
"Shinobu... Shinobu..."
"Hei, Shinobu... bangun..."
Shinobu menerima beberapa tepukan lembut di pipinya, ia membuka kedua matanya dan melihat Koizumi yang mencoba untuk membangunkan dirinya di pagi hari yang cerah ini.
"Mmm...?"
"Selamat pagi, sudah waktunya untuk melanjutkan perjalanan menuju kerajaan Leonia..." Koizumi membantu Shinobu untuk duduk.
Di antara kelima gadis pemberontak, hanya Shinobu yang sulit untuk di bangunkan karena kemarin ia menghabiskan waktu cukup lama di cuaca yang begitu dingin selagi melawan Tauros.
Ia beristirahat pada pukul tiga malam, instingnya masih waspada sampai dirinya tidak mendapatkan tidur nyenyak seperti biasanya sampai ia sulit untuk di bangunkan pagi ini.
Ia juga kebiasaan begadang sampai selalu bangun pukul sembilan untuk bekerja dan menulis seperti biasanya, ia baru saja ingin bahwa dirinya sedang dalam misi pemberontakan untuk menghapus Zodiac Crusaders.
"M-Maaf..." Shinobu menundukkan kepalanya selagi menggaruk-garuk rambutnya, ia sempat terkekeh pelan karena Koizumi terus mencoba untuk membangunkan sepupu kecilnya selama sepuluh menit.
"Ternyata kamu sulit juga untuk di bangunkan ya... apakah kemarin sulit untuk tidur sampai badai itu terus membangunkan dirimu?" Tanya Koizumi.
"Anuuu... badai ekstrem tadi di sebabkan oleh kesatria Taurus... aku sendiri melawan dirinya di pukul tiga pagi, cukup menyulitkan tapi aku berhasil..." Kata Shinobu.
Mereka semua tercengang ketika mendengar Shinobu bertarung sendirian pada pukul tiga pagi di cuaca yang sangat ekstrem yang mampu menyebabkan kesehatannya tidak seimbang.
Koizumi memasang tatapan khawatir karena ia awalnya mengira Shinobu terluka parah tetapi dirinya terlihat biasa saja karena kemampuan cahayanya.
Setiap matahari terbit dan memancarkan cahayanya maka tubuh Shinobu akan kembali sempurna dan pilih.
"Kesatria Taurus... jadi dia penyebab cuaca yang kemarin itu ya?"
"Kebetulan kami juga berpapasan dengan kesatria lainnya, kesatria Gemini." Koizumi berdiri lalu ia membantu Shinobu untuk bangun dan keluar dari dalam lubang itu.
"Kakak juga ya... kemampuan kesatria Taurus itu cukup menyebalkan jika aku harus jujur, ia dapat memanipulasi cuaca sesukanya menggunakan awan palsu yang terus menyebar."
"Sepertinya setiap kesatria zodiak memiliki peliharaan yang melambangkan zodiak itu sendiri seperti kesatria Taurus itu sempat melepaskan banteng untuk menyerang diriku."
"Banteng itu sangat kuat... aku melihat dirinya menghancurkan satu gunung dengan tabrakan itu... sungguh mengerikan." Kata Shinobu yang melihat beberapa perban terpasang di tubuh Koizumi.
"Kakak terluka... A-Apakah kesatria Gemini itu sulit...? Anuu... kemampuan seperti apa yang ia gunakan?" Tanya Shinobu penasaran.
"Kemampuannya cukup kuat... hanya saja dia memiliki daerah kekuasaan sendiri yaitu dunia mimpi, bisa di bilang ia mengendalikan segala mimpi."
"Kedua gadis kecil itu tidak memilih target yang salah..."
"...mereka tahu bahwa menjebak Konomi dan Ako adalah pergerakan buruk karena mereka dapat menggunakan kemampuan arwah untuk melarikan diri dunia tersebut dan melawan kedua kembar itu."
"Untungnya kita berhasil berkat bantuan Hinoka... kemampuan realitas yang di campur dengan ilusi." Koizumi menatap Hinoka yang sedang membasuh wajahnya sampai ia mulai bermain-main dengan kedua saudara itu.
"Begitu ya... dunia mimpi, sayang sekali... jika saja aku bangun dan menyadarinya maka The Mind akan membebaskan kalian." Shinobu menurunkan telinganya, menyesal karena tidak bisa membantu.
Koizumi mengelus kepala Shinobu, "Bantuan itu terbatas, Shinobu, jangan selalu berpikir bahwa bantuan akan selalu ada dan bisa di lakukan."
"Kau sedang melawan kesatria Taurus itu bukan? Melihat dirimu menang sampai berhasil mengalahkan Tauros itu membuat diriku bangga." Koizumi menepuk kepala Shinobu pelan-pelan.
"Kemana dia sekarang?" Tanya Koizumi.
"Aku melemparnya keluar angkasa..."
"Ehh?" Koizumi memasang tatapan kaget ketika mendengar Shinobu berhasil menyelesaikan musuhnya tanpa memberi rasa belas kasihan seperti biasanya.
"Kau menyelesaikan pekerjaanmu...?"
"Hm~ Mama bilang kepadaku untuk menghabiskan mereka yang sudah membuatmu kesal, Koneko merasa sangat kesal dan frustrasi ketika menahan cuaca dingin..."
__ADS_1
"...tanpa berpikir dua kali, aku langsung memukulnya sampai keluar angkasa, mungkin ia masih meluncur di luar angkasa yang tidak memiliki batasan apapun." Shinobu terkekeh selagi menggerakkan ekornya.
"Perkataan itu... apakah kekuatan Shinobu sudah mencapai [Universal Level] dalam umur empat tahun...?" Ungkap Koizumi yang terkejut dengan musuhnya yang ia luncurkan keluar angkasa.
Shinobu melangkah menuju danau untuk membasuh wajahnya, ia melihat Ako yang menyambut dirinya dengan ucapan selamat pagi sampai Shinobu menjawabnya dengan senyuman lembut.
"Konekooo~" Hinoka mulai membasuh wajah Shinobu dengan air sungai itu sampai ia terkekeh lalu membalas serangan itu dengan menggerakkan ekornya untuk menyiratkan air padanya.
"Te-he~ Akhirnya kamu bangun juga ya... Koizumi mencoba membangunkan dirimu selama sepuluh menit... ternyata kucing memang tidur selama itu ya."
"Aku mengantuk... ahahaha..." Shinobu terkekeh pelan, ia melihat perban yang terpasang di tubuhnya juga.
Shinobu seketika mengingat tentang kemampuan penyembuhan itu yang dapat membantu memulihkan luka mereka, ia mulai menggenggam kedua tangan Hinoka.
"Mmm? Kenapa? Mau ciuman?" Tanya Hinoka yang mulai mendekati wajahnya tetapi Shinobu langsung menghalang wajahnya menggunakan ekornya.
"Ti-Tidak...!"
"Sunshine!"
Shinobu langsung memulihkan semua luka Hinoka dengan kemampuan cahaya matahari, Hinoka terkejut seketika karena ia mendapatkan pemulihan yang terasa begitu ringan.
"Ternyata sihir pemulihan itu tidak buruk juga ya~ terima kasih, Koneko~" Hinoka mengelus kepala Shinobu lalu ia melihat Koizumi mendekati mereka.
"Shinobu... aku juga..." Koizumi mengulurkan lengan kanannya, Shinobu mulai menggenggam kedua tangan mereka untuk memberikan berkah sinar matahari.
"Sunshine!"
Koizumi dan Hinoka mendapatkan pemulihan yang cukup untuk melanjutkan perjalanan selama beberapa jam, pergerakan mereka juga terasa lebih ringan dari sebelumnya.
"Kalau begitu kita akan memulai perjalanan menuju kerajaan selanjutnya..." Seru Koizumi sehingga ia melihat Shinobu mulai memulihkan kondisi kedua saudara itu.
"Kakak, kita tidak membutuhkan kuda untuk mempercepat perjalanan..." Shinobu mulai menunjuk semua pohon yang ia lihat.
Semua daun emas itu membentuk lima ekor kuda yang sudah siap untuk di tunggangi, mereka semua terkesan melihat Shinobu dapat menciptakan hewan dengan dedaunan itu.
"Uwahhhh!" Hinoka mulai bertepuk tangan, kemampuan manipulasi daun ternyata cukup berguna dalam keadaan tertentu.
Hanya saja durabilitas yang di miliki bisa saja hancur lebih cepat oleh sihir api yang kuat, Shinobu mulai naik ke atas kuda yang paling tengah lalu ia memberinya sebuah usapan di kepala.
"Aku tidak menyangka kamu dapat melakukan manipulasi daun sejauh ini, hebat juga..." Koizumi mulai menunggangi kudanya selagi menatap Shinobu.
"Nenek mengajarkan diriku tentang sihir daun emas karena kemampuan yang aku kuasai dengan sempurna hanya daun sedangkan cahaya melalui sinar matahari."
"Anuu... Aku juga ingin... bisa menggunakan sihir Crimson..." Shinobu terkekeh pelan sampai ia menerima pujian lainnya dari Konomi, Ako, dan Hinoka yang membuat wajahnya memerah.
"Apakah kamu bisa... menciptakan sesuatu yang lebih hebat dari ini, Shinobu?" Tanya Ako.
"Mm~ Bisa... hanya saja... membutuhkan imajinasi yang kuat..."
"Hebat sekali ya, aku yakin kamu ketika sudah besar dapat menciptakan satu planet hanya menggunakan daun emas saja.
"E-Ehh?!"
Koizumi hanya bisa diam selagi memperhatikan Shinobu, "Suatu saat nanti... ia sudah jelas akan menjadi saingan terberat yang aku hadapi."
"Sama seperti hubungan yang Ayah miliki dengan saingannya yaitu Ayah Shinobu, Shiratori Shuan, aku akan tetap melanjutkan urutan kemenangan itu demi membanggakan dirinya..." Koizumi merasa termotivasi untuk bertambah kuat.
"Kalau begitu, mari kita pergi secepat mungkin." Koizumi mulai menjalankan kuda.
Perjalanan mereka kembali di mulai, kali ini tujuan utama mereka hanya pergi mengunjungi kerajaan Leonial untuk membasmi semua Kesatria zodiak itu dan mencari tahu siapa yang memperkerjakan mereka.
Penyihir di balik semua ini masih misterius, Koizumi berharap bisa mencari tahu nama atau sedikit identitasnya agar rasa penasarannya bisa hilang.
__ADS_1
Perjalanan mereka berjalan cukup lancar selama berjam-jam, setiap kerajaan yang mereka kunjungi langsung bertemu dengan takdir pengakhiran mereka.
Mereka semua membunuh semua penduduk di dalamnya sedangkan Shinobu membebaskan semua sandera itu sendirian, hanya keempat gadis pemberontak itu yang menyelesaikan pemberontakan mereka.
Hinoka mengakhirinya dengan mengubah semua bangunan di dalam kerajaan itu menjadi ledakan besar sampai mereka berjalan maju ke depan dengan kuda yang mereka tunggangi tanpa melihat ledakan di belakang.
Sejarah mengatakan bahwa Legenda yang tidak melihat ledakan dan tetap maju ke depan adalah Legenda terkeren di seluruh sejarah yang pernah ada.
"Aneh sekali... kita belum berpapasan dengan kesatria lainnya." Konomi mulai berbicara.
"Berhati-hati lah... tetap fokus dan jangan sekalipun lengah dengan apapun karena kemampuan mereka sangat misterius dan unik." Jawab Koizumi.
"Intinya kita harus tetap memperhatikan sekeliling kita, semoga saja kemampuan kesatria zodiak yang tersisa itu tidak menyulitkan."
"Seingatku... masih terdapat dua empat kesatria yang masih hidup, salah satunya memilih kemampuan racun kalajengking..."
"...kemampuan tak kasat mata..."
"...penyihir dengan kemampuan sihir yang misterius..."
"...serta Kesatria yang dapat melakukan teleportasi."
"Empat yang kamu... ketahui ya, Koizumi..." Kata Ako, ia akan mengingat keempat kesatria itu dan mencari cara untuk mengalahkannya.
"Aku sudah pernah melawan mereka, bisa di bilang cukup kuat sampai kalian harus tetap menjaga pertahanan itu agar tidak terkecoh dengan serangan mereka."
"Intinya kesatria tak kasat mata dan kalajengking itu adalah mangsaku..." Koizumi mengepalkan kedua tinjunya, menyimpan rasa dendam karena ia tidak menyelesaikan mangsanya.
"Tujuh kesatria tersisa."
Shinobu mulai berbicara karena ia mengetahuinya melalui pikiran Tauros yang sempat mendapatkan pemberitahuan dari Leon.
"Tujuh kesatria ya..."
"...kita sudah dekat untuk membasmi mereka semua!"
***
"Gemu dan Gumi sudah gugur ya... gadis kecil yang malang, ternyata Koizumi memang tidak memandang lawan seperti apapun itu."
Leon berbicara selagi menggerakkan kedua ototnya, ia sudah bersiap untuk berhadapan dengan seseorang yang ia inginkan yaitu Shinobu, Leon menatap keluar jendela selagi memasang tatapan serius.
"Lima nyawa kesatria yang gugur... sebentar lagi, konstelasi zodiak... lima..." Leon menoleh ke belakang, melihat seluruh kesatria sudah berkumpul selagi berlutut.
"Habisi mereka semua... jika bisa bawa Shinobu kepadaku atau biarkan perjalanan yang ia hadapi berjalan lancar sampai ia satu-satu gadis yang mengunjungi kerajaan ini."
"Kalian bebas membunuh siapa pun di antara keempat gadis itu kecuali Shinobu... mengerti?"
""Siap, pemimpin!""
"Jangan sampai kita mengecewakan seorang penyihir yang sudah membayar kita demi melakukan pekerjaannya, kita sebagai Kesatria zodiak harus bisa membanggakan!"
""Ya!!!""
"Keguguran apapun itu... tidak ada yang namanya sia-sia bagi kita sebagai bangsa Legenda dan Kesatria, nyawa kalian akan hidup di dalam tubuhku..."
"... pengorbanan kalian tidak akan sia-sia..."
"mereka yang sudah mati telah hidup di dalam diriku dengan konstelasi...!" Seru Leon sampai tubuhnya mengeluarkan lambang Gemini, Cancer, Taurus, Aries, dan Aquarius.
"Legends Never Dies...!!!" Seru Leon.
""LEGENDS NEVER DIES!!!""
__ADS_1