Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 269 - Dryad


__ADS_3

Menara pertama terletak tepat di negara dimana para ras [Dryad] tinggal, ras Dryad merupakan makhluk, atau semacam peri, yang menghuni tumbuh-tumbuhan, berwujud wanita. Tidak ada pria bagi ras ini dan mereka dapat berkembang biak dengan memotong bagian tubuh mereka sehingga tercipta sebuah pohon kecil yang nanti-nya akan berubah wujud menjadi gadis kecil.


Methode naik ke atas gunung dan di atas gunung itu ia bisa melihat sebuah negara yang dipenuhi dengan tanaman indah, ia juga bahkan bisa melihat pohon yang sangat besar... pohon yang terlihat seperti melambangkan sebuah negara, "Pohon-nya terlihat seperti Yggdrasil yang berasal dari Xuutouri." Kata Akina.


Methode, Ecplise, Rivin, dan Korin terlihat kebingungan ketika Akina baru saja mengatakan sebuah semesta yang bernama [Xuutouri], tetapi sepertinya mereka langsung sadar bahwa semesta itu berasal dari dimensi asli. Akina juga lupa untuk memberitahu mereka tentang semesta yang baru saja ia bicarakan.


"Tenang saja, pohon Yggdrasil juga kami tau..." Methode tersenyum.


"Pohon Yggdrasil itu apa...? Apakah makanan yang terbuat dari pohon...?" Tanya Eclipse sambil menyentuh bibir-nya sendiri, "Itu pohon kehidupan... sejarah mengatakan pohon itu adalah sumber kekuatan dan tenaga untuk semua ras Elf, kemungkinan besar ras Dryad ini memiliki kesamaan dengan ras Elf---"


Korin tiba-tiba melompat ke depan sehingga ia berputar ke bawah, jalan yang ada di depan mereka itu seperti turun dan Korin dengan bodoh-nya lebih memilih untuk berputar dibandingkan berjalan dengan hati-hati, "Uwu~ Itu terlihat menyenangkan!" Eclipse ingin melakukan hal yang sama dengan Korin tetapi Methode langsung menarik lengan-nya.


"Itu bahaya... kamu tidak sama seperti Korin, adik kecil-ku... Lebih baik kamu turun dengan pelan-pelan bersama Rivin saja." Methode langsung menyerahkan Eclipse kepada Rivin dan Rivin dengan senang hati mengajak Eclipse untuk turun dari gunung itu pelan-pelan sehingga terjadilah kecanggungan ketika Methode dan Akina berduaan.


"Mari kita turun, kita harus segera bergegas dan jangan menghabiskan waktu lain-nya." Methode pelan-pelan turun dari gunung itu dan Akina mulai mengikuti-nya dari belakang... sesuatu mengganggu pikiran-nya karena ia tahu bahwa Methode ini adalah istri dari Arata yang berasal dari dimensi palsu yaitu [Kurota]


Tanpa memikirkan dua kali, Akina langsung berbicara, "Emmm... Apakah kau istri dari Shimatsu Arata 'kah?" Tanya Akina dan Methode langsung tersenyum sambil menatap-nya, kenapa dia menanyakan pertanyaan yang tidak penting seperti itu? Methode juga tahu bahwa Akina ini adalah adik dari Arata yang berasal dari dimensi asli, seperti-nya kedua adik dari Arata yang berbeda itu ternyata berbeda.


"Kenapa kamu menanyakan pertanyaan seperti itu? Bukan-nya sudah jelas?" Methode terkekeh.

__ADS_1


"Tidak hanya saja, kau terlalu baik... berbeda dengan istri kakak-ku disini yang bernama Ophilia, aku bisa melihat kesamaan dan juga perbedaan dari kalian berdua tetapi kecantikan kalian itu tentu-nya sangat setara... kalian sama-sama cantik dan juga memiliki hebat..." Akina merasa canggung, ia menyesal karena menanyakan pertanyaan seperti itu sehingga Methode langsung mengelus kepala-nya.


"Dulu-nya aku tidak seperti i-ini kok... sikap-ku entah kenapa bisa berubah menjadi seperti, mungkin penyebab-nya adalah pria itu yang sudah mendampingi hidup-ku ketika aku pertama kali bertemu dengan-nya." Jawab Methode dengan pipi yang merona sehingga Akina langsung tersenyum, "Kau mencintai-nya ya?"


Wajah Methode langsung berubah menjadi merah, "A-A-Apa yang kamu katakan, ahh... b-bikin malu saja, aku tentu-nya mencintai-nya tau... uhh..." Methode dan Akina turun dari atas gunung itu bersama-sama sehingga Akina mulai berpikir bahwa Methode ini seperti-nya pantas untuk menjadi istri Kurota... sikap-nya yang baik dan juga dia sangat pemalu.


Rivin dan Eclipse tiba dengan selamat, mereka melihat Korin yang sedang merasakan kenikmatan bernafas dengan berat di atas daratan, tubuh-nya kotor bahkan terdapat beberapa ranting yang memberi diri-nya luka kecil. Rivin menepuk wajah-nya lalu menyembuhkan Korin sehingga ia kembali bersemangat.


Korin bangkit dari atas tanah lalu menatap ke depan, ia bisa melihat perbatasan negara itu yang dihalangi dengan ranting-ranting tajam serta menara dengan seorang Dryad di atas, Korin tanpa menunggu yang lain-nya langsung bergerak ke depan untuk mengendalikan pikiran penjaga itu menggunakan sihir ilusi-nya. Apa yang Korin lakukan sungguh tidak disangka karena ia mengontrol Dryad itu untuk memunculkan tentakel yang terbuat dari akar.


"Hukum Korin yang sudah jahil~ Hyahh~" Tentakel itu mulai memecut pantat Korin beberapa kali sehingga ia mengerang penuh dengan nikmat, untungnya Rivin dan menghentikan diri-nya dengan sebuah pukulan di kepala-nya, pukulan itu hanya membuat diri-nya semakin merasa nikmat dan bertambah kuat.


Aroma wangi bisa terasa dimana-mana bahkan suhu yang sejuk mampu membuat mereka merasa tenang, fisik dan jiwa mereka terasa tenang seperti genangan air... Akina mulai berpikir bahwa teman-teman malaikat-nya yang memiliki bunga kebajikan pasti akan menyukai tempat ini tetapi sayang sekali mereka tak terselamatkan. 


Beberapa Dryad menyambut mereka untuk masuk, terlihat jelas mereka menerima tamu apapun karena terdapat tanaman di dalam tubuh mereka yang dapat mendeteksi keberadaan seseorang maupun itu baik dan buruk, Dryad hanya menerima sesuatu yang baik sehingga Methode bersama yang lain-nya masuk. Rivin menggusur Korin masuk karena ia terlalu sibuk untuk menyiksa diri-nya sendiri.


Negara Dryad yang bernama [Heimyad]dipenuhi dengan berbagai macam tanaman yang sangat indah, negara yang cukup ramai walaupun Dryad hanyalah ras yang dipenuhi dengan gadis, terlihat sekali banyak keunikan yang dimiliki negara tersebut sehingga Eclipse dan Korin ingin pergi ke tempat yang terlihat menarik tetapi Methode dan Rivin segera menghentikan mereka semua.


"Sepertinya mereka yang berasal dari dimensi palsu tidak bisa diam ya... hahaha, cukup menyenangkan juga sih bersama mereka semua." Ungkap Akina sambil tersenyum, mereka mulai berkeliaran di tempat itu untuk mencari informasi agar bisa masuk ke dalam menara yang berbentuk pohon besar itu.

__ADS_1


Tidak ada yang menjawab dan bahkan jawaban mereka semua itu selalu sama yaitu tidak tahu, untungnya Dryad yang memiliki bunga emas di puncak kepala-nya dapat membantu mereka sehingga ia menjelaskan tentang menara itu, banyak sekali penjaga yang saat ini sedang menjaga pohon itu agar tidak ada orang yang berani masuk ke dalam pohon itu untuk membangkitkan kekuatan inti pusat.


Untungnya Akina memberitahu Dryad itu tentang sesuatu yang penting bahwa mereka membutuhkan menara itu untuk membangkitkan tenaga dan kekuatan inti pusat itu kembali agar mereka bisa pergi kembali menuju semesta Touri, alasan seperti itu mampu membuat Dryad tersebut mengajak mereka untuk mengunjungi pohon besar yang saat ini sedang dijaga oleh satu penjaga.


"Jelaskan alasan---" Tanpa basa basi lagi Korin mengendalikan pikiran penjaga dan Dryad yang baru saja mengajak mereka ke sini, mereka semua langsung berubah pikiran sehingga membiarkan mereka semua untuk masuk ke dalam pohon itu, mereka melihat tangga yang terbuat dari kayu lalu mereka segera melangkah ke atas sehingga tiba di lantai paling atas dari menara tersebut.


"Sepertinya kalian datang ya... penghuni Touri yang saat ini sedang kesusahan." Dryad yang memiliki mahkota di kepala-nya mulai menyambut mereka dengan senyuman, "Kalian mengenal kami?"


"Tentu saja, Shelldon memberitahu-ku tentang keberadaan kalian dan aku juga bisa mengetahui bahwa seseorang pasti akan datang dan meminta-ku untuk membangkitkan kekuatan dan tenaga inti pusat itu." Dryad itu langsung menunjuk sebuah bola emas yang saat ini sedang berputar dan memancarkan cahaya yang sangat silau.


"Jika Shelldon berbicara tentang kebaikan bagi penghuni Touri seperti kalian maka aku akan mengijinkan kalian untuk menggunakan bola itu untuk membangkitkan kembali tenaga dan kekuatan inti pusat itu... tetapi dengan syarat, seseorang harus bisa menahan kesakitan membuka---"


"Biar aku saja!!!" Korin maju ke depan lalu membuka gerbang dengan sangat lebar sehingga ia bisa melihat menara inti pusat yang memancarkan cahaya yang sama dengan bola di belakang, bola itu langsung meluncurkan gelombang emas yang sangat besar menuju arah inti pusat sehingga tubuh Korin langsung terbakar dan dipenuhi dengan kesakitan dahsyat.


"Hyaahhhh~ Sakit~ Sakit~! Tapi aku bertambah kuat~~~" Kata Korin yang mulai menghantam gerbang itu sehingga terbuka dengan permanen.


Mereka berempat mulai menatap satu sama lain dengan ekspresi yang terlihat datar, "Kakak kamu kenapa sih, Rivin...?" Tanya Akina.


"Entahlah... produk gagal Komi mungkin...."

__ADS_1


__ADS_2