
"Fuhhh..." Hinoka menatap tinju kanannya yang berdarah karena lukanya sendiri, ia bisa melihat serpihan kaca yang menusuk sampai menyebabkan pendarahan sedikit demi sedikit.
Ledakan di hadapannya menyebabkan asap hitam yang sangat besar, ia mulai menatap semua temannya dengan sebuah senyuman lalu mendekati mereka untuk memberikan sihir pemulihan.
"Hinoka berhasil~ Te-he~ ternyata semudah itu ya..." Hinoka mencoba untuk menyembuhkan mereka tetapi sihir dan kemampuannya mendadak tidak berfungsi seketika.
"Loh...?" Hinoka mulai mengerahkan semua Lenergy di dalam tubuhnya untuk menggunakan sihir pemulihan tetapi tidak ada hasil baik yang terlihat.
Shinobu perlahan-lahan bangkit dengan tubuh yang meneteskan banyak darah, ia segera menghapus semua darah tersebut menggunakan daun emas herbal lalu memakannya langsung sampai tubuhnya pulih perlahan-lahan.
Shinobu mendekati Hinoka lalu menutup kedua matanya menggunakan ikat kepalanya, "Tidak boleh melihat, Kakak..."
"Ahh, iya... soal itu ya..." Hinoka terkekeh karena ia sendiri sempat merasa pusing ketika melihat luka yang mengeluarkan darah dari mereka.
Namun, amarahnya yang tak terkendali tidak langsung muncul karena pikirannya masih terbantu oleh The Mind milik Shinobu sampai ia sekarang hanya bisa diam, menunggu sampai noda darah mereka menghilang.
"Kau datang... dalam waktu yang kurang pas... tapi hasilnya cukup bagus juga..." Kata Koizumi yang mulai memakan daun herbal itu.
Shinobu memberi mereka semua daun herbal satu per satu sampai luka mereka kembali pulih, keempat gadis yang bertarung mati-matian itu menerima peningkatan Legend's Boost yang besar karena bisa bertahan dari luka fatal.
"Aku tidak menyangka kita akan bertambah tidak berguna seperti ini tanpa sihir... musuh seperti dirinya sulit juga untuk ditangani." Kata Konomi.
Koizumi terdiam ketika mendengar perkataan Konomi yang masuk akal, ketika misi selesai dirinya akan terus berlatih fisik dan bela diri agar tidak terlalu mengandalkan penghentian waktu serta sihir atau kemampuan lainnya.
Pertarungan dengan Barbaric Legend setidaknya memberikan mereka pelajaran bahwa bangsa Legenda dapat melakukan apapun jika mereka mau usaha, satu contoh seperti itu sudah membantu mereka untuk terus berkembang.
Hinoka membuka penutup mata itu lalu memberikan ikat kepala Shinobu kembali kepadanya sampai ia mulai menepuk dadanya penuh kebanggaan sampai ia mulai menyombong dirinya sendiri.
"Hm~ hm~ apakah kalian lihat aku...! Dengan kekuatan dari ledakan, tidak ada yang dapat menghentikan diriku! Sebesar apapun tubuh mereka, haha!"
Mereka semua memasang tatapan datar, ia merasa bangga terlalu cepat dan tidak menyadari situasinya sendiri bahwa ia datang penuh kejutan sampai membuat Magnus lengah seketika.
Tetapi, mereka menyadari satu hal yang janggal dari Hinoka dimana ia dapat menggunakan sihir yang berkaitan ledakan kepada Magnus sendiri sampai mempengaruhi dirinya.
Koizumi dan yang lainya langsung menatap asap tipis tersebut lalu terkejut ketika melihat Magnus menghilang entah kemana.
Shinobu mengeluarkan kacamatanya lalu mengenakannya sampai Tech memunculkan beberapa tanda panah untuk dirinya.
"Saya mendeteksi sesuatu yang aneh, putri kecil... persentase ancaman dan bahaya di bilang setengah, apakah Anda ingin memeriksanya?" Tanya Tech.
Shinobu mengangguk lalu ia memberikan daun herbal kepada Hinoka untuk menyembuhkan tinjunya yang terluka itu, ia juga langsung merampas serpihan kaca itu.
"... ..." Shinobu mencoba untuk menghirup aroma dari benda tersebut, aroma yang mirip sekali bahan kimia.
"Kalau begitu, kita harus menyusul pesawat luar angkasa itu."
"... ..." The Mind Shinobu kembali bisa di gunakan, ia langsung menghentikan Koizumi untuk tidak mengurusi masalah tentang Manusia kerajaan karena ia sendiri ingin mereka saling membunuh dengan ras Elf.
"Tidak perlu, Kakak."
"Huh? Kenapa...?"
"Lebih baik kita mempelajari kembali pertarungan yang kita alami melawan Barbaric Legenda, urusan Manusia kerajaan dapat di jaga oleh pemberontak lainnya."
"Bukannya kita semua datang ke sini untuk menjalankan misi?"
"Kita memiliki bukti lain untuk memberikan kita misi yang baru... Barbaric Legenda seharusnya sudah punah, apalagi dia adalah Legenda pertama yang dikatakan sebagai Ayah dari segala Legenda."
"Kenapa dia selemah itu ya? Hm~ hm~ kalah dengan satu ledakan." Seperti biasanya Hinoka mulai membanggakan dirinya lagi.
"Itu hanya sekedar replika..." Shinobu mengeluarkan sebuah senar lalu ia menatap kedua benda aneh itu dengan tatapan kesal.
Shinobu seketika memasang tatapan yang mematikan ketika membelakangi mereka semua sambil memegang erat serpihan kaca itu, "Semua bangsat itu pikir mereka jauh lebih pintar dariku ya..."
"Putri kecil?"
"Iya, Tech? Kenapa?" Shinobu tersenyum polos, ekspresinya tadi hanya ditunjukkan sekali oleh dirinya sampai ia sekarang kembali terlihat polos seperti biasanya.
"Tidak, saya kira Anda tadi mengalami kondisi buruk."
"Hanya sekali saja, hahaha, untuk sekarang... Koneko akan terus seperti ini." Shinobu terkekeh lalu ia menatap bekas ledakan tadi.
"Kalau begitu, kita pulang saja dan melapor." Kata Koizumi.
Mereka semua setuju lalu pergi meninggalkan planet Jupiter untuk bergegas masuk kembali ke dalam pesawat luar angkasa kucing, Hinoka tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Mana pujianku...!!! Hei!!!"
__ADS_1
***
Penyihir itu mendapatkan dokumen yang cukup memuaskan ketika melihat pertarungan mereka, Barbaric Legenda tadi kalah karena ledakan Hinoka yang kebetulan pukulannya mengenai inti kelemahan itu.
"Sungguh gadis kecil yang luar biasa... Legenda berevolusi cukup cepat ya... di era sekarang, anak kecil seperti mereka sudah bisa bertahan melawan Legenda pertama."
"Astaga... melihatnya saja membuatku merasa penuh dengan nikmat untuk terus melihat eksperimen yang akan mereka lakukan."
"Shinobu Koneko... aku tidak bisa membiarkan dirinya berkeliaran seperti itu, dia harus bisa terjaga selamanya karena..."
"...dia sudah mengetahuinya, huh? Sungguh gadis yang diberkati dengan The Mind, Neko Legenda rendah seperti dirinya... yang lahir cacat bisa mendapatkan anugerah itu."
Penyihir tersebut langsung memutar senar yang ia ikat di jarinya sampai Magnus muncul kembali di belakang dirinya, kedua matanya tertutup rapat dan perutnya meninggalkan lubang besar bekas Hinoka.
"Hanya sebentar lagi... pertarungan tadi menyebabkan kekacauan yang lumayan besar, sekarang aku tidak sabar melihat Manusia akan melakukan apa kepada bangsa Legenda."
Penyihir tersebut mengambil daun emas milik Shinobu lalu melemparnya ke dalam kawah sampai warna dari kawah tersebut yang awalnya ungu berubah menjadi seketika sampai menunjukkan sebuah gambaran.
"Pohon emas..."
"...atau bisa di sebut dengan kuburan Minami. Satu-satunya Neko Legenda yang dikenal positif bagi semua orang."
"Sungguh disayangkan karena tidak bisa bertemu dengannya, padahal sejak dulu aku selalu memperhatikan dirinya, hahhhh..." Penyihir itu menghela nafasnya lalu melirik ke belakang.
"Kalau begitu... kita bersenang-senang lagi."
***
"The Mind! Bunuh semua Manusia yang berada di dalam pesawat luar angkasa!" Seru Shinobu dengan kedua matanya yang terbuka lebar sampai memancarkan cahaya emas.
Perkataannya tadi adalah perintah mutlak dengan campuran dari The Mind sampai semua Manusia yang awalnya mengira berhasil kabur dari serangan Magnus dan pemberontakan.
Namun, mereka tidak tahu bahwa salah satu dari Manusia yang bekerja di dalam pesawat luar angkasa itu merasa pusing sampai isi dari pikiran mereka dipenuhi dengan hasrat membunuh yang perlahan-lahan mengubah mereka menjadi psikopat.
"Dengan ini sampah rakyat sudah habis... tidak ada lagi yang namanya kebodohan atas pandangan dan kepercayaan." Shinobu melepas kacamatanya sampai ia mulai mendekati semua temannya.
"Masih banyak sekali... aku perlu mengurus mereka satu per satu, tidak ada lagi yang namanya keadilan untuk mereka. Itulah kenapa, biarkan aku membantu mereka untuk menghentikan tindakan tidak berguna itu."
"Lebih baik beristirahat cepat sebelum perilaku mereka menyebabkan kehancuran atau penderitaan bagi diri mereka sendiri." Ungkap Shinobu.
"Gadis yang aku berikan jurnal itu secara gratis... pasti menjadi penyebab dari semua ini, senar yang dulunya sempat aku gunakan untuk memperbaiki tubuh Tech."
"Serpihan kaca yang mengandung sihir untuk melarang mereka yang dekat dengannya menggunakan sihir... begitu ya..."
"Aku memang harus turun tangan soal pustakawan yang mengambil jurnal itu... penyihir di balik semua ini, hampir sama seperti mereka memperlakukan para Zodiac Crusaders."
Koizumi menghentikan kedua kakinya lalu menoleh ke belakang untuk melihat Shinobu yang sedang menatap daratan dengan tatapan polosnya tetapi sebenarnya dia sedang merancang strategi.
"Apakah kita akan dihukum karena tidak menghancurkan pesawat luar angkasa itu?" Tanya Konomi.
"Entahlah... semoga saja tidak..."
"Anuu..." Shinobu langsung mengeluarkan suara yang menarik perhatian mereka seketika.
"Kenapa, Shinobu?" Tanya Koizumi yang terlihat penasaran.
"Aku ingin membeli camilan dulu... lapar sekali rasanya."
"Camilan? Kalau begitu... aku ikut~"
Hinoka mendekati Shinobu dan pikirannya berubah seketika karena The Mind yang meminta dirinya untuk pergi bersama mereka semua karena Shinobu ingin mengurus sesuatu.
"Kalau begitu, kita duluan saja ya... jangan lupa untuk membelikan kami camilan juga~" Hinoka berjalan pergi paling depan sampai mereka mengikuti dirinya kecuali Koizumi yang diam seketika.
"Hati-hati, Shinobu." Kata Koizumi yang mulai mengikuti mereka semua.
Shinobu mengangguk lalu ia mengalihkan pandangannya kepada perpustakaan yang saat ini dipenuhi dengan pengembara dan Legenda dari berbagai istana untuk membeli jurnal Shinobu yang dicuri oleh pustakawan itu sendiri.
Shinobu menghampiri perpustakaan tersebut lalu ia melihat para penjaga segera menghalang jalan dirinya, "Neko Legenda seperti dirimu di larang untuk masak..."
"...pergi sekarang juga atau kau ingin menerima konsekuensinya---"
Shinobu mengeluarkan beberapa jurnal yang berjilid ratusan untuk diberikan kepada pustakawan itu, ia berniat untuk membantu dirinya dengan meramaikan perpustakaan itu lebih lanjut lagi.
Penjaga tersebut merampas salah satu jurnal tersebut lalu mulai membacanya sampai mereka menatap satu sama lain, "Tujuanmu datang seperti itu ya...?"
Penjaga tersebut mengeluarkan sebuah borgol lalu mengikat kedua lengan Shinobu dan membawa dirinya langsung menuju ruangan pustakawan yang saat ini sedang menulis.
__ADS_1
Pustakawan yang sedang fokus menulis jurnal tersebut seketika tercengang ketika berhadapan dengan Shinobu secara langsung, "Apa!?"
"Kenapa kalian membiarkan dia masuk?!"
"Tunggu sebentar... anu... aku datang bukan untuk protes atau apapun itu... aku mengakuinya... biarkan aku menyerahkan hak dan kewajiban semua jurnal ini kepadamu."
"Kewajiban dan hakmu?"
"B-Benar... sepertinya... aku memang tidak bisa dipercayai oleh siapa pun, itulah kenapa... ini pilihan yang baik untuk menyerahkan semua buku itu kepadamu."
"Aku harap... anu... Kakak bisa menjaganya dengan baik..." Shinobu membiarkan para penjaga untuk memberikan dirinya semua jurnal tersebut.
"Hohhh... tawaran yang bagus, apakah semudah itu untuk diriku mempercayai dirimu?"
"Jika Kakak tidak mau percaya maka... aku akan mengadu kepada Kakekku Shiratori Shira."
Ketika Shinobu berbicara seperti itu mereka semua tercengang seketika karena nama Shira sudah pasti dikenal oleh semua orang bahkan mereka sendiri tidak menyangka mendengar Shinobu berbicara seperti itu.
"Kenapa kau membawa nama Legenda itu...? Kenapa sekarang...? Kenapa tidak mengadu kepada Shira bahwa aku sudah merebut hakmu sendiri?"
"Semua yang kamu lakukan justru sesuai dengan keinginan yang aku mau... anu... jika aku mengambil kembali semuanya maka tidak akan ada... satu pun orang yang membacanya."
"Justru... Koneko merasa senang... melihat semua Legenda membaca buku tersebut sampai mengetahui Kakak sendiri yang menjual dan menulisnya."
"Jadi... biarkan aku menyerahkan semua ini kepada Kakak, jika menolak maka Koneko akan mengadu..." Dengan rencana pertama Shinobu, ia bisa melihat bahwa mereka tidak mengenal dirinya cukup jauh.
Shinobu sendiri tidak pernah mengadu atau mengandalkan seseorang dalam masalah seperti ini, ia hanya ingin melakukan sedikit tes terhadap kepercayaan mereka.
"Jika masih tidak percaya... bagaimana jika ini..."
"...aku akan berbicara di hadapan semua orang bahwa aku bukan yang menulis semua ini melainkan Kakak... biarkan aku yang berbohong di hadapan mereka."
Pustakawan itu menaikkan alisnya, merasa tertarik dengan tawaran seperti itu karena ia sendiri pasti akan melihat semua orang akan merendahkan dirinya lagi.
"Jadi kau benar-benar ingin berbicara seperti itu? Di hadapan semua orang bahwa kau sendiri yang mencuri jurnal ini dan mengakui diriku sebagai jurnalis hebat?"
"Itu benar... bagaimana? Apakah Kakak mau... kita bisa melakukan perjanjian mutlak." Shinobu tersenyum polos lalu mengeluarkan selembar kertas hitam.
"Kertas perjanjian mutlak ya... kau mendapatkan itu dari para Elf? Baiklah, aku terima... jika kau mencoba untuk menipu diriku dengan menusukku dari belakang maka perjanjian mutlak itu akan memperingati sesuatu."
Shinobu dan pustakawan tersebut langsung memegang kertas tersebut bersama, "Coba katakan sesuatu... niat di balik semua ini... dan tentunya kebohongan."
"Kertas ini dapat mendeteksi kebohongan..." Kata Shinobu.
"Apakah kamu akan melakukan sesuatu kepadaku ketika semua jurnal itu berada di tanganmu?" Tanya Shinobu.
"Setelah menerima semua jurnal itu, aku janji tidak akan merugikan Shinobu Koneko dan mengkhianati dirinya lebih lanjut." Kata pustakawan tersebut sampai kertas tersebut tidak robek.
"Lihat? Jika aku menerima semua jurnal jilid itu sampai akhir maka aku sudah tidak memiliki niat untuk merendahkan dirimu..."
"...sekarang, selanjutnya kau. Apakah kau merencanakan sesuatu yang aneh? Kenapa kau memberikan semua jurnal ini kepadaku."
"Itu karena... aku ingin semua Legenda dan ras lainnya untuk bisa bertambah cerdas dengan membaca jurnalku... ku ingin mereka senang... aku ingin membantu."
Kertas tersebut tidak robek dan niat Shinobu sangatlah jelas sampai pustakawan tersebut bisa menebaknya bahwa gadis seperti dirinya sangat mudah untuk dijadikan alat.
"Kalau begitu, apakah kau tidak akan mengkhianati diriku dengan mengadu atau melakukan sesuatu yang berkaitan tentang perebutan hak jurnal ini?"
"Tidak, semuanya aman... aku ikhlas memberikannya, tidak ada penipuan apapun karena isi dari buku tersebut penuh dengan ilmu pengetahuan."
Kertas itu memancarkan cahaya merah bahwa tidak ada satu pun dari mereka berbohong, rencana Shinobu berhasil seketika dengan perkataannya sendiri yang cukup serta rasa kepercayaan kecil.
"Aku harap... Kakak dapat memberikan semua itu untuk mereka yang membutuhkannya." Shinobu tersenyum lembut.
"Tentu saja, namaku sekarang sudah dikenal oleh seluruh Legenda dan beberapa ras karena menulis jurnal sehebat itu."
"Begitu ya..."
"...akan sayang sekali jika mereka membacanya dengan rasa percaya besar padamu." Ungkap Shinobu.
"Untuk mereka yang membaca jurnal tersebut... ketika membacanya dengan rasa percaya terhadap pustakawan yang bernama Aerith... ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan adalah bunuh diri."
"Populasi pasti akan menurun ya..."
"...sayang sekali..."
"...Dewa kematian, bersiaplah untuk menyambut ratusan... ribuan... bahkan mungkin jutaan di dunia kematian."
__ADS_1