Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 693 - Kemana Perginya Dia?


__ADS_3

Tech mendarat di hadapan Kou, ia bisa melihat wilayah di sekitarnya dipenuhi dengan batu bahkan terdapat banyak sekali luka dan darah yang tertera di tubuh Kou.


"Nyonya, apakah Anda baik-baik saja?" Tanya Tech yang mulai menyiapkan perban untuk memulihkan luka Kou.


"Tech, bisakah kamu membawa suamiku ke kamar...? Tolong bersihkan semua darah di tubuhnya juga." Kata Kou, Tech mengangguk lalu ia mengangkat tubuh Shuan yang dipenuhi darah ke dalam kabin itu.


Kou menatap wajah Shinobu, ia bisa melihat bekas pukulan di pipinya itu, dengan cepat ia mengeluarkan sebuah sapu tangan lalu mengusapnya pelan-pelan tanpa sihir pemulihan apapun karena ia tidak bisa melakukannya.


"Karena masalah Mama... kamu jadi terluka seperti ini, malangnya... Koneko ku... aku tidak sempat menyelamatkanmu karena aku sangat lemah..."


"...tidak bisa di andalkan... bahkan fisikku begitu lemah sampai tadi aku tidak bisa berdiri dan bergerak, kedua kaki juga mati rasa sampai membutuhkan alat bantu sepertimu..."


Kou terus mengusap pipi Shinobu yang masih pingsan, ia mulai mengendalikan pikirannya agar ia bisa memimpikan sesuatu yang indah, mimpi itu sudah cukup untuk melupakan kejadian sebelumnya.


Kou bisa melihat Shinobu tersenyumlah di tidurnya sampai membuat Kou bertambah semakin bersalah karena ia melihat Shinobu mencoba untuk melindungi dirinya dari semua lemparan batu itu.


"... ..."


"... ..." Kedua mata Kou mulai berkaca-kaca.


"Uck..." Air mata mengalir deras melalui kedua matanya walaupun ia mencoba untuk menahannya, rasa sakitnya sudah tidak bisa ia tahan lagi.


Tidak bisa menahannya lagi Kou menangis tanpa mengeluarkan suara apapun, suara tangisannya tidak terdengar tetapi di dalam hatinya terdapat jeritan dari tangisan kerasnya itu karena ia sudah tidak bisa menahannya lagi.


Air matanya mulai berjatuhan tepat di wajah Shinobu sampai ia membuka kedua matanya pelan-pelan, ia bisa merasakan tubuhnya basah dengan air mata Kou.


Shinobu terkejut ketika melihat Kou menangis dengan kedua matanya yang tertutup bahkan mulutnya di tutup oleh tapak kirinya agar tidak ada satu pun suara yang terdengar.


"Mama..." Panggil Shinobu pelan sambil menarik bajunya.


Kou membuka kedua matanya, melihat Shinobu ikut menangis juga ketika melihat ibunya terlihat sangat bersedih, bisa terbaca melalui pikirannya bahwa perasaan dan pikiran Kou sedang kacau saat ini.


"Ahahaha... kenapa kamu ikut menangis juga, Koneko?" Tanya Kou sambil menghapus air matanya.


"Maaf ya, Mama hanya sedang ingin menangis... walaupun semuanya sudah hilang... Mama masih memiliki Koneko dan Papa." Kou mengelus kepala Shinobu sambil menghapus air matanya sendiri.


"Kalau begitu... mau makan siang?" Tanya Kou yang mulai menggenggam tangan Shinobu lalu ia menempati keningnya di dahi Shinobu.


"Mm...! Kalau Mama berhenti menangis... Koneko juga berhenti..." Koneko tersenyum lebar sampai mengejutkan Kou dengan banyak cahaya harapan dari senyuman tersebut.


"Mama... aku menemukannya sekarang juga... harapan yang di maksud sejak aku masih kecil sekali..." Ungkap Kou ketika ia menemukan sebuah harapan, dan itu adalah Shinobu sendiri.


"...akhirnya aku menemukan harapan itu, sesuatu yang harus aku lindungi dengan nyawaku sendiri... harapan cahaya surga yang akan memberikan harapan selanjutnya..."


Shinobu memejamkan kedua matanya lalu ia tersenyum sambil membuka mulutnya, "Hehehe~"


"Semua itu... memang ada di sini." Kou tersenyum lalu ia memberi sebuah kecupan di kening Shinobu.


"Shiratori Shinobu..."


"Mmm?"

__ADS_1


"Mau ke restoran Shimatsu?" Tanya Kou yang mulai menggendong tubuh kecil Shinobu.


"Mmm~! Aku mau madu!"


"Hehehe, putriku memiliki selera yang baik ya~ kalau begitu ayo---"


Kacamata Kou langsung mendapatkannya sebuah pesan darurat dari beberapa orang, salah satunya adalah Haruka dan Bakuzen yang terus mengirim pesan tanpa henti.


"Koneko, sebentar ya..." Kou menyentuh kacamatanya untuk menjawab panggilan Haruka, sebuah hologram yang membentuk wajah Haruka mulai muncul di lensanya.


"Kou! Kemari cepat...! Sepertinya desa yang di jadikan sebagai tempat tinggal oleh Honoka telah mendapatkan serangan yang cukup besar...!"


"Baiklah, aku akan ke sana!" Kou mengangguk lalu ia menghubungi Tech untuk mempersiapkan zirah canggih lainnya agar ia bersama Shinobu bisa terbang menuju lokasi itu.


***


"Wilayah ini cukup berantakan... semua orang mati terbakar oleh api hitam yang hanya menyisakan tulang saja." Ucap Haruka pelan dengan tatapan yang terlihat jijik.


Rokuro melompat keluar dari dalam jam pasir itu, ia baru saja memberi Regulus pelajaran yang setimpal dan sekarang dirinya masih terjebak di dalam sana dengan menerima beberapa penyiksaan setiap detik berlalu.


"Bukan hanya pulau kita yang di serang... desa ini juga sama." Kata Rokuro sambil melihat sekeliling, semuanya dipenuhi dengan kehancuran.


"Hinoka..." Ucap Koizumi pelan dengan tatapan yang terlihat khawatir karena ia bisa melihat semua pasukan Ghisaru masih belum menemukan korban yang selamat.


Bakuzen bergerak ke arah Haruka dan yang lainnya dengan tatapan yang terlihat panik, "Aku tidak menemukan mereka sama sekali..."


"...apakah mereka masih belum pulang---" Bakuzen melihat Arata bersama yang lainnya mulai mendarat di atas tanah.


"Bukan hanya desa ini yang di serang... kami juga melihat beberapa desa dan tempat persembunyian kecil hancur, tidak ada jejak apapun." Kata Haruki selagi merapatkan giginya.


"Arwah mereka sudah menghilang... pergi ke atas, menuju dunia kematian." Ucap Yuuna karena ia tidak bisa merasakan esensi arwah di sekitarnya.


"Tenang saja, Bakuzen... aku yakin Honoka dan Hinoka sedang pergi ke tempat yang aman untuk berlindung." Shizen mulai menepuk punggung Bakuzen.


Kou dan Shinobu baru saja tiba, mereka semua menyadari Kou dipenuhi dengan perban di tubuhnya, "Kou, apakah kamu baik-baik saja...?!"


"Kenapa kamu dipenuhi dengan perban seperti itu?! Koneko juga...!" Haruka terkejut ketika melihat Kou terlihat begitu kacau karena perban yang ia pasang.


"Jangan hiraukan soal itu dulu... aku juga tadi sempat melihat banyak sekali asap hitam... kerajaan Legetsu memang sudah bergerak dengan ketiga Ancient Legenda itu." Kou mengepalkan kedua tinjunya.


Shinobu berdiri di atas tanah lalu ia melihat Koizumi terlihat khawatir, ia mulai mendekati dirinya, "Kak Koizumi..."


"Koneko---" Koizumi melebarkan matanya ketika melihat pipi Shinobu di tutup dengan perban yang kecil.


"Kamu terluka...! Apakah kamu baik-baik saja!? Siapa yang melakukan ini kepadamu...?!" Tanya Koizumi selagi meraba kedua pipinya.


"Mm, Koneko baik-baik saja... Kak Hinoka dimana...?" Tanya Shinobu dengan tatapan gugup, ia mencoba untuk memberanikan dirinya sendiri ketika bertemu dengan Hinoka


"Aku tidak tahu... Hinoka hilang entah kemana." Jawab Koizumi dengan tatapan kesal karena ia merasa terganggu melihat sepupu kecilnya memiliki luka di pipinya itu.


Mereka mencoba untuk mencari Honoka dan Hinoka yang menghilang entah kemana, mereka juga menyempatkan waktu untuk mencari korban yang selamat.

__ADS_1


"Time-Replay!" Kedua mata Haruka mulai menunjukkan jarum jam yang bergerak ke belakang, ia mulai melihat pengulangan waktu beberapa menit lalu.


Tidak ada yang berubah, ia terus mempercepat Replay itu ke belakang sampai dikejutkan dengan seorang Legenda bertanduk selagi memegang sebuah tongkat mulai memusnahkan semua penduduk desa itu.


"... ...!" Haruka mulai memundurkan Replay itu lagi, muncul lah sebuah pertarungan yang berat sebelah dimana Honoka terus di siksa oleh Diablo tanpa henti bahkan sampai menyebabkan banyak kehancuran di tubuhnya.


"Honoka sedang bertarung..." Ucap Haruka dengan tatapan yang terlihat kesal ketika melihat adiknya terus di siksa oleh Diablo.


"Haruka, kau menggunakan Time-Replay itu?" Tanya Rokuro.


Haruka menjawabnya dengan anggukkan, mereka semua mulai mendekati dirinya untuk mencari tahu apa saja yang Haruka lihat di dalam Replay itu.


Tidak memakan waktu yang cukup lama, ia menghentikan sihir tersebut lalu menunjuk ke arah timur dimana mereka melihat sebuah gua yang lumayan besar di arah itu.


"Honoka bersama Hinoka berada di dalam sana!?" Tanya Bakuzen yang mulai lari ke depan tetapi Haruka muncul di hadapannya.


"Kita pergi bersama... saling menjaganya satu sama lain, kemungkinan besar... terdapat... sebuah perangkap..."


Kou dan Shinobu membaca dengan jelas perasaan Haruka yang mengandung banyak kesedihan dan penyesalan ketika melihat Replay tadi, sesuatu pasti terjadi dengan Honoka.


"Kakak, apakah Replay itu akurat?! Tidak mungkin Kak Honoka akan di siksa seperti itu!" Seru Kou sehingga mengejutkan mereka semua.


""A-Apa...?!""


Haruka terlihat murung seketika, ia menghentikan Replay ketika Diablo mendorongnya ke depan, ia mencoba untuk berpikir positif tentang Honoka dan Hinoka bahwa mereka saat ini sedang berlindung di dalam gua itu.


"... ..." Haruka tanpa mengeluarkan perkataan apapun mulai berjalan menghampiri gua itu, mereka semua bisa melihat banyak sekali darah yang berjumlah cukup banyak.


"Aku melihat banyak sekali darah..." Kata Arata.


"Darah sebanyak ini... aromanya tidak begitu menyengat, aromanya terasa seperti melati." Kata Yuuna.


Haruka berada di barisan paling depan karena ia melarang mereka untuk maju duluan tanpa dirinya, ia hanya ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan Honoka dan Hinoka di dalam gua itu.


Mereka sudah dekat dengan gua itu, "Biarkan aku masuk duluan... aku dapat menghentikan waktu untuk menghindari semua perangkap."


""Silakan...""


Haruka menelan ludahnya lalu ia memegang gua itu dengan lengannya yang bergetar ketakutan seketika bahkan kedua kakinya juga terasa begitu kaku, jantungnya berdetak sungguh cepat karena ia tidak ingin melihat sesuatu yang mengerikan di dalam.


"Aku mohon, Mama... jangan bawa pergi Adikku..." Ungkap Haruka yang mulai masuk ke dalam gua itu.


"... ...!!!" Haruka melebarkan matanya sampai kedua tangannya secara refleks menutup mulutnya ketika melihat adiknya sedang memejamkan kedua matanya dengan senyuman lebarnya itu.


Tubuhnya dipenuhi dengan darah, satu lengannya hancur bahkan masih terdapat beberapa daging yang tersisa di sekitar lengannya yang hancur.


Kedua kakinya juga bahkan hancur sampai ia bisa melihat tulangnya yang berwarna hitam itu, dua lubang besar tertera di bagian perut dan dada Honoka sampai ia bisa melihat sebagian organ tubuhnya hilang dan hancur.


Dengan semua kerusakan dan luka yang di alami oleh Honoka, ia masih bisa tersenyum bahkan sampai memeluk Hinoka yang tertidur dengan damai.


"...Honoka!"

__ADS_1


__ADS_2