
"Semoga angin memberkati dirimu..." Ucap seorang pendeta yang mengenakan pakaian hijau serta tudung yang terbuka untuk menunjang rambut panjangnya yang terembus angin.
Banyak sekali tamu mulai berdatangan sampai mendapatkan sambutan dari para pendeta yang mengenakan pakaian lumayan aneh karena hijau kemungkinan besar menandakan elemen dari kerajaan tersebut yaitu angin.
"Apakah Anda memiliki waktu untuk membicarakan tentang angin yang membawakan banyak keberkahan dan kemenangan...?"
Para tamu itu langsung dihentikan oleh beberapa Legenda yang mengenakan sebuah lencana di pakaian hijau mereka, lencana itu terlihat seperti [Insignia] dengan lambang angin serta di belakangnya terdapat nama yang tak terlihat.
"Ternyata kerajaan ini memiliki kepercayaan besar terhadap Dewa angin ya...? Aku tidak mengira Legenda akan menyembah dewa..."
"Zaman memang sudah berubah, kita perlu menghormati semua pilihan Legenda. Maupun itu percaya dengan raja, kaisar, dewa, atau tidak memiliki kepercayaan sama sekali sudah cukup."
"Sayang sekali... percaya dengan seorang raja atau kaisar adalah kemunafikan yang tidak akan bisa dimaafkan oleh Dewa angin." Kata Legenda yang menyembah dewa angin itu.
"Maksudmu...?"
"Kalian tidak mengerti ya, Dewa sangat membenci orang yang menyembah atau mempercayai seseorang yang memiliki derajat sama..."
"...Dewa memiliki derajat yang lebih tinggi, lebih buruknya lagi jika seorang Legenda tidak memiliki kepercayaan apapun sudah mendapatkan banyak dosa sampai menerima cap keburukan dari Dewa angin."
Legenda itu mengatakan dengan santai tetapi para pengunjung terlihat gugup dan ketakutan, entah itu kenapa tetapi mereka mencoba untuk menyembunyikan sebuah fakta bahwa mereka mempercayai raja dan kaisar.
"Kerajaan... tidak... negara yang dinamakan oleh Dewa angin kita yang sungguh bijaksana dan penuh dengan ketenangan seperti embusan angin."
"Negara yang bernama Mitch... penuh dengan kerajaan serta desa yang mendapatkan perlindungan dari Dewa angin itu sendiri... Dewa Erion...!" Legenda itu membawa mereka menuju wilayah kerajaan bagian tengah.
Semua pengunjung itu melihat sebuah patung besar di bagian tengah dengan embusan angin yang mengelilinginya, bentuk dari patung tersebut menunjang seorang pria dengan jubah sedang mengangkat pedangnya ke atas.
"Dalam mimpi... saya pernah melihat Dewa Erion... sungguh tampan dan berani, tubuhnya sendiri bahkan sangat indah sampai tidak bisa ditandingi oleh siapa pun."
"Melihat zaman dan sejarah yang kembali terulang, Dewa Erion memutuskan untuk membangunkan kembali kepercayaan terhadap para Dewa elemen..."
"Planet ini... Planet yang bernama Lemia sudah mendapatkan banyak berkah dari Dewa elemen... setiap negara tentunya memiliki kepercayaan terhadap dewa masing-masing."
"Bukan hanya planet ini saja... sudah hampir lebih dari sepuluh planet para Legenda memiliki kepercayaan terhadap para Dewa, bisa di bilang 20% persen!"
"Um... kami hanya ingin menikmati fasilitas terbang dan embusan angin di kerajaan Kazemo..." Ucap salah satu pengunjung yang tidak tertarik dengan kepercayaan dewa.
"Sebelum itu saya perlu membicarakan Dewa Erion kepada kalian semua... siapa tahu dalam perjalanan dan liburan kalian bisa menerima berkah dari Dewa kami."
Mereka mencoba untuk pergi tetapi tidak bisa karena rasanya cukup mengerikan, entah perasaan apa yang mereka rasakan ketika Legenda itu terus membicarakan soal kepercayaan terhadap Dewa angin yang bernama Erion.
Mereka terpaksa mengikuti Legenda itu yang terus menceritakan tentang kehebatan dan keberkahan dari Dewa angin, salah satu dari pengunjung itu berjalan pergi menuju gerbang keluar.
"Aku tidak tahan...! Dewa apanya...!? Angin memberkatiku...!? A-Aneh sekali!" Pria yang mencoba untuk keluar melalui gerbang itu langsung dibiarkan pergi oleh para pendeta.
Pria itu berjalan keluar dari gerbang tetapi kedua lengannya langsung putus sampai tertebas menjadi bagian kecil oleh embusan angin yang mulai mengelilingi kerajaan itu termasuk jalan keluar.
"AAAAGGGGHHHH...!!!" Pria itu langsung terjatuh di atas tanah dengan kedua lengannya yang mengeluarkan banyak darah, tubuhnya terangkat oleh angin yang menjadi gerbang kedua.
Angin itu membawa dirinya menuju salah satu pendeta, "Anda tidak bisa keluar dari kerajaan ini begitu saja..."
"...perlu diketahui, Anda berhak mendapatkan kepercayaan Dewa Erion sampai menjadi salah satu pengikutnya untuk bisa menggapai kehidupan yang lebih baik."
"Tidak... Tidak mau...!" Pendeta itu langsung menghembus nafasnya sampai memasukkan pengunjung itu kembali ke dalam gerbang dan mengunci dirinya agar ia bisa menyembah Dewa Erion.
__ADS_1
***
"... ..." Shinobu membuka kedua matanya, wajahnya menerima sinar matahari cerah yang berada di atas langit.
"Sudah siang...?" Shinobu duduk di atas kasur lalu mengusap kedua matanya sampai Shira menyambut dirinya dengan sebuah usapan di bagian kepala.
"Selamat siang, sepertinya kau sudah mendapatkan waktu tidur yang cukup ya." Shira mulai menempati beberapa piring di atas kasur itu.
"Masih panas, kamu nikmati saja makanan itu. Kebahagiaan pertama yang kamu rasakan." Kata Shira yang sudah memesan semua hidangan itu dari restoran Shimatsu.
"Kebahagiaan..." Shinobu menatap semua hidangan itu, entah kenapa ia tidak bisa menolak perbuatan baik Shira karena hal tersebut bisa dibilang kebahagiaannya yang berhak ia terima.
Shira yang sedang menikmati secangkir kopi selagi bersandar di belakang tembok melihat Shinobu melahap semua makanan itu, ekor dan telinganya terus bergerak yang mengartikan dia bahagia.
Shira sudah terbiasa hidup dengan seorang Neko Legenda jadi dirinya tahu harus apa untuk membuat Shinobu bahagia dan berubah agar dirinya dapat menjadi sesosok Legenda yang ia harapkan.
Shinobu memakan semua itu dengan kedua tangan kosong, seperti gadis kecil yang tidak bisa menggunakan sendok atau garpu untuk makan.
Shira mulai mengangkat gelas kosong menggunakan sihirnya lalu mengisinya dengan segelas susu hangat yang ia berikan kepada Shinobu.
"Susu hangat yang sangat pas untuk diminum dalam musim sejuk. Minumlah." Kata Shira.
"Mm. Terima kasih." Shinobu mengambil gelas itu lalu meminumnya, Shira terus mendengar perkataan terima kasih dan senyuman syukurnya itu.
Sudah cukup untuk dirinya beristirahat karena ia rasa bersalahnya untuk membiarkan Shinobu merasakan semua penderitaan dan kesakitan itu terbayar dengan lunas.
Shira mulai menatap kedua kaki dan lengan Shinobu yang terbuat dari logam ciptaannya sendiri melalui sihir alkemis, ia ingin membantu dirinya untuk menciptakan lengan dan kaki asli.
"Shinobu, apakah kau ingin menguasai sihir cahaya yang dapat membantu dirimu untuk menciptakan lengan dan kaki asli?" Tanya Shira.
"Sesuai dengan harapanku, pikirannya mirip dengan Kou dan Korrina yang memiliki obsesi terhadap teknologi serta mesin untuk membantu dirinya berjuang."
Suara ketukan pintu mulai terdengar di luar, Shira merasa keberadaan cucu dari temannya. Ia langsung membuka pintu itu tanpa menyentuhnya sampai mereka semua kaget ketika melihat Shira yang sedang menikmati kopinya.
"Selamat siang, anak-anak. Ada waktu menikmati susu hangat?" Tanya Shira yang langsung menyiapkan empat susu hangat untuk mereka.
"Ahh... Paman Shira..." Koizumi tidak menyangka akan melihat seseorang yang sangat Legendaris di dalam kabin itu sedang menjaga Shinobu yang sedang makan.
"Wah...! Jangan-jangan Anda adalah seorang Legenda legendaris yang bernama Shiratori Shira!?" Tanya Konomi yang terlihat sangat senang untuk melihat dirinya.
"Se-Selamat siang..." Ako menundukkan kepalanya kepada Shira.
"Ahh!!! Kau adalah...!!!" Hinoka menunjuk Shira dengan tatapan yang terlihat kaget.
"Pedofil...!!! Apa yang kau coba lakukan kepada Koneko ku!!?" Seru Hinoka sehingga mengejutkan mereka semua termasuk Shira yang langsung tersedak oleh kopinya sendiri.
"Oi!!! Apa yang kau katakan...!?" Koizumi langsung menghantam kepala Hinoka.
"Awwwweee...!"
"Jangan seenaknya berbicara seperti itu! M-Maaf, Paman Shira... sepupu bodohku ini tidak bermaksud berkata seperti itu...!" Koizumi mulai menundukkan kepalanya dan memaksa Hinoka untuk melakukan hal yang sama.
"Tidak apa-apa, santai saja. Aku sering mendengarnya." Kata Shira yang mencoba untuk mempertahankan sikap keren dan kalemnya, tadi ia benar-benar kaget mendengar perkataan Hinoka.
"Nobu... apakah kamu baik-baik saja sekarang?" Tanya Ako.
__ADS_1
"Mm... baik-baik saja." Shinobu menghabiskan banyak sekali piring itu tanpa menyisakan apapun.
Mereka semua mulai terlihat bingung dan kaget karena pemandangan yang mereka lihat saat ini cukup langka karena Shinobu makan banyak sekali sampai tidak menyisakan apapun.
Biasanya dia akan malu-malu sehingga menolak makanan apapun atau menyisakan makanan tersebut dan beralasan bawah dirinya sudah kenyang, entah kenapa sekarang ia jadi banyak makan seperti itu.
"Shinobu... kamu sedang sakit?" Tanya Konomi.
"Tidak..."
"Jarang sekali melihat dirimu makan banyak seperti ini."
"Itu...!!! Anu...!!! Anu...!!! Um...!" Shinobu melebarkan matanya kaget ketika Koizumi membahas hal seperti itu, ia tidak ingin dicap sebagai rakus oleh mereka karena menghabiskan ratusan piring.
"Kalian tidak tahu apa yang terjadi pada Neko Legenda di musim sejuk ya?" Shira mulai berbicara.
"Tidak tahu... memangnya ada apa paman?" Tanya Hinoka.
"Neko Legenda akan merasa kelaparan hampir setiap saat, musim sejuk bisa dibilang waktu untuk mengisi perut yang mudah lapar bagi kucing seperti mereka."
"Shinobu mungkin sering bersembunyi dari kalian soal musim sejuk, sebenarnya dia memang suka makan banyak seperti ini." Kata Shira.
"Mmm..." Shinobu memalingkan wajahnya dengan pipi yang memerah, ia selalu saja menolak tawaran apapun seperti ajakan makan.
Sebelum Shira datang seperti saat ini, ia selalu menghabiskan waktu dengan memakan banyak sekali tikus yang ia buru seharian bersama dengan ikan dalam sungai.
"Yah... aku bisa memakluminya, musim sejuk dengan suhu dingin ini paling cocok menikmati makanan hangat." Kata Ako.
Shinobu mulai menawarkan semua piring yang berisi makanan itu kepada mereka dengan perkataan tubuh seperti mendekati piringnya, ia tidak berani berbicara karena terlalu malu.
"Kami sudah kenyang. Lagi pula Kakekmu sudah menyediakan kamu susu hangat." Koizumi mengambilnya lalu meminumnya.
Terjadi pertemuan yang cukup menghangatkan di dalam kabin itu sampai Shira hanya diam di pojok selagi menikmati kopinya bahwa pemandangan yang saat ini ia lihat cukup menyejukkan.
"Musim spesial seperti ini, kenapa kalian tidak menikmati waktu dengan beristirahat seperti liburan atau semacamnya?" Tanya Shira.
"Oh~ itu bagus~ banyak sekali tempat yang pas untuk kita kunjungi dalam musim sejuk seperti ini!"
"Setelah musim sejuk akan memasuki musim salju... kita juga harus bisa menikmati semua liburan itu sebelum akademi kembali terbuka." Kata Konomi.
"Enaknya pergi kemana ya?" Tanya Koizumi.
"Tenang saja... kebetulan diriku memenangkan sebuah lotre yang memberikan diriku sebuah tiket yang menyediakan banyak sekali hiburan." Shira melempar tiket itu kepada Shinobu lalu ia menangkapnya.
"Planet Lemia... wisata dalam negara Mitch, tiga hari... tiga malam... dengan fasilitas indah yang tersedia." Kata Shinobu yang membaca isi tiket itu.
"Planet Lemia dipenuhi dengan orang yang memiliki kepercayaan penuh terhadap kebodohan, aku sarankan kalian untuk tetap berhati-hari dengan ajakan itu."
"Wisata serta liburan yang disediakan oleh planet itu selalu bagus, tetapi kalian juga harus tetap waspada."
"Ahh, negara Mitch ini memiliki kepercayaan terhadap angin...?" Tanya Shinobu yang sudah pasti tahu karena sering membaca buku.
"Sepupu kecilku memang hebat karena tahu apapun, maksud paman Shira soal kepercayaan bodoh itu apa?" Tanya Koizumi.
"Legenda yang tinggal dalam negara Mitch menyembah seorang Dewa angin..."
__ADS_1
"...kepercayaan terhadap Dewa."