
Hari esok telah tiba, pernikahan akan terjadi besok dan semua persiapan itu baru saja selesai, hanya perlu menunggu beberapa jam untuk menata tempat pernikahan itu yang berada tepat di belakang gedung Co. Corp.
Kou membuka kedua matanya dan ia sadar bahwa dirinya tertidur di atas meja dengan selimut hangat yang menyelimuti dirinya, ia bisa melihat Tech berdiri di sebelahnya untuk menjaga.
"Selamat pagi, nyonya. Silakan untuk melihat dokumen yang sudah saya tanda tangani." Kata Tech sambil menempati beberapa tumpukan dokumen yang sudah dikerjakan oleh Tech.
"Ahh~ terima kasih, Tech. Dengan semua ini selesai maka aku besok bisa beristirahat dari pekerjaan itu hanya untuk melaksanakan pernikahanku dengan Shuan." Kata Kou yang terlihat bersemangat.
Ia bangkit dari atas kursi lalu meregangkan kedua lengannya yang terasa pegal karena berjam-jam duduk di kursinya selagi mengurus persiapan pernikahan dan permintaan penghuni semesta lain.
Kou berjalan menuju jendela lalu ia membuka tirai itu untuk melihat para karyawan yang sedang bekerja dalam mengurus tempat pernikahan itu.
Kou tersenyum melihat beberapa dekorasi yang sudah terpasang, sisanya hanya meja putih dengan hidangan yang di buat oleh Arata dan Ophilia.
"Tech, hubungi Ophilia." Suruh Kou, Tech melaksanakan tugas itu dengan cepat sehingga wajahnya berubah menjadi layar yang menunjukkan Ophilia.
Ophilia saat ini terlihat sibuk karena sedang memasak, "Ahh, Kou, selamat pagi. Apakah kamu beristirahat cukup untuk hari ini?"
"Iya, sepertinya kalian sudah pulang dari Neko Isle ya."
"Itu benar, kamu sudah harus bekerja keras demi mempersiapkan semua hidangan ini dan tentunya kue pernikahan yang sangat besar agar kalian semua dapat memotongnya bersama." Kata Ophilia.
"Kalau begitu, selamat bekerja keras, aku akan menantikan kue itu." Kata Kou, Ophilia mengangguk lalu ia bersama Arata mulai melambaikan tangannya sampai layar itu mati.
"Nyonya, saya baru saja mendapat panggilan dari penjaga bahwa tuan Shuan telah tiba." Kata Tech.
"Biarkan dia masuk." Jawab Kou sambil membuka kulkasnya yang terisi dengan hidangan madu yang dingin.
Beberapa menit kemudian, Shuan tiba di ruang kerja Kou, ia terlihat terkena ketika melihat ruangan yang dipenuhi dengan buku dan tumpukan kertas dimana-mana.
"Maaf, Shuan, tempat ini tidak rapi karena kami sengaja tidak membersihkannya sampai semua kertas itu tidak di butuhkan lagi." Kata Kou sambil mempersiapkan satu kursi untuknya.
Shuan duduk di atas kursi tersebut, "Santai saja, aku ingin membahas sesuatu bersama mu."
"Dan itu...?"
"Apa kamu masih akan tetap bekerja ketika kita sudah menikah nanti?" Tanya Shuan.
"Tentu saja, sejujurnya aku tidak bisa melakukan sesuatu yang dapat Mamaku lakukan sebagai ibu rumah tangga..."
"...aku tidak bisa masak, membersihkan baju atau hal lainnya, tubuh kecilku ini yang menghambatnya sampai aku takut melakukan kesalahan yang mungkin membuatmu tidak suka." Kata Kou dengan tatapan sedih.
"Tidak apa, kau tidak perlu mengkhawatir hal sepele seperti itu. Itulah kenapa aku di sini bersamamu untuk selama-lamanya." Kata Shuan sambil menggaruk kepalanya sendiri.
Kou tersenyum, "Maaf ya... mungkin peran kita akan terbalik, aku akan terus bekerja demi memenuhi kebutuhan kita dan tentunya demi membantu yang tidak mampu."
"Apakah ketika kamu hamil... kamu juga akan bekerja?" Shuan menanyakan sebuah pertanyaan yang keluar secara tiba-tiba, Kou tersipu merah ketika mendengarnya.
"H-Hamil ya...? Yah... wajib juga untuk pasangan menikah memiliki seorang anak, aku... aku... aku belum siap...!" Kou mengatakannya dengan panik sampai ia mulai menutup wajahnya dengan bantal yang ia simpan di atas meja.
"Kamu tidak perlu merasa malu seperti itu, Kou... tenang saja..." Kata Shuan karena ia masih merasa bersalah sejak itu ketika mengajak dirinya untuk melakukan transfer Lenergy.
Untuk sekarang ia hanya ingin menikah dengan Kou agar bisa mendampinginya dan menjaga dirinya dari dekat.
Shuan mencoba untuk mengubah topik pembicaraan, "Mungkin aku akan berperan sebagai seseorang yang melakukan pekerjaan itu..."
"P-P-Pekerjaan apa...?" Kou kembali menatap Shuan.
"Menjadi bapak rumah tangga." Kata Shuan dengan tatapan yang terlihat serius sehingga membuat Kou tertawa, Shuan sekarang mengakui dirinya sebagai seorang pelawak karena penyebab dari perkataannya.
__ADS_1
Entah kenapa semua orang terus menertawai dirinya ketika ingin menjadi bapak rumah tangga, mungkin karena tidak pantas tetapi ia sendiri akan terus berlatih untuk tetap bertambah kuat demi mengalahkan Rokuro.
"Hehehe... pekerjaan kita benar-benar terbalik, maaf ya, Shuan. Aku juga akan berusaha untuk bisa memasak dan melakukan tugas istri lainnya..." Kata Kou sambil mengusap kepalanya sendiri.
"Tidak apa-apa, sekarang... dimana yang lainnya? Bukannya Haruka dan Honoka ingin membahas soal tempat tinggal itu?"
"Benar juga... mereka terlambat sepertinya, Kak Honoka tadi sempat datang tetapi ia pergi untuk menjemput Bakuzen." Kata Kou sambil memegang kacamatanya yang menunjukkan lokasi kedua kakaknya.
"Kak Honoka masih berada di rumah Shizen sedangkan Kak Haruka masih tetap berada di Neko Isle... mungkin dia masih tidur." Kata Kou, ia melepas kacamatanya lalu menempatinya di atas meja.
"Kita harus menunggu."
"Kalau begitu... mau makan?" Tanya Shuan.
"Ehh?"
"Aku akan menunjukkan dirimu kemampuan memasak yang aku miliki."
"Boleh." Kou tersenyum.
***
Neko Isle, ruang penginapan yang lumayan jauh, Haruka dan Rokuro tidur di atas ranjang yang sama tanpa mengenakan busana apapun karena mereka baru saja selesai melakukan transfer Lenergy
"Mm..." Rokuro menerima sebuah sentuhan di keningnya oleh Haruka yang baru saja bangun.
"Fuhhh..." Haruka meniup telinga Rokuro sampai membuat dirinya bangun lalu menatap Haruka yang sedang tersenyum.
"Pagi, Rokuro... tadi malam cukup liar ya..." Kata Haruka, ia terkekeh pelan sampai membuat Rokuro tersipu.
"Bagaimana kondisimu...? Apakah kamu merasa aneh...?"
"Tidak, aku merasa penuh, aku yakin pasti akan hamil karena perutku masih terasa hangat sekarang." Kata Haruka, ia bangkit dari atas kasur untuk melihat jam.
Beberapa menit kemudian, Haruka dan Rokuro baru saja sampai di gedung Co. Corp, mereka bergegas menuju lantai sembilan untuk menemui Kou dan Shuan yang sedang bermain.
"Kalian terlambat...!" Kou terlihat marah ketika Haruka dan Rokuro menghabiskan banyak waktu.
"Maaf, Kou... kami tadi memiliki beberapa keper..." Haruka melebarkan kedua matanya ketika melihat wajah Kou memerah sampai ia menutup wajahnya dengan bantal lagi.
"T-T-Tidak apa... Lupakan...! Lupakan...!" Kou menggelengkan kepalanya karena tidak sengaja membaca pikiran Haruka, ia sekarang tahu bahwa Haruka dan Rokuro baru saja melakukan sesuatu yang tidak pantas.
"Ahh, Kakak, lama sekali. Kalian kemana saja sih?" Tanya Honoka sambil memegang sebuah pir.
"Honoka, kamu juga sudah datang?"
"Iya, sejak awal aku sudah di sini menunggu kedatangan kalian."
Kou mulai mengambil sebuah layar untuk menunjukkan dua tempat yang Haruka dan Honoka inginkan sebagai tempat tinggal, yang pertama adalah pulau pribadi untuk Haruka.
"Kakak, aku baru saja mendapatkan pesan dari karyawan lain bahwa pulau yang Kakak inginkan sudah jadi, termasuk dengan rumah yang kalian sempat bicarakan." Kata Kou sambil memperbesar pulau itu.
Haruka dan Rokuro terkejut ketika melihat rumah mereka yang sangat besar dan indah bahkan terdapat banyak sekali pemandangan yang bagus.
"Sempurna, Kou! Itu benar-benar sempurna...!" Kata Haruka yang terlihat menyukainya, jika dia menyukainya maka Rokuro juga akan setuju dengannya.
"Seperti itu sudah cukup, Kou. Terima kasih." Kata Rokuro, ia melihat Kou memberikan dirinya beberapa kunci kamar dan rumahnya.
"Ini kuncinya... jaga baik-baik ya." Kata Kou dan Rokuro mengambil semua kunci itu lalu mengangguk.
__ADS_1
"Kak Honoka... apa ini desa yang kamu inginkan? Tidak jauh dari perkotaan dan tidak jauh dari pemandangan pantai yang kamu sukai." Kata Kou sambil menunjukkan tempat itu.
"Ahh! Ya! Sesuai dengan apa yang aku harapkan, desa itu juga dekat dengan beberapa temanku juga... terutama lagi dekat dengan restoran Shimatsu!" Kata Honoka karena ia bisa datang ke restorannya untuk memesan beberapa hidangan.
"Jika Honoka menyukainya maka aku juga akan menerimanya, desa yang terlihat maju, mungkin kita juga dapat mengunjungi dirimu juga." Kata Bakuzen sehingga Kou melempar sebuah kunci kepadanya.
"Jaga itu, semuanya sudah aku persiapkan dan tentunya kalian harus melihat rumah baru kalian setelah pernikahan selesai." Kata Kou, Honoka dan Haruka langsung tersenyum sehingga mereka memeluk Kou.
""Kou, terima kasih...!"" Kedua Kakak itu berterima kasih kepada seorang adik yang sudah mau membantu segalanya.
Kou mulai tersenyum lalu ia menggenggam tangan kedua kakaknya dengan sebuah senyuman, "Kak Haruka... Kak Honoka..."
"Waktu berjalan begitu cepat sampai kita sudah tidak bisa lagi bersama ya... kita harus melanjutkan kehidupan dewasa kita dalam kehidupan baru bersama pasangan kita."
"Tumbuh dewasa terkadang memang menyulitkan tetapi aku tidak akan pernah melupakan kedua kakakku yang sudah mau merawat diriku sejak kecil sampai sekarang..."
"...hidup bersama dan saling membagi rasa yang berbeda." Kou mulai mengatakan sesuatu yang membuat Honoka dan Haruka merasa sedih.
"Berbahagialah, Kou, kamu sudah mendapatkan apa yang kau inginkan sejak kecil. Menjadi seorang penerus ratu Touriverse dan juga menjadi seorang gadis yang lebih hebat dari Mama." Kata Haruka.
"Itu benar... aku yakin Mama pasti akan bahagia melihat dirimu sekarang." Honoka tersenyum.
Kou mulai tertawa dengan air mata yang mulai mengalir keluar, "Hehehe... hiks... hiks..."
"Kou, kamu menangis!" Honoka kaget ketika melihat adiknya yang tadi sedang tertawa mulai menangis, hal itu membuat air matanya mengalir keluar juga.
"Ini cuman tangisan kebahagiaan kok... hiks..."
"Jangan menangis... Kakak tidak mau menangis, padahal tadi sudah ketawa..."
Haruka melihat Honoka dan Kou mulai menangis, "Duh... berhenti dong... jangan menangis seperti itu."
"Kenapa kalian menangis...? Aneh..." Kata Haruka dengan air mata yang mengalir keluar juga, Shuan bersama yang lainnya hanya bisa diam ketika melihat ketiga saudara Comi mulai menangis.
Haruka langsung memeluk Honoka dan Kou erat, pelukan terakhir sebelum mereka berpisah, mereka tidak akan bisa bersama seperti biasanya.
Mereka akan melanjutkan kehidupan baru sebagai seorang istri yang akan menjadi ibu di masa depan nanti, ketiga saudara itu terpaksa harus berpisah dan tidak tinggal bersama seperti biasanya.
Perpisahan yang cukup menyedihkan bagi mereka bahwa Kou dan Honoka mulai menangis keras ketika menerima pelukan dari Haruka.
"Hwaaaahhhhhh...!" Kou menjerit keras karena tidak bisa menahan rasa sedih itu, Haruka hanya bisa diam dan terus meneteskan air matanya yang mengalir tanpa henti.
"Walaupun kita sudah menjadi dewasa... ingatlah..."
"...kita masih tiga saudara yang saling menyayangi satu sama lain." Haruka mencoba untuk tersenyum tetapi tidak bisa.
Shuan, Bakuzen, dan Rokuro hanya bisa diam dengan perasaan yang bersalah di dalam hati mereka. Shuan menatap arah lain untuk menyembunyikan air mata yang menetes keluar.
"Shuan, jangan bilang kau..."
"Tidak, aku tidak menangis..." Jawab Shuan dengan tatapan serius, Rokuro bisa melihat air mata mengalir keluar melalui matanya.
"Pengecut... pria yang menyembunyikan rasa sedihnya itu benar-benar pengecut." Kata Rokuro, membuat Shuan menatap langsung wajahnya sampai ia terkejut ketika melihat air mata mengalir keluar juga dari matanya.
Bukan hanya Rokuro saja tetapi Shuan juga melihat Bakuzen mencoba memasang tatapan serius walaupun air matanya terus berjatuhan.
"... ..." Shuan menghela nafasnya panjang.
"Jaga istri kalian dengan baik, ingat itu." Kata Shuan.
__ADS_1
"Tentu saja, kau sendiri juga harus bisa menjaga ratu Touriverse."
"Ya... aku akan mencobanya..."