
Shira perlahan-lahan membuka kedua matanya lalu ia sadar bahwa ia saat ini sedang berada di dalam kamar-nya, ia melirik ke jendela dimana hari sudah malam sepertinya Shira pingsan dengan waktu yang cukup lama, "Ughhh..." Shira mulai memegang lengan kirinya yang terasa menyakitkan, ia menatap lengan kirinya dan ia melihat banyak sekali perban di tubuhnya untuk menyembuhkan semua luka yang ia miliki, "Pedang itu... sangat mengerikan..." Shira duduk di atas kasur selagi memegang kepalanya yang terasa sakit.
Shira melirik ke kanan dimana ia melihat Luz Legendaria dan itu membuatnya terkejut serta ketakutan untuk memegang atau mengangkatnya, "...Akan aku coba." Shira menghampiri pedang itu lalu ia mulai menyentuhnya menggunakan jari dari tangan kirinya, "Ahh..." Shira bisa merasakan kehangatan yang besar ketika ia menyentuh pedang itu, ia juga merasa bahwa Lenergy-nya seperti meregenerasi, "Hebat---" Tiba-tiba Shira merasakan keberadaan Megumi yang sedang berada di teras.
"Megumi...?" Shira melirik ke belakang lalu ia melihat Megumi yang sedang menatap langit-langit yang dipenuhi bintang, sepertinya hobi Megumi adalah melihat bintang-bintang cerah yang terdapat di atas langit yang hitam, "Megumi..." Shira tersenyum dan merasa lega ketika melihat Megumi yang datang mengunjungi kamarnya, itu artinya perban-perban itu dipasang oleh Megumi sendiri, "Langit-langit di malam hari benar-benar terlihat indah..." Megumi tersenyum lebar.
Terlihat benar-benar damai, Megumi menatap langit dengan jumlah bintang tak terbatas yang menerangi dirinya seolah-olah mereka sedang tersenyum, Megumi tersenyum sendiri ketika semua senyum bersinar itu bersinar di matanya, "Hei, Shira. Kau tahu, aku bertaruh kau bisa menjangkau dan menyentuh bintang-bintang jika kamu terbang di malam hari." Megumi tersenyum.
"Tentu saja, tetapi terbang di malam hari seperti ini dan dengan kondisi seperti ini... Berbahaya."
"Sialan, Di sini diriku mencoba untuk menjadi seorang gadis yang romantis dan kamu harus bersikap realistis seperti itu, kacau sekali." Shira mulai tertawa ketika mendengar jawaban Megumi, ternyata ia mencoba untuk menjadi seorang gadis yang romantis, "Ahaha, maaf-maaf." Megumi cemberut. Shira tertawa berusaha menutupi rasa malunya dan meminta maaf, "Meskipun kita jelas tidak dapat menjangkau dan menyentuh bintang-bintang tetapi itu tidak akan menghentikanku untuk mengulurkan tangan dan menyentuh bintang-bintang tersebut." Jawab Shira.
"Itulah yang saya pikirkan tentang cara kita 'terbang'"
"Ya!" Shira berpikir mungkin kata itu hanya membawa makna semacam itu pada dirinya sendiri, Cara Megumi dengan gembira melakukan percakapan membuatnya tampak lebih cantik dan imut, "Bisakah aku menyentuh kaki-mu?" Tanya Shira. Tanpa Shira sadari, ia baru saja mengatakan sesuatu yang terdengar mesum di kedua telinga Megumi.
Kedua telinga dan ekor Megumi langsung mengangkat sehingga ia mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut, "M-MESUM!!!" Megumi membulatkan kedua matanya lalu ia menunjuk Shira dengan ekspresi yang terlihat ketakutan, "Tidak, tidak, tidak, aku serius." Ucap Shira selagi menunjukkan ekspresi yang mulai terlihat panik, Alasan Shira sederhana sekali.
Jika Shira bisa memahami rasa sakitnya, penderitaannya, itu mungkin bisa membantunya sedikit pun, "Uhhh..." Megumi mengembungkan pipinya selagi memejamkan kedua matanya, ia baru pertama kalinya melihat Shira mengatakan sesuatu yang terdengar mesum. Megumi tampaknya memiliki banyak emosi yang saling bertentangan berjuang untuk keunggulan dalam dirinya, "...Kau tidak membenciku ketika aku kecil seperti ini...? Umurku sebenarnya tiga puluh tahun dan aku memiliki tubuh yang tidak normal bagi seorang Neko Legenda... Aku terlihat seperti anak kecil, "Tidak ada yang bisa aku benci." Jawaban Shira terdengar tegas.
"Aku suka segalanya tentang dirimu, Megumi. Bahkan tubuhmu yang mungil itu." Shira tersenyum.
"Benarkah...?"
"Ya, benar." Megumi mulai menghela nafasnya pelan sehingga Shira bisa mendengar beberapa suara sedih di desahan itu, Megumi terlihat jelas sedang mengalami banyak emosi. Shira bisa melihat kegembiraan dan kebingungan bercampur dengan kesedihan, tetapi bagi Shira, melihat semua emosi itu hanya menguatkan betapa dia ingin bersamanya, "Jadi... Apa boleh...?" Tanya Shira.
"Iya... Boleh..." Megumi mengangguk, sepertinya menyingkirkan perasaannya yang bertentangan, Shira melakukan yang terbaik untuk tidak menghancurkan keberaniannya, Shira dengan lembut meletakkan tangannya di atas kaki Megumi yang memiliki warna putih lily. Shira bisa merasakan kehangatan lembutnya di telapak tangannya, "Apakah... Apakah itu terasa tidak enak...?" Tanya Megumi gugup.
"Tidak, tidak sama sekali. Yah, kurasa itu tidak buruk. Apakah kamu?"
"Jujur aku merasa seperti... membencinya. Tapi... Aku juga merasa tidak membencinya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang diriku rasakan saat ini. Jika aku memikirkannya, karena itu dirimu... Karena itu Shira, aku pikir rasa 'tidak membenci' rasanya menjadi lebih kuat." Pertempuran masih berkecamuk di dalam dirinya, Shira tidak begitu keberatan karena dia merasa baik-baik saja karena itu adalah Shira sendiri, "Jika itu masalahnya, aku merasa senang. Karena seperti yang aku katakan sebelumnya, tubuhmu adalah bagian dari dirimu sendiri, Megumi. Dan aku mencintai semuanya tentang dirimu, Megumi."
"Jadi, jika tubuhku tidak seperti ini... Apakah dirimu masih peduli terhadap diriku?" Tanya Megumi. Ketika Megumi mengatakan hal seperti itu, ia langsung membuat Shira berpikir jika Megumi memiliki tubuh dewasa dengan dua payudara yang besar, mungkin saja Shira akan mencintainya lebih, "Tentu saja. Aku tidak bisa tidak jatuh cinta dengan seorang gadis imut sepertimu, Megumi."
"Aku hanya tidak yakin apa yang akan kamu pikirkan tentang diriku ini."
"Tentu saja aku mencintaimu. Yah... Mungkin perlu sedikit lebih lama bagiku untuk menyadari betapa indahnya dirimu." Megumi berpikir sejenak dengan ekspresi serius di wajahnya, "Jika tubuhku tidak kecil seperti ini maka aku mungkin tidak akan terlalu bersikap rendah hati, kamu tidak akan tahu itu tapi, aku adalah tipe yang sombong." Di sana dia mengatakan hal-hal aneh lagi, "Oh, aku tahu kamu sombong." Ungkap Shira.
Siapa pun yang mengenalnya mungkin akan tahu itu, "Jika kau tidak bersikap sombong seperti itu maka kau pasti tidak akan pernah bertemu denganku." Shira dan Megumi tidak akan bisa bertemu jika Megumi tidak bersikap sombong, penyebab di terjebak di hutan labirin itu bisa termasuk karena sikap sombongnya yang bisa mengatasi apapun sendirian.
Megumi tersenyum lalu ia mengangguk, "Aku kehilangan banyak hal setelah kejadian itu, tetapi aku juga menyadari bahwa diriku memperoleh begitu banyak hal." Mengatakan ini dengan sungguh-sungguh, Megumi dengan kuat menggenggam tangan Shira, "Apakah kamu ingat apa yang kamu katakan kepada diriku selama kau mengangkatku lalu terbang setelah kau mengalahkan Rionald?" Tanya Megumi.
__ADS_1
"Apa itu...?"
"Tentang ketika aku terbang, itulah jati diriku yang asli." Ketika Megumi mengatakan hal itu, Shira mengingatnya, "Ahh... Itu ya."
"Sejak kau mengatakan itu, aku benar-benar telah memikirkannya. Yaitu, mengapa aku ingin terbang? Aku tidak tahu apakah aku benar-benar tahu jawabannya dulu, tapi..."
"Tetapi ketika aku terbang ... saat itulah aku benar-benar merasa bebas. Tubuhku yang kecil sama sekali tidak penting, aku terasa seperti bebas..." Bebas ketika kata itu keluar dari bibir Megumi, aku bisa merasakan betapa pentingnya hal itu baginya, dia tampak bersemangat dan tidak memikirkan tentang tubuhnya yang kecil lagi, ia pikir semuanya akan berjalan baik-baik saja. Megumi dipenuhi dengan energi semangat, kadang-kadang Shira merasa seperti tubuh kecilnya yang mengikat energi itu dan menekannya.
Pada saat itu Megumi tampak lebih frustrasi daripada sebelumnya, dia ingin bergerak lebih bebas. Hanya ketika dia di langit bisa lolos dari ikatan itu, "Kebebasan adalah satu hal yang aku hilangkan, tetapi itu bukan satu-satunya hal. Ada banyak lagi."
"Seperti apa?" Tanya Shira, "Hal-hal yang bisa dilakukan orang normal. Menghabiskan waktu bersama teman... Bersikap romantis bersama kekasih..."
"Ketika aku bertemu dirimu, aku seperti berada di bawah batu. Setiap hari membosankan dan aku membenci segalanya. Jika aku mengatakan aku membenci latihan dan pertarungan, apakah kau akan percaya padaku?"
"Aku tidak akan mempercayainya jika kau mengatakannya sekarang." Megumi mengangguk setuju, dia meletakkan tangannya sendiri di atas yang Shira masih sandarkan di kakinya, "Jadi... Kau tidak bisa merasakan apapun?"
"Ya, begitulah..." Mengatakan itu, Megumi membawa tangan Shira ke pangkal pahanya. Megumi mulai mengusap-usap tangan Shira yang terasa keras karena ia sepertinya sudah berlatih lama sekali sehingga Megumi bisa merasakan proses pengembangan otot milik Shira, Shira memeluk Megumi dekat dirinya sebagai sensasi cinta yang tiba-tiba, hampir tak terduga, melanda diriku. Shira langsung memeluk Megumi dengan sangat erat, "Uwah...!" Megumi membuka mulutnya lebar.
"Aku senang bisa bertemu denganmu di hutan itu... Aku sangat mencintaimu, Megumi!"
Megumi tersipu merah lalu ia tersenyum, "Hm...! Aku mencintaimu juga... Sh... Shira..." Shira melihat Megumi yang terlihat gugup, sepertinya ia masih belum terbiasa mengatakannya walaupun mereka berdua sudah berpacaran cukup lama, "Megumi, bawa santai saja." Ucap Shira.
"Hanya saja... Itu terasa mustahil bagiku." Shira memintanya untuk bersantai mungkin hanya hal sederhana, tapi karena dia adalah pacar Shira, Shira tidak bisa menganggapnya enteng, "Oh, kalau begitu..." Shira tersenyum lalu ia perlahan-lahan mulai mengangkat Megumi seperti putri, "A-Apa...?! T-Tunggu... S-Shira...!" Megumi tidak bisa melawan karena ia rasa bahwa Shira mengangkatnya menggunakan tenaganya agar Megumi tidak bisa melawannya seperti turun atau mendorongnya mundur. Shira memeluknya lalu mengangkatnya.
"Ah..." Meskipun Megumi tampak gelisah sejenak, akhirnya putri cantik milik Shira mulai santai di dalam pelukan-nya, Megumi terlihat sedikit tersipu ketika ia digendong dengan gaya seorang putri, "...Oh tidak."
"Apa?"
"Aku... Aku merasa senang sekali."
"Ya, terlihat jelas." Jika Megumi merasa senang maka Shira juga akan merasakan kesenangan yang sama, "Shira, lenganmu tidak bergetar sama sekali." Ucap Megumi karena ia melihat kedua lengan Shira yang terlihat biasa aja, "Itu karena... Kau terasa sangat ringan, Megumi. Kau tidak berat jadi aku ingin terus menggendong-mu seperti ini." Ucap Shira.
"Aku tahu dari seberapa ketatnya kamu memeluk memeluk diriku. Kamu benar-benar bugar dan kuat, Shira." Megumi terkesan melihatnya dan itu membuat Shira merasa malu karena ia baru saja dipuji karena otot-ototnya yang besar itu, "Tentu saja, aku kan sering berlatih di ruangan imajinasiku, aku ingin sesuatu hari bisa berlatih di luar angkasa dan bahkan menginjak matahari yang asli agar aku bisa terus bertambah kuat."
"Begitu ya." Megumi mengangguk sambil menghela napas takjub, "Ngomong-ngomong, putri tercintaku." Shira mulai mencoba untuk bersikap romantis di saat seperti ini karena ia ingin beristirahat dari pertarungan dan menikmati waktunya bersama Megumi, jika ia tidak memiliki kekasih maka kerja keras dan usaha Shira akan terasa lambat sehingga ia tidak akan bisa menempuh level saat ini, "Y-Ya...?"
"Bagaimana perasaanmu saat ini?"
"Aku... Aku merasa sangat senang tentunya."
"Kalau begitu maka aku juga merasa hal yang sama yaitu senang."
__ADS_1
"Oh, aku sangat suka ini." Megumi mengatakannya dengan nada yang terdengar sangat imut, "Tanyakan kepadaku kapan saja jika kamu ingin diriku melakukannya." Ucap Shira
"Bahkan setiap hari?" Tanya Megumi.
"Bahkan setiap hari." Jawab Shira, hal itu membuat Megumi tersenyum lebar, "Hehe~ Diriku, seorang putri. Seorang putri yang cantik!" Megumi menyukai ini lebih daripada yang aku kira, "Kalau begitu, aku pikir aku akan mencoba keberuntunganku dan memintanya setiap hari."
"Sebelum kamu mencobanya, mengapa tidak mencobanya di tanganku?" Tanya Shira, "Kamu hebat..." Jawab Megumi.
"Menerima pujianmu adalah suatu kehormatan." Jika seseorang mendengar Shira membicarakan hal ini dengan nada yang nakal maka mereka mungkin akan memukul kepalanya, Shira tidak berpikir bahwa ia menyadarinya, ia merasa sangat senang ketika menggendong Megumi seperti putri, "Hehehe~ Seorang putri, aku seorang putri!"
"Itu artinya kamu adalah pangeran-ku!" Megumi tersenyum lebar.
"Aku berencana memainkan bagian dari pengikut-mu, Megumi..."
"Tidak, kamu adalah pangeran-ku!" Ucap Megumi yang mulai mengembungkan kedua pipinya, "Baiklah, kalau begitu kita tidak memiliki perbedaan sama sekali di level kita."
"Tidak mungkin aku bisa merasakan jarak ketika kamu memelukku seperti ini. Dan kau akan selalu berada di sisiku, siap memeluk-ku seperti seorang putri."
"Kalau begitu, jika tidak ada jarak di antara kita, maka kita sama. Jadi itu berarti kamu tidak perlu gugup sama sekali ketika bersamaku, Megumi."
"Ehh...?" Megumi mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut, "Kamu masih gugup?"
"Aku... Aku... ya... Hanya saja... aku..." Shira berpikir bahwa menginginkannya agar tidak gugup hanya membuatnya lebih gugup, Shira berpikir hanya ada satu hal lagi yang bisa dia lakukan, "Aku ingin mencium bibirmu, Megumi."
Megumi tersenyum, "...Aku juga."
"Baiklah, putri, keinginanmu adalah perintah untukku." Ketika Shira berbicara seperti itu, Megumi langsung membulatkan kedua matanya karena ia pikir bahwa Shira bercanda tentang menciumnya di bagian bibir, "Aku dengan senang hati akan mematuhi salah satu perintahmu, putri kesayanganku." Menatap Shira dengan mata terbuka lebar, Megumi tampaknya berpikir keras, sejenak tangisan serangga nokturnal hampir memekakkan telinga.
Shira mendengar bisikan ringan napas dan kemudian, "Cium aku dan lakukan apa yang kau mau, Shira... Diriku ini milikmu sekarang... semuanya..." Bisikannya sepertinya membangkitkan daya tarik yang lebih dalam, "Tentu saja, putri."
"Mmmm..." Bibir mereka menyentuh lembut, Shira bisa merasakan kedamaian saat ini di bibirnya, lengannya, dan di seluruh tubuhnya, "Mmm... Mmm..." Shira dengan tegas mengambil cintanya dan mengembalikannya dengan cintanya sendiri, segera, rasanya seolah-olah tidak ada jarak antara mereka.
Mereka berhenti ciuman lalu Megumi menatap Shira dengan tatapan yang terlihat menggoda, "Aku mencintaimu, Shira."
"Aku mencintaimu juga, putri kesayanganku."
"Tehehe~ Putri~!" Megumi nampaknya menyukai ini, "Bintang-bintang pasti bisa melihat betapa riangnya dirimu, putri."
"Ketika kita sebahagia ini? Mereka dapat menonton semua yang mereka inginkan."
"Aku berharap bahwa cuaca untuk besok itu baik."
__ADS_1
"Hmm, aku berharap hal yang sama." Bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit malam mengawasi waktu khusus mereka, namun, senyum Megumi bersinar lebih terang dari bintang-bintang itu, "Sudah saatnya untuk dirimu pulang ke kamar-mu, Megumi."
"Tidak mau... Aku ingin tidur bersamamu di kamar yang sama." Ucap Megumi yang mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat khawatir, "Baiklah." Bagi Shira saat ini, keinginan seorang putri itu mutlak dan harus dilaksanakan.