Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 786 - Lebih Baik Aku Pertemukan Mereka dengan Dewa Kematian, Hehehe


__ADS_3

"Ehh...? Kak Hinoka dan Kak Koizumi telah di pilih menjadi salah satu pemberontak yang mengikuti organisasi...?" Tanya Shinobu.


"Begitulah, suasananya tidak terasa begitu nyaman bagi diriku karena mereka terlihat sangat asing bagiku sampai aku menolak ajakan mereka untuk makan siang."


"Anuu... Kakak seharusnya terima saja agar bisa menerima lebih banyak teman..."


"Percuma saja teman banyak jika mereka tidak dapat membantu kita dari jarak yang dekat, Shinobu. Sekedar teman tidak bisa melakukan apapun yang di lakukan oleh kedua temanku itu."


Koizumi memberikan Shinobu sebuah elusan di kepala sampai ia sendiri mengetahui jelas maksudnya, percuma saja memiliki banyak teman jika mereka mencoba untuk menggunakan sesama jenis sebagai alat.


"Aku tidak begitu tertarik memiliki teman senior seperti mereka, intinya aku sudah terlalu nyaman dengan kalian..." Koizumi mengajak Shinobu menuju kantin.


Shinobu awalnya bertujuan untuk pergi ke perpustakaan tetapi ia terseret menuju kantin karena melihat Koizumi yang pergi duluan tanpa meminta izin apapun.


"Apakah kamu yakin tidak akan di ganggu lagi? Peraturan akademi itu ketat tetapi mengetahui dirimu yang begitu jenius..."


"...kau pasti bisa menghindari pembunuhan semacam apapun tanpa di ketahui bukan?" Tanya Koizumi selagi menatapnya dengan kedua tatapan tajam.


Shinobu mencoba untuk memasang tatapan mengancam tetapi keimutan nya bilang tidak sampai Koizumi langsung tertawa ketika melihat Shinobu mencoba untuk memasang tatapan seram.


"Jangan di paksakan, ahahaha... kau ingin terlihat serius dan menyeramkan tetapi kepolosan serta keimutan yang kau miliki mengatakan tidak."


"A-Aku tidak imut...!" Seru Shinobu dengan pipi yang memerah sampai ia mengingat tentang Ako yang berkemungkinan menunggu dirinya di dalam perpustakaan.


"Kak Koizumi... sepertinya aku ingin pergi ke dalam perpustakaan untuk membaca buku."


"Buku ya... sebenarnya aku sendiri ke kantin hanya membeli beberapa camilan untuk menemani dirimu."


"Aku bukan anak kecil lagi... aku pasti bisa menangani apapun kok." Shinobu mengembungkan kedua pipinya karena Koizumi mencoba untuk melindungi dirinya yang masih belum bisa di sebut aman.


"Hahaha, kalau begitu... hati-hati."


"Tunggu, Kak Hinoka dimana?"


"Ahh, dia itu gadis yang sangat terbuka dengan apapun, tentunya dia pasti sedang melakukan sosial dengan pemberontak organisasi lain." Kata Koizumi.


"Begitu ya... hebat... kalau begitu aku pergi duluan." Shinobu melambaikan tangannya lalu ia berjalan pergi menuju perpustakaan tanpa menghiraukan perhatian murid yang terarah kepadanya.


Koizumi menatap Shinobu dengan tatapan serius, ia sendiri masih belum percaya dengan perkataan Konomi serta Ako bahwa dirinya telah membunuh seseorang tanpa segan.


Hanya saja, bagi pandangan dan pola pikirannya sendiri, membunuh serta merengut nyawa seseorang bukanlah kesalahan atau dosa yang buruk melainkan sebuah kebaikan untuk dewa kematian itu sendiri.


"Anak yang aneh..." Koizumi hanya bisa tertawa kecil karena ikut senang melihat perkembangan Shinobu sedikit demi sedikit sampai kekuatannya yang terhambat karena tidak mau membunuh telah hancur.


"Aku akan menunggu dirinya tumbuh lebih kuat lagi... hanya saja masih terdapat satu masalah yaitu Hinoka dengan trauma darah serta ibunya." Koizumi berjalan pergi tetapi ia berpapasan dengan beberapa pemberontak organisasi.


"Ternyata kau memang kenal dekat dengan hewan itu ya, Koizumi."


"Siapa yang kau panggil hewan? Dia adalah sepupuku." Koizumi menatap mereka semua dengan tatapan kesal.


"Kenapa dengan ekspresi itu? Bawalah dengan santai karena faktanya Neko Legenda memang hewan yang meminjam tubuh bangsa Legenda."


"Aku tidak menyangka dia akan bertahan selama beberapa jam sejauh ini untuk tetap di akademi ini, terdapat beberapa murid yang mencoba untuk membunuhnya."


"Aku tahu itu, ambil saja buktinya maka hadiah yang di dapatkan sangat banyak. Bukan hanya berlian tetapi kau dapat memiliki apapun yang di inginkan."


"Ingat ya... kita satu tim tetapi aku tidak akan menerima permintaan maaf apapun jika kalian mencoba untuk melukai dirinya." Ancam Koizumi.


"Santai saja, tetapi... apakah kau tidak malu dengan harga dirimu sendiri yang terus melindungi bangsa Legenda seperti dirinya?"


"Neko Legenda yang seharusnya musnah sejak itu tetapi kembali karena seorang pahlawan yang bernama Shiratori Minami..."


"...kalau tidak salah dia adalah Tante darinya ya, menarik sekali. Aku tidak sabar untuk melihat kemampuan Shinobu Koneko sejauh mana." Pemimpin itu mulai memegang dagunya sendiri.


"Kalau begitu, Koizumi, peduli untuk ikut bersama kami menikmati istirahat ini sebelum misi kita di mulai?" Tanya pemimpin itu.

__ADS_1


Koizumi hanya bisa diam lalu ia melihat Hinoka melambaikan tangannya kepada dirinya dari belakang, ia terlihat begitu senang bersama beberapa teman barunya.


Hinoka juga adalah sepupu yang penting bagi dirinya sampai ia tidak akan membiarkan Hinoka pergi sendirian tanpa pengawasan apapun, rasanya semua orang yang berada di akademi ini tidak dapat di percaya.


Maupun itu sesama pemberontak, mereka semua memiliki tujuan pemberontakan yang berbeda sampai keutamaan yang paling besar rata-rata uang dan bayaran sampai ia juga perlu memperhatikan Shinobu.


"Ya." Jawab Koizumi singkat sampai ia pergi bersama mereka semua.


Perbincangan kecil tadi sempat di dengar oleh Shinobu yang selama ini bersembunyi di lorong menuju kantin, suara sejauh apapun dapat ia dengar menggunakan kedua telinga kucingnya yang sangat tajam.


"... ..." Shinobu tetap memasang tatapan polos tetapi di balik tatapan itu terdapat rasa yang sangat ingin membunuh mereka demi melakukan kebaikan.


Semua riwayat pemberontak yang mengikuti organisasi itu telah Shinobu ketahui sampai bisa di bilang sangat buruk karena sudah menjatuhkan banyak sekali nyawa yang tidak bersalah.


Salah satu dari mereka juga ingin mendapatkan keuntungan dalam membunuh atau membawa dirinya, Shinobu hanya bisa diam lalu ia pergi menghampiri perpustakaan selagi tersenyum lembut.


Semua orang yang melewati dirinya secara refleks menjauh, sebagian terlihat takut dan jengkel karena ingin mengganggu dirinya tetapi Shinobu berhasil menangkap semua lemparan itu.


The Mind juga bahkan memerintah mereka semua tanpa kesadaran apapun dimana mereka melempar barang yang di pegang ke arah diri mereka sendiri atau temannya sehingga terjadi pertengkaran.


"Sekarang aku mengerti dengan jelas apa yang di katakan semua orang padaku..."


"....Nenekku bilang bahwa pembunuhan apapun itu, semuanya masih bisa di maafkan oleh takdir dan dewa yang melihat."


"Kalau begitu... aku tidak memiliki niat seperti itu, hanya membantu saja... membantu catatan dewa kematian untuk mencabut nyawa pendosa mereka."


"Jika mereka terus melanjutkan berbuat dosa maka itu hal yang buruk, itulah kenapa aku harus menanggung semua dosa mereka..."


"...makhluk hina seperti diriku tidak begitu terpengaruh dengan dosa, hanya saja aku ingin menciptakan kebaikan dan kepercayaan." Shinobu tersenyum.


Perkataannya sebelumnya sempat ia ungkapkan dengan tatapan yang terlihat mengancam tetapi beberapa detik kemudian berubah kembali menjadi tatapan lembut dan polos sampai emosinya dapat ia kendalikan dengan sempurna.


...


...


Monitor itu memperlihatkan berbagai macam kamera sampai ia melihat Shinobu yang pergi menghampiri perpustakaan tanpa menghiraukan siapa pun yang mengejek dirinya.


"Ternyata semua orang memang menganggap dirinya rendah dan sampah..."


"...walaupun riwayat dan penampilannya seperti itu tetapi di balik semuanya, terdapat imbalan serta harga yang besar menunggu sampai aku tidak sabar."


"Intinya kita hanya perlu berhati-hati, Shinobu memiliki empat orang yang mempercayai dirinya bahkan sampai rela melindunginya dari segala ancaman dan bahaya."


"Kalau begitu, kita perhatikan..."


"...sejauh mana kucing sialan ini bisa bertahan? Ujian dari Zodiac Crusaders saja masih belum cukup, aku tidak menyangka akan melihat Legenda berusia kecil sepertinya dapat menahan semua itu."


...


...


Shinobu menekan tombol mesin kaleng di hadapannya untuk memesan susu, ia jongkok lalu mengambilnya sampai seseorang mulai memanggil dirinya.


"Shinobu." Panggil salah satu murid.


"Mm?" Shinobu mengambil kaleng itu lalu menatap mereka dengan tatapan polos, kedua telinganya bahkan sampai bergerak bersamaan dengan ekornya.


"Cih... Legenda jadi-jadian..."


"Mm...? Ke-Kenapa?" Tanya Shinobu dengan ekspresi yang terlihat gugup.


"Apa-apaan dengan jawaban itu...? Kau berani-beraninya mempermainkan senior yang jauh lebih tinggi darimu?" Tanya murid itu yang mendekati Shinobu lalu menarik selendangnya.


"Loh...? Aku hanya menjawab... kenapa kalian memperlakukanku seperti ini?" Tanya Shinobu.

__ADS_1


"Jangan terbawa suasana dengan wilayah ini, Shinobu. Kepala akademi menerima dirimu tetapi kami semua tidak."


Shinobu tersenyum polos, "Kalau begitu... aku juga tidak menerima kalian, mungkin dewa kematian akan menerima siapa pun."


"Hehehe."


Dengan tawa kecil, jantung mereka berdetak cepat seketika sampai tubuh mereka dipenuhi dengan keringat dingin, entah kenapa tatapan polosnya sempat memberikan mereka pandangan tentang kematian.


"A-Apa...!?" Murid itu melepas Shinobu yang langsung membenarkan selendangnya, setelah itu ia berjalan pergi menuju perpustakaan.


Shinobu masuk ke dalam perpustakaan lalu ia melihat Ako yang sedang berbicara dengan teman-teman barunya, secara refleks mereka semua yang berada di dalam perpustakaan menatap dirinya.


Mereka semua langsung menjaga jarak dengan dirinya bahkan teman Ako sempat memberitahu dirinya bahwa ia tidak ingin berbicara dengan Ako ketika keberadaan Shinobu dekat.


Shinobu mengetahuinya sampai ia mencoba untuk mencari posisi lain tetapi Ako mendekati dirinya lalu meraih tangannya, "Hanya dengan Shinobu saja cukup..."


"Fueehhh...!? Tapi kan... Tapi... kamu juga memiliki teman yang harus di dekati, jangan aku terus." Kata Shinobu.


"Tidak peduli... ayo, ayo, aku sudah menemukan banyak buku yang mungkin kamu suka." Ako mengajak dirinya menuju meja sampai ia mulai memperlihatkan beberapa buku kepada dirinya.


"Uwah... Buku...!" Shinobu memasang tatapan yang terlihat terbinar-binar, seperti pandangan pertama cinta, buku lah yang berhasil mencuri hatinya.


Shinobu mulai duduk di atas kursi lalu membaca semua buku itu satu per satu bersama Ako, suasana yang terasa begitu damai sampai keributan tidak akan terjadi karena peraturan yang berada di dalam perpustakaan.


"Aku ingin kamu mendengarnya baik-baik, Koneko..." Seketika Shinobu mengingat perkataan dari Megumi.


"...yang paling penting dalam segala hal ada kepercayaan dan kelayakan, dan sesuatu yang sangat tidak bisa di maafkan adalah rendahan serta olokan dari seseorang."


"Dengar... menghina, merendahkan, mengolok kepercayaan seseorang... bukan hanya menghancurkan reputasi mereka, tapi menjatuhkan mereka dalam situasi yang menyulitkan."


"Kita tidak akan terpisah atau terpecah untuk mengorbankan nyawa kita demi uang, kekuatan, atau mengambil kekuasaan seseorang."


"Bertarung tanpa tujuan itu bisa di bilang kebodohan, hanya orang bodoh yang melakukan hal tersebut. Setiap perlawanan seperti bertarung pasti memiliki alasan di baliknya."


"Tidak ada namanya pembunuh yang salah... semuanya benar, bukannya kamu ingin membantu bukan? Kenapa tidak membantu dewa kematian saja?" Tanya Korrina.


Shinobu sempat menggerakkan jarinya sampai ia mulai memejamkan kedua matanya lalu kembali membaca buku itu dan berbicara dengan Ako seperti biasanya.


Ako melihat Shinobu terlihat biasa saja atau bahkan lebih baik dari sebelumnya karena ia masih menyimpan senyuman dan tatapan polos itu.


Tetapi ia tidak tahu kebenaran di balik dirinya, kepolosan Shinobu tidak bisa di bilang biasa atau aman melainkan mematikan bagi orang tertentu sampai beberapa murid yang tadi sempat mengganggu dirinya ketika ia mengambil kaleng susu.


Riwayat mereka juga sudah ia baca, ternyata sungguh menjengkelkan karena dipenuhi dosa, bukan hanya itu saja tetapi ia sendiri yakin memberikan nyawa kepada dewa kematian adalah jalan yang benar.


Mereka tidak akan menyebabkan kekacauan atau dosa lainnya, orang-orang yang akan berurusan dengan mereka di masa depan bisa saja selamat karena Shinobu.


"Koneko akan berjuang..."


"...Koneko mengerti."


"Ternyata aku masih bisa membanggakan Mama, hehehe, kalau begitu aku akan mencoba semua kebaikan itu."


"The Mind...."


"...Mental Manipulation."


Seketika murid-murid yang tadi mengganggu Shinobu melebarkan mata mereka seketika sampai pikiran mereka dipenuhi dengan rasa sedih dan menderita termasuk mental mereka yang hancur tiba-tiba.


Tubuh mereka terasa sangat berat sampai isinya di penuh rasa untuk bunuh diri dan mengakhiri kehidupan mereka yang tidak berguna, pada akhirnya mereka saling membunuh satu sama lain.


Hanya dengan satu pikiran, kekacauan terjadi sampai menyebabkan lorong menuju kantin dipenuhi darah serta daging yang berserakan karena kegilaan mereka terhadap dunia sampai membunuh satu sama lain.


"KYAAAAAAAHHHHHHHHHH!!!"


"Aku harap kalian dapat menikmati..." Ungkap Shinobu.

__ADS_1


"...dosa terakhir kalian."


__ADS_2