Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 444 - Baru saja di Mulai


__ADS_3

Minami melebarkan matanya dan ia tiba-tiba berada di atas lautan, sepertinya semua murid mengalami perpindahan ke tempat yang berbeda dan dirinya saat ini berada di laut bersama yang lainnya.


Hana mulai mengontrol ombak untuk membantu dirinya bersama teman ke pantai yang berada di hadapan mereka, setelah Hana menyuruh seluruh teman-temannya untuk naik ke permukaan dan berlindung di hutan yang berada di hadapan mereka.


Minami mencoba untuk mencium aroma sekitarnya dan masih belum ada pertanda musuh yang muncul, Hana meminta Lyazen dan Marie untuk mengumpulkan makanan yang mereka temukan seperti buah-buahan.


Honoka mulai menunjuk ke depan sehingga ia menciptakan rumah menggunakan sihir realitas, mereka semua tercengang ketika melihat Honoka langsung menggunakan sihir realitas untuk membantu mereka bertahan.


"Aku akan melakukan ini untuk terakhir kalinya... aku menyiapkan seluruh kebutuhan yang kalian dapat gunakan untuk satu minggu ini, semuanya sudah ada di dalam rumah kecil itu yang terbuat dari kayu."


"Atapnya juga terbuat dari daun-daun jadi semua murid menganggap ini sebagai rumah yang baru saja kita buat."


Honoka mulai menghampiri Hana lalu ia memberikan sebuah alat yang pelacak tetapi hanya memperlihatkan satu titik merah di dekat mereka.


"Gunakan alat ini jika kalian ingin kembali ke dalam rumah itu... untuk sekarang, kumpulkan lah poin sebanyak-banyaknya dan cari Shelter atau Flag agar kita bisa mengamankan poin yang berjumlah besar."


"Mengamankan sebuah Shelter saja mendapatkan 50 juta poin sedangkan mendapatkan Flag juga akan memberikan kita sebanyak 10 juta poin..."


"...jika kita mampu mempertahankan Flag itu dengan mengibarkannya di Shelter maka kita akan mendapatkan bonus poin 10 juta poin setiap hari yang sudah berlalu."


"Aku memiliki harapan besar kepada kalian semua, semoga beruntung, aku akan kembali nanti jadi jangan hiraukan diriku karena aku juga akan berhati-hati." Honoka berjalan pergi.


Mereka semua sudah mengetahui tentang rencana Honoka yang akan berjuang sendirian, ia mencoba untuk mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya sendirian karena ia tidak ingin menyusahkan teman lainnya.


"Semoga beruntung, Honoka!" Kata Hana.


Honoka mengangguk lalu ia mengacungkan jempolnya dan melompat ke atas pohon lalu pergi meninggalkan mereka semua karena kemampuan yang baru saja ia gunakan tadi [Heaven's Reality] mampu mengubah semua peta ini menjadi sesuatu yang berbeda, ia sekarang sudah mengenal seluruh tempat dengan jelas.


"Seperti biasanya keturunan Comi memang egois ya." Kata Lyazen.


"Begitulah... aku mempercayai Honoka kok."


"Baiklah, untuk sekarang..." Hana memeriksa rumah itu dan ternyata cukup sempit, hanya cocok untuk digunakan sebagai tempat tidur oleh lima orang.


Itu artinya mereka harus mengumpulkan ranting untuk membuat sebuah api unggun agar bisa memasak dan makanan yang diberikan Honoka semuanya mentah, setidaknya masih terdapat beberapa buah yang berserakan di sekitar rumah itu.


"Sepertinya poin yang kita perolehi ketika mendapatkan Flag dan Shelter cukup besar ya... sekarang kita hanya perlu mencari harta karun dan poin yang berserakan dimana-mana."


Lyazen mengeluarkan kartu identitasnya lalu ia memilih pilihan potret untuk melihat sekitar dan ia sudah menemukan beberapa poin sedikit 10.000 dan 1.000.


Walaupun sedikit setidaknya lama-lama bisa menjadi bukit, Marie dan Minami mulai mengumpulkan beberapa ranting untuk dijadikan api unggun nanti sedangkan Hana membaca peraturan yang dapat mengurangi poin.


Menghancurkan Shelter yang sudah diperoleh seperti tidak akan mendapatkan pengurangan poin sedangkan menghancurkan Flag akan mendapatkan pengurangan poin besar dan kemungkinan akan di keluarkan secara langsung.

__ADS_1


Hana sontak kaget ketika tidak ada peraturan pengurangan poin ketika membunuh seorang murid, benar-benar ujian yang berat, entah apa yang direncanakan Morgan tetapi ia hanya peduli dengan bakat hebat murid dalam bertahan hidup.


Hana masih bisa mengontrol emosi tetapi ia khawatir dengan Minami yang bisa saja mengamuk kapan pun karena ia tidak ingin Minami kehilangan kendali lagi karena ia bisa saja menarik musuh karena teriakannya yang sangat keras.


Hana mengeluarkan kartu identitas lalu ia mencoba untuk melihat peta dan kartu itu tidak menunjukkan peta, ia langsung tercengang ketika melihatnya tetapi ia masih memiliki rencana di balik pundaknya.


Hana memilih pilihan gambar tetapi pilihan itu juga di larang sehingga ia sekarang sadar bahwa lokasi tempat itu seharusnya di ingat-ingat, Hana tidak begitu ingat tetapi Minami mungkin saja mengingatnya.


"Mi-Minami!" Panggil Hana.


"Yaaa?"


"Apakah kamu masih ingat peta lokasi yang kita tempati sekarang?"


"Awalnya aku ingat tetapi... entah kenapa kita seperti berada di tempat yang sangat berbeda---"


Minami mulai melompat ke arah Marie lalu memeluk dirinya untuk menyelamatkannya dari serangan listrik yang hampir saja menyambar tubuhnya dan Marie.


Listrik itu mulai memantul ketika terkena dengan pohon seperti dikendalikan oleh sesuatu, listrik itu langsung melesat menuju arah Hana, Minami langsung melepaskan elang emas untuk menahan serangan listrik tersebut.


Bammmm...!"


"Baru saja dimulai... kita sudah diserang."


Hana menatap ke depan dan tidak melihat siapa pun bahkan Minami juga tidak bisa mencium aroma musuh melainkan hutan yang sudah terbakar karena terkena petir yang begitu besar.


Ia mulai melompat ke belakang dan berhasil menghindari serangan listrik tadi sehingga ia melihat listrik itu bergerak seperti dikendalikan tetapi murid yang mengendalikan listrik itu tidak terlihat dimana-mana.


Listrik itu mencoba untuk menghancurkan rumah mereka tetapi Lyazen mulai menggunakan sihir untuk menciptakan sebuah objek batu yang berwarna biru dan berhasil membuat listrik itu terpental ke atas langit.


Melihatnya saja membuat Minami langsung melompat ke atas untuk mencari murid yang memiliki kemampuan listrik berbahaya itu, ia melihatnya dan murid itu adalah seorang pria botak yang sedang memegang dua besi tajam yang melepaskan listrik itu.


Dua besi tajam itu juga dapat mengontrol listrik tersebut seperti remote pengendali, dengan cepat Minami melompat ke depan sehingga Hana mengikuti dirinya lalu meminta Marie dan Lyazen untuk menjaga rumah mereka.


Mereka setuju, Hana bisa melihat Minami yang bergerak begitu cepat bahkan sudah meninggalkan dirinya. Pria yang mengendalikan listrik itu tercengang ketika melihat Minami berada di atas langit, membuka mulutnya lebar untuk melepaskan laser cahaya.


Dengan cepat pria itu mulai melepaskan petir besar melalui kedua besi itu sehingga saling beradu dengan gelombang emas, hasilnya kedua sihir itu meledak dan membuat Minami terjatuh di hadapan pria itu.


Pria itu hanya bisa tersenyum lalu melepaskan listrik lainnya yang mulai mengikuti Minami bahkan sampai bisa memantul dengan pohon dan daratan, membuat Minami lengah dan terkena oleh semua listrik itu sampai tersambar.


"Ck...! Sial!!!"


Minami mengayunkan cakarnya ke arah pria itu tetapi ia berhasil menghindarinya dan mulai menancapkan kedua besi itu ke dalam tanah.

__ADS_1


Ia melepaskan listrik yang sangat besar ke dalam tanah dan semua listrik itu mulai mengalir ke dalam tubuh Minami dan menyambar tubuhnya sampai membakar hutan di sekitarnya.


Kesakitan yang diterima oleh Minami cukup parah jika hutan di sekitarnya ikut terbakar karena hutan itu seperti sumber kekuatan yang ia miliki dan jika hutan hancur maka Minami akan menerima kesakitan yang sama dengan hutan itu.


"Arrrggghhhhh!!!"


"Hahahahaha! Sepertinya sihir cahaya yang kau miliki tidak dapat membantu dirimu untuk menghindari sihir listrik itu..."


"Gerakan sihir listrik yang aku lepaskan tidak akan bisa kau lawan dan hindari begitu saja, Shiratori Minami!"


"Aku, seorang murid angkatan tiga dari kelas 3D yang bernama Eldure Whiterice akan menyambar dirimu dengan listrik volt tinggi!!!" Seru murid ras Beast yang bernama Whiterice.


Whiterice tiba-tiba dikejutkan dengan satu cakaran yang mengenai wajahnya, ia tidak menyangka Minami masih bisa bergerak walaupun tubuhnya dipenuhi dengan aliran listrik.


Serangannya bertambah cepat bahkan sampai membuat Whiterice tercengang.


"S-Sialan...! Kenapa kucing brengsek ini memiliki serangan yang begitu cepat dari sebelumnya!?"


"Jangan banyak bacot...!!! Kau menyerang maka aku balas dengan serangan lebih dahsyat!!! Golden Nature!!!" Seru Minami keras.


Ia melancarkan serangan cakar yang membuat Whiterice menjerit keras bahkan sampai meninggalkan beberapa luka tebas yang memancarkan cahaya emas di sekitarnya.


Hana yang sedang dalam perjalanannya bisa melihatnya dan ia mencoba untuk terus berlari tanpa memanggil Leviathan karena itu dapat memancing perhatian murid lainnya.


"S-Sial... aku terlalu percaya diri sampai meremehkan seorang anak pahlawan yaitu Shiratori Shira...!"


Minami melancarkan satu pukulan sekarang tetapi Whiterice berubah menjadi listrik lalu ia muncul di sebelah Minami dan berhasil menghantam wajahnya dengan besi itu sehingga tubuhnya mulai dipenuhi dengan aliran listrik yang terus melukai dirinya.


"Arrrggghhhhhhh!!!!!!" Whiterice memasukkan besi itu ke dalam mulut Minami lalu ia menusuk perut Minami dengan besi satunya lagi lalu melepaskan satu tendangan yang mendorongnya ke belakang.


Listrik mulai bertambah besar bahkan kuat sampai skalanya bertambah luas, membuat Minami menjerit kesakitan ketika seluruh listrik itu membuat tubuhnya lumpuh seketika.


"Kau meremehkan sihir listrik yang aku miliki, dasar kucing bodoh!"


Whiterice mengumpulkan kekuatan listrik besar melalui kedua tapaknya tetapi Hana datang dalam waktu yang tepat dengan menciptakan sebuah gelembung lalu melemparnya ke arah Whiterice sehingga kepalanya mulai diselimuti dengan gelembung itu.


"Mfffhhhh!?" Hana mengangkat kedua lengannya sehingga gelembung yang menyelimuti kepala Whiterice mulai menyebar sampai menutup seluruh tubuhnya.


Setelah itu ia mengontrol gelembung itu dengan melemparnya ke arah timur karena ia melihat Minami yang sedang menjerit kesakitan.


Dengan cepat Hana mulai berlutut di hadapan Minami lalu menyelimuti seluruh listrik itu menggunakan gelembung airnya dan membuangnya ke atas langit dengan melemparnya.


Setelah itu ia mulai menyentuh perut Minami dan mencoba untuk memulihkan lukanya, tubuh Minami sudah gosong tetapi ia masih bisa merasakan detak jantungnya bahkan ia masih bisa bertahan ketika menerima semua serangan listrik itu.

__ADS_1


"Minami...! Bangun!!!"


"Jika kau pingsan maka kau akan di diskualifikasi...!"


__ADS_2