Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 65 - Sudah Mencapai Puncak Sebelum Semi Final


__ADS_3

Arata mulai memutar pedangnya selagi menatap musuhnya yang bernama Geras Miguel dimana dia adalah seorang manusia cyborg yang di modifikasi untuk bisa bertarung dengan berbagai cara serta mata kanan Geras yang berwarna merah mampu mendeteksi semua cara bertarung musuh yang ia lawan. Arata meludah darah-nya ke bawah lalu ia memegang pedang kemarahan-nya dengan sangat erat sehingga logam dari pedang itu mulai terbakar dengan api yang berwarna hitam. Arata menebas ke depan sehingga gelombang api berwarna api hitam meluncur menuju arah Geras.


 Geras mulai menggunakan kedua lengannya yang terbuat dari logam terkuat untuk menahan serangan sihir dari Arata sehingga ia mulai memanggil banyak sekali robot yang ia ciptakan menggunakan remote yang berada di saku celananya, semua robot itu mulai mulai muncul dari serpihan logam yang telah Arata tebas sehingga itu membuat Arata kesal melihatnya, "Regenerasi terus berkembang biak ya..." Ungkap Arata. Arata lari ke depan dan semua robot itu mulai mengepung Arata dan mencoba untuk menyerangnya, tetapi sayang sekali semua robot itu langsung tertebas di bagian inti mereka menggunakan pedang kemarahan milik Arata.


Arata mencoba untuk bergerak menuju arah Geras, tetapi ia terus dihentikan oleh beberapa robot yang menghalanginya. Arata mulai meluncurkan gelombang api panas ke depannya lalu gelombang api itu melesat ke atas dan meledak sehingga menghabiskan semua robot itu, "M-Mustahil!!!" Arata muncul tepat di depan Geras lalu ia menebas perutnya dengan sangat dalam sehingga menyebabkannya untuk terpental ke belakang dan mengenai barrier.


Ketiga arena berlangsung dimulai dari pertarungan Arata dan Geras, Rexa dan Rejima, Catherine dan Luke. Rexa menghindari semua serangan Rejima dimana ia bertarung menggunakan katana, ia adalah bangsa manusia yang dikenal sebagai samurai dan cara-nya bertarung menggunakan katana membuat Rexa lengah sehingga ia terjatuh di atas batu. Rexa membulatkan kedua matanya ketika melihat Rejima yang mengayunkan katana-nya beberapa kali ke arah Rexa, tetapi Rexa menghindari semua serangan itu dengan melompat ke belakang.


Rexa mulai mengisi sihir Final Shine Attack di tangan kirinya, tetapi Rejima melesat ke depan sehingga menghantam perut Rexa menggunakan gagang katananya dan membuatnya terdorong ke belakang lalu terjatuh. Rejima menginjak perut Rexa lalu ia mulai mencekik lehernya dengan sangat keras dan mengarahkan katananya kepada Rexa, untungnya Rexa memegang lengan kanan Rejima dengan sangat erat untuk menahannya agar tidak melukai wajahnya dan sepertinya menyerah bukanlah pilihan yang baik, "...Cih." Rexa menendang wajah Rejima menggunakan kedua kakinya sehingga ia terpental ke belakang.


Rexa bangkit dari atas lantai lalu ia mulai menaikkan seluruh aura crimson-nya, Rejima muncul di depan Rexa lalu ia mengayunkan katananya ke arahnya, tetapi Rejima berhasil menghindari semua serangan itu dengan cepat. Rexa mencoba untuk menciptakan sabit Crimson-nya, tetapi ia tidak diberi kesempatan untuk melakukannya melainkan Rejima terus menyerangnya tanpa henti. Rexa mulai menyerang balik dengan menendang perutnya menggunakan lutut kanannya sehingga menyebabkan zirah samurai milik Rejima di bagian perut langsung retak.


Rexa berputar lalu ia menghantam wajah Rejima beberapa kali menggunakan kedua tinjunya yang dilumuri dengan aura crimson, pukulannya yang terkena wajahnya mampu membuat suara tinju yang sangat keras sehingga Rejima bisa merasakan kesakitan dari pukulan tersebut. Rexa berputar ke depan selagi melompat lalu ia menendang wajah Rejima dan menyebabkannya terdorong ke belakang, Rexa mengangkat lengan kanannya. "Shinku-no-Kama!!!" Rexa mulai menciptakan sebuah sabit melalui aura crimsonnya.


Rexa melempar sabit itu ke arah Rejima, tetapi Rejima menangkis sabit itu kembali kepada Rexa. Rejima melesat ke depan lalu ia mengayunkan katananya beberapa kali dan Rexa hanya bisa menahan semua serangan itu selagi terpojoki oleh tenaga Rejima yang besar. Rexa melompat, tetapi Rejima langsung menghantam perut Rexa menggunakan kepalanya yang terlindungi dengan helm, "Gughhh!!!" Rexa terdorong ke belakang.


Rexa mulai menghilang lalu ia muncul tepat di belakang Rejima yang sedang mengayunkan katananya ke arah leher Rexa, tetapi Rexa menahan serangan itu menggunakan sabitnya sehingga membuatnya terdorong ke belakang lalu terjatuh. Rejima mencoba untuk menusuk perut Rexa, tetapi Rexa langsung menciptakan sebuah barrier yang mampu melindungi dirinya dari tusukan katana itu. Rejima memegang kaki kanan Rexa lalu ia melemparnya ke atas sehingga membuat Rexa muncul tepat di depan Rejima selagi mengayunkan sabitnya.


CLANG! CLANG! CLANG!


Mereka berdua mulai saling mengadu senjata tajam mereka tanpa henti sehingga serangan mereka tidak mampu mengenai satu sama lain, Rexa melompat ke atas lalu ia mengayunkan sabitnya yang mengenai helm Rejima dan mampu membuat helm tersebut hancur. Rejima menyerang balik dengan menebas perut Rexa sehingga membuatnya terdorong ke belakang lalu terjatuh di atas tanah, "Cih... Bagaimana caranya aku membuat Mama bangga?!" Ungkap Rexa.


Rexa melihat Rejima yang mulai meluncurkan sihir api gelombang ke arahnya, Rexa melompat ke atas lalu ia melayang di atas selagi menatap Rejima yang terlihat kuat sekali. Rexa melesat menuju arah Rejima lalu ia mencoba untuk menusuk kepalanya, tetapi Rejima mencekik leher Rexa lagi lalu ia melemparnya ke bawah dan membuatnya terdorong ke belakang. Rejima bergerak maju selagi menendang-nendang perut Rexa lalu ia mengakhiri tendangan itu dengan menghantam wajah Rexa ke atas langit. Rexa berputar lalu ia meluncurkan beberapa bola Crimson ke arah Rejima dan Rejima menebas semua sihir itu sampai diserap oleh katananya sendiri.

__ADS_1


Rejima muncul di depan Rexa lalu ia menghantam wajahnya beberapa kali dan setelah itu ia menendang pinggangnya, "HUGGHHH!!!" Rejima menebas perut Rexa lagi menggunakan katananya sehingga meninggalkan sebuah luka tebas yang mampu mengeluarkan banyak sekali darah, Rejima melanjutkan serangan tadi dengan menusuk kaki kanan Rexa dalam sekali, "C-Cih..." Rexa mulai merasa lemas, tetapi semua luka yang ia miliki mampu membuatnya kuat berkat bantuan dari sihir Crimson-nya, "AKU TIDAK AKAN KALAH!!!" Rexa mulai mengayunkan sabitnya beberapa kali, tetapi Rejima menghantam sabit itu sampai terpental ke daratan.


"TIDAK ADA YANG BISA MENGALAHKAN MANUSIA YANG MENGIKUTI PELAJARAN DARI THE SAMURAI OF GOD'S HIGHNESS!!!" Rejima mulai menebas seluruh tubuh Rexa tanpa henti lalu ia menendang punggungnya sehingga membuat Rexa terpental ke daratan, tetapi Rejima memegang kaki kanannya lalu ia menghantamnya tepat di atas arena dan setelah itu ia menginjak perut Rexa sehingga membuatnya memuntahkan darah yang cukup banyak, "UGGHHH!!!


Rexa mulai menatap Rejima yang mengangkat katana-nya ke atas dan itu membuat Rexa mengingat kepada Alvin, yang lemah tidak akan bisa kemana-mana tanpa sebuah usaha yang besar. Kedua mata Rexa bersinar warna Crimson cerah, Rexa memegang sabitnya erat lalu ia tiba di belakang Rejima selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, "... ..." Rejima terjatuh di atas tanah dengan kondisi yang pingsan karena pergerakan Rexa tadi itu sangat cepat sehingga membuat semua penonton dan bahkan Rejima sendiri tidak bisa melihatnya. Bagian anggota tubuhnya mulai dipenuhi dengan luka tebasan yang tidak mampu membuatnya sekarat atau mati melainkan Rexa melakukannya untuk balas dendam.


Rexa mendorong Rejima ke depan menggunakan dorongannya sehingga membuat Rejima keluar dari atas arena, semua penonton mulai bersorak keras karena pertarungan dari Arata dan Rexa telah berakhir, seperti biasanya Jorgez tergila-gila melihat pertarungan mereka sehingga ucapannya mulai terdengar seperti seorang autis. Pertarungan yang terakhir adalah Catherine melawan Luke seorang Super Elite Legenda. 


Catherine mencoba untuk menendang Luke, tetapi ia menghindari semua serangannya dan menyerang balik dengan menendang wajah Catherine sehingga membuatnya terdorong ke belakang. Catherine mulai memegang kaki kanan Luke, tetapi Luke menendang kepala bagian belalang Catherine menggunakan kaki kirinya. *BAM!* Luke mundur ke belakang lalu ia mulai meluncurkan sihir bola cahayanya ke depan, tetapi Catherine menunjuk ke depan sehingga bola cahaya itu masuk ke dalam portal yang ia ciptakan dan poral itu muncul tepat di belakang Luke sehingga bola cahaya tadi mengenai punggungnya.


BAAMMMM!!!


Catherine tersenyum dan melihat asap-asap yang berada di depannya sehingga Luke melompat keluar selagi melesat menuju arahnya sendiri, Luke menendang dagu Catherine menggunakan lutut kirinya lalu ia menghilang. Luke muncul kembali di depannya lalu ia menendang wajah Catherine menggunakan kaki kanannya, Luke menghilang dan muncul tepat di belakang Catherine dengan bola cahaya di telapak tangan kirinya. Catherine masih bisa sempat untuk menghindari serangan tersebut dengan berubah menjadi partikel-partikel angkasa, "Ahh!?"


BAAMMMM!!! 


Luke terpental ke belakang sehingga mengenai barrier yang berada di belakangnya, Catherine resmi untuk melanjutkan ke ronde empat dimana ronde empat adalah tempat seleksi seseorang yang sangat layak. Semua penonton merasa puas melihat pertarungan mereka semua dan disaat itulah pertarungan yang akan datang nanti sudah jelas akan lebih seru dari sebelumnya. Semua peserta yang bertarung pasti akan menikmati istirahat yang panjang seperti makan, tidur, dan menikmati kehangatan dari air panas.


"Uwahhhh~ Sudah pasti pemandian air panas akan membuat istirahatku menjadi yang terbaik." Ucap Rexa selagi meregangkan kedua lengannya ke atas, "Terasa nikmatttttt........" Ucap Korrina selagi menunjukkan ekspresi yang terasa nikmat sekali karena kehangatan dari air panas tersebut. Semua gadis akhirnya bisa berbicara dengan Korrina untuk sementara karena bantuan dari Rexa dan Agfi, mereka semua sangat senang bahwa Korrina bisa kembali menghabiskan waktu bersama mereka semua, "Ada apa, Agfi... Sini, mendekat dengan Mama." Ucap Korrina yang melihat ekspresi Agfi seperti tidak mau menikmati pemandian air panas.


"Ayolah, Agfi. Seharusnya kita menikmati pemandian air panas antara gadis bersama." Ucap Akina selagi terkekeh, Korrina sadar bahwa Agfi tidak mau menjadi pusat perhatian bahkan walaupun dia sedang berada di pemandian air panas gadis, ia tidak mau menjadi pusat perhatian mereka, "Prinsip istirahat semua gadis adalah... Menikmati air panas~" Ucap Asuka.


"Hanya saja, kalian itu besar... Aku merasa malu karena dada-ku rata sih." Ucap Rexa selagi menghela nafasnya, Agfi mengangguk pelan dan mereka sudah jelas akan memaklumi mereka berdua karena mereka masih kecil, sedangkan semua gadis mulai menatap dada Korrina yang mendapatkan perkembangan dimana ia sudah tidak bisa disebut dengan rata lagi, "Besar? Apa maksudmu?" Tanya Korrina.

__ADS_1


Asuka mulai merasa iri melihat dada Korrina, "Korrina, liat kedua dada-mu yang mengambang di atas air! Korrina, kamu makan terlalu banyak, tetapi proporsi tubuhmu itu sangatlah sempurna!" Ucap Asuka dengan nada yang terdengar iri, dulunya Asuka memiliki dada yang lebih besar dari Korrina, tetapi sekarang ia terkalahkan. Berkat bantuan Akina, Korrina mampu menumbuhkan kedua payudaranya, "Sepertinya kalori yang ia dapatkan pindah ke dada dan otaknya sekarang." Jawab Megumi yang merasa iri juga.


"Kau juga sama, Akina, apakah ada cara untuk bisa menumbuhkannya?" Tanya Megumi yang mulai menatap kedua dada Akina yang lumayan besar, "Hehhhh... Kamu memiliki proporsi tubuh yang bagus kok, Megumi, Rexa, dan Agfi. Kulit kalian halus dan cantik." Puji Catherine sehingga membuat Megumi merasa senang karena sudah dipuji, Agfi dan Rexa hanya bisa diam karena Korrina sudah mengatakan hal yang sama beberapa kali.


"Ngomong-ngomong, Akina. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu." Ucap Catherine.


"Apa itu?"


"Apakah kamu sudah punya pacar?" Tanya Catherine selagi tersenyum licik.


"Hmmm... Tidak..." Jawab Akina pelan, "Tidak mungkin! Kamu ini sangat cantik dan bahkan memiliki proporsi tubuh yang sangat sempurna." Puji Catherine karena semua yang ia katakan memang mengajukan kepada yang kebenaran, beberapa dari gadis yang berada di pemandian air panas itu tidak memiliki pacar juga, "Iya 'kah? Yahh... Aku jarang bertemu seseorang yang membuatku tertarik di semesta Xuusuatouri sih."


Topik pembicaraan mulai berubah menjadi membicarakan tentang pacar dan kekasih karena Catherine, seperti biasa Rexa dan Agfi hanya bisa diam selagi mendengarkan mereka berbicara dan membahas sesuatu yang terdengar kadang aneh. Pembicaraan terus berlanjut sampai salah satu dari mereka bosen, menghabiskan beberapa menit untuk mereka selesai berbicara lalu keluar dari pemandian air panas. 


Korrina membuka loker-nya yang terdapat piyama dengan desain Kisetsu serta kacamata Tech, ia mulai mengambilnya lalu menggunakan Kisetsu-nya dulu dan setelah itu ia sadar bahwa Akina sedang berdiri di sebelahnya selagi memakai kisetsu piyamanya, Korrina mulai menatap Akina dan Akina membalas tatapan tersebut dengan sebuah senyuman, "Haruka kemana? Kok aku tidak melihat Haruka bersamamu?" Tanya Akina.


Korrina melirik ke bawah dan Akina juga ikut melirik ke bawah dimana ia melihat Haruka yang sedang berbaring di kaki kanan Korrina selagi tertawa karena ia senang bahwa Korrina telah kembali, "Haruka tadi menangis terus, aku tidak mendengarnya karena ketika ia menangis... Ia terus melompat waktu kemana-mana ia mau." Korrina menghela nafasnya lalu ia mengambil kacamatanya dan mulai menggunakannya, "Sepertinya semua anakmu memang manja ya, apalagi kepada Mama-nya." Akina terkekeh.


"Sudah warisan dari Papa mereka sendiri." Korrina tersenyum lalu terkekeh, ia membantu Haruka berdiri karena dia terlalu memanjakan dirinya kepada Korrina karena ia tidak mau Haruka terus bersikap manja seperti Alvin, "Ayo, bangun, Haruka." Korrina mulai membuat Haruka berdiri tegak di atas lantai selagi mengeluarkan banyak air liur melalui mulutnya, hal itu membuat Akina terkekeh dan tertawa karena Haruka bersikap sangat tidak berdosa, "Uwahhhhh!" Haruka memejamkan kedua matanya lalu ia kembali berbaring di atas lantai selagi membuka mulutnya lebar.


"Hahhh..." Korrina menghela nafasnya, tetapi Akina tidak karena ia terkekeh melihat tingkah lucu Haruka yang terlihat seperti pemalas, "Uuuuuuu..." Haruka mulai membuat beberapa gelembung menggunakan air liurnya dan itu membuat Akina semakin tertawa, Korrina jongkok lalu mulai menatap Haruka, "Hei... Haruka... Kamu itu sudah bisa berdiri, ayolah... Berdiri." Ucap Korrina yang mulai membantu Haruka berdiri, tetapi ia menggelengkan kepalanya yang kecil dan bulat.


"Manja-nya astaga." Korrina menggendong Haruka lalu Haruka mulai menepatkan wajahnya di kedua dada Korrina yang lembut, "Mmmmmm..." Haruka mulai kembali tertidur dengan nyenyak ketika ia digendong oleh Korrina, "Dia sekarang tertidur, imutnyaaaa..." Ucap Akina dengan kedua matanya yang terbinar-binar.

__ADS_1


"Hahaha... Begitulah."


__ADS_2