
Haruka dan Rokuro kembali menuju lantai, mereka mendapatkan sebuah sambutan hangat dari seluruh teman-temannya, otomatis Haruka tercengang ketika mereka semua mengetahui dirinya telah di lamar oleh Rokuro.
"A-A-Apa maksudnya ini...!? Kenapa banyak sekali orang yang berkumpul di sini!?" Tanya Haruka dengan wajah yang memerah.
"Sebenarnya aku membutuhkan bantuan mereka untuk melancarkan kencan ini, sepertinya semua yang aku rencanakan berjalan---"
"Aaaaaaaaaa!!! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku bisa mati karena rasa malu ini...!!!" Haruka mulai menepuk tubuh Rokuro beberapa kali lalu ia bersembunyi di belakangnya, mencoba untuk menghilang rasa malunya itu.
"Bukannya itu bagus, Haruka? Kamu sudah selalu sendirian tanpa seorang pria sejak Rxeonal menyerang." Shira mulai terkekeh, membuat Haruka bertambah semakin panas dan malu.
"Aku tidak menyangka putraku akan menikah begitu cepat." Arata tersenyum bangga melihat Rokuro berhasil menjadikan Haruka sebagai calon istrinya sekarang.
"Rokuro, selamat! Sepertinya kakak kalah bersaingan soal pernikahan..." Hana terkekeh pelan dan Minami langsung menepuk punggung Hana.
"Apa yang kamu katakan, bukannya kamu sudah menjadi istriku?" Tanya Minami di lanjutnya dengan tawa, Hana tersipu merah lalu ia menatap arah lain.
"Ugh... Minami, sekarang bukan waktu..."
Arata baru saja mendengar apa yang mereka katakan dan jantungnya berdetak begitu cepat bahkan ia sampai merasa ketakutan bahwa putrinya memiliki sikap yang sama dengan adiknya.
Menyukai satu sama jenis, Arata mencoba untuk menghentikan kemesraan Hana dan Minami tetapi Ophilia mulai mengetuk kepala Arata pelan.
"Kau tahu sendiri Minami kan... dia sering bercanda."
"Ya..."
Mereka semua ikut senang ketika mengetahui lamaran tersebut berjalan lancar, pernikahan akan di adakan tiga hari yang akan datang dan tentunya lusa mereka berdua akan sibuk mengurusi berbagai macam hal.
"Ehh!? Kou... kamu yang akan mempersiapkan semuanya?"
"Iya, semuanya sudah lunas dan persiapan akan di adakan besok pagi. Jadi mungkin aku akan pulang duluan dari Neko Island untuk mengurusi para karyawan dan pengusaha yang mau membantu soal pernikahan ini..."
Haruka merasa tertolong oleh Kou, entah kenapa awalnya ia menginginkan acara pernikahan yang begitu sederhana tetapi Rokuro memberitahunya bahwa semua keinginannya terlambat.
Tergantikan dengan sesuatu yang lebih baik dari Kou, Haruka langsung memberikan adik kecilnya sebuah pelukan yang erat dan hangat.
"Kakak mungkin tiga hari yang akan datang tidak akan bersamamu lagi... mungkin kita akan berpisah dan tidak bisa melanjutkan kehidupan bersama lagi." Haruka juga mengetahui Kou telah memenuhi keinginan dirinya bersama Rokuro untuk tinggal di pulau pribadi.
"Tidak apa-apa, kakak, Mama pernah bilang sebelumnya bukan? Suatu saat nanti, kita akan berpisah dan hidup bersama pasangan yang dapat melindungi kita juga membuat kita bahagia." Kou menepuk punggung Haruka.
"Kamu memang sudah tumbuh dewasa ya, Kou... benar-benar menjadi adik yang sangat di andalkan sekarang karena semua pekerjaan dan tugasmu selesai begitu cepat."
Haruka mengatakannya penuh dengan rasa bersyukur dan lega bahwa adiknya sudah siap untuk di tinggal sendiri karena kondisinya yang kembali normal berkat bantuan Shuan.
Bukan itu saja tetapi tugas dan pekerjaannya sebagai Ratu Touriverse mengembangkan sesuatu yang baru di dalam diri Kou yaitu kedewasaan untuk mengurus seluruh alam semesta.
"Hehehe, kakak, aku jadi malu mendengar itu... aku masih harus banyak belajar dan Kakak juga harus tetap bisa belajar." Kou mengacungkan jempolnya.
"Tugas dan tujuan Kakak selanjutnya telah bertambah dengan tingkatan kesulitan itu sendiri. Hidup sebagai istri bagi Rokuro." Kou menatap Rokuro.
"Rokuro... tolong jaga Kakakku dan buat dirinya bahagia untuk selama-lamanya. Jangan sampai mengecewakan diriku karena aku sudah membiarkan kakak tercintaku pergi..."
"Tentu saja, aku mencoba untuk tidak mengecewakan siapa pun, Kou. Kau juga harus tetap bisa menjaga Touriverse, membantu mereka yang mengalami kesulitan dan kesusahan."
__ADS_1
"Hm, tentu saja." Kou mengangguk lalu ia melepas kacamatanya.
"Apakah boleh aku memiliki kacamata ini, Kakak...?" Tanya Kou.
"Hehehe, kenapa bertanya seperti itu? Kacamata itu adalah warisan Mamamu yang ia berikan kepadamu, kacamata yang menjadi inti sistem Tech dan kau cukup layak untuk memilikinya." Haruka mengelus kepala Kou.
"Hm! Terima kasih... melihat kalian dipenuhi dengan aura yang terasa begitu berbeda, rasa bahagia dan cinta yang terpancar kemana-mana... membuatku sangat menantikan pernikahan itu." Kou terkekeh.
""Kami juga.""
***
"A-Apa?! Kamu juga, Shuan...!?" Shira dan Megumi baru saja mendapatkan sebuah berita mengejutkan bahwa Shuan ingin segera menikah dengan Kou juga.
Ia bahkan tidak membutuhkan basa-basi apapun untuk langsung memberitahunya, hanya menunjukkan cincin Crimson itu lalu meminta sebuah izin kepada kedua orang tuanya.
Minami juga sempat mendengarnya dan ia datang terlambat karena harus mengurus sesuatu, "Mungkin sudah saatnya kamu melanjutkan tujuan yang kamu inginkan, Shucchi?"
"Itu benar, Kakak... jika aku menciptakan sebuah proses yang lama dalam menjadikan Kou sebagai istriku maka dia akan kesepian di Co. Corp." Shuan berlutut lalu bersujud kepada kedua orang tuanya.
"Kenapa kamu harus berlebihan seperti itu, Shuan. Tidak boleh seperti itu..." Megumi membantu Shuan untuk berdiri, Shuan sempat melihat ekspresi Megumi yang terlihat bangga.
"Kami hanya terkejut saja mendengar kamu juga ingin menikah dengan Kou, itu artinya dua pernikahan yang akan terjadi secara bersamaan." Kata Megumi.
"Aku tidak menyangka hubungan kalian masih tetap bertahan, menjadikan keturunan Comi sebagai pasangan itu cukup spesial bagiku." Ucap Shira sambil memegang dagunya.
"Spesial?"
"Ya, Kou lebih spesial menurutku karena dia sendiri anak orang kaya dan tentunya penerus seorang Legenda yang sering membantu diriku sejak itu."
"Tentu saja, aku tadi sudah menyebutkan alasannya bukan? Aku ingin menemani dirinya dan membuatnya bangga, lagi pula Ibunya sendiri tidak bertanggung jawab dan masih pergi selama 30 tahun lebih."
"Tidak boleh seperti itu, Shuan. Korrina pergi dengan alasannya sendiri dengan kami pun tidak dapat menghubunginya." Kata Megumi.
"Alasan itu terdengar cukup masuk akal... Kou dengan tubuh dan fisiknya seperti itu, ia sangat membutuhkan seorang pria yang mampu mendampingi dirinya sampai akhir." Shira duduk di atas kursi.
"Itu alasannya... dia sendiri tidak memiliki seorang Ayah."
"Ayahnya sudah meninggal sejak itu, dia sempat membantu kami dalam mengalahkan Zangetsu."
"Kalau begitu, aku mohon... Ibu... Ayah... Biarkan aku pergi dan melanjutkan tahap kehidupan dewasaku." Shuan menatap kedua orang tuannya dengan tatapan serius.
"Kami baru saja membiarkan Minami untuk melanjutkan kehidupan barunya dan tentunya kami juga akan melakukan hal yang sama kepadamu." Megumi tersenyum lalu memeluk Shuan erat.
"Mungkin sudah fasenya ya... Kita sebagai orang tua yang sudah membesarkan kalian dan mengajari kalian beberapa hal..." Shira tersenyum bangga, ia sudah merasakan arti kehidupan menjadi seorang Ayah yang tua.
"...fase kedewasaan kalian sudah tiba, sudah saatnya untuk melanjutkan kehidupan baru tanpa mengandalkan kedua orang tua." Shira menatap kedua anaknya dengan senyuman bangga.
"Kami menyayangi kalian sepenuh hati sampai membesarkan kalian dengan semua kasih sayang yang kami miliki, sekarang saatnya kalian untuk melanjutkan kehidupan baru." Megumi menarik Minami lalu ia memeluk kedua anaknya.
Minami dan Shuan merasa sedih seketika mendengar Shira mulai menceritakan perjuangan dirinya sebagai Ayah, ia setidaknya mereka bersyukur untuk sekarang.
"Aku sangat bersyukur... hidup di dunia damai bagaikan neraka, masih bisa merasakan kehidupan dan melihat kalian tumbuh dewasa."
__ADS_1
"Apakah aku adalah Ayah yang terbaik bagi kalian?" Shira menatap kedua anaknya, membuat Minami menangis lalu memeluk erat Shira.
"Ya...! Ya...! Ayah adalah yang terbaik...!!! Ayah tidak tergantikan...!" Minami mengeratkan pelukannya.
Shuan sekarang bisa merasakan rasa sedih untuk meninggalkan kedua orang tuanya, ia sudah tidak bisa lagi mengandalkan mereka dan mereka juga tidak akan bisa menunjukkan rasa kasih sayang dalam jarak yang dekat.
"Sudah, sudah... aku tidak berniat untuk membuat suasana menjadi sedih seperti ini." Shira menghapus air matanya lalu ia memeluk keluarganya sendiri.
"Aku senang bisa hidup panjang melihat kalian tumbuh dan berkembang, sudah saatnya... tidak lama lagi aku akan menjadi seorang Kakek." Shira mulai tertawa.
"Kakek yang muda." Jawab Minami.
"Hahaha, senangnya hidup sebagai bangsa Legenda dengan umur abadi yang tetap membuat kita muda seperti orang dewasa." Ucap Shira, mencoba untuk memunculkan rasa bahagia di situasi yang tadinya sedih.
Shuan mendapatkan semua jawaban yang ia inginkan, mungkin sudah saatnya ia berterima kasih kepada kedua orang tuanya.
"Ibu, ayah, Kakak, terima kasih atas semuanya. Walaupun aku adalah putra dan adik yang ceroboh, setidaknya aku mencoba sekuat mungkin untuk memenuhi keinginan dan mimpi kalian."
"Apa yang kamu katakan, nak? Melihat dirimu memiliki kekuatan dari Golden Neutron sudah lah cukup, tidak ada satu pun kata yang dapat menjelaskan kebahagiaanku."
Perkataan Shira seketika membuat Shuan tersenyum, "Ayahmu benar, ibu sendiri senang melihatmu menguasai amarah dari Neko Legenda."
"Dan sebagai Kakakmu, aku tentunya merasa bangga melihatmu mau mengubah pikiranmu soal kekalahan." Minami menepuk punggung Shuan.
Keluarga Shiratori mengalami sedikit perbincangan yang terdengar cukup membahagiakan bahkan mereka sampai tertawa bersama.
"Kami sudah mengizinkan dirimu kok, masalahnya sekarang..." Megumi menatap Shuan.
"...kamu akan menjadi suami dari seorang ratu Touriverse yang mengartikan tanggung jawabmu pasti besar, kau juga perlu membanting tulang demi memenuhi kehidupan istrimu."
"Tapi Mama, bukannya Kou tidak membutuhkan apapun lagi soal kebutuhan?" Tanya Minami.
"Iya juga..."
"Terus, kau ingin menjadi apa, Shuan? Demi membahagiakan dirinya dan tentunya merasakan tanggung jawab dari seorang suami." Shira menatap Shuan yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Kou sendiri sudah bekerja keras dan memiliki banyak pekerjaan, aku mencoba untuk membantu tetapi salah gagal sampai ia sempat memarahi diriku..."
"...Kou sendiri yang akan mengurus kebutuhan dan aku sendiri tahu jelas bahwa Kou tidak bisa memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti kedua kakaknya."
"Mungkin sebagai suami, aku akan menjadi seorang bapak rumah tangga." Perkataan Shuan membuat ruangan itu hening seketika.
"Pfft...!" Minami tidak bisa menahan tawanya, terlepas suara tawa Minami yang keras di sambungkan dengan Shira dan Megumi.
""HAHAHAHAHAHA!!!"" Mereka tidak menyangka Shuan yang begitu dingin dan ceroboh akan menjadi seorang bapak rumah tangga, itu terdengar cukup langka bagi bangsa Legenda.
Mendengar seluruh anggota keluarganya tertawa membuat Shuan tersipu merah, "Ugh..."
"...aku mengerti! Aku mengerti! Aku sendiri tidak mengerti harus apa jadi lebih baik menjadi bapak rumah tangga yang mengurus segalanya?"
""HAHAHAHA!!!""
"Sialan..." Shuan tersipu merah.
__ADS_1
"Mama akan tetap mendukung dirimu kok, hehehe, tidak buruk juga..." Kata Megumi, mencoba untuk berhenti tertawa.
"Ugh, kenapa semua orang harus menertawakan pekerjaan ku..."