Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 671 - Bloodlust


__ADS_3

"Neko Legenda... dulunya bangsa Legenda tipe seperti ini sempat menyebabkan kehancuran yang begitu besar ketika mereka berubah."


Regulus mulai berbicara di dalam istana yang baru saja, ia bisa melihat Diablo dan Satori terlihat tertarik ketika Regulus membicarakan lagi bangsa yang pernah ia bantai habis.


"Kehancuran yang di sebabkan oleh Beast Neko Legenda kan? Potensi mereka tidak bisa terlihat dengan jelas karena amarah mereka yang tidak bisa di kendalikan." Jawab Satori.


"Kau memang raja yang begitu dingin jika membunuh bangsa Legenda dengan potensi tersembunyi yang sulit untuk di keluarkan."


"Hmph, aku tidak menerima Legenda jadi-jadian yang gagal. Ekor dan telinga kucing...? Amarah yang tidak bisa dikendalikan...? Sungguh mengecewakan, sangat lemah!"


Regulus mulai bangkit dan atas takhtanya, ia sudah memutuskan untuk pergi menuju pulau Neko Legenda yang baru saja di temukan oleh pasukannya yang sudah terbantai habis karena menyusup.


"Kau akan membantai kembali Neko Legenda itu? Lebih baik kau bawa salah satunya untuk melihat potensi yang mereka miliki." Ucap Diablo sambil menyilangkan kedua lengannya.


"Aku tidak menerima perintah apapun darimu, Legenda adalah urusanku karena aku adalah raja dari segala Legenda di masa kuno, dan sekarang aku juga akan mendapatkan julukan itu kembali."


"Kau sudah berani ya, Regulus." Diablo menunjuk Regulus menggunakan jari telunjuknya tetapi Satori langsung meraih lengannya itu.


"Hentikan, Diablo. Aku tidak akan memaafkan dirimu jika membunuh salah satu pengikutku, kita mengalami reinkarnasi dengan sebuah tujuan." Satori berhasil menghentikan Diablo.


"Ck, kau sudah menang sejak itu jadi aku akan membiarkannya untuk sekarang, Satori." Diablo menyilangkan kedua lengannya lalu menatap arah lain.


"Neko Legenda di masa ini sangat berbeda, Regulus. Kau bisa saja terbunuh oleh mereka semua..." Satori memperingati Regulus, dan ia melihat Legenda itu mengeluarkan sebuah buah berwarna coklat.


"Aku tidak sempat hidup panjang karena berpapasan dengan Diablo sejak itu..." Regulus menatap buah itu dengan tatapan serius.


"Hoooo... kau akan menggunakan buah itu lagi untuk membantai semua Neko Legenda? Melawan makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya ya..." Diablo terlihat tertarik.


"Sampai sekarang, aku masih merasa penasaran... apakah ancaman yang dulu kau takuti itu masih ada?" Tanya Diablo sehingga Satori mulai menghadapi dirinya.


"Bukannya kau menganggap ancaman itu sama? Aku sendiri tidak ingin berurusan dengan beberapa orang tetapi sebagian dari mereka sudah mati..." Satori duduk di atas lantai untuk melakukan meditasi lagi.


"Beberapa Dewa sudah mati ya...? Termasuk Zoiru?" Tanya Regulus.


"Ya, Zoiru mengalami perpindahan ke suatu tempat yang tidak akan pernah bisa di ketahui. Penyebabnya adalah Neko Legenda, Regulus." Ucap Satori.


Regulus tercengang ketika mendengarnya, seorang Neko Legenda berhasil mengalahkan ancaman yang sangat ia takuti dulunya.


"Neko Legenda itu bernama Shiratori Minami, putri dari Shira yang sudah menyelamatkan seluruh alam semesta dengan mengubah dirinya menjadi pohon emas yang kau lihat itu." Satori mulai menjelaskannya.


"Kau belajar begitu cepat dengan masa sekarang, Legenda... ternyata kau memang menarik seperti biasanya." Kata Diablo.


"Untuk apa diam saja dan melakukan pekerjaan yang kalian selalu lakukan... lebih baik mencari pengalaman dan beradaptasi dengan masa depan ini."


"Tidak ada ancaman yang aku anggap kuat sekarang... kalau begitu, waktunya menyapu semua Neko Legenda itu seperti biasanya." Regulus memasukkan buah itu ke dalam saku celananya.


"Tunggu, Regulus."


"Sekarang apa lagi, Satori!?" Regulus menatap Satori dengan tatapan yang terlihat kesal karena ia sudah merasa sangat tidak sabar untuk menyiksa semua bangsa Neko Legenda.


"Hati-hati dengan seorang Legenda di sana... dia putri Shimatsu Arata dan Phoenix Ophilia, itu artinya dia memiliki makhluk sihir juga."


Ketika Satori membicarakan Arata dan Ophilia, Regulus langsung terdiam sampai ia mengerutkan dahinya karena musuh yang memiliki marga Shimatsu akan membuat keadaan menjadi sulit.


"Shimatsu Arata sudah menjadi pemberontak Legenda yang sangat hebat sejak kecil... jika dia bisa melakukan seperti itu maka bayangkan saja apa yang putrinya lakukan."


"Hmph, aku terpaksa menggunakan buah ini ternyata [Fruit of Primal]." Regulus mengeluarkan buah itu lalu menatapnya dengan tatapan tajam.


"Aku hanya perlu berubah menjadi [Primal Legend] untuk mengalahkan putri dari Arata." Regulus memunculkan listrik besar di sekeliling lalu ia menghilang dengan cepat.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang, Satori?"


"Aku akan mencari kuil Saint..." Satori mulai membenarkan mahkota emasnya itu.


"Dengan topeng dan mahkota itu... kau terlihat seperti seorang Legenda yang berbeda, mahkota itu terlihat menarik..." Diablo mengerutkan dahinya.


"Saint's Crown... iblis seperti dirimu tidak perlu mengetahui apa kegunaannya." Satori kembali melakukan meditasi tanpa memedulikan Diablo.


Diablo berjalan keluar dan ia bisa melihat bulan yang begitu merah di atas langit yang hitam, melihatnya saja membuat dirinya mengingat kepada seorang Legenda.


"Blood Moon ya... sudah lama sekali aku tidak melihatnya." Diablo berjalan pergi untuk melakukan sedikit kehancuran agar tubuh Legendanya bisa menerima jiwa Iblis itu.


***


"... ...!" Haruka memasang tatapan yang terlihat kaget ketika melihat malam hari yang dipenuhi dengan cahaya merah.


"Haruka, lihat, sepertinya musim Blood Moon sudah muncul." Rokuro mulai berbicara selagi menggendong Koizumi yang sedang melamun.


"Itu bukan Blood Moon biasa..." Jawab Haruka yang mulai meraih Koizumi lalu menutup kedua matanya.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Kenapa kamu menutup mata Koizumi...?"


"Itu adalah Bloodlust Moon... jika keturunan Comi seperti kami yang sudah mendapatkan sihir Crimson melihat bulan itu maka..."


"...kami akan mendapatkan kekuatan besar yang membuat kita semua tidak terkendali, pikiran kita terus dikendalikan dengan rasa amarah dan darah dingin yang ingin merenggut nyawa."


Rokuro terkejut ketika mendengarnya karena ini pertama kalinya ia mengetahui sesuatu yang belum pernah dirinya ketahui dari Haruka.


Haruka mencoba untuk tidak melihat bulan itu, ia mulai berjalan pergi bersama Koizumi yang sudah tertidur. Melihat bulan merah itu membuat rasa khawatirnya bertambah seketika.


"Kenapa bisa bulan itu muncul...? Ayahku dan Dewa Agung Crimson sudah mati... bagaimana bisa bulan itu muncul di saat-saat seperti ini?" Ungkap Haruka dengan tatapan khawatir.


***


"Bersulang...! Untuk kebangkitan kerajaan baru yang bernama [Comitsu], dengan ini kita semua akan menikmati era kerajaan yang begitu indah." Futsu mengangkat sebuah gelas yang berisi bir.


Semua pasukannya melakukan hal yang sama untuk merayakan kelahiran kerajaan yang akan menguasai segalanya, Legenda yang lemah tidak akan pernah bisa bertahan.


Raja dari Comitsu adalah Futsu Comi yang juga seorang Dewi Agung Sacred, ia menyamar untuk melaksanakan perilaku Mortal dalam memimpin sesuatu dengan menjadi seorang raja yang mementingkan kekuatan dan kekuasaan.


Kerajaan Comitsu memiliki kesetaraan yang sama dengan Legetsu karena wilayah properti mereka sama besarnya karena menguasai bagian timur sedangkan Legetsu menguasai bagian barat yang memiliki banyak gunung dan sungai.


Planet Legenia dipenuhi dengan raja Legenda yang sangat kuat sampai perang bisa saja terjadi dalam waktu yang dekat untuk merebut properti, dan pasukan-pasukan yang di sandera.


"... ..." Kou masuk melalui gerbang tanpa melakukan apapun, setiap langkahnya berhasil menyebabkan ledakan Crimson besar yang memperingati semua pasukan.


"Pemberontak datang...!!! Aku ulangi, pemberontak datang melalui gerbang...!!!" Peringat penjaga gerbang yang mulai menciptakan sirkuit sihir untuk melawan Kou.


Semua penjaga itu yang mencoba untuk melukai Kou berakhir dengan tubuh mereka mulai hancur seperti mengalami putaran di bagian tubuh dengan arah yang berlawanan sampai mereka menjerit kesakitan.


Mulut, hidung, dan telinga mereka mengeluarkan banyak organ tubuh di dalam yang sudah terbelit dan hancur, tidak ada yang selamat bahkan yang Kou lakukan hanya melangkah ke depan untuk mencari semua keturunannya.


Seorang pemimpin pasukan mulai memasuki istana itu untuk memperingati Futsu yang masih berpesta, semua Legenda yang berada di dalam istana itu tidak mendengar suara ledakan dan kehancuran yang terjadi luar.


"Yang mulai, kita kedatangan pemberontak..." Kata pemimpin.


"Ya, terus? Bunuh saja, penjaga dan pasukan kita berjumlah banyak bahkan kekuatan yang kita miliki tidak akan bisa di lawan---"


"Pemberontak itu adalah cucumu...! Kou Comi---"


Ketika pemimpin itu menyebut nama Kou, tubuhnya mulai terbelit sampai ia menjerit keras sampai mengeluarkan banyak organ tubuh melalui mulutnya sampai mengejutkan Futsu dan Legenda lainnya yang sedang berpesta.


""Aahhhhhhh...!!!""


"Lepaskan semua pasukan...! Dengan ini kita memiliki kesempatan besar untuk mengalahkan pengetahuan yang tidak dapat di lawan...!" Perintah Futsu sampai seluruh pasukan mulai bersiap.


Kou masih berjalan di tengah desa itu dengan tatapan yang terlihat sangat mengancam, tubuhnya dipenuhi dengan garis merah Crimson dan darah dari semua Legenda yang sudah ia bunuh tanpa melakukan apapun.


Kou menatap ke bawah, dan melihat sepupunya yang bernama Kojima berdiri tepat di hadapannya selagi memegang tongkat sihir untuk menghapus kutukan itu.


"Kou Comi... berani-beraninya kau datang ke wilayah terlarang bagi keturunan yang gagal seperti dirimu... dengan ini aku akan menghapus kutukan Crimson itu!" Kojima melepaskan sirkuit sihir besar untuk menghapus kutukan Kou.


Kou hanya bisa diam di tempat dengan tubuhnya yang menerima banyak sekali serangan dari semua pasukan yang baru saja datang, ia tidak bisa merasakan kesakitan melainkan kekuatan yang terus bangkit.


"... ...!" Kojima tercengang ketika mengetahui sihirnya tidak berfungsi, semua pasukan itu juga merasakan firasat yang cukup mengerikan di dalam tubuh mereka.


"Mati." Kou mengeluarkan suaranya sampai menghancurkan seluruh tubuh pasukan itu dengan cara yang sadis karena tubuh mereka semua terbelit sampai mengeluarkan banyak organ tubuh yang sudah hancur.


"... ...!" Kojima memasang ekspresi yang terlihat ketakutan ketika Kou telah berubah menjadi sesuatu yang mengerikan.


"Sialan...!!!" Kojima mencoba untuk melarikan diri tetapi kedua kakinya langsung hancur dan mengeluarkan seluruh tulang di bagian kakinya.


"Aaaagggghhh...!!!"


"Kau mau lari...? Tidak ada keturunan Comi yang menyakiti Ibuku aman..." Kou kembali melangkah ke depan sampai memunculkan garis merah di atas yang mulai menghancurkan semua bangunan di sekelilingnya.


"Bagaimana bisa... keturunan Comi terlemah seperti dirimu... memiliki kekuatan---"


"Tidak semuanya yang lemah tidak dapat melakukan apapun..." Pikiran Kou terus bekerja sampai menulis beberapa penyiksaan di dalam takdir Kojima.


"...AAAAGGGGHHHHHHHHH!!!" Kojima menjerit keras ketika tubuhnya menerima banyak sekali kesakitan yang dapat membunuhnya tetapi entah kenapa ia masih bisa merasakan kehidupan ketika menerima semua kesakitan itu.


"HENTIKAN--- AAAAAAAHHHHHHHHHHHH!!! KOI... COMI...!!!"


"Terima kasih karena warisan Ayahku... aku dapat menggunakan Bloodlust Moon untuk mendapatkan kekuatan yang tertahan dengan kekuranganku sendiri..."


"...sekarang aku telah mencapai potensi tak terbatas dari The Mind, aku dapat memanipulasi apapun yang aku sukai... termasuk takdir dan pikiranmu yang saat ini dipenuhi dengan siksaan."


"Aku sudah memasukkan peraturan dimana kau tidak akan bisa mati, apa yang kau rasakan hanya penyiksaan." Kou melirik ke belakang dan melihat Kotoko mencoba untuk menyerangnya secara diam-diam.

__ADS_1


Kotoko yang sedang memegang pedang tiba-tiba mulai menusuk tubuhnya sendiri sampai mengejutkan dirinya, Kou mulai memanipulasi takdirnya agar ia bisa terus merasakan penyiksaan tanpa merasakan kematian.


"AAAAAGGGGGGGHHHHHHH...!!!"


"Aku adalah Kou Comi... keturunan lemah yang di lahirkan oleh Korrina Comi, yang lemah bisa menjadi kekuasaan tiada batas dengan perjuangan..." Kou memasang tatapan yang terlihat dingin.


Efek dari Bloodlust Moon mengubah dirinya menjadi versi Kou yang jauh lebih dingin, tidak ada lagi sikap polos atau pengampun yang selalu ia tunjukkan melainkan penyiksaan untuk mereka yang bodoh baginya.


"Orang yang sombong seperti kalian... hanya menginginkan sesuatu yang hebat... perjuangan kami dengan meraih kesuksesan dan kekuatan..." Kou melangkah ke depan, memanipulasi semua takdir pasukan yang mencoba untuk menyerangnya.


"Aku akan meneruskan ibuku sejak itu... pembalasan dendam yang belum ia laksanakan... dengan sumpah Ibu dan Ayahku..."


Kou memancarkan cahaya merah melalui kedua matanya, ia menggunakan pikirannya lagi menghancurkan istana di hadapannya dan melempar Futsu bersama kedua tantenya sampai mendarat di hadapannya.


"Kou Comi..." Futsu menatap Kou dengan tatapan yang terlihat kesal, dalam waktu beberapa detik, ia berhasil membantai habis semua pasukan dari kerajaan Comitsu.


"Apakah kamu mau menjelaskan... kenapa dirimu sebusuk itu sampai mengkhianati istri dan putrimu sendiri?" Tanya Kou.


"Ck..."


"Tidak bisa berbicara? Kalau begitu aku paksa saja." Kou menggunakan potensi tak terbatas dari The Mind untuk memaksa Futsu berbicara.


"Untuk Holy---" Futsu melebarkan matanya ketika sebuah sirkuit sihir besar mulai menjatuhkan sebuah benda yang menyebabkan ledakan sampai menghempas mereka semua ke belakang kecuali Kou.


Ledakan itu dapat di dengar oleh semua orang bahkan Kuro yang berada di dalam tubuh Arata mampu merasakan sesuatu yang dipenuhi dengan kekuasaan sampai firasatnya mengatakan tidak begitu baik.


Futsu menatap ke depan, dan tercengang ketika melihat sebuah senjata yang berbentuk sabit terjatuh dari atas langit, kemungkinan besar Zenzaku menyelamatkan dirinya yang hampir saja tertangkap basah karena Holy Corpse itu.


Zenzaku saat ini sedang memperhatikannya dari atas, ia sendiri sempat panik melihat Kou telah membangkitkan potensi tak terbatasnya karena Bloodlust Moon.


"Hancurkan Kou Comi...!!! Hapuskan dia dari eksistensi ini secepat mungkin sebelum dia mengetahui Holy Corpse...!!!" Seru Zenzaku keras kepada Futsu.


"Kau tidak perlu merahasiakan itu, Zenzaku. Aku sudah mengetahui semua rencanamu... hanya saja aku tidak dapat mempermainkan takdir di alam semesta yang inti ini." Kou mulai berbicara.


Zenzaku tercengang seketika sampai keringat dingin langsung mengucur deras ketika Kou baru saja berbicara dengan dirinya melalui pikiran, itu artinya ia sudah mengetahui semua rencananya.


"Aku adalah anak surga yang berkeliaran di dunia ini... untuk melihat keadaan, juga seorang kutukan yang menyembunyikan potensi aslinya."


Kou menatap kedua tapak tangannya, "Tubuhku ini tidak sempurna... hanya arwah yang berkeliaran sedangkan wadahku yang asli berada di surga..."


"Tetapi, jika aku memiliki kesempatan seperti ini. Kenapa tidak aku menghancurkan keturunanku sendiri demi memenuhi tujuan yang Ibuku inginkan." Kou menatap Futsu sampai tubuhnya basah karena dipenuhi keringat.


"Aku memberikanmu kesempatan untuk menggunakan Founder's Origin Sacred... kau mau menghapus eksistensi dan takdirku? Cobalah."


"Makhluk rendah mengandalkan senjata yang dapat melakukan apapun... jadi tunjukkan itu kepadaku sekarang juga."


Kou memasang tatapan kesal dan


muak, ia sudah merasa jengkel sampai tidak sabar untuk menyiksa semua keturunannya.


"Senjata yang katanya dapat menghancurkan apapun... tidak ada yang bisa di hancurkan, maupun itu abadi atau takdir... semuanya bisa." Kou menatap senjata itu sampai Futsu langsung memegangnya.


"Tunjukkan perjuanganmu itu dengan senjata yang tidak bisa di kalahkan..." Kou berjalan mendekati Futsu untuk memberi dirinya kesempatan menyerang dari jarak yang dekat.


Futsu memasang tatapan kesal ketika cucunya sendiri terasa seperti merendahkan dirinya, ia juga bisa mendengar Zenzaku menyuruh dirinya menghapus Kou secepat mungkin.


"Dengan Founder's Origin Sacred... kau bisa memutuskan takdir apapun secara mutlak, tidak ada yang tidak bisa di lakukan oleh senjata dengan julukan Founder's Origin!" Peringat Zenzaku.


"Penghancur realitas, dan dapat menghancurkan All Creation termasuk alam semesta, prinsip Founder's Origin dapat menghancurkan takdir, keajaiban, pemeliharaan dunia, keabadian, tak terbatas, dan membuat semua hal menjadi tidak logis."


Kou bisa mendengar penjelasannya, ia sendiri tidak merasa takut melainkan ingin melihat efek itu, potensinya yang tak terbatas yang bangkit karena Bloodlust membuat dirinya dapat menggunakan The Mind tanpa pembatas apapun.


Bukan hanya The Mind yang ia bisa, tetapi masih terdapat banyak sekali kekuatan tersembunyi di dalam dirinya sehingga ia tidak menggunakan kekuatan yang begitu besar.


Nol persen saja sudah cukup dengan menggunakan kekuatan alami yang tidak bisa di hentikan oleh kekuatan, sihir, atau apapun itu melalui pikiran dan kecerdasannya.


"Senjata itu juga dapat mengabaikan angka dan jarak destinasi bahkan bisa membelah [Absolute Space] yang secara sempurna terisolasi dari dunia yang berbeda dimensi!"


"Founder's Origin tidak akan bisa di hindarkan, senjata itu bisa melakukan apapun yang kau inginkan... tidak ada yang tidak bisa untuk senjata itu!"


"Senjata yang juga dapat menebas ribuan angkasa serta semesta dan menghancurkannya secara instan tanpa menggerakkan senjata itu karena dapat bertindak sendiri menghancurkan sesuatu karena prinsipnya pasif."


Kou mulai memegang erat tangan Futsu lalu mengarah ujung dari bilah pedang itu tepat di lehernya sendiri, "Kau dengar apa yang Zenzaku katakan bukan, Kakek...?"


"Tidak ada yang tidak bisa di lakukan Founder's Origin... aku sudah berada tepat di hadapanmu dan senjata ini akan bertindak secara pasif..."


Kou memasang tatapan tajam kepada Futsu sampai membuat dirinya semakin ketakutan, "Apa yang... bagaimana bisa kau... menjadi... keturunan Comi seperti ini..."


"...cepatlah hapuskan eksistensi diriku dengan senjata yang dapat melakukan apapun itu."

__ADS_1


"... aku ingin melihat senjata yang tidak bisa dihindari itu."


__ADS_2