
Minami bersama yang lainnya sudah sepakat untuk menginap di dalam rumah Komi terutama tidur bersama di ruang tamu bersama yang lainnya, mereka baru saja selesai makan malam yang bertema madu, walaupun berbeda dan terasa aneh setidaknya rasa manis dari makanan itu entah kenapa mampu membuat mereka kenyang, nasi yang mereka cicipi juga bahkan terasa sangat lezat.
Mereka menghabiskan waktu yang tersisa dengan bermain di dalam ruang tamu seperti menikmati permainan game di televisi yang cukup besar, tidak lama kemudian mereka berencana untuk tidur lebih awal karena menantikan hari esok dimana pesta besar-besaran akan di mulai. Semuanya terasa cukup damai sehingga tengah malam, terjadilah sesuatu yang mengerikan dimana hujan angin turun dan petir menyambar cukup besar sampai membangunkan Minami.
"Unyaa...? Tadi aku baru saja memakan banyak ikan, nya... sekarang aku ingin kencing..." Minami duduk di atas karpet lalu ia menoleh ke sebelah kiri dan melihat yang lainnya masih tertidur tetapi ia tidak melihat Hana sama sekali, ia pergi entah kemana tetapi Okaho di sebelah-nya terlihat tidur dengan sangat damai mungkin karena penutup mata yang ia gunakan itu.
"Biar aku tebak... jika aku membangunkan Okaho... atau... dia Honoka ya, terserahlah... percuma saja aku membangunkan Legenda ini, dia pasti marah, nya." Minami bangkit dari atas karpet lalu ia mencoba untuk mencari kamar mandi, ia menghampiri kamar mandi yang berada di ruang tamu lalu ia mencoba untuk membukanya tetapi terkunci sehingga ia mengingat perkataan Korrina bahwa kamar mandi di ruang tamu tidak bisa di pakai untuk sementara jadi ia terpaksa harus turun dari lantai 10 menuju lantai 8.
"Buang air kecil itu susah juga ya... tinggal di gedung besar dengan sepuluh lantai, cukup menyusahkan, nya..." Minami perlahan-lahan menghampiri lift dengan kedua mata yang terasa berat, ia masih merasa mengantuk dan ia tidak sengaja menabrak seseorang, "Ahh... maaf..."
Minami tiba-tiba kembali jalan dan tidak menabrak orang itu lagi, ia mengangkat ekornya lalu menoleh ke belakang dan orang yang ia tabrak itu hilang entah kemana. Minami sendiri tidak bisa merasakan keberadaan orang yang ia tabrak tadi, "Apakah aku baru saja masuk ke dunia mimpi yang digabung dengan dunia nyata, nya!? Hebat! Benar-benar hebat! Jadi ini adalah cahaya requiem! Cahanyaaaa!"
Minami seperti biasanya mengkhayal, tiada hari tanpa mengkhayal untuk dirinya sehingga ia menyentuh pintu lift di hadapannya lalu menyentuh tombol di sebelah-nya, ia menatap ke atas dan melihat lift itu sedang berada di lantai lima dan naik menuju lantai sembilan lalu turun kembali menuju lantai dua. Hal itu membuat Minami bingung mungkin di kedua lantai itu terdapat beberapa orang yang sedang naik menuju lantai tertentu.
"Mungkin para pelayan... positif! Positif adalah cahaya keadilan! Ada yang tegak tetapi itu adalah keadilan, nyahahaha--- Unyaaa!!!" Minami melebarkan matanya dan ekornya serta kedua telinga tiba-tiba tegak karena ia dikejutkan dengan pintu lift yang terbuka begitu saja, ia tidak melihat siapapun di dalam sana dan ia berjaga-jaga menatap ke atas lalu melihat lift itu masih berada di lantai satu.
"Shining Jus---"
"Apa yang kau lakukan, ******!?" Okaho menghantam kepala Minami karena ia baru saja mencoba untuk mengeluarkan sihir cahayanya untuk menghancurkan lift di hadapannya, "Unya!? A-Apa!? Okaho, kamu bangun!?"
"Ya, ingin membuang sesuatu."
__ADS_1
"Cairan su---"
"Aku tinggal ya." Okaho hampir saja menekan tombol untuk menutup pintu tetapi Minami sudah masuk dengan pipi yang ia kembung-kan, "Okaho lebih jahat dari Haruka, nya."
"Habis kau sendiri yang mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal, hentikan..." Kata Okaho, ia menatap ke atas dan melihat lift itu turun menuju lantai satu lalu naik perlahan-lahan ke atas sehingga kembali menuju lantai sepuluh, "Ehh...? Apakah lift ini rusak?" Okaho menekan tombol lantai delapan tetapi lift itu turun menuju lantai paling bawah sehingga Okaho terus menekan tombol itu beberapa kali.
"Lift-nya memang seperti ini ya...? Aku tadi melihat lift ini turun dan naik sampai tiba di lantai sepuluh dengan waktu yang cukup cepat, nya. Jangan-jangan...!" Ekor Minami mulai tegang sehingga ia membuka mulutnya lebar, Okaho menatap Minami tajam karena ia tidak ingin satupun kata mengerikan keluar dari mulutnya.
"Unyahhh, Okaho ternyata takut dengan hantu."
"Hantu ya? Memang-nya aku sama seperti Mama--- Kyaahhh!!!" Okaho memeluk erat Minami karena lampu di dalam lift itu tiba-tiba mati begitu saja karena sebuah petir besar yang muncul secara tiba-tiba, pintu lift di hadapannya terbuka karena pembukaan darurat ketika mati lampu, mereka mulai merinding ketika melihat lorong yang sangat gelap, mereka hanya bisa melihat petir dan air hujan yang cukup deras.
"Okaho, apakah gedung Mama ini berhantu?"
"Apa yang kamu lakukan, nya!? Hentikan, sakit dan geli tau!"
"Kau anak Shira 'kan...? Sudah pasti kau memiliki cahaya, cepat gunakan!"
"Kau sendiri memiliki sihir Sacred, lakukan sendiri!" Kata Minami, Okaho baru saja teringat tentang itu karena rasa takut dan tubuhnya yang merinding ia jadi melupakan tentang kekuatan dan sihir yang dapat ia lakukan, ia segera menerangi jalan lalu melarikan diri dan meninggalkan Minami begitu saja karena ia tidak bisa menahannya lagi, "Tunggu, nyaa!!! Kenapa kamu meninggalkan aku, nyaaaa!!!"
Hening seketika lorong itu terasa sepi karena Minami hanya seorang diri di dalam lorong yang sangat gelap itu, ia mencoba untuk menyalakan kedua matanya dengan cahaya matahari jadi cara bekerja-nya seperti senter sehingga ia dapat melihat lorong yang lumayan terang sekarang, ia maju ke depan pelan-pelan karena kedua kakinya bergetar seketika, entah kenapa suasana di sekitarnya terasa sangat mengerikan.
__ADS_1
"La... Laaaaa... Lalala~~~ Hihi... Laaa... hi... laliho..."
Terdengar suara wanita bersenandung dari arah samping, Minami segera melihat sekeliling dan ia tidak bisa melihat apapun kecuali ruangan yang dipenuhi dengan bermacam-macam radio dan teknologi, kemungkinan lantai 8 ini adalah lantai untuk bekerja bagi Korrina atau mungkin untuk mencari informasi yang berada di seluruh Touriverse. Minami maju ke depan pelan-pelan, entah kenapa ia tidak bisa lari karena tubuhnya yang terus merinding.
"Itu suara apa sih... mana mungkin... hantu 'kan takut suci... tidak-tidak! Namaku adalah Shiratori Minami!!! Aku adalah penganut cahaya keadilan! Semua hantu yang mencoba untuk menakuti diriku akan di serang dengan Shining Justice, kebangkitan dari tegaknya keadilan---" Senandung itu terdengar lagi, kali ini Minami tidak sengaja melompat ke atas karena refleks seekor kucing ketika takut, ia mencengkeram kuat atap dengan ekspresi yang mencoba sekuat mungkin untuk tidak ketakutan.
"Sial... kenapa insting kucing-ku muncul tiba-tiba, aku tidak merasakan bahaya bahkan aku tidak bisa merasakan keberadaan siapapun kecuali Hana dan Okaho yang sekarang entah pergi kemana..." Suara senandung itu semakin terdengar, terlihat sepasang kaki yang mengguncang-guncang dengan posisi duduk, sepertinya ia memakai daster berwarna putih namun lusuh. Dengan penuh keberanian Minami kembali turun sambil menunjukkan ekspresi serius.
"Siapa dirimu, hah!? Berani sekali kau menghampiri sang cahaya keadilan, Shiratori Minami-nya!" Minami bertanya dengan keringat yang terus mengalir deras di seluruh tubuhnya karena perasaan takut yang mulai membesar di dalam dirinya.
'Ngik... ngik... ngik... ngik..." Suara itu sekarang tertawa tak bersenandung, Minami mencoba untuk menyerangnya dengan cahaya tetapi sangat beresiko karena ia bisa saja menghancurkan sesuatu, kedua matanya yang terpancar ke arah gadis itu tiba-tiba menghilangkan gadis tersebut begitu saja, Minami bergegas lari ke belakang tetapi gadis itu sudah berdiri di hadapannya.
"Ngiiikkkkkkk...."
"MEEEOOOWWWW!!!" Minami melompat cukup jauh ke belakang sehingga kepalanya terkena hantam dengan atap di atasnya, ia segera menutup matanya dan yakin betul bahwa ia baru saja melihat sosok gadis berdaster putih lusuh dengan mata merah dan wajah yang dipenuhi darah, kulitnya bahkan lebih putih dari susu bahkan terlihat sangat keriput juga.
"Aku pasti bermimpi, nya! Aku pasti bermimpi, nyaaaaa!!!" Minami menampar wajahnya dengan ekornya beberapa kali tetapi ia tidak mau bangun, ia melihat gadis itu menghilang dan bermunculan selagi mendekati Minami, "Unyaaaahhhh!!! Jangan mendekat...!!! Jurus pengusir setan, Meow Shine-nyaaahhhhhhh!!!"
Tapak Minami yang bersinar mengumpulkan cahaya dalam jumlah yang kecil tidak ada satupun cahaya di sekitarnya melainkan dirinya terpaksa harus mengorbankan Lenergy dan tenaganya untuk mengumpulkan cahaya yang berjumlah lumayan besar, sosok gadis itu menghilang begitu saja ketika Minami melepaskan satu laser cahaya yang meluncur ke depan.
"Uaaaaaggghhhh!!!" Okaho tiba-tiba terkena laser itu dan ia terlempar ke belakang lalu terjatuh begitu saja, untungnya laser tadi tidak terlalu fatal dan menyakitkan untuk Okaho.
__ADS_1
"Heh...? Okaho?"