Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 472 - Pikiran yang Melompat


__ADS_3

Rokuro menatap cincin yang baru saja ia dapatkan entah darimana, cincin yang sama persis ia dapatkan dari Korrina. Kemungkinan besar penglihatan nya tadi benar-benar melihat Korrina yang asli.


"Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk memberikannya... Aku harus menentukannya lain hari..." Rokuro menyimpan cincin itu ke dalam saku celananya lalu ia menatap Haruka yang masih tertidur.


"Anak surga ya... Ironis sekali, seorang anak surga berpacaran dengan anak pendosa." Rokuro bangkit dari atas kursi karena ia tidak ingin menghabiskan waktu dengan tidur, ia ingin melakukan latihan kecil seperti push-up.


***


Honoka baru saja kembali mengambil beberapa camilan untuk dinikmati bersama teman-temannya, ia kembali ke tempat dimana Minami dan Hana menghilang begitu saja.


"Mm...?" Honoka mendengar sorakan yang begitu keras di belakangnya, ia bisa melihat banyak sekali murid yang sedang berdansa dan melakukan goyang yang begitu ekstrim karena terlalu senang dalam pesta yang sangat meriah ini.


"Ahh... Itu mereka..." Honoka melihat Minami dan Hana yang sedang berdansa di tempat yang lumayan sepi, ia mulai mendekati mereka pelan-pelan lalu mengintip dari tempat yang aman.


"Kau buruk sekali..." Kata Minami karena kedua kakinya terus di injak beberapa kali oleh Hana.


"Ini pertama kalinya aku berdansa dengan seseorang... Bukannya aneh pelayan seperti diriku yang bekerja di restoran berdansa? Papaku tidak pernah menyarankan diriku untuk menarik pelanggan dengan tarian."


"Justru lebih efektif lagi jika kau melakukan sesuatu yang berbeda, suatu hal yang bisa di jadikan sebagai daya tarik untuk para pelanggan datang."


"Mudah untukmu berbicara... Kau sendiri berdansa seperti seorang pemula." Hana terkekeh.


Mereka terus berdansa dengan pelan, mengiring musik yang terdengar begitu lambat. Honoka hanya melihat selagi menikmati pir yang sudah ia kumpulkan.


Kejadian tidak terduga terjadi begitu saja ketika Minami menurunkan ekornya, Hana tidak sengaja menginjak ekor Minami sehingga memunculkan rangsangan kesakitan di seluruh tubuh Minami.


"Sa-Sakit...!" Minami hilang keseimbangan untuk sekejap karena ekornya masih terinjak oleh sepatu Hana, Hana melihat Minami yang terlihat aneh sehingga ia sadar bahwa dirinya terjatuh menuju arahnya.


Pada akhirnya, kedua gadis itu terjatuh di atas lantai karena Minami yang kehilangan keseimbangan terhadap ekornya yang lengan, Honoka tercengang melihatnya bahkan ia sampai mengambil foto mereka.


"Ahh... Maaf, Minami, sakit ya---" Hana melebarkan matanya ketika merasakan sesuatu yang geli di kedua belah dadanya, ia bisa melihat wajah Minami yang menempel di belahan dada itu dengan tangannya yang memegang erat kedua lengannya.


"Mi-Minami... Bangun... Hidungmu itu... Geli..." Hana mencoba untuk bergerak tetapi tidak bisa karena Minami yang berada di atas dirinya, ia mulai panik karena murid lain bisa saja melihat kedua gadis itu yang berbaring di atas dengan posisi yang memalukan.


"Sakit... Mmm... Lembut..." Minami mulai menggosok wajahnya dengan dada Hana sampai ia mulai menahan teriakannya karena Minami saat ini sedang tidak menyadarinya.


"Oi... Minamiii..."


"Kalian sedang apa sih...?" Honoka mendekat dengan sebuah kartu identitas yang sedang merekam kejadian itu secara langsung.


"Hono... Honoka...! Tolong bantu aku...!" Hana menunjuk Honoka yang saat ini sedang merekam, Honoka mulai menarik lengan Minami dan membantu dirinya bangun sehingga sadar bahwa ia tadi terjatuh di atas Hana.


"Ahh... Maaf, Hana... Salahmu juga menginjak ekorku..." Minami mulai menggerakkan ekornya lalu menyentuhnya, Hana bangun dengan wajah yang memerah karena ia merasa bersyukur tidak ada yang melihat.

__ADS_1


"Kamu seharusnya bisa menjaga ekor itu lebih baik lagi..." Hana mulai menepuk pakaiannya beberapa kali lalu melihat Honoka yang sedang menatap dirinya dengan tatapan serius.


"Kenapa, Honoka...?"


"Hana... Kau tidak bisa berdansa ya..." Honoka memasukkan kartu identitasnya ke dalam saku bajunya lalu ia mulai meraih kedua lengan Hana.


"Ehh...? Kenapa?"


"Biarkan aku membantu dirimu berdansa." Honoka mulai mengajak Hana ke tengah untuk berdansa bersama yang lainnya, Minami hanya bisa melihat dan merasa lega karena tidak berdansa.


"Kalau begitu, aku melihat saja deh." Minami berjalan pergi mendekati kursi sehingga ia di tarik oleh ilusi milik Honoka agar Minami juga bisa memiliki teman untuk berdansa.


"Apa yang kau lakukan...? Aku tidak ingin berdansa..." Kata Minami, ilusi Honoka hanya bisa tersenyum dan bergerak mengiringi irama sehingga Minami mulai kesulitan mengikutinya, ia berharap untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.


Hana mulai tersipu ketika menatap wajah Honoka dari jarak yang sangat dekat, ia terlihat begitu indah dari jarak yang dekat dan ekspresinya terlihat fokus berdansa mengiringi lagu sedangkan Hana hanya mengikuti percakapan Honoka.


"A-Apakah Honoka benar-benar seorang gadis...? Dia terlihat... keren..." Ungkap Hana, ia bisa melihat Honoka menatap dirinya dengan sebuah senyuman selagi memejamkan matanya.


Senyuman dan tatapan itu langsung menusuk dada Hana sampai mengejutkan dirinya, ia tidak bisa melakukan apapun kecuali mengikuti pergerakan Honoka.


Honoka mulai melakukan pergerakan yang pertama dengan menyentuh dagu Hana, "Kucing imutku... Mizuhana... Kau terlihat begitu cantik dan indah seperti bintang yang bersinar malam hari..."


Honoka mengatakannya dengan ekspresi yang terlihat keren sampai membuat Hana dikejutkan dengan banyak kejutan, suaranya itu terdengar begitu menenangkan bahkan jantungnya berdetak begitu cepat.


Hana tidak bisa berkata atau melakukan apapun karena Honoka terus menggoda dirinya dengan menyentuh tubuhnya, Honoka mulai mengusap pipi Hana dengan sebuah senyuman.


"Selama ini aku menyadarinya, Hana. Aku mencintaimu..."


"E-Ehhh...?"


"Mari kita berciuman sekarang..." Honoka mulai mendekati wajahnya dengan Hana sambil menunjukkan bibirnya.


Hana hanya bisa diam dengan kedua mata yang terbuka lebar, tidak memiliki pilihan lain, ia mengorbankan ciuman pertamanya kepada teman masa kecilnya.


Hana menutup kedua matanya sambil menunjukkan bibirnya, menunggu saat-saat dimana kedua bibir mereka bertemu dan saling bersentuhan, dengan suara lagu yang berubah menjadi panggilan.


"Hana..."


"... ..." Hana masih menunggu sebuah ciuman dari Honoka.


"Oi, Hana...!" Honoka mulai memegang hidung Hana erat dan menutup lubang hidungnya agar ia sadar.


Selama ini Hana hanya berpikir dan membayangkan yang tidak-tidak, semua yang ia lihat dan rasakan tadi hanya sekadar adegan yang muncul di dalam pikirannya karena selama ini ia melamun selagi berdansa dengan Honoka.

__ADS_1


"Ahh...! A-Apa!"


"Kau baik-baik saja? Kau terus melamun sampai tidak ingin menjawab ku..." Honoka berhenti berdansa dengan Hana.


Hana menunjukkan ekspresi yang terlihat sangat kaget, ia sangat membenci pikirannya yang selalu melompat kemana-mana, Honoka mulai menatapnya dari dekat.


"Kau juga tadi sempat menunjukkan bibirmu... Apa kamu sariawan?"


"Ti-Tidak...! Aku baik-baik saja---" Suara Hana mulai terhalang oleh suara tepukan tangan meriah dari seluruh murid yang sedang melihat ilusi Honoka dan Minami berdansa begitu serasi sampai mereka melempar satu sama lain.


"Ehh... Itu Honoka juga...?" Hana menunjuk ilusi Honoka dengan wajah yang memerah, ia ingin sekali mati dengan rasa malu yang ia rasakan karena Honoka memang bisa mengubah realitas pikiran menuju hal yang aneh seperti tadi.


"Ahh, hanya sekedar ilusi... Aku tidak ingin meninggalkan Minami sendirian karena pria lain bisa saja menggoda dirinya lagi." Honoka mulai memegang tangan Hana erat.


"Apakah kamu baik-baik saja tadi, Hana? Jika aku tidak membantumu tadi maka kau akan jatuh lagi karena terus melamun." Honoka menghela nafasnya.


"Maaf..."


"Kita istirahat dulu yuk, hari ini lumayan melelahkan juga." Honoka mulai menguap lalu membawa Hana pergi menuju tempat makan karena ia sendiri menyadari Hana yang terus melamun mungkin karena lelah.


Ilusi Honoka mulai melempar Minami menuju tempat makanan dan Minami langsung berputar mendarat di atas lantai dengan pas sampai mengejutkan seluruh murid.


""Dansanya hebat!!!"" Semua murid itu bertepuk tangan secara meriah, Minami hanya bisa tersenyum kecil kepada mereka lalu melarikan diri menuju Hana dan Honoka.


"Dansa tadi hampir setaranya dengan latihan refleks. Hampir sama juga seperti yoga juga." Minami mulai mengambil kantong yang berisi Whiskas di dalamnya, ia langsung memakan semuanya.


"Aku senang kau menikmatinya, kucing emasku..." Honoka mulai mengusap kepala Minami dengan cepat sampai membuat ekornya bergerak cepat.


"Meow~" Minami tanpa sengaja mengeluarkan suara kucing.


"Wah, wah, aku membangkitkan sisi kucingmu sepertinya, Minami." Honoka mencoba untuk memasukkan kedua lengannya ke dalam perut Minami untuk menggaruk-garuk seperti kucing.


Ekor Minami secara refleks menepuk kedua tangan Honoka dengan tatapan datar, "Hentikan, mesum... Jangan seenaknya menyentuh kulitku, aku bukan sepenuhnya kucing pelihara."


"Ahahaha." Honoka mengangkat kedua lengannya, Hana hanya bisa melihat dengan tatapan yang canggung karena adegan memalukan tadi masih ia ingat.


Minami mulai mengusap hidung Hana dengan ekornya sehingga ia bersin, "K-Kenapa... Hehehe, geli, Minami"


"Kamu melamun terus kenapa sih? Dari awal loh..." Minami dan Honoka menatap Hana dengan tatapan bingung sehingga pikiran Hana mulai melompat kemana-mana mengingat adegan memalukan dirinya bersama mereka.


"Tidak apa-apa!!! Jangan di ingatkan...!"


""Hah...?""

__ADS_1


__ADS_2