Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 41 - Battle Royale


__ADS_3

Korrina menyilangkan kedua lengannya lalu ia menatap dirinya yang berada di tantangan yang kedua, ia merasa lega bahwa ia bisa membunuh seorang dewa, "Akan aku tunjukkan, Alvin... Aku akan membunuh seorang dewa agar kau bisa mengakui-ku bahwa aku adalah seorang mortal yang benar-benar jauh lebih kuat dari seorang dewa, bahkan dewa kehancuran!" Ungkap Korrina, ia tiba-tiba melihat Arata yang berdiri di sebelahnya selagi menyilangkan kedua lengannya, "Korrina bukan...?" Tanya Arata.


Korrina mengangguk, "Ya, aku Korrina." Ucap Korrina selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kebingungan karena Arata menyapa-nya duluan, "Sepertinya kita berada di tantangan yang sama, bukannya kau sama membenci dewa?" Arata mulai menatap Korrina dengan ekspresi datar-nya, Korrina tersenyum lalu ia mengangguk, "Jelas."


"Kalau begitu, mari kita kerja sama dalam mengalahkan dewa kehancuran ini, dewa kehancuran terdengar seperti berbahaya, tetapi kita kelas tiga tidak boleh kalah. Kita harus bisa menang dan membunuh dewa kehancuran itu." Ucap Arata yang mulai mengepalkan tinju kanannya, Korrina mengangguk lalu ia setuju dengan apa yang Arata katakan. Shira menghela nafasnya berat karena ia tidak mau mengikuti tantangan kedua, ia hanya ingin mengikuti tantangan yang pertama, "Sialan... Sialan... Aku sudah berada di takdir yang sulit sepertinya melawan seorang dewa." Shira menepuk wajahnya.


Agfi melihat Korrina, Arata, dan Shira yang sedang melihat tantangan ke satu, "... ..." Agfi berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga untuk berlatih karena ia yakin bahwa dewa kehancuran ini bukanlah sesuatu yang harus diremehkan begitu saja. Zuke sebelum meninggalkan kelas memberitahu mereka semua bahwa peserta yang akan mengikuti tantangan itu nanti akan didatangi oleh beberapa pemandu jadi besok mereka harus berkumpul di aula.


Aula itu akan menyediakan tempat untuk setiap kelas yang mengikuti tantangan satu sampai tiga, mereka semua mengerti dan Zuke juga memperingati mereka untuk tidak terlambat, jika salah satu dari mereka terlambat datang maka itu bisa disebut gugur, jika gugur maka mereka yang telat akan dikeluarkan serta dengan peserta yang mengikuti tantangan itu.


Keesokan harinya, semua peserta mulai berkumpul di aula dan tidak ada satupun peserta yang terlambat. Semua peserta berkumpul dan berbaris dengan disiplin, Morgan mulai naik ke atas panggung dan melihat semua peserta yang sudah berkumpul di aula, mereka semua memakai baju petarung mereka seperti Shira saat ini memakai Kisetsu dan pedang Luz Legendaria di belakang punggung-nya, "Baiklah, sepertinya tantangan darurat dan seleksi ini akan dimulai sekarang juga! Aku akan memberi kalian sebuah peringatan dari awal... Kematian atau kehilangan itu jauh dari tanggung jawabku dan pihak akademi ini. Kalian semua sudah setuju untuk mengikuti akademi ini dan turnamen ini, Solicitation's Order saat ini tidak akan bisa didapatkan dengan mudah. Butuh pengorbanan dan usaha yang sangat besar bukan sekedar permainan saja." Ucap Morgan.


Semua peserta yang berkumpul sudah mengetahui resikonya dan mereka tidak mengeluh atau marah mendengarnya, "Dan... Semua peserta dibebaskan untuk membunuh peserta lainnya." Morgan tersenyum sinis dan itu membuat semua peserta membulatkan kedua matanya, "Bahkan di tantangan battle royale?" Tanya seorang peserta dari kelas satu, "Ya... Tetapi ada batasnya, hanya membunuh lima peserta saja, jika kalian membunuh lebih dari lima maka kalian akan dikeluarkan."


"Peraturan apa ini...? Ternyata memang benar... Solicitation's Order saat ini sulit di dapatkan dan cukup beresiko." Ungkap Korrina yang mulai berkeringat, ia menatap Rexa dan Agfi karena ia takut kehilangan kedua anaknya, Shira mengepalkan kedua tinjunya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal karena peraturan yang baru saja Morgan katakan itu terdengar tidak masuk akal, "Jika kalian mencoba untuk memundurkan diri dan tidak berusaha untuk memenangkan tantangan ini maka kalian akan dikeluarkan serta dengan kelas kalian juga!" Ucap seorang pemandu yang berdiri di sebelah Morgan.


"Mari kita mulai ke inti-nya." Ucap Morgan yang mulai memberi jalan untuk pemandu yang berdiri di sebelahnya, "Salam kenal... Namaku adalah Jorgez Morales... Aku adalah pemandu tantangan satu yaitu Battle Royale, aku akan menjelaskan kalian semua tentang peraturan dari tantangan satu ini. Kalian semua peserta yang mengikuti tantangan ini diwajibkan berkumpul di lapangan dan disana terdapat tempat untuk setiap kelas, datang telat maka aku akan menghukum kalian semua!" Ucap Jorgez yang memiliki tubuh yang kekar, ia memukul telapak tangan kirinya. Semua peserta yang mengikuti tantangan Battle Royale langsung mengangguk.


"APAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!" Teriak Jorgez keras karena ia tidak mendengar sebuah jawaban dari para peserta itu, "YAAAAA!!! LAKSANAKAN!!!" Teriak semua peserta yang mengikuti tantangan itu, "Mari kita pergi ke lapangan sekarang...!!! LAKSANAKAAAAAAAN!!!" Teriak Jorgez yang mulai lari menuju lapangan, semua peserta yang mengikuti tantangan itu langsung bergegas mengikuti Jorgez dari belakang.


"Semoga beruntung..." Ucap Shira kepada kelima peserta dari kelasnya yang mengikuti tantangan itu, mereka semua langsung pergi dari pandangan Shira dan yang lainnya, "Aku mulai merasa gugup dan tidak percaya diri." Ucap Megumi, Shira menggenggam tangan kanannya erat lalu ia mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, "Aku juga."


"Pokoknya, mari kita lakukan yang terbaik!" Ucap Korrina dan mereka semua langsung mengangguk, sikap mereka yang tadinya gugup dan takut mulai berubah menjadi semangat untuk bisa menang dalam tantangan yang disediakan untuk mereka. Semua peserta yang mengikuti tantangan pertama telah meninggalkan aula dan Shira tau bahwa tantangan Battle Royale terdengar cukup sulit dan yang paling diutamakan adalah kerja sama karena semua peserta dari setiap kelas memiliki lima peserta, jika seorang peserta bertarung sendiri maka dia bisa saja kewalahan oleh lima peserta sekaligus.


"Sepertinya semua peserta yang mengikuti tantangan pertama sudah pergi, itu artinya mari kita lanjut ke pemandu yang kedua yaitu diriku." Morgan tersenyum sehingga membuat semua peserta yang mengikuti tantangan kedua terkejut, "Ehh...?! Morgan?!" Teriak mereka semua.


"... ..." Korrina menyilangkan kedua lengannya selagi menunjukkan senyuman kecil, "Bagi kalian peserta yang mengikuti tantangan kedua yaitu melawan dewa kehancuran maka berkumpul-lah di atas atap sekolah. Aku akan datang ke sana ketika semua peserta yang berada di sini sudah bubar, laksanakan!" Ucap Morgan dan semua peserta yang mengikuti tantangan kedua menundukkan kepala mereka lalu bergegas pergi ke atas sekolah, Shira menatap Megumi dan Meugmi mengangguk lalu ia mengacungkan jempol-nya, "Semoga beruntung!" Ucap Megumi dan Shira langsung tersenyum lalu ia pergi bersama yang lainnya menuju atap sekolah.


Rexa menatap Korrina dan Agfi yang melambaikan tangannya kepadanya, "Aku akan melakukan yang terbaik, Kakak... Mama..." Ungkap Rexa selagi mengepalkan kedua tinjunya, pemandu tantangan ketiga mulai maju ke depan selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, pemandu tantangan yang ketiga itu adalah seorang gadis yang cantik dengan proporsi tubuh yang sempurna, "Aku adalah Lina Samudrania, aku akan menjadi pemandu kalian semua yang mengikuti tantangan yang ketiga yaitu Base hunting, sepertinya aku baru saja mendapatkan informasi dadakan dari Morgan yaitu tantangan ini akan ditambahkan dua peserta lagi jadi totalnya menjadi tujuh anggota dari setiap kelas." Ucap Lina, semua peserta langsung membulatkan kedua mata mereka dan tiba-tiba beberapa peserta yang baru saja dipilih oleh pemandu dari kelas masing-masing mulai menghampiri tempat kelas yang tersedia.


Megumi membulatkan kedua matanya karena ia melihat Mirai dan Shua, "Tunggu... Bagaimana bisa aku laki-laki sendiri mengikuti tantangan Base Hunting ini!?" Tanya Mirai panik karena ia adalah satu-satunya laki-laki yang mengikuti tantangan Base Hunting. Dimulai dari Megumi, Asuka, Akina, Ophilia, Rexa, dan Shua. Asuka mulai terkekeh lalu ia menepuk-nepuk punggung Mirai, "Tenang saja, Mirai. Kita semua tahu bahwa kau adalah laki-laki yang tidak mesum di kelas tiga, jadi kau bisa anggap santai saja tentang mengikuti tantangan ini." Ucap Asuka yang mencoba untuk menyemangati Mirai.

__ADS_1


Mirai mengangguk pelan, "Dan kita bisa saja tidak keracunan di wilayah itu karena Asuka, Akina, dan Mirai loh! Mereka bertiga memiliki sihir suci yang dapat menghapus racun 'kan?" Tanya Megumi sehingga Rexa dan Shua setuju dengan Megumi, "Itu artinya kita harus berjuang! Kita harus membanggakan kelas tiga dan lolos dalam seleksi ini!" Ucap Shua sehingga mereka semua langsung bersemangat kecuali Mirai yang masih merasa gugup, "Tetapi..." Tiba-tiba Lina mulai berbicara lagi sehingga membuat mereka semua menatap Lina dengan tatapan yang terlihat kebingungan.


"Base hunting... Kalian mulai dari sekarang harus bertahan di wilayah itu selama satu minggu penuh, tiga hari itu tidak cukup dan terlalu mudah bagi kalian peserta yang pasti memiliki sihir suci atau pemulihan racun. Satu minggu saja dan kalian aman, jika markas kalian hancur maka kalian akan di diskualifikasi dan dikeluarkan. Untuk sekarang kita berkumpul disini saja. Laksanakan!"


"Laksanakan!!!" Teriak mereka semua, Morgan tersenyum lalu ia pergi menghampiri atap sekolah untuk bertemu dengan semua peserta yang mengikuti tantangan kedua.


***


Di sisi lainnya, Haruki, Naoki, Shizen, Chiara, dan Lang yang mewakili kelas tiga sudah berkumpul di taman selagi menatap Jorgez. Semua peserta sudah bersiap dan Jorgez sudah menyiapkan sebuah portal besar di belakangnya dimana di dalam portal itu terdapat arena untuk mereka bertarung, "Sepertinya persiapan sudah selesai. Dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulang-nya lagi! Peraturan ini sangat penting dan aku akan melihat pertarungan kalian bersama pemandu lainnya." Ucap Jorgez selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius.


"Baiklah!" Teriak mereka semua dengan nada yang terdengar semangat, "Jika lima peserta dari satu kelas telah jatuh maka kelima peserta itu akan langsung dikeluarkan dari akademi, pertarungan akan diadakan di Imagination Realm dimana arena kotak besar akan melayang di wilayah tersebut. Jika kau menjatuhkan musuh-mu dari atas arena maka mereka yang jatuh kalah dan langsung dikeluarkan, mudah bukan?" Tanya Jorgez.


"Bagaimana jika kau membuat musuh-mu pingsan di atas arena?" Tanya Naoki selagi mengacungkan tangan kanannya, "Maka kau harus menjatuhkannya untuk benar-benar mengeliminasi-nya. Peraturan itu mudah, kalian bebas melakukan apapun termasuk dengan membunuh karena Morgan mengatakan bahwa pasti terdapat peserta yang mengikuti akademi ini memiliki hati yang jahat dan dingin, jadi jika kau membunuh seseorang maka tanggung jawab berada di dalam-mu dan bukan tanggung jawab kami dengan akademi ini." Ucap Jorgez sehingga membuat Haruki kesal kenapa peraturan membunuh itu boleh, sepertinya membunuh itu terserah dengan peserta yang mengikuti Battle Royale.


"Kalian tidak bisa terbang di tantangan satu ini karena wilayah itu sudah menyegel seluruh sihir yang mampu membuat penggunanya terbang atau melayang." Ucap Jorgez sehingga Shizen mulai memegang dagu-nya, "Tidak bisa terbang... Itu artinya pertarungan ini akan berjalan dengan cepat dan panjang sekali, kemenangan seperti akan diraih dengan usaha kita semua." Ungkap Shizen.


"Kalian memiliki satu jam untuk bisa memenangkan tantangan tersebut." 


"Tenang saja, semua peserta akan bertarung sehingga waktu berakhir atau menempuh nol. Pemenang dapat ditentukan dari peserta yang lebih banyak dari kelas lain misalnya kelas enam dengan empat peserta tersisa dan kelas tujuh dengan tiga peserta tersisa maka kelas enam akan menang, itu hanya contoh. Tentu jika seorang peserta dari kelas enam berhasil membuat semua musuhnya tereliminasi maka kelas enam akan dinyatakan menang dalam tantangan tersebut." Sepertinya semua peserta harus bisa bekerja sama dengan baik atau mereka akan kalah oleh kekuatan dari kerja sama, "Maka semuanya sudah siap, semua peserta diharap untuk memasuki portal yang berada di belakangku." Suruh Jorgez.


Semua peserta itu tanpa basa-basi masuk ke dalam portal tersebut selagi mencoba untuk tidak gugup dan gemetar, mereka harus bersemangat dan tetap kuat untuk melawan semua peserta yang sudah jelas tangguh dan sulit untuk di lawan. Beberapa menit kemudian, semua peserta telah tiba di atas arena selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut karena mereka melihat pemandangan luar angkasa yang sangat indah. Haruki maju ke depan lalu ia melirik ke bawah dan ia tidak melihat daratan di bawah arena itu, sepertinya jika seseorang jatuh maka mereka otomatis akan dipindahkan kembali ke akademi, "Begitu ya..." Ungkap Haruki.


Jorgez muncul di atas mereka selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat tegas, "Baiklah semua peserta dari setiap kelas untuk bersiap karena tantangan Battle Royale akan dimulai!" Semua peserta mulai bersiap dan menunjukkan kuda-kuda bertarungnya mulai dari mereka yang membawa senjata mulai mempersiapkan senjata mereka, "Oi... Semoga beruntung." Ucap Shizen kepada Haruki dan Haruki mulai tersenyum, "Semoga beruntung juga kepada dirimu."


Chiara mulai menatap Naoki dan Lang, "Kalian berdua juga, kita harus bekerja sama untuk bisa menang." Suruh Chiara selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat dingin, "Tantangan pertama yaitu Battle Royale dimulai..." Jorgez mengacungkan lengan kanannya dan semua peserta langsung mengeluarkan aura mereka sehingga arena mulai berguncang, "DIMULAI!!!" Jorgez langsung menurunkan tangan kanannya sehingga semua peserta langsung melesat menuju arah musuh mereka masing-masing.5


TO BE CONTINUED!


YUUSUATOURI: A NEW LIFE BEING A LEGEND - SPECIAL CHAPTER I IS COMING


"Ini sudah terasa seperti jutaan tahun... Aku menjadi seorang Dewa Crimson yang bertingkah egois dan semau-nya, aku melakukan pekerjaanku sebagai dewa biasa dan semua itu berubah ketika aku bertemu dengan seorang mortal gadis yang sangat cantik... Ia merubahku." Ucap Alvin yang sedang menatap kubus biru yang sedang berputar, kubus itu seperti merekam Alvin karena sepertinya kubus itu sebentar lagi akan dikirim kepada Korrina, "Aku sadar bahwa aku mencintaimu... Kau telah merubah-ku menjadi seorang dewa yang memiliki pemikiran seperti seorang mortal yang berguna, ternyata menjadi seorang dewa itu menyakitkan dan menikahi seorang mortal itu memiliki resiko yang besar."

__ADS_1


"Aku sudah bilang bahwa aku akan kembali lebih cepat dan lebih awal... Sepertinya aku tidak akan pernah kembali dan bebas dari Crimson Realm ini. Tapi... Aku ingin mencoba sekali untuk mengejutkan-mu dengan sesuatu, semoga saja begitu." Alvin mulai meneteskan beberapa darah di kedua matanya selagi menatap kubus itu dengan tatapan yang lelah.


"Semuanya berjalan dengan buruk dan jauh dari yang aku harapkan." Ucap Korrina selagi menatap sebuah kehancuran yang besar di depan-nya, "Kita semua tidak akan bisa kembali jika seorang Dewa mulai bertindak terhadap sikap kebodohan dari seorang Mortal."


Pasukan iblis kuat mulai tiba di planet Sillentesius dengan senjata tajam mereka dan kekuatan besar mereka serta pasukan itu dipimpin oleh raja iblis yang baru saja datang dengan jubah merah disekitar-nya dan tanduk iblis tersebut panjang dan juga besar, "Kita hanya bisa melakukan yang terbaik... Penyerang dan Hukuman yang disatukan." Ucap Korrina yang mulai mengusap darah di mulutnya, "Dan terkadang... Hal terbaik yang hanya bisa kita lakukan..."


"...memulai-nya dari awal..." Korrina tersenyum sehingga seorang Dewa Agung Crimson tiba di planet Legenia dan mulai menghancurkan semua yang menghalangi-nya termasuk Korrina sehingga katana-nya patah karena dewa agung itu yang memukul katana itu sampai patah, "Aku melihat mortal tak berdaya seperti mereka mati di depan mataku..." Ucap Rina yang dipenuhi dengan darah, Alvin tidak bisa melihat seluruh tubuhnya melainkan hanya darah yang telah melindungi seluruh tubuhnya.


Raja iblis menusuk pedang-nya di atas tanah sehingga tanah itu retak dan mengeluarkan lahar yang besar sehingga membuat planet Sillentesius perlahan-lahan hancur dan meledak menjadi partikel-partikel merah. Semua iblis bertahan kecuali semua Legenda yang tinggal di planet Sillentesius, rumornya bangsa iblis bisa bertahan dari ledakan planet dan semesta karena tubuh mereka yang kebal terhadap ledakan.


"Aku sudah memberitahu mereka bahwa semua dewa dan dewi itu sama saja... Tetapi, satu perbuatan baik saja dari seorang dewa atau dewi dan mereka percaya sehingga mengikuti mereka, itu artinya mereka telah jatuh ke lubang yang sesat, tidak boleh ada yang percaya terhadap dewa dan dewi di semesta Touri." Ucap Arata selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal, ia menghantam wajahnya tepat di atas tanah sehingga wajah dan tubuhnya dipenuhi dengan luka serta darah-darah yang berjatuhan.


"Bahkan jika terdapat kesempatan... Kita tahu bahwa semua dewa dan dewi itu tidak sama. Pasti ada satu yang benar-benar memiliki tujuan yaitu keadilan." Ucap Shira selagi menepuk bahu Korrina dan Arata untuk menenangkan mereka berdua.


Akina melesat ke atas selagi dikejar dengan ledakan yang berasal dari planet Sillentesius, semua iblis juga ikut mengejarnya.


"Kita pasti bisa." Jawab Haruki yang mulai menarik kedua pedang-nya, "Apapun yang kita miliki... Kita harus kerahkan semuanya." Shizen merobek baju-nya lalu ia mulai mengeluarkan auranya.


"Bersama... Kita bisa menang." Megumi memeluk Shira erat, "Dewa atau apapun itu... Semuanya sama, kekuatan para mortal bisa melampui para dewa jika kita benar-benar berlatih." Ucap Mirai.


"Serahkan para iblis dan raja iblis yang bernama Rxeonal itu kepada kami semua, mutakataka..." Ucap Lang yang mulai menepuk-nepuk dadanya.


Shua memutar tombaknya selagi menatap Rxeonal yang hampir saja menusuk dada-nya, Shira bangkit dari atas tanah lalu ia menatap Rxeonal dengan tatapan mematikan-nya, "Legends Never Dies...!" Ucap Shira yang mulai bersinar cerah.


YUUSUATOURI: A NEW LIFE BEING A LEGEND - SPESIAL CHAPTER I


~THE MADNESS OF THE DEMON LORD AND THE GRAND-CRIMSON GOD~


Seorang gadis yang memakai sebuah topeng crimson dan baju ratu serba crimson muncul tepat di depan Shira dan yang lainnya selagi menunjukkan senyuman-nya yang terlihat meyakinkan, Korrina langsung membulatkan kedua matanya ketika ia melihat gadis tersebut.


"Namaku adalah Memory Mortem... Aku sudah datang."

__ADS_1


COMING SOON!


__ADS_2