
Tengah malam, badai hujan masih terjadi bahkan bertambah lebih buruk dari sebelumnya, daratan sampai membuka dan mengubah wilayah itu yang asalnya dipenuhi dengan hutan dan kehijauan dari daun.
Wilayah itu sekarang bisa di bilang sebagai wilayah es yang sangat dingin karena badai hujan yang terus terjadi, semua itu disebabkan oleh seorang kesatria zodiak dari Taurus yang memiliki kekuatan untuk memanipulasi cuaca semaunya.
Tauros bersama kesatria zodiak Gemini yaitu Gumi dan Gemi masih menunggu salah satu dari kelima gadis itu untuk keluar dari dalam lubang itu untuk buang air kecil.
Suara hujan sudah pasti akan menyebabkan mereka ingin buang air kecil, Tauros melihat Gumi dan Gemi yang sedang tertidur, alam sadar mereka berpindah ke dalam dunia mimpi yang dapat di kendalikan.
Dunia mimpi yang menjebak Hinoka dan Koizumi di dalam sana sehingga mereka berpikir bahwa mereka sedang mengalami mimpi yang biasa saja tetapi mereka tidak akan tahu apa yang terjadi selanjutnya oleh mereka berdua.
Tauros terus mengendalikan cuaca dengan memperbesar badai hujan itu sampai tubuhnya saat ini sudah basah kuyup dan kebetulan ia mulai memunculkan beberapa suara petir.
Suara itu kebetulan membangunkan Shinobu karena kedua telinganya yang sensitif sampai bisa mendengar suara apapun dari jarak yang sangat jauh karena ia adalah seekor kucing.
Sambaran dari petir tadi sempat mengejutkan dirinya termasuk ekornya yang naik, ia membuka kedua matanya dengan ekspresi kaget lalu melihat wajah Koizumi di hadapannya yang sedang tertidur.
"Kakak..." Shinobu memegang erat tangan Koizumi yang terasa hangat lalu ia mulai bangun karena merasa ingin kencing.
Shinobu baru saja sadar bahwa Koizumi memeluknya dalam keadaan tidur bahkan Hinoka juga sama, ia memeluk Koizumi dari belakang dengan ekspresi yang terlihat senang.
Bibirnya dipenuhi dengan air liur mungkin karena memimpikan makanan yang selalu Hinoka sukai yaitu pedas, Shinobu merangkak ke arah lain pelan-pelan.
Dirinya melihat kedua saudara kembar itu saling membagi kehangatan dengan berpelukan, melihatnya saja membuat Shinobu terkekeh sampai ia melihat pin Koizumi yang menunjukkan pukul tiga malam.
"Uck..." Shinobu tersipu merah karena ia sudah tidak bisa menahan rasa untuk kencing.
Shinobu berdiri lalu melihat tanah yang membeku itu, melihatnya saja membuat dirinya kaget seketika karena cuaca buruk itu masih belum berhenti.
Badai hujan bertambah semakin kencang bahkan setiap tetesan air yang mengenai darah akan mengubahnya menjadi es, Shinobu melompat keluar lalu melindungi tubuhnya dengan cahaya matahari.
Semua tetesan hujan yang mengandung es itu berubah menjadi air hangat ketika mengenai tubuhnya, ia bergegas pergi menuju pohon besar yang ia lihat di hadapannya.
Kabut masih terlihat begitu tebal sampai Shinobu tidak bisa melihat apapun, ia terus maju ke depan dan mencari tempat yang cocok untuk kencing.
Beberapa menit kemudian, ia berhasil menggali sebuah lubang lalu dirinya melihat sekeliling dan tidak melihat siapa, Tauros mendengar sebuah pergerakan dari jarak depan.
Sepertinya seseorang sudah menginjak perangkap yang ia pasang selama berjam-jam, "Bagus sekali... aku menemukan mangsa yang cocok..."
"...Shinobu Koneko." Tauros menjilat bibirnya sendiri karena tidak sabar untuk Shinobu yang sudah mati dengan memanggang dirinya di atas api yang panas.
"Fueehhh... g-gawat..." Shinobu menyadari kedua lengannya yang membeku karena cuaca buruk itu bahkan sistem Tech tidak bisa ia hubungi karena menghadapi gangguan.
Satu-satunya hal yang dapat ia gunakan adalah kacamata itu, ia mulai menyentuhnya sampai temperatur mulai berkurang secara drastis sampai tetesan hujan itu mampu mengubah apapun menjadi es kristal.
"A-Apa... apa-apaan... dengan cuaca dingin ini..." Shinobu memakai kembali celananya lalu ia merasa lega seketika sampai pendengaran mengalami gangguan dengan suara badai dan kabut.
Telinga Shinobu bergerak seketika sampai insting kucingnya bisa merasakan sebuah bahaya yang mendekat, ia mulai menatap ke depan dan mendengar sesuatu seperti langkahan.
Shinobu mencoba untuk kembali tetapi ia tidak tahu harus pergi kemana karena kabut bertambah semakin tebal bahkan ia bisa melihat banyak sekali pohon es kristal di sekelilingnya.
__ADS_1
"M-Mustahil... A-Aku sudah menandakan jalan pulang tapi..." Shinobu memasang tatapan kaget sampai ia mulai kehilangan jarak untuk kembali ke dalam tempat perlindungan itu.
Jika sihir sinar cahayanya tadi yang menciptakan pohon dan dedaunan sebagai penanda hilang maka tidak salah lagi bahwa semua itu disebabkan oleh seseorang yang memiliki sihir.
Cuaca tidak mengandung sihir tetapi Shinobu bisa merasakan sihir berbeda di dalam pohon kristal itu, seseorang berniat untuk menyerang dirinya yang berada di kondisi buruk.
Penglihatan dan Indra Shinobu terus terganggu karena cuaca itu bahkan kedua lengannya terus membeku sampai ia pelan-pelan maju mengikuti pohon kristal itu untuk kembali ke dalam lubang.
Ketika Shinobu menemukan sebuah cahaya dari api di dalam lubang tersebut, ia bergegas lari ke depan tetapi tubuhnya menerima satu tabrakan dari sesuatu yang keras sampai ia terpental ke belakang.
Kabut dan angin kencang itu sampai mendorong dirinya ke arah lain, menjauhi lubang tersebut sampai Shinobu kehilangan arah dan dikejutkan karena tabrakan yang berhasil menghancurkan lengan kirinya.
"A-Apa itu...?! T-Ternyata benar... musuh... jangan-jangan kesatria zodiak itu mengincar dirimu dengan menjebakku sekarang...?" Ungkap Shinobu yang terlihat panik.
Kepanikan itu mulai ia singkirkan dengan menepuk kedua pipinya beberapa kali menggunakan satu tangan sampai ia mencoba untuk menahan kacamatanya agar tidak jauh.
"Tech, apakah kamu melihatnya tadi...?"
"Tidak, putri kecil... hanya saja kerusakan tadi di sebabkan oleh sesuatu yang keras dengan kandungan kekuatan murni besar di dalamnya."
"Lokasi Anda dengan lubang persembunyian itu jauh..."
Shinobu hanya bisa diam, kemungkaran besar seseorang yang menabrak dirinya adalah kesatria zodiak itu bahkan ia bisa melihat cuaca bertambah semakin ekstrem dan tak terkendali.
"Jika aku diam saja... dan melarikan diri... itu bukan cara yang selalu Legenda lakukan..."
"...aku harus melawan... menyingkirkan musuh itu dari wilayah ini agar tidak mengganggu mereka yang sedang beristirahat..." Shinobu mencoba untuk menghubungi satelit itu menggunakan kacamatanya.
"... ...!!!" Shinobu melancarkan matanya lalu ia melepaskan sinar cahaya ke depan sampai melihat banyak sekali jejak di atas kristal itu.
Shinobu bergegas melarikan diri ke arah timur sehingga semua jejak itu mulai mengejar dirinya sampai ia sekarang sadar bahwa musuh yang ia lawan memiliki jumlah yang banyak sekali.
Mereka juga sulit untuk di lihat karena terhalang oleh kabut atau kemungkinan besar melakukan kamuflase, ia mencoba untuk menggunakan The Mind secara bertahap agar bisa mengalahkan musuhnya dengan baik.
"Musuh yang mencoba untuk berhadapan denganku... aku perlu melawannya sampai bisa menghentikan dirinya..." Shinobu terus melangkah cepat menggunakan kedua kakinya.
"Ck... sepertinya dia dapat menyadari setiap banteng yang aku lepaskan dengan mudah, tetapi aku yakin dia tidak tahu keberadaan mereka." Tauros memperhatikan pengejaran itu di atas awan buatannya.
"Kaki buatan itu seharusnya membeku tetapi... bantuan dari sinar cahaya itu berhasil melindunginya, aku harus menahan dirinya agar tidak melarikan diri lebih jauh..."
Shinobu maju ke depan lalu ia memejamkan kedua matanya untuk mengeluarkan sihir yang dapat membantu dirinya untuk berpikir selagi melarikan diri.
"Golden Leaf...!" Seru Shinobu sampai tubuhnya melepaskan cahaya emas yang membentuk dedaunan, semua daun itu langsung berubah menjadi kuda yang mengangkat tubuh Shinobu.
"A-Apa...?!" Tauros tercengang ketika melihat Shinobu dapat menciptakan seekor hewan menggunakan daun saja.
"Dalam sejarah apapun... tidak ada yang namanya cuaca ekstrem seperti ini, tetesan air dapat berubah menjadi es dan hangat..."
"...kabut juga bahkan sempat membentuk bongkah es yang mencoba untuk menghalang jalanku." Shinobu berbicara selagi berpikir, ia melirik ke belakang.
__ADS_1
Setiap jejak langkah itu terlihat jelas seperti sepatu besi yang di kenakan oleh kuda, ia mulai memanggil tangan barunya melalui satelit dengan kecepatan penuh.
Tauros yang berada di atas langit tercengang ketika melihat sesuatu seperti bintang jatuh ke arah Shinobu, tangan barunya itu langsung melepaskan jumlah cahaya besar yang mampu menyinari terang wilayah di belakangnya.
"Ahh...!" Shinobu menyadari sesuatu tentang kabut yang tidak menghilang ketika terkena cahaya itu, warnanya tidak berubah menjadi emas melainkan sesuatu seperti menghalang cahaya itu.
"Ternyata kamuflase... hampir sama seperti tubuh yang di cat dengan sesuatu agar bisa menyamakan sebuah warna atau bentuk..." Ungkap Shinobu.
"Bentuknya juga bahkan jauh lebih kecil dan pendek di bandingkan kuda ini... pasti bukan kuda..." Pilihan pertama Shinobu mulai ia tolak.
Shinobu memegang erat kuda yang bergerak dengan cepat itu lalu ia menoleh ke belakang, menyinari sebuah cahaya matahari melalui tapak kanannya sampai ia melebarkan kedua matanya.
Pikiran hewan yang mengejarnya berhasil Shinobu baca seperti buku, tebakan yang ia katakan di dalam hatinya ternyata benar, seekor hewan bertanduk agresif yang bergerak cepat.
Cuaca ekstrem seperti ini tidak mempengaruhi dirinya sama sekali bahkan tabrakan tadi memiliki kekuatan yang cukup untuk menghancurkan gunung, bangunan, dan berpotensi untuk meretakkan planet menjadi dua.
Kecepatannya bertambah semakin cepat setiap cuacanya bertambah ekstrem, Shinobu tidak sempat untuk membaca semuanya karena sihir The Mind yang terbatas.
"Seekor banteng... sungguh mengerikan..." Shinobu mulai menyentuh kepala kuda itu agar pandangan bercahaya dapat membantu dirinya untuk bergerak tanpa menabrak sesuatu.
"Seperti biasanya, putri kecil... kerja yang bagus, Anda memang mirip seperti nyonya Kou yang jenius." Puji Tech yang melihatnya.
"Pergerakan banteng yang menyetarai 120km per jam..." Ungkap Shinobu sehingga ia mulai melepaskan Lenergy besar ke dalam kuda tersebut.
Kuda itu langsung bergerak sangat cepat melebih 150km per jam, berhasil untuk menghindari semua banteng itu sampai ia dapat memikirkan sebuah rencana untuk mengalahkan mereka.
Informasi yang ia baca juga mengatakan sesuatu tentang pengguna, "Sepertinya setiap kesatria Zodiak... memang memiliki peliharaan..."
"...untungnya kecepatan banteng itu terbatas jadi aku dapat memiliki waktu untuk berpikir dan merancang strategi." Shinobu meminta kuda yang ia tunggangi untuk melompat ke atas gunung.
Kuda itu berhasil melompat tinggi dan mendarat dengan aman, Shinobu melirik ke belakang dan melihat wilayah di hadapannya penuh dengan kabut dan awan hitam.
"Kemampuan yang dapat mengendalikan cuaca... atau menciptakan..." Shinobu bisa melihat sinar bulan di atas langit dan awan asli.
Semua badai hujan, kabut, dan cuacanya itu ternyata di sebabkan oleh awan palsu yang berada di jarak lebih rendah di bandingkan awan yang asli.
BAAAMMMM!!!
Shinobu melebarkan matanya ketika gunung yang ia injak retak menjadi dua karena menerima tabrakan dari banteng, awan palsu itu bahkan sampai menyerah ke arah dirinya dan menyebabkan badai yang lebih besar.
"Pergerakan banteng itu ternyata bisa bertambah cepat ya..." Shinobu mulai meminta kuda itu untuk melompat ke depan lalu ia menoleh ke belakang.
"Sunshine!" Shinobu melepaskan cahaya matahari yang berhasil menyatukan kedua gunung yang terbelah itu menjadi satu dan utuh kembali.
Kuda itu mendarat di atas tanah yang licin sampai tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya, pada akhirnya kuda tersebut terjatuh sampai berseluncur ke depan bersama Shinobu.
"Aku melupakan sesuatu tentang daratan ini yang licin karena kristal es... berbahaya sekali..."
"... ...!!!" Shinobu tercengang ketika melihat setiap daratan meninggalkan ratusan jejak kaki banteng yang berbeda, itu artinya ia di kepung.
__ADS_1
Shinobu tidak bisa melakukan apapun karena kudanya masih berseluncur ke depan, jika ia tidak melakukan sesuatu maka perutnya akan menerima tabrakan itu.
"G-Gawat..."