
"ROOOOAAAARRRRR!!!" Shinobu melepaskan gerangan seekor singa sampai batu yang berada di atas daratan mulai melayang sampai Leon dikejutkan dengan tumbuhan emas kecil yang bertumbuhan.
Banyak sekali Legend's Boost yang Shinobu rasakan, kali ini dirinya yakin bahwa Shinobu pasti akan mengeluarkan sesuatu yang lebih menarik jika ia mampu mengeluarkan suara raungan Beast di dalam dirinya.
"Tampangmu itu berbeda dengan apa yang kau miliki... di dalam dirimu, terdapat sebuah mesin pembunuh yang dapat mengakhiri apapun sesukamu." Leon tersenyum serius.
Shinobu membuka kedua matanya lalu ia menatap Leon dengan ekspresi yang terlihat serius, setiap langkahnya sekarang mampu menumbuhkan dedaunan emas yang melayang di sekeliling tubuhnya.
Aura dari cahaya emasnya juga sempat membentuk wujud dari Beast Neko Legend, ia tidak bisa berubah menjadi wujud tersebut hanya saja ia tetap dapat menggunakannya dalam wujud Legenda.
Berkat bantuan The Mind, Shinobu tidak dapat berubah menjadi Beast memainkan ia hanya dapat menggunakan kekuatannya saja dalam waktu yang tepat dimana ia terus berlatih sampai bisa menginjak kekuatan seperti itu.
Sekarang adalah waktu yang pas dan cocok, Leon melihat mata kanan Shinobu yang terlihat sangat panjang termasuk dengan taring-taringnya, ia mulai menunjuk Shinobu lalu mengajak dirinya untuk mendekat.
"Tiga nyawa tersisa... puaskan aku lebih lanjut lagi, Shinobu Koneko!" Kata Leon sehingga mereka berdua melesat menuju arah satu sama lain lalu melancarkan serangan secara bersamaan.
BAAMMM!!!
***
Hinoka melompat ke belakang, melihat ledakan besar di hadapannya yang ia lepaskan kepada Kalya tetapi semua kemampuan yang ia gunakan tidak cukup untuk menghentikan Kalya yang kembali bangkit lalu datang mendekati dirinya.
Hinoka hanya bisa memasang tatapan kaget karena ia sudah meledakkan tubuhnya beberapa kali tetapi ia tetap bangkit, kesatria itu juga tidak mengeluarkan suara atau reaksi apapun kecuali datar sampai ia merasa curiga seketika.
"Sebenarnya apa dirimu ini...? Apakah kau bukan bangsa Legenda?" Tanya Hinoka yang melihat Kalya melesat ke arah dirinya, mencoba untuk mencengkeram wajahnya lagi.
Hinoka melompat ke belakang lalu ia melihat Kalya melepaskan laser merah melalui kedua matanya, Hinoka langsung menangkisnya ke atas langit menggunakan kedua tapaknya.
Setelah itu, ia maju ke depan lalu mengepalkan kedua tinjunya sampai mengeluarkan asap hitam, ia langsung menghantam tubuhnya beberapa kali sampai setiap pukulan yang terkena menyebabkan ledakan kecil.
Hinoka melakukan satu putaran lalu ia menendang wajah Kalya sampai terlempar ke belakang, ia mulai mengambil sebuah batu kecil lalu mengubahnya menjadi granat yang di lempar langsung ke arahnya.
BAAAMMMMM!!!
Hinoka melebarkan matanya ketika melihat Kalya muncul tepat di hadapannya lalu memukul wajahnya beberapa kali sampai Hinoka hanya bisa diam lalu kepalanya sedikit terangkat oleh dirinya.
Setelah itu, ia menatap Kalya dengan sebuah senyuman yang mengeluarkan sedikit darah, darah tersebut langsung ia hapus tanpa melihatnya karena perasaan yang dia rasakan masih sangat sensitif ketika melihat darah.
Hinoka langsung menyerang balik dengan melancarkan satu tendangan yang mampu menembus dada sampai punggung seketika karena kekuatan peledak yang ia kumpulkan di dalam tendangannya itu.
Hinoka menghantam wajah Kalya menggunakan sikutnya lalu ia muncul di atas Kalya untuk menginjak wajahnya beberapa kali sampai ia tidak melihat perubahan ekspresi apapun.
Hinoka melompat mundur ke belakang lalu ia melihat Kalya mendekati dirinya yang menyiapkan dua tendangan yang melempar dirinya ke atas langit sampai Hinoka muncul tepat di belakangnya.
Kalya melihat Hinoka lalu ia melancarkan beberapa serangan ke arahnya dirinya tetapi ia berhasil menghindar sampai wajahnya menerima pukulan ledakan lain dari Hinoka.
Kalya melepaskan laser lagi melalui kedua matanya tetapi Hinoka muncul tepat di atasnya lalu menghantam puncak kepalanya menggunakan kedua tinjunya sampai ia terlempar menuju daratan.
Hinoka muncul di dekatnya, melihat Kalya terlihat seperti makhluk yang tak bernyawa tetapi tetap bertarung untuk membunuh Hinoka yang berada di keunggulan lebih tinggi karena sihir ledakannya.
Kalya segera duduk lalu menggenggam erat kedua tangannya sampai ia mendapatkan sebuah sambutan yaitu tendangan Hinoka yang mengenai wajah Kalya sampai ia sekarang mulai memegang erat kedua tangan Kalya selagi menginjak wajahnya.
Hinoka memutuskan kedua lengan Kalya lalu ia mengubah kedua lengannya menjadi roket besar yang ia lepas ke arahnya sehingga terjadi ledakan besar yang melepaskan dorongan di sekeliling wilayah itu.
Hinoka mendarat di atas tanah lalu ia bisa merasakan keberadaan kesatria lain telah hilang karena sudah terbunuh oleh teman dan sepupunya sendiri, mungkin mereka juga pasti mereka kelelahan.
Hinoka sendiri merasa bosan ketika melihat Kalya kembali bangkit, kali ini mulai ia jebak dengan mengendalikan realitas tingkatan kecil yaitu menumbuhkan batu besar di sekeliling tubuhnya.
Hinoka mengepalkan tinju kanannya sehingga terjadi ledakan yang besar secara terus menerus di hadapannya sehingga ia terpaksa untuk mundur dan menemui seseorang yang dapat mengurusi hal tersebut.
Hinoka bergegas pergi menemui Koizumi yang berbaring di atas tanah dengan kondisi terluka serta kelelahan, ia melihat dirinya sangat tidak berdaya sampai membuat Hinoka khawatir seketika.
"Tenang saja, sepupu tercintaku! Aku akan memberikan dirimu ciuman kehidupan agar kau bisa kembali sembuh dan bugar!" Hinoka mulai mendekati bibirnya kepada bibir Koizumi.
BAG!
"AWWW...!" Hinoka menerima satu sentilan dari Koizumi yang selama ini sudah bangun, istirahat singkatnya tadi mampu membantu dirinya untuk kembali bangkit sampai ia mulai menyentuh pipinya.
"Jangan mencoba untuk mencium seseorang yang sedang beristirahat, bodoh!" Seru Koizumi yang mulai meraba pipinya sampai ia bisa merasakan kehalusan dari pipinya sendiri serta kekasaran terhadap daun emas yang ia tempat.
"Daun emas Shinobu sepertinya masih belum menyembuhkan pipiku yang meleleh... masih membutuhkan waktu yang lama---" Koizumi langsung menghentikan waktu dan menarik Hinoka dari lokasi tersebut.
Mereka hampir saja terkena serangan Kalya yang melompat dari atas langit untuk menginjak tubuh mereka, waktu kembali berjalan dan ia terkejut ketika melihat satu kesatria masih belum Hinoka selesaikan.
__ADS_1
"Tugasmu itu...?! Kenapa tidak kau selesaikan?!" Tanya Koizumi kepada Hinoka yang mulai menatap arah lain dengan ekspresi polos.
"Entahlah..."
"Jangan 'entahlah' diriku!" Koizumi mulai memegang erat kerah Kisetsu Hinoka.
"Aku sudah melakukan yang terbaik untuk bertarung, te-he~" Kata Hinoka yang mulai menjulurkan lidahnya sampai membuat Koizumi menyentil dirinya lagi.
"Aw!"
Kalya mencoba untuk menyerang lagi tetapi tubuhnya membeku sebelum melompat ke arah mereka lagi, Koizumi melihat sebuah panah yang tertusuk di perutnya sampai ia menatap ke belakang.
Ia melihat Konomi dan Ako baru saja datang untuk menemui mereka dengan kondisi yang setengahnya pulih berkat botol dari ramuan yang diciptakan oleh Konomi.
"Syukurlah kalian baik-baik saja..." Kata Konomi yang mulai mendekati mereka lalu memberikan ramuan tersebut sampai Koizumi meminumnya.
Hinoka hanya menatap botol itu dengan ekspresi tidak tertarik, "Aku sepertinya tidak membutuhkan ini..."
"...pertarungan yang aku alami tadi tidak menyenangkan sama sekali." Hinoka menutup kembali botolnya sampai Koizumi mulai menatap dirinya.
"Kalau begitu berikan kepada diriku."
"Ehh? Baik." Hinoka membuka tutup botol itu lalu mencium botol tersebut agar bisa melakukan ciuman tak langsung dengan sepupunya.
Wajah Koizumi terlihat datar seketika sampai ia mulai mengambil botol tersebut lalu menghancurkan bagian bawahnya sampai cairan itu langsung ia minum.
"Hehhhhh--- Aw!"
"Kenapa kau tidak menghentikan dirinya?" Tanya Koizumi yang bisa merasakan tubuhnya kembali ringan, kecuali untuk matanya yang masih cedera karena menggunakan kemampuan Replay.
"Seharusnya sudah aku selesaikan beberapa menit yang lalu tetapi kesatria satu ini tidak bisa mati walaupun sudah di ledakan beberapa kali." Kata Hinoka.
Koizumi mengingat sebuah perkataan dari Shinobu bahwa salah satu kesatria memiliki kemampuan kekebalan terhadap apapun, mungkin dia salah satunya kesatria zodiak yang memiliki kemampuan itu.
"Ternyata apa yang di katakan Shinobu benar... kemungkaran besar kesatria ini memiliki kemampuan kekebalan."
"Aku sudah mengubahnya menjadi asap hitam dengan ledakan tanpa sisa tetapi ia terus bangkit dan mencoba untuk menyerap Lenergy ku dengan tangannya itu."
Konomi dan Ako mulai mendekati Kalya yang terlihat datar, ia tidak bisa bergerak sama sekali karena tubuh yang membuka karena kristal es itu.
"Koizumi... Hinoka..." Panggil Ako.
"Hm? Ada apa? Apakah kau menemukan sesuatu?" Tanya Koizumi.
"Ya... selama ini kesatria yang di lawan Hinoka tidak memiliki arwah atau tanda kehidupan di dalamnya dirinya melainkan kesatria ini hanya sekedar cangkang."
Hinoka memasang tatapan yang terlihat ketakutan, "A-Apa...!? Itu... Itu artinya... aku melawan... seekor hantu...!?"
"Tidak... hanya saja seperti mayat atau tubuh yang bergerak atas perintah sesuatu, mereka juga tidak akan mati karena sesuatu, entah itu apa tetapi kami tidak dapat melihat atau merasakannya." Kata Konomi.
"Begitu ya..." Koizumi mengeluarkan sebuah jam pasir lalu ia mencoba untuk menjebak Kalya di dalamnya tetapi terdapat sebuah penolakan.
"Ternyata benar... ia tidak memiliki arwah atau kehidupan yang dapat aku masukan." Koizumi menghilang kembali alat tersebut lalu ia menatap ke arah timur dimana ia merasakan kekuatan Shinobu dan Leon yang saling beradu.
"Mereka sudah mulai sejak tadi ya..."
"K-Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan dengan Kesatria ini?" Tanya Hinoka.
"Jebak saja, Konomi, Ako, aku serahkan pembekuan kepada kalian. Jangan sampai kesatria ini bisa lepas dari sihir es itu." Koizumi berjalan pergi menuju sebuah pohon untuk beristirahat sebentar di sana.
Tidak lama lagi ia harus menjelaskan sesuatu tentang Shinobu yang pergi entah kemana, sekarang dirinya hanya perlu mempercayai Shinobu bahwa ia akan berhasil mengalahkan pemimpin itu.
"Jika kau benar-benar berhasil... maka kau akan menjadi sainganku, Shinobu." Ucap Koizumi pelan.
"Aku menantikannya..."
***
Shinobu menghantam wajah Leon beberapa kali dengan kecepatan penuh, kebetulan Leon sekarang tidak bisa menyerang Shinobu yang sangat kecil dan cepat sampai serangannya selalu melewati tubuhnya itu.
Tubuh Leon menerima beberapa peluru cahaya yang terlepas melalui pergelangan tangan Shinobu, ia juga mulai menghantam Keris itu sampai menusuk bahunya seketika.
Shinobu langsung mengangkat tangannya sampai semua dedaunan emas terkumpul di atas langit lalu membentuk replika matahari kecil yang menghasilkan cahaya panas ke arah Leon.
__ADS_1
"Agggghhhh...!!! Grrgghh...!" Leon mengerutkan dahinya karena sekarang ia yakin bahwa Neko Legenda memang sangat berbahaya ketika berhasil menguasai amarah dari Beast di dalam mereka.
Shinobu mengangkat kedua lengannya lalu menjatuhkan dedaunan matahari ke bawah sampai menimpa tubuh Leon lalu membakar dirinya dengan cahaya tersebut.
Shinobu melompat ke arah Leon, mencoba untuk memukul wajahnya tetapi Leon langsung menghindar dengan berguling ke sebelah kanan.
Leon bangkit lalu mencekik leher Shinobu sampai membantingnya tepat di atas tanah, Shinobu segera melepaskan pembakaran melalui kedua kakinya sampai ia terdorong ke belakang dan kembali bangkit.
Leon maju ke depan lalu ia mengayunkan kedua pedangnya yang besar ke arah Shinobu, ia mulai mengalami kesulitan seketika karena rasi bintang yang terlepas dari pedang itu mampu menebas tubuhnya dan wajahnya.
Leon berhasil menghancurkan kaki kiri Shinobu tetapi ia langsung melayang menggunakan Lenergynya, ia menarik kembali Keris tersebut lalu melancarkan sebuah serangan kepada dirinya.
Ekor Leon menahan Keris tersebut lalu melemparnya ke arah lain sehingga Shinobu memasang tatapan yang terlihat kaget seketika sampai ia terdorong ke belakang lalu terjatuh tepat di atas tanah.
Shinobu segera bangkit lalu memunculkan dua perisai cahaya melalui kedua lengannya untuk menahan serangan kedua pedang dari Leon yang terus ia ayunkan.
Setiap serangan yang mengenai perisai Shinobu langsung menghancurkannya sedikit demi sedikit sampai mata kirinya menunjukkan beberapa kerusakan terhadap tubuh asli dan buatannya.
Pada akhirnya, kedua lengan Shinobu putus ketika menerima serangan pedang tersebut lalu ia melihat Leon mengayunkan kedua pedangnya segara X sampai ia terpental ke belakang dengan luka X besar di tubuhnya.
Mengeluarkan banyak darah sampai ia sendiri telah kehabisan darah lalu merenggut nyawa yang ketiga, Shinobu berbaring di atas tanah dengan dua nyawa terakhir sampai ia merasa semakin takut.
"Hah... Hah... Hah..." Shinobu melihat kedua lengan barunya datang lalu terpasang di tubuhnya bersamaan dengan kaki barunya, ia kembali bangkit dan melihat refleksi dirinya di atas genangan air.
Refleksi itu sempat menunjukkan wajah Kou seketika sampai Shinobu kembali termotivasi untuk tetap maju, ia tidak akan pernah berhenti sampai bisa mengalahkan Leon untuk mendapatkan kepercayaan.
"Tech... gabungkan semua lengan dan kaki terakhir di dalam satelit itu lalu berikan kepadaku... setelah aku memerintahnya..." Kata Shinobu.
"Perintah di laksanakan, mengalami proses penggabungan terhadap lengan dan kaki buatan." Ucap Tech.
"Shiratori..."
Leon mulai menatap Shinobu yang mengeluarkan aura tenang dari cahayanya sampai ia sekarang berpikir bahwa dirinya menyembunyikan kekuatan lainnya.
Leon masih bisa merasakan kekuatan Beast di dalam dirinya yang aman dan terkendali tetapi ia mendapatkan sebuah kejutan dimana kekuatan dan Lenergynya meningkat secara drastis.
Tubuh Shinobu terlihat cerah sekarang berkat aura emas yang bergerak begitu tenang, ekornya juga ikut bergerak sampai Leon hanya membiarkan Shinobu melakukan sesuatu.
"Dua kesempatan untukmu, Shinobu... jangan sia-siakan!" Kata Leon.
Shinobu memasang tatapan tajam kepada Leon sampai ia bisa merasakan tatapan tersebut seperti menusuk jantungnya sendiri, semua Legend's Boost yang ia peroleh di campur dengan kekuatan Beast.
Sekarang Leon dapat melihat dirinya sebagai tantangan hebat untuk kekuatan baru bagi dirinya, ia melihat aura perak mulai muncul di luar lapisan dari aura emasnya sampai terdapat partikel perak di sekelilingnya tubuhnya.
Dedaunan emas mulai bermunculan di sekitar daratan sampai mengelilingi tubuhnya juga, ia mulai menatap kedua tapak tangannya.
"Sebuah kemampuan... yang belum aku sempurnakan..."
"...hanya terdapat sepuluh sampai tiga puluh persen kesempatan untuk... berhasil menggunakannya selagi... menambahkan kekuatan dari... Beast Neko Legend..."
"Jika gagal... sudah pasti risiko itu akan mempengaruhi tubuh kecilku ini..."
Tech merasakan sesuatu yang meningkat sangat drastis, sistem Tech mulai memperingati Shinobu bahwa kedua lengan dan kakinya mengalami kekuatan persentase yang meningkat cukup tinggi.
"Kemampuan ini... kata Nenekku... kemampuan yang selalu di jadikan tradisi... untuk keturunan Shiratori."
Shinobu mulai mengerahkan lebih banyak kekuatan sampai daratan mengguncang seketika sampai Leon memasang tatapan kagum ketika melihat bangunan hancur di sekelilingnya mulai melayang karena kekuatan dan aura itu.
"Jika kau bertambah kuat maka aku juga akan ikut bertambah kuat." Kata Leon.
"Shinobu Koneko, aku merasa penasaran dengan pertarungan kita akan berakhir sama mana."
Semua aura yang menyelimuti tubuh Shinobu menghilang seketika sampai Leon mengangkat kedua alisnya karena merasa bingung dengan apa yang akan ia lakukan.
"Kemampuan tradisi itu adalah..."
"Ingat, Shinobu, kamu hanya diperbolehkan menggunakan kemampuan ini ketika kamu berada di situasi yang buruk..."
Â
"...sampai tidak memiliki pilihan lain selain menggunakannya di saat-saat yang genting, itu baru diperbolehkan."
"Hanya saja... Nenek perlu memperingati dirimu sesuatu bahwa aku memperingati dirimu untuk tidak mendorong tingkatan itu melebihi lima puluh dengan tubuhmu yang masih belum siap."
__ADS_1
"... ..." Kedua mata Shinobu memancarkan cahaya emas.
"Light of Hope...!!!"