Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 118 - Kemampuan Darah


__ADS_3

Beberapa rekan Korrina akhirnya tiba kembali di kota Ghisaru dimana mereka menyelamatkan beberapa korban yang selamat, tetapi mereka dipenuhi dengan luka karena bertarung sendirian melawan pasukan iblis yang berjumlah lebih dari jutaan. Rxeonal sudah mendapatkan beberapa berita bahwa seluruh pasukan-nya masih belum cukup untuk menaklukkan planet-planet dan alam semesta.


"Sepertinya kita perlu mengerahkan seluruh pasukan yang kita miliki, tuan-ku. Kita perlu menggunakan pasukan lain, contohnya pasukan yang kau dapatkan dari dua dimensi yang berbeda." Ucap Einz yang sedang meneliti ramuan-nya.


"Kau ada benar-nya, tetapi menggunakan pasukan yang sangat kuat dari awal itu... Bukan-nya itu terlalu boros...? Jika pasukan itu terbasmi oleh orang tertentu maka diriku bisa saja tidak meraih kemenangan dari perang antar semesta tersebut." Rxeonal mulai berjalan keluar dan melihat seluruh pasukan iblis-nya yang sedang berlatih.


"Legenda memang memiliki potensi yang berbahaya di dalam diri mereka, sekali potensi mereka bangkit dan dapat dikendalikan dengan mudah maka pertarungan kita melawan bangsa Legenda itu akan berjalan panjang." 


"Ck... Sepertinya aku harus melakukan-nya sendirian dengan cara-ku." Rxeonal pergi menghampiri Einz dan mulai mengambil sebuah ramuan yang baru saja ia ciptakan.


"Ramuan itu sangat langka dan membutuhkan waktu panjang untuk bisa menjadi ramuan yang paling sempurna, tuan-ku... Untungnya aku adalah iblis yang memiliki ilmu pengetahuan tinggi seperti seorang manusia dan iblis." 


"Apakah bangsa Vampire akan berpihak kepada kita?" Tanya Rxeonal.


"Sebagian, tetapi... Jika kita mendapatkan bantuan dari bangsa Vampire maka pasukan kita akan bertambah kuat lagi karena kemampuan natural bangsa mereka sendiri. Ada yang mengatakan bahwa tempat tinggal mereka yaitu Zuutouri memiliki sebuah darah langka dan terkutuk dimana seseorang yang menyentuh atau meminum-nya akan mendapatkan kemampuan yang hebat." Einz mengeluarkan sebuah kertas kotor dan kuno lalu ia memberikannya kepada Rxeonal.


Rxeonal mengambil kertas kotor itu dan mulai membaca-nya, tulisan yang terdapat di kotor itu memiliki bahasa yang tidak bisa dibaca dengan mudah tetapi Rxeonal bisa mengerti isi dari kertas tersebut yang mengatakan bahwa di Zuutouri terdapat sebuah air terjun darah yang bernama [Blood of Mimesis].


"Darah ini... Apa kegunaan-nya?" Tanya Rxeonal.


"Sekali darah itu bercampur dengan darah-mu dan sel-sel yang ada di dalam dirimu maka kau dapat mencuri beberapa sel tubuh dan DNA musuh-mu contohnya kau melawan Shiratori Shira dimana ia memiliki esensi sempurna cahaya... Darah yang kau dapatkan dari Zuutouri itu akan beradaptasi dan memberimu kekuatan serta kemampuan yang sama dengan diri-nya." Einz tersenyum sinis.


"Jadi intinya aku bisa mendapatkan sel dan DNA musuh ya...? Hmph, menarik sekali... Apakah ini jalan untuk menginjak puncak kesempurnaan...? Bahkan dewa dan dewi tidak akan bisa menginjak puncak ini dengan mudah." Rxeonal memasukkan kertas-nya ke dalam saku celana-nya dan ia mulai tertawa terbahak-bahak.


"Ahahaha...! Baiklah, kalau begitu." Rxeonal mulai menatap Einz dengan ekspresi yang terlihat serius.


"Laksanakan perintah-ku dan segera lepaskan seluruh pasukan [Giblis]!" 


"Akan segera aku laksanakan dengan cepat, tuan-ku." Einz segera pergi meninggalkan ruangan itu untuk melepaskan seluruh pasukan Giblis yang saat ini berada di dalam ruangan dengan segel dimana mereka tidak bisa melarikan dari tempat itu.


Rxeonal memejamkan kedua mata-nya, "Dengan pasukan Giblis lemah-ku yang sudah dilepaskan untuk menaklukkan seluruh alam semesta maka aku yakin mereka akan ketakutan dengan kemampuan adaptasi sempurna dari bangsa Giblis, hmph... Sudah saatnya aku pergi menuju Zuutouri." Rxeonal menggunakan sihir teleportasi-nya untuk pergi menuju semesta Zuutouri.


***

__ADS_1


Haruka dan Makarov baru saja tiba di kota Ghisaru, mereka mendarat di depan rumah Korrina dan melihat Alisha bersama Yuyaki sedang berlatih. Mereka berdua mulai menyadari dengan keberadaan Haruka di sebelah mereka.


"Yoooo...! Kalian berlatih ya?" Haruka melompat dari atas bahu Makarov.


"Ahh, Haruka, kamu sudah pulang ya." Alisha tersenyum dan Haruka segera melompat menuju arah-nya  untuk memeluk diri-nya dengan sangat erat.


"Ahahaha, seperti kamu rindu dengan bibi ya?"


"Tidak kok, punya bibi besar, berbeda dari Mama." Ucap Haruka sambil mengusap-usap wajahnya dengan dada Alisha.


"Ahahaha..." Alisha terkekeh pelan.


Yusaki hanya bisa diam melihat mereka yang berbicara seperti keluarga, hal itu membuat dirinya menatap mereka bertiga dengan tatapan yang terlihat datar. Haruka mulai sadar dengan tatapan Yusaki yang terlihat berbeda, ia seolah-olah tidak memiliki topik pembicaraan untuk dibicarakan bersama mereka.


"Ahhh, kamu iblis yang cantik dan imut." Haruka berhenti memeluk Yusaki dan ia segera mendekati dirinya, Yusaki tersipu ketika Haruka memuji-nya lalu memeluknya dengan sangat erat.


"Mari berteman! Aku Haruka Ghifari." Haruka menatap Yusaki dan tersenyum lalu ia menunjuk Makarov, "Pria besar dan kekar satu ini bernama Vladimir Makarov."


"Oni Yusaki, itu nama-ku." Yusaki tersenyum.


Mereka mulai berbicara selama beberapa menit untuk mempererat hubungan mereka semua, setelah haus karena terlalu banyak berbicara Haruka segera melangkah menuju rumah-nya untuk menyambut Korrina yang saat ini sepertinya masih bekerja keras, mencoba untuk menyelamatkan semua korban yang masih selamat di laur sana.


Ketika Haruka membuka pintu rumah-nya, ia melihat Arata dan Ophilia sedang bermesraan di atas sofa, kedua mata Haruka melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat karena mereka berdua saat ini sedang saling mencium satu sama lain, Arata melebarkan matanya ketika merasakan keberadaan Haruka yang berdiri di depan-nya.


"Ahhh...!" Arata menatap Haruka dengan ekspresi yang terlihat terkejut, Ophilia melirik ke belakang dan ia segera melebarkan mata-nya juga.


"U-Ummm... Haruka..."


"Jangan menghiraukan diri-ku, aku tahu kalian sedang mempererat hubungan..." Haruka terkekeh seolah-olah mengejek mereka karena mereka bermesraan di rumah-nya sendiri, sepertinya dosa nafsu mereka tidak bisa ditahan begitu saja.


Arata dan Ophilia sama-sama memiliki wajah yang merah, Haruka segera memberi mereka berdua sebuah tepukan di kepala lalu ia pergi menghampiri ruang kerja Korrina. Ketika Haruka membuka pintu, ia melihat Korrina yang sedang menari tarian tradisional seperti biasanya sampai membuat Haruka tersenyum lebar.


"Wahhhh...! Mama!" Teriak Haruka yang mulai menutup pintu ruangan kerja itu.

__ADS_1


"Ahh, Haruka, selamat datang kembali." Korrina berhenti menari dan ia mulai menggendong Haruka menggunakan kedua lengan-nya, ia menggendong Haruka seperti seorang balita.


"Mama... Sepertinya Haruki pergi ke suatu tempat dimana kita tidak akan pernah mengetahui-nya." Ucap Haruka dengan ekspresi yang terlihat sedih, Korrina sudah mengetahui tentang kematian dari kedua Adik Haruki berkat penglihatan-nya yang dapat menggambarkan suatu peristiwa yang sedang terjadi saat ini dengan melepaskan beberapa aura Sacred.


"Yahhhh... Semua kehidupan pasti akan merasakan arti dari kata sedih dan kehilangan seseorang yang mereka cintai sih,  tidak ada yang bertahan abadi... Sepertinya takdir kematian dari mereka berdua sudah tercantum di batu takdir..." Ucap Korrina dengan nada halus-nya, ia mulai mengelus kepala Haruka dengan pelan.


"Aku... Aku merindukan Papa." Haruka memeluk dada Korrina erat dan mulai menutup wajah-nya dengan dada-nya.


Korrina hanya bisa diam, ia masih belum berani untuk memberitahu Haruka tentang kematian dari Alvin. Saat ini dia tidak ingin melihat seseorang menangis di hadapan-nya, apalagi Haruka... Anak yang sangat ia sayangi dan cintai sampai dirinya mendapatkan banyak perlindungan dari Korrina.


Korrina memeluk Haruka erat dan tersenyum tipis, "Aku juga merindukan dirinya..."


Haruka mulai menatap Korrina dengan ekspresi yang terlihat sedih, ia segera meraba kedua pipi Korrina dan membuatnya tersenyum dengan sangat lebar karena ekspresi Korrina terlihat seperti mencoba untuk menahan rasa sedih karena telah kehilangan seseorang yang sangat ia cintai, dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk melindungi Haruka dengan seluruh kemampuan-nya.


"Mama, senyum!" Haruka tersenyum sambil memejamkan kedua mata-nya.


"Iya, Mama tersenyum kok." Korrina tersenyum.


Haruka melihat sekeliling dimana ruangan itu dipenuhi dengan hologram, teknologi rumit, sistem canggih, dan layar virtual yang menunjukkan seluruh alam semesta yang ada di semesta Touri. Haruka sampai pusing ketika melihat semua itu karena dia tidak terlalu suka dengan teknologi atau sesuatu yang canggih.


Tetapi terdapat satu alat yang membuatnya tertarik yaitu dua lensa yang terletak di atas meja kerja-nya, Haruka segera menunjuk lensa mata itu dan Korrina mulai menatap kedua lensa mata itu.


"Ahhhh... Itu adalah ciptaan Mama yang paling hebat loh, sekarang Mama tidak perlu lagi menggunakan kacamata karena lensa mata itu sudah mengandung beberapa sistem canggih tentang Tech. Tech sekarang dapat membantu Mama kemana-pun Mama pergi..."


"Whoaaaa...! Tech! Tech! Tech!" Panggil Haruka.


"Ada apa, Haruka?" Tanya Tech.


"Lindungi Mama, itu adalah perintah!" Seru Haruka.


"Tentu saja, akan aku laksanakan."


Korrina tersenyum dan segera memberi dirinya kecupan di kening, "Aku menyayangi-mu, Haruka..."

__ADS_1


__ADS_2