
Hana membuka kedua matanya lalu ia bisa melihat atap hitam di hadapannya, ia duduk di atas kasur dan sadar bahwa dirinya saat ini sedang berada di kamar.
Hana bisa merasakan keberadaan yang lainnya terasa begitu jauh karena pikiran dan perasaannya sudah terasa begitu hampa sampai ia bangun dengan penuh emosi sampai menghancurkan kasur itu menjadi dua.
"... ..." Hana membuka pintu dengan lemas tetapi ia tidak dapat membukanya sehingga ia langsung memukul pintu itu beberapa kali sampai memberikan jalan untuk dirinya.
Hana mulai menatap wajahnya yang terlihat begitu hancur, tidak satu pun ekspresi ia tunjukkan ketika mengetahui hari ini terasa begitu panjang seperti mimpi buruk yang tidak akan pernah berakhir.
Di mulai dari kematian Minami, reputasi Shimatsu serta Phoenix yang hancur, kemudian era kerajaan yang kembali tetapi jauh lebih rumit dan buruk sampai janjinya kepada Minami juga telah gagal.
Hampir seluruh Neko Legenda musnah karena serangan Regulus, sisanya entah pergi kemana karena mereka semua mengamuk, kemungkinan besar kerajaan lain sudah menghukum semua Neko Legenda itu.
Jika situasinya terus seperti ini maka Neko Legenda akan kembali di anggap rendah dan berbahaya sampai bisa saja merugikan Shinobu lebih lanjut lagi karena ia juga sendiri di benci sebagai anak dari Kou Comi.
Kemudian, sesuatu yang lebih buruk terjadi dan itu adalah kematian terhadap kedua Legenda yang sangat ia sayangi di mulai dari adiknya sampai sahabatnya sehingga ia memukul kaca di hadapannya sampai retak.
Retakan kaca itu menunjukkan refleksi dirinya yang benar-benar hancur, dipenuhi dengan kehampaan sampai ia sudah tidak memiliki akal sehat untuk menunjukkan ekspresi yang positif.
Hana memukul wastafel lalu ia menghantamnya wajahnya beberapa kali di atas keran itu sampai hancur sehingga ia mulai menyalakan air lalu membasuh wajahnya dengan memasukkan wajahnya itu.
Hana mengangkat kembali kepalanya lalu ia berjalan keluar dan menendang serpihan pintu di hadapannya, setelah itu ia mengambil sebuah foto yang menunjukkan dirinya bersama Minami dan Honoka di akademi permohonan.
"Beritahu aku... apa yang harus aku lakukan mulai dari sekarang... tanpa kalian... tanpa kalian yang sudah meninggalkan diriku sendirian...!?" Tanya Hana dengan air mata yang mengalir keluar.
"...aku sudah kehilangan banyak hal bahkan hasil usaha Minami sampai tidak bisa aku lindungi... semuanya gagal...!? Sebenarnya apa yang harus aku lakukan mulai dari sekarang ini!?" Hana mulai mengangkat kemari lalu membantingnya di atas lantai sampai hancur.
"APA YANG HARUS AKU LAKUKAN!? APAAAA!!!" Hana menendang semua barang yang ia lihat dengan tatapan mematikan karena ia sudah muak dengan semua hal yang dirinya rasakan.
"AAAAHHHHHHHH!!! UNTUK APA KAU MENCIPTAKAN DUNIA SELUAS INI JIKA ISINYA AKAN TERUS DIPENUHI DENGAN PENDERITAAN YANG AKAN TERUS BERMUNCULAN...!!!"
Hana mulai merasakan amarah yang begitu besar sampai ia menghancurkan semua barang yang berada di dalam rumah itu satu per satu dengan melakukan beberapa tendangan dan pukulan.
"KEDAMAIAN APA YANG HARUS KITA DAPATKAN JIKA SEMUANYA AKAN KEMBALI MENJADI PENDERITAAN...!? MEMANGNYA KEADILAN DI PANDANGAN KALIAN ITU APA!? KENAPA KALIAN HANYA MEMPERHATIKAN SAJA!!!"
Hana meneriakkan suaranya begitu keras ke atas sehingga ia mulai menyalahkan para dewa yang tidak melakukan tugasnya dengan baik, untuk apa mereka menciptakan sesuatu jika tidak pernah turun tangan untuk mengurusinya.
Dewa takdir salah satunya yang hanya memperhatikan batu takdir berjalan, tidak ada yang namanya kedamaian abadi, di dalam kebaikan terdapat keburukan, itu lah kenapa penderitaan akan selalu muncul kapan pun.
"Untuk apa...!!! UNTUK APA NAMAMU MUNCUL JIKA PEKERJAAN YANG KAU LAKUKAN HANYA MENGAWASI!? KENAPA...!? KENAPA KAU HARUS MENGAMBIL APAPUN DARIKU...!!!"
Hana berlutut lalu memukul daratan beberapa kali, "Mereka hanya satu-satunya hal yang sangat aku sayangi...!!! Sesuatu yang harus aku lindungi...!!!"
"Kenapa...!? Kenapa kau membawa mereka...!!! Rokuro...! Minami...! Dan Honoka...!!! Kenapa kalian mencoba untuk menghancurkan diriku dari dalam...!?"
"Apakah hanya kita bangsa Legenda yang harus terus bertanggung jawab sampai memusuhi satu sama lain!? Apa maksudnya dengan era kerajaan dan perselisihan yang omong kosong ini...!!!"
Hana melempar meja makan ke depan sampai menghancurkan semua peralatan dapur, ia mulai menendang lebih banyak barang sampai menghancurkannya satu per satu untuk melampiaskan rasa kesal terhadap takdir dan kematian.
"Kita bisa merasakan kedamaian abadi...!? Jangan mengatakan omong kosong...!!!" Kedua mata Hana terlihat sangat mati sampai ekspresi yang dapat ia tunjukkan hanya amarah dan depresi.
"AKU SUDAH MUAK!!!" Hana menghancurkan ruangan tamu dengan melakukan beberapa tendangan lain.
"MINAMI MEMPERCAYAI DIRIKU UNTUK MENJAGA SELURUH BANGSA LEGENDA, DAN AKU GAGAL KARENA TIDAK BISA MENGALAH RAJA BANGSAT ITU...!!!" Hana terus menghancurkan apapun tanpa menahan diri.
"Aku terlalu lemah dan bodoh untuk membiarkan semuanya hancur dan mati...!!! Seharusnya aku juga ikut mati bersama adikku sendiri...!!!"
__ADS_1
"Percuma saja hidup panjang jika apa yang kau lihat hanyalah penderitaan...!!! Mati sebagai sang pahlawan atau hidup panjang untuk melihat dirimu menjadi penjahat!!!"
Hana terjatuh di atas tanah, melihat foto keluarga di Neko Isle, ia bisa melihat semuanya terlihat begitu bahagia sampai foto itu adalah sumber kebahagiaan besar terakhir mereka yang sudah menghilang.
"APA YANG HARUS AKU LAKUKAN SEKARANG...!!!" Hana menghantam daratan sampai menghancurkan semua barang di sekelilingnya.
"Apakah aku harus tetap melanjutkan hidup ini sampai melihat korban berguguran lebih banyak lagi..." Hana mulai menangis sekarang selagi mengacak-acak rambutnya tanpa henti.
"Aku ingin kembali ke masa lalu...!!! Menikmati waktu akademi itu lebih lama lagi bersama Minami dan Honoka...!!! Sialan! Sialan! Sialan!!! DEWA TAKDIR BRENGSEK!!!"
"SEBERAPA LAMA KITA HARUS HIDUP SEBAGAI HEWAN YANG SENGSARA DI ERA OMONG KOSONG INI!?" Hana menghantam daratan lagi.
Semua keadilan yang ia ketahui sudah terasa buta sampai dirinya tidak mengetahui apa arti keberadaan dan keadilan yang sebenarnya, membalaskan dendam tidak akan pernah bisa mengembalikan sesuatu yang sudah hilang.
"AAAAAAHHHHHHHHHH!!!" Teriak Hana keras yang mulai mengamuk kembali, amukan itu sudah pasti bisa di dengar oleh seseorang dari luar rumah Arata.
Ophilia saat ini sedang berada di luar rumah itu selagi memasang tatapan sedih, ia mencoba untuk masuk tetapi Arata menghentikan dirinya karena Hana membutuhkan waktu sendirian untuk melampiaskan semua amarahnya itu.
"Lebih baik membiarkan dirinya seperti itu untuk sekarang... jika kita masuk maka keadaan akan bertambah buruk." Kata Arata yang mulai berjalan pergi.
"Ternyata era kerajaan memang akan terulang kembali..." Ucap Ophilia yang sudah mengetahui jelas tentang prediksi ini karena Ibu dan Ayahnya sering membahasnya.
"Ya... tidak ada yang namanya keabadian untuk era dan zaman, semuanya akan kembali hancur. Tidak ada yang namanya hidup enak..."
"...kita sebagai bangsa Legenda akan terus menulis sejarah dan mengotori tangan kita untuk mengikuti keadilan yang kita inginkan, jika situasi sudah seperti ini maka semua Legenda adalah musuh bagi Legenda lainnya."
Arata terbang ke atas langit untuk melihat keadaan kerajaan Legetsu karena Kou baru saja memperingati mereka bahwa kerajaan Ghisaru akan langsung bergerak untuk memusnahkan kerajaan yang paling berbahaya yaitu Legetsu.
***
"... ..." Kou menundukkan kepalanya karena ia telah kehilangan seseorang yang sangat penting di kehidupannya.
Waktu terasa begitu cepat, Honoka baru saja gugur kemarin, dan Shuan yang menyusul sampai Kou hanya bisa menerima semua itu dengan perasaan yang sudah terasa kesakitan.
Untungnya ia memiliki kekuatan The Mind jadi pikiran dan mentalnya bisa di kendalikan dengan baik, tidak seperti Hana yang sudah terlambat, dirinya hancur dari dalam di mulai dengan mental, jiwa, dan perasaan sampai akal sehat juga.
Kou menoleh ke belakang, melihat Shinobu yang sudah tertidur karena seharian ini apa yang dirinya lakukan hanya menangis lagi dan lagi karena di tinggal oleh Shuan yang tidak pernah melatihnya.
Bermain bersama juga jarang karena Shuan terlalu sibuk mengurusi hal lain bersama kedua temannya itu, Kou mulai pergi menghampar ruangan bawah tanah dengan membuka gembok pintu yang terletak di atas tanah.
Pintu itu mulai ia buka lalu Kou masuk ke dalam ruangan bawah tanah itu dengan turun melalui tangga sehingga ia bisa melihat banyak sekali debu dan sarang laba-laba.
Sudah bertahun-tahun lamanya ruangan itu tidak pernah dibersihkan, banyak sekali barang antik dan kuno di dalamnya bahkan dipenuhi dengan buku yang sangat kuno dan bermanfaat.
"Mungkin Shinobu bisa belajar di sini jika aku sudah membersihkannya." Kou menginjak tanah yang dipenuhi dengan debu sampai ia terus bersin di dalam ruangan itu.
Ruangannya cukup luas bahkan sampai dipenuhi dengan rak buku, semua buku itu bahkan sampai diselimuti dengan jaring laba-laba, Kou sempat melihat beberapa pintu kotor di hadapannya.
Satu lagi terletak tepat di sebelah tangga itu sampai ia merasa sedikit takut apa yang tersimpan di dalamnya, ia hanya datang untuk mengunjungi tempat itu untuk melihat-lihat buku.
"Tech, tolong kemari." Perintah Kou sehingga Tech masuk ke dalam ruangan itu lalu mengulurkan lengan kanannya untuk memancarkan sinar karena ruangan itu cukup gelap.
Kou menghampiri tombol di sebelah rak buku pertama lalu ia menekannya sampai lampu di dalam ruangan tersebut mulai menyala sampai ia bisa melihat isi ruangan dengan jelas.
Semuanya terlihat begitu kotor sampai Kou meminta Tech untuk membersihkannya, tidak memakan waktu yang lama karena satu menit kemudian, ruangan itu terlihat sangat rapi dan mewah berkat Tech.
__ADS_1
"Baguslah... cukup pas untuk dijadikan sebagai ruangan belajar dan berlatih untuk Shinobu." Kou tersenyum kecil lalu ia melihat-lihat rak buku.
Kou melihat satu buku yang menarik perhatiannya, ia mengambil buku tersebut lalu melihat sampulnya yang menunjukkan wajah seorang Legenda, ia membaca judul itu dengan pelan karena tulisannya sangat kuno.
"...Sisi gelap... dari era kerajaan..." Kou melebarkan matanya ketika buku itu berisi tentang sejarah era kerajaan di masa lalu.
"E-Edisi pertama...?"
Kou merasa sangat penasaran sampai ia duduk di atas lantai lalu membuka buku itu untuk membacanya selama sepuluh detik karena itu cukup untuk mengetahui isi bukunya berkat bantuan The Mind.
Pada akhirnya, Kou mulai membaca semua buku itu satu per satu sampai habis, ia merasa lebih tenang sekarang karena kematian Shuan sudah tidak bisa ia keluhkan lagi karena keluhan tidak akan mengembalikan seseorang yang sudah gugur.
***
"... ..." Regulus mulai menggerakkan botol emasnya itu selagi mengangkat kaki kanannya di atas kaki lainnya karena ia sedang memikirkan sesuatu.
"Bagaimana rencana reproduksi itu...? Apakah para gadis perawan sedang mengandung anakku?" Tanya Regulus.
"Semuanya berjalan dengan lancar, yang mulai. Mereka semua mengandung anakmu, dan sekarang aku yakin bahwa anak yang di hasilkan akan melahirkan Legenda yang kuat...!" Ucap salah satu kesatria.
"Hohhhh... menarik, hari ini aku cukup sibuk karena harus berbicara dengan beberapa Legenda yang aku kenal." Regulus menghabiskan bir itu dengan satu tegukan.
"Tidak ada yang namanya dewa dan raja... hanya ada Kaisar, satu Kaisar yang bernama Regulus Khan! Muahahaha!" Regulus mulai tertawa sampai semua prajurit di ruangan itu mulai bersujud di hadapannya.
Regulus yang terpengaruhi dengan ego dan harga dirinya sebagai kaisar merasa kesal ketika melihat Diablo bersama Satori hanya berdiri selagi menikmati camilan mereka.
"Kalian berani-beraninya berdiri tepat di hadapan---"
"Jangan melawak, Regulus. Apakah kau ingin aku mengakhiri kariermu sebagai Kaisar?" Tanya Diablo yang memasang tatapan tajam kepadanya sampai Regulus langsung sadar dan ketakutan.
"Ego yang cukup besar... apa yang aku harapkan dari seorang Kaisar Legenda bahkan egonya lebih besar." Kata Satori sambil membersihkan topengnya itu.
"Kenapa kau tidak mau menunjukkan wajahmu itu, Satori?" Tanya Diablo.
"Zenzaku memintaku untuk menjaga identitasku bukan? Lagi pula dengan topeng ini... aku dapat bersikap seperti seseorang yang berbeda." Satori memasang kembali topeng itu.
Regulus mulai mendekati mereka berdua, rasa kesal dan benci muncul di dalam diri mereka karena Kaisar seperti dirinya tidak bisa memerintah Diablo dan Satori yang berada di tingkatan berbeda.
"Oh, sepertinya si badut mulai mendekat." Diablo tersenyum serius, ia sudah beberapa kali mempermalukan Regulus di hadapan Satori.
Regulus menyimpan rasa dendam besar kepada Diablo, jika saja ia tidak mati dan kalah melawan Diablo sejak itu maka dirinya sudah pasti akan mempermalukan dirinya lebih jauh lagi.
"Apa yang kau butuhkan dari kami, Regulus? Kami tetap pasukan Legetsu, hanya saja tidak menyembah dan menanggap dirimu sebagai Kaisar." Kata Satori.
"Sudah berapa kali aku setuju dengan Legenda ini, hanya ia satu-satunya yang dapat aku hormati sampai diriku akan menuruti kemauannya." Kata Diablo, ia sudah menghormati Satori terlalu tinggi.
"Sudah waktunya untuk bergerak dan menaklukkan lebih banyak wilayah bukan...?" Tanya Regulus.
"Baiklah... aku sendiri sudah muak menunggu peperangan di mulai, berperang melawan bangsa yang sama terdengar cukup menyenangkan karena iblis selalu melakukannya!" Diablo mengepalkan kedua tinjunya.
"Sekarang waktu yang tepat juga... Shiratori Shira tidak sedang bersama mereka." Kata Satori yang mengetahui fakta bahwa Shira saat ini masih berlatih di dalam kuil itu cukup lama demi menguasai kemampuannya.
"Cih, aku mengharapkan pertemuan secara langsung dengannya..." Kata Diablo yang merasa kecewa.
"Baiklah..."
__ADS_1
"...waktunya bergerak."