Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 174 - Rasa yang Nikmat


__ADS_3

Korrina menatap kedua telapak tangan-nya yang kembali seperti biasanya, tidak ada garis merah lagi... Kemungkinan besar ia melepaskan semua garis merah itu dan mengubah-nya menjadi sumber kekuatan yang sangat dahsyat hingga membasmi semua manusia itu sekaligus walaupun dia hanya memukul satu manusia saja.


"Apa yang kau lakukan kepada manusia sampah tadi membuat diriku terkesan, Korrina. Kau memberi mereka pelajaran yang cukup baik." Aditya tersenyum serius sambil menyilangkan kedua lengan-nya karena senang melihat Korrina yang membunuh mereka secara langsung.


"Aku tadi niat-nya hanya untuk membuat mereka pingsan... tetapi kekuatan Crimson yang ada di dalam diri-ku tidak bisa aku kontrol dengan mudah sepertinya..." Korrina mengambil kedua sarung tangan-nya dan ia segera menggunakannya, ia melihat Arata dan Aditya yang mulai pergi meninggalkan dirinya.


"Andrian sudah menunggu kita di tempat yang pas untuk menikmati makanan Indonesia, tetapi... Jangan sampai kau mengulangi kesalahan yang sama karena terdapat beberapa Manusia yang jahat dan licik di sekitar sini..." Aditya mulai memperingati Korrina, sepertinya Manusia memang hampir sama seperti Legenda tetapi beberapa perbedaan bisa terlihat karena di semesta Yuusuatouri tidak pernah ada orang miskin.


"Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini..." Kata Korrina pelan, Haruka segera memeluk dirinya erat dan Korrina langsung membawa-nya menuju motor-nya. Mereka berdua pergi ke sebuah tempat dimana Andrian dan Ophilia sedang menunggu disana.


Kedatangan Korrina di sambut dengan raut wajah Andrian yang benar-benar marah karena tindakan ceroboh Korrina untuk meninggalkan motor-nya sembarang di tempat umum dimana manusia bisa saja mencuri-nya lagi, Korrina menundukkan kepala-nya dan memohon kepada Andrian bahwa ia tidak akan mengulang perbuatan-nya lagi.


Andrian sudah pasti akan memaafkan-nya, tempat dimana mereka akan makan terlihat cukup sederhana, terdapat sebuah gerobak yang dipenuhi dengan makanan yang memiliki aroma cukup wangi serta meja dan kursi kayu sudah tersedia dimana-mana. Korrina duduk di atas kursi kayu itu disebelah Haruka yang sedang berbicara dengan Makarov.


"Tempat-nya cukup sederhana, aku suka... Kau bahkan bisa melihat pemandangan mobil dan motor yang lewat." Ucap Korrina, ia menatap seluruh mobil dan motor yang melewati gerobak tersebut... Beberapa manusia juga terlihat seperti saling berinteraksi dan itu membuat dirinya cukup tenang.


"Aku tidak pernah menyangka bahwa Manusia juga akan melakukan sesuatu yang buruk seperti mencuri dan hal-hal lainnya..." Kata Korrina pelan, ia terlihat sedikit kecewa.


"Inilah hidup manusia, Korrina. Seorang pencuri kadang mencuri demi memenuhi kebutuhan mereka, mereka tidak memiliki cara apapun lagi untuk bertahan hidup dan mencari uang jadi mereka lebih memilih untuk mencuri atau membunuh..." Jawab Andrian.


"Hukuman yang diterapkan oleh Indonesia berbeda dengan ras seperti kau, Korrina. Di Indonesia, orang yang melakukan sesuatu yang buruk terkadang akan di penjara selama bertahun-tahun dan miris-nya itu mereka dapat dengan mudah bebas jika seseorang membayar agar hukuman bisa dihapus dengan uang tersebut." Kata Aditya.


"Uang adalah segala-nya untuk manusia... Tanpa uang, kita tidak bisa melakukan apapun... Sumber mana yang sudah beberapa kali diteliti mampu membuat beberapa manusia mencari uang dengan cara yang sangat salah." Aditya mulai mengeluarkan sebuah rokok lalu ia menyalakan-nya dan menghisap-nya.


"Apa yang aku harapkan sejak hembusan nafas terakhir-ku adalah... semua orang mampu hidup dengan damai tanpa harus merasakan ujian dan konflik tetapi Yuutouri sepertinya sudah memiliki berbagai macam konflik, termasuk seorang manusia yang berpakaian kotor dan rusak itu... Kemiskinan." Korrina terlihat khawatir, raut wajah-nya bisa terlihat jelas oleh mereka semua bahwa dia mengkhawatirkan sesuatu.

__ADS_1


"Aku yang menyelamatkan Touri... Itu artinya aku menyelamatkan setengah orang baik dan setengah orang jahat---"


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Korrina. Ini adalah siklus hidup... Bukan kehidupan jika tidak ada ujian dan usaha." Arata mulai berbicara, Korrina hanya bisa diam sambil mengangguk, orang miskin yang dibantu oleh Haruka mulai teringat sampai dirinya hanya bisa diam sambil memegang dagu-nya.


"Aku ingin membantu manusia yang tidak mampu itu... Jika bisa, tetapi aku mulai mengkhawatirkan sesuatu tentang pencuri dimana orang miskin yang aku bantu itu tiba-tiba disergap oleh beberapa manusia yang jahat." Korrina mengepalkan kedua tinju-nya dan ia mulai merapatkan gigi-nya.


"Mama..." Haruka mulai menyentuh tangan-nya dan Korrina mulai menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan-nya hingga ia kembali merasa tenang seperti biasanya. Korrina mulai mengelus rambut Haruka sambil tersenyum.


Pedagang itu mulai menempatkan semua pesanan yang dipesan oleh Andrian, Korrina menatap piring yang ada di depan-nya dengan ekspresi yang terlihat terkesan. Ekspresi-nya yang tadi terlihat khawatir sekarang terlihat sangat senang, sepertinya dia mudah terbawa suasana dengan apapun dan itu adalah hal yang baik.


"Ini adalah rendang... Masakan daging dengan bumbu rempah-rempah yang terasa lezat. Masakan ini dihasilkan dari proses memasak yang dipanaskan berulang-ulang menggunakan sampai kuah-nya kering sama sekali. Proses memasaknya memakan waktu berjam-jam biasanya sekitar empat jam hingga yang tinggal hanyalah potongan daging berwarna hitam pekat dan dedak."


Apa yang dikatakan oleh Andrian langsung Arata catat dan Korrina juga ikut mencatat dengan menyuruh Tech untuk mengumpulkan beberapa informasi tentang makanan Indonesia contohnya rendang yang terlihat lezat itu, Korrina tanpa basa-basi lagi segera mengambil sendok itu lalu menjilat bibir-nya.


"Aku kelaparan...!" Korrina langsung mencicipi rendang itu dan apa yang dirasakan sepertinya tidak memenuhi harapan-nya karena daging yang ia makan itu terasa cukup tidak enak, pedas dan pahit yang hanya bisa dirasakan oleh lidah.


"Tidak ada satupun daging yang terasa pahit dan pedas seperti ini...! Bahkan daging katak yang ada di Yuusuatouri lebih enak dari daging satu ini...!!!" Kata Korrina dengan ekspresi yang terlihat kesal, Andrian dan Aditya menatap Korrina dengan ekspresi yang datar lagi karena dia memakan sesuatu yang seharusnya tidak ia makan.


"Kau memakan lengkuas... Bukan daging, bodoh." Kata Aditya.


Korrina melebarkan matanya dan ia mulai menatap lengkuas yang dipenuhi bumbu itu, wajah-nya mulai memerah karena dia baru saja mengatakan sesuatu yang tidak pantas, seharusnya dia lebih berhati-hati lagi untuk memakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Harga diri pedagang itu kembali meningkat.


"Hahaha... Maaf karena bersikap tidak sopan seperti ini, yahhh... Ini pertama kalinya aku merasakan lengkuas yang dipenuhi dengan bumbu--- Tidak!!! Jangan-jangan ini ilusi!" Seru Korrina keras hingga mereka semua mulai menatap Korrina datar.


Korrina mulai memakan daging rendang hingga satu gigitan saja sudah mampu membuat matanya terbuka lebar lalu terbakar dengan api Crimson yang mengartikan bahwa dia menyukai-nya, sangat menyukai-nya sampai ia menghabiskan piring yang dipenuhi dengan nasi dan rendang itu.

__ADS_1


"Enaaaakkkk...!!! Rasa yang nikmat...!!! Gurih...!!! Bumbu yang sungguh spektakuler...!!!" Kata Korrina, dia memakan rendang itu sampai bibir-nya dipenuhi dengan bumbu rendang, Haruka mengambil sebuah tisu dan segera menghapus semua bumbu-bumbu itu.


"Ini adalah kekuatan dari masakan Indonesia, kau sepertinya sangat menikmati makanan itu sampai habis ya..." Andrian terkekeh.


Arata dan Ophilia juga sama-sama menghabiskan makanan itu dengan cepat, Legenda biasanya makan dengan cepat jika makanan itu terasa sangat lezat. Andrian memesan porsi lainnya untuk mereka yang masih menginginkan rendang itu, ia juga tidak lupa untuk memesan sebuah jengkol dengan sambal yang sangat pedas.


Mereka menikmati makan siang mereka semua, hanya Aditya yang diam dan sudah merasa kenyang ketika melihat para Legenda itu yang makan dengan cepat dan rakus. Pedagang itu merasa sangat untung karena Andrian memberi dirinya uang yang cukup banyak, Korrina belum mencicipi jengkol yang Andrian pesan karena dia hanya fokus dengan rendang.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah merasa kenyang... Sebuah gelas air hangat yang memiliki warna coklat mampu membuat tubuh Korrina terasa lebih hangat dari sebelum-nya, dia benar-benar menikmati makanan satu ini hingga Tech sudah mendapatkan informasi tentang rendang itu agar Korrina bisa membuatnya nanti.


"Ahhhh... Aku kenyang..." Korrina tersenyum sambil mengusap perut-nya yang sudah dipenuhi dengan makanan.


"Terima kasih karena sudah menyarankan diriku tentang rendang ini... Aditya... Andrian..." Korrina tersenyum lebar.


"Tentu saja." Jawab Andrian dan aditya hanya bisa mengangguk.


Korrina mengalihkan pandangan-nya kepada Haruka yang sudah menghabiskan makanan-nya, dia mulai menatap Korrina lalu menunjukkan senyuman lebarnya yang mampu membuat Korrina secara refleks memeluk dirinya.


"Mama, aku tidak bisa bernafas..." Haruka terkekeh dan Korrina berhenti memeluk-nya lalu ia membelai rambutnya dengan pelan.


"Haruka~ Bagaimana makan siang-mu...?"


"Sangat enaaaaakkkkkkkkkkk...!" Kata Haruka hingga sebuah aroma tidak sedap keluar dari mulut-nya hingga kedua lubang hidung Korrina dapat menghirup aroma tersebut yang terasa tidak sedap, aroma yang berasal dari jengkol membuat dirinya langsung melebarkan matanya.


"A... A... Ack...." Korrina terjatuh di atas tanah lalu pingsan.

__ADS_1


"Korrina...!!!"


__ADS_2