
Hana dan Mitsuki mulai menatap Redagon yang mempersiapkan satu serangan dengan pedangnya itu, ia mengharapkan banyak dari bangsa Legenda penerus tetapi kekuatannya yang bertambah membuat dirinya merasa sedikit puas.
Hana muncul di belakang Redagon untuk melepaskan satu gumpalan air lalu ia menghilang, berhasil menghindari satu serangan dari Redagon.
Gumpalan air itu seolah-olah memberi Redagon rasa khawatir, ia tidak mengetahui apa yang Hana coba rencanakan tetapi ia bisa saja memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat dari Rokuro.
Pergerakan Hana yang begitu tenang seperti air mampu membantu dirinya untuk tidak terkena serangan apapun oleh pedang dan sihirnya bahkan beberapa celah yang terbuka tidak bisa menyerap semua gumpalan air itu.
Melainkan sihir air Hana menutup rapat celah itu agar tidak mengganggu, kegelapan yang dapat menginfeksi juga ia selimuti lalu di buang ke tempat yang lebih aman.
Walaupun Hana mencoba untuk memasang beberapa jebakan untuk mempermudah pertarungan, semua itu percuma karena ia melihat beberapa murid yang sudah terinfeksi mengorbankan diri.
Semua murid itu di selimuti dengan gelembung air yang menyerap seluruh kekuatannya bahkan sampai membuat Redagon terkesan seketika.
"Hebat... Tidak buruk, baiklah..." Redagon menghantam dada Hana sehingga ia tidak melihat pertanda serangan apapun dari Redagon, satu pukulan itu mampu melepaskan dorongan besar.
Dorongan itu keluar melalui punggung Hana sampai mengenai Mitsuki, membuat diri terdorong ke belakang. Hana tersenyum serius lalu menjentikkan jarinya.
Menyebabkan seluruh murid yang berada di dalam itu meledak dan mengeluarkan banyak darah sehingga semua darah itu mulai Hana netralkan menjadi air biasa.
Semua gelembung itu mulai menyatu dan menghisap Redagon sampai terjebak di dalamnya, Hana mulai mengecilkannya menggunakan kedua tapaknya yang saling menepuk.
"Harrrggghhhh!!!" Seru Hana keras, mencoba untuk mengontrol gelembung itu agar bisa terus mengejar Redagon dan mengurungnya di dalam.
Rokuro yang berada di sebelah Kou mulai menunjuk Redagon dan memunculkan lambang Greed besar di dalam gelembung itu untuk menghisap seluruh kekuatannya.
Redagon hanya bisa mengerutkan dahinya ketika menyadari infeksi dari kegelapannya berhasil di netralkan oleh gelembung yang perlahan-lahan berubah menjadi warna hitam.
Hana sampai harus memisah air hitam dari gelembung yang terlihat jernih itu agar bisa terus mengurung Redagon.
Hana melebarkan matanya ketika merasakan keberadaan Redagon yang berpindah ke dalam gelembung hitam itu, untungnya Mitsuki segera beraksi dengan membekukan gelembung itu menggunakan Frozen Blizzard.
Mereka mencoba sebisa mungkin untuk menahannya tetapi terlambat karena Redagon melepaskan shockwave dahsyat di sekitarnya, mampu untuk menjatuhkan Mitsuki dan Hana di atas daratan karena gravitasi yang meningkat drastis seketika.
"Ck...!" Hana mulai menggunakan zirah Leviathan karena ia ingin sekali menghajar iblis satu ini yang tidak mau berhenti, saking kesalnya aura air Hana mulai membentuk Leviathan yang mengelilingi tubuhnya.
Hana melesat ke arah Redagon tetapi ia dikalahkan dengan kecepatan Redagon yang sudah menyerang lebih dahulu, untungnya Hana berhasil menahannya lalu melompat ke belakang untuk menjaga jarak.
Redagon memasukkan tangannya ke dalam celah yang terbuka sehingga ia berhasil memegang erat tangan Hana, setelah itu ia mulai menghantamnya ke atas daratan beberapa kali.
Redagon terkecoh dengan air yang berbentuk seperti Hana, Hana yang asli saat ini mencoba untuk menjaga jarak dengan melompat-lompat ke belakang selagi fokus menjaga Kou dan Rokuro yang berada tidak jauh darinya.
__ADS_1
Redagon mengepalkan kedua tinju sehingga tubuhnya melepaskan gelombang kegelapan yang melesat ke atas langit sampai pusaran angin mulai mengencang sekitar, menghentikan seluruh murid dan Legenda yang sedang bertarung.
"Ckk... Kekuatan yang mengerikan... Beberapa orang pasti akan langsung ketakutan dan mengalami mental yang rusak ketika merasakannya..." Hana melihat sekitar dan semua yang ia kenal baik-baik saja terutama Mitsuki.
"Lakukan atau mati...!!! Hyaaahhh!!!" Hana melesat ke arah Redagon dengan tinju kanannya yang diselimuti dengan naga Leviathan.
Mereka melancarkan satu serangan secara bersamaan sampai kedua serangan itu mulai bertabrakan, menyebabkan dorongan yang sangat besar dimana-mana.
Hana melompat ke belakang dan tidak sengaja menginjak aura kegelapan yang membuat dirinya tidak bisa bergerak seketika, Redagon mengangkat pedangnya sampai beberapa celah bermunculan di sekitar Hana.
Memberikan dirinya banyak kerusakan sampai zirahnya hancur dan mengering begitu saja, Redagon menunjuk Hana sehingga ia mulai terjatuh di atas tanah dengan tubuh yang diserang dengan tekanan besar.
"Uuuckkk...!!!"
"Kakak..." Rokuro terkejut ketika melihat Kakaknya kalah begitu saja, tidak bisa di harapkan lagi dari Redagon yang mendapatkan banyak peningkatan karena kemampuan khusus bangsanya sendiri.
"Ggghh... Uck..." Untungnya Hana berhasil melindungi jantungnya dengan menyelimuti dengan air, semua air hitam itu ia keluarkan melalui mulutnya agar tidak mengenai organ tubuhnya.
"Inferno Hailstorm!" Mitsuki mengeluarkan badai api ke arah Redagon untuk memperlambat kan dirinya tetapi Redagon hanya perlu mengangkat jarinya untuk mengubah badai itu menjadi badai kegelapan.
Badai kegelapan itu menghilang seketika dan Redagon seketika tidak bisa mengontrol tubuhnya, kedua lengannya bergerak sendiri sehingga ia mulai menusuk dirinya sendiri.
"... ...?" Redagon terlihat kebingungan ketika ia mencoba untuk menusuknya sendiri, celah yang begitu besar muncul di dalam tubuhnya, membelah dirinya menjadi dua.
Rokuro terkejut ketika melihatnya, cara Redagon melakukan tindakan aneh seperti itu sudah jelas di lakukan oleh seorang gadis kecil di sebelahnya.
"Kou...? Kau yang melakukannya?" Tanya Rokuro, ia melihat kedua iris mata Kou yang bersinar kecil.
"Untuk menahan saja... Aku tidak bisa lama menggunakannya..." Kou memejamkan kedua matanya, menghentikan pengontrolan pikiran Redagon sehingga ia di sambut oleh beberapa serangan dari Mitsuki dan Hana.
Redagon bisa merasakan kesakitan ketika menerima serangan secara langsung dari Hana dan Mitsuki, ia mulai melihat mereka kembali menyerang dengan refleks yang begitu tenang.
Karena bantuan dari sihir airnya, auranya mereka terlihat begitu tenang bahkan serangan yang di lakukan oleh Redagon hanya akan langsung di hindari oleh mereka berdua.
Redagon mendorong mereka mundur dengan melepaskan dorongan dan tekanan besar melalui kedua tinjunya tetapi Redagon masih menerima lebih banyak kerusakan karena sihir yang Mitsuki dan Hana lepaskan secara bersamaan.
Redagon memegang erat pedangnya, mencoba untuk melepaskan satu serangan yang dapat menghancurkan jantungnya tetapi lehernya tiba-tiba terbelah oleh dirinya sendiri.
"Apa yang terjadi sekarang...?" Ungkap Redagon, ia tidak tahu siapa yang melakukan tetapi sebagian dari mereka sudah pasti penyebab kenapa ia menyerang dirinya sendiri tanpa kendali penuh pikirannya.
Kou terus menatap Redagon, mencoba untuk menahan dirinya lebih lama lagi karena ia tidak ingin melihat Hana dan Mitsuki melawan Redagon yang mengalami peningkatan besar.
__ADS_1
Jauh lebih kuat sebelum melawan Rokuro, pertarungan masih tetap berjalan tetapi mengalami jeda ketika mereka merasakan keberadaan yang begitu kuat, jauh sekali bahkan Redagon dan Oskadon sempat diam.
"Keberadaan ini..." Rokuro menoleh ke belakang, ia bisa merasakan keberadaan yang selalu ia ketahu tetapi sekarang jauh lebih berbeda.
Terasa begitu tenang dan kuat secara bersamaan sehingga Redagon menghantam wajah Mitsuki dan Hana sampai mereka terjatuh di atas tanah, mencoba untuk bangkit lalu menyerangnya kembali.
Terjadi sebuah ledakan dari jarak yang begitu dekat dimana Oskadon berhasil meledakkan dirinya sendiri dengan gumpalan kegelapan yang mulai membesar.
Gumpalan melalui aura itu mulai menghapus apapun yang menghalang nya menjadi debu bahkan Asriel dan Bakuzen dengan cepat mulai menahan serangan itu dengan menciptakan pertahanan yang besar.
"Lebih tinggi lagi...! Tingkatkan semua, Bakuzen!" Seru Asriel keras selagi mengerahkan seluruh kekuatan dan tenaganya sampai habis.
"Aku sedang mencoba...!"
Swosh...!
Oskadon melebarkan matanya ketika melihat gumpalan aura berubah menjadi emas dan menimbulkan ledakan yang mampu menghempas dirinya ke belakang, semua orang yang berada di tempat itu bisa merasakannya...
Keberadaan yang begitu kuat dan tenang, seorang pria berambut emas dengan pakaian khas Legendanya bernama Kisetsu, telah datang dan menyelesaikan latihan untuk menggapai kelayakan.
"Maaf soal keterlambatannya..." Pria itu mulai berbicara, Asriel dan Bakuzen dikejutkan dengan keberadaan teman yang mereka kenal.
""Shiratori Shuan!""
"Hmph, akhirnya, Shuan. Kau telah kembali dan seperti biasanya kau akan jatuh kembali!" Oskadon tersenyum puas ketika melihat hidangan utama telah datang untuk di habiskan.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Oskadon." Shuan mulai memegang pedang Oskadon, ia berhasil mencurinya dengan kecepatan yang tidak ia sadari.
"Apa...?"
"Iblis hanya mengandalkan senjata dan warisan bukan? Bagaimana jika kita urus masalah seperti cara Legenda? Sebuah pukulan..." Shuan mengubah pedang itu menjadi cahaya dan cahaya tersebut terlepas kemana-mana.
"Grrgghhh... Shiratori Shuan..." Oskadon mengepalkan kedua tinjunya.
Hana dan Mitsuki awalnya mencoba untuk menyerang kembali tetapi Minami menghentikan mereka dengan memunculkan keberadaan di tengah mereka.
"Sudah cukup, teman-teman... Kali ini biarkan kita mengakhirinya, tidak ada lagi yang namanya konflik di sebabkan oleh bangsa Iblis." Minami menepuk kedua bahu Mitsuki dan Hana, memberi mereka sebuah pemulihan sempurna.
Rokuro bersama Bakuzen dan Asriel tidak menyadari tubuh mereka yang memancarkan cahaya emas sampai kondisi yang mereka rasakan itu sempurna sekali, sangat bugar seperti mengalami istirahat yang panjang.
"Kalau begitu, Demon Lord!" Shuan menunjuk Oskadon.
__ADS_1
"Lawanmu selanjutnya adalah diriku, Demon God!" Minami menunjuk Oskadon.
""Shiratori Minami/Shuan!!!""