat ini lakukan... kami akan selalu hidup di dalam diri-mu, Haruka..." Konami menunjuk Haruka sehingga ia melayang lebih atas dan hampir menyentuh batasan yang terbuat dari aura Sacred tepat di atas-nya, "Nenek Konami..."
Tubuh Haruka mulai diselimuti dengan cahaya putih dan ia mulai semakin dekat dengan aura itu, "Jangan jatuh lagi, Haruka... aku percaya kepada-mu... semua yang kau lakukan pasti memiliki arti di dalam-nya." Kata Koura.
__ADS_1
"Nenek Koura..." Haruka tersenyum lalu ia memejamkan kedua mata-nya sehingga kedua pupil-nya kembali menunjukkan jam dengan jarum jam yang berjalan dengan biasa-nya, ia menatap ke atas lalu melihat sebuah lengan yang mencoba untuk menarik Haruka keluar dari jurang tersebut, "Haruka... Haruka... Haruka...!"
Haruka tersenyum karena ia mengenal suara lembut itu, "Mama!!!" Teriak Haruka keras sehingga Korrina keluar dari aura itu dan mencoba untuk meraih lengan Haruka, ia berhasil meraih-nya dan setelah itu Korrina menarik-nya sehingga Haruka kembali sadarkan diri tetapi ia saat ini berada di sebuah tempat yang berbeda.
"A-Apa...?" Haruka bisa melihat atap kamar-nya sendiri, tubuhnya dipenuhi dengan keringat, "Apakah kakek benar-benar memanggil-ku tadi...? Jika aku tidak keluar maka... keberadaan-ku bisa hilang... tadi hampir saja---" Korrina tiba-tiba meraba kening Haruka dan ia langsung tersenyum penuh dengan kelegaan.
"Ahh, syukurlah... kau tidak apa-apa, Haruka." Korrina tersenyum lalu membantu Haruka untuk duduk di atas kasur-nya, Haruka terkejut ketika melihat Korrina tepat di depan-nya dengan beberapa luka di tubuh-nya, "M-Mama...?" Haruka melihat sebuah cermin di belakang Korrina yang menunjukkan lambang Limiter yang setengah di kening-nya.
"Ahh..." Haruka segera menutup lambang itu menggunakan rambut poni-nya tetapi Korrina terkekeh, "Kau tidak perlu menyembunyikan rahasia apapun lagi kepada-ku, Haruka... Mama sudah mengetahui-nya karena Okaho." Korrina melirik ke belakang dan melihat Okaho yang dipenuhi perban masuk ke dalam rumah.
"O-Okaho... apa yang terjadi? Bukan-nya kita seharusnya bertarung melawan mereka semua?!"
"Aku tidak mampu bertahan cukup lama melawan mereka, tubuh ini terbatas soal-nya, untungnya aku dapat melarikan diri bersama-mu... jika saja aku tidak bertemu dengan Mama maka nyawa kita sudah hilang..." Ucap Okaho pelan, ia menghampiri Haruka dengan ekspresi yang terlihat kesal.
"Kau dipenuhi dengan luka---" Okaho tiba-tiba memukul perut Haruka keras, "Uhuggghhh!!!"
"Dasar bodoh...!!! Kau benar-benar membuat kekhawatirkan-ku menginjak tingkat paling tinggi...! Apa yang sebenarnya kau coba lakukan!? Apa yang kau pikirkan ketika menghancurkan Limiter-mu itu, hah!?" Seru Okaho dengan air mata yang mengalir deras dari kedua mata-nya, Haruka dan Korrina hanya bisa diam mendengar perkataan tersebut.
"M-Maaf..." Jawab Haruka.
__ADS_1
"Kau... kau memang bodoh, kakak...!" Okaho memeluk Haruka erat, "...tetapi, sebodoh-nya dirimu... aku akan selalu menyayangi-mu karena kau adalah kakak-ku...."
"Mmm... terima kasih, Okaho..."