Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 754 - Cuaca yang Aneh di Malam Halloween


__ADS_3

Setelah mereka mengunjungi kerajaan Lesolvia lalu menghancurkannya tanpa sisa, kelima gadis pemberontak sedang dalam perjalanan menuju kerajaan selanjutnya.


Mereka berencana untuk mencuri seekor kuda dan tentunya menghancurkan kerajaan itu jika mereka mampu karena itu adalah tugas utama dari seorang pemberontak.


Dalam perjalanan itu dipenuhi dengan halangan, awal mulanya adalah Hinoka yang masih pingsan dan tentunya kondisi perut mereka yang terus mengeluarkan suara keras karena kelaparan.


Di tambah lagi dengan cuacanya, dipenuhi kabut tebal sampai langit-langit terlihat begitu hitam seperti akan turun badai yang besar.


Mereka perlu mencari tempat tinggal yang cocok di alam terbuka ini, jika mereka tidak menemukan sebuah gua maka seseorang perlu menghancurkan daratan atau gunung untuk membuat sebuah gua agar mereka bisa beristirahat di dalam sana.


Koizumi melepas sebuah pin berlambang waktu yang berjalan di rambutnya lalu ia melihatnya, waktu sudah menjelang malam dan mereka bisa melihat jalanan yang begitu gelap di sekeliling.


"Ini benar-benar gawat... jika kita tidak menemukan tempat untuk berlindung maka pandangan yang kita lihat hanya kegelapan."


Melihat cahaya dari matahari terbenam mulai menghilang, Shinobu memejamkan kedua matanya lalu memancarkan cahaya matahari siang melalui tubuhnya dengan menggunakan kekuatan Golden Sunshine.


"Tenang saja... dengan menggunakan Golden Sunshine, kita dapat melihat dengan jelas..."


"...hanya saja melanjutkan perjalanan di malam hari dengan cuaca buruk yang akan datang terdengar berbahaya."


Mereka semua setuju dengan Shinobu karena dalam perjalanan panjang dan berbahaya seperti ini, mereka bisa saja berpapasan dengan monster atau kesatria zodiak lain yang mencoba untuk membunuh mereka.


Rambut mereka menerima tetesan hujan seketika, Koizumi menoleh ke belakang dan melihat tetesan air hujan mulai turun cukup besar sampai membasahi tubuh mereka langsung.


Hal yang Koizumi lakukan pertama adalah keselamatan sepupunya yaitu Hinoka dengan melepas Kisetsu nya lalu menghalang tubuhnya agar ia tidak masuk angin.


Untungnya Koizumi mengenakan baju ganti di balik Kisetsu itu jadi ia tidak memiliki masalah untuk masuk angin karena tubuh dapat merasa suhu yang panas menggunakan auranya sendiri.


"Kita akhiri perjalanan ini dengan beristirahat... Konomi... Ako... cepat gali sebuah lubang besar, sisakan batu dan tanah yang kalian gali!" Perintah Koizumi layaknya seperti pemimpin.


Shinobu hanya bisa diam, melamun karena ia bisa melihat sebuah tatapan tajam dari jauh tetapi ia tidak dapat melihatnya dengan jelas, pipinya mulai di colek oleh Koizumi sampai ia langsung melompat kaget.


"Eeeepppp...!"


"Ahh, maaf... aku tidak bermaksud untuk mengejutkan dirimu, Shinobu. Tolong ciptakan tempat perlindungan aman menggunakan sihir cahayamu yang dapat memanipulasi dedaunan?" Kata Koizumi.


Shinobu mengangguk lalu ia menoleh ke arah sebuah pohon untuk mengambil semua daun itu sampai pohon tersebut mulai kehabisan daun karena Shinobu yang mengumpulkannya demi menciptakan tempat perlindungan.


Ako dan Konomi berhasil menggali lubang yang cukup besar lalu Shinobu menciptakan rumah kecil yang dapat menghalangi lubang itu agar mereka dapat beristirahat di dalamnya tanpa menerima tetesan air hujan.


Shinobu menyentuh daratan untuk menciptakan akar emas yang menyerap semua air itu sampai menciptakan pohon emas kecil yang dapat menahan semua air itu untuk tidak masuk ke dalam tanah dan lubang.


Mereka semua segera masuk sedangkan Shinobu masih di luar untuk mengangkat sebuah pohon di hadapannya menggunakan aura emasnya lalu ia menariknya ke arah tempat perlindungan itu.


"Shinobu, cepat! Aku tidak ingin kamu masuk angin..." Kata Koizumi, seperti biasanya ia selalu khawatir kepada kedua sepupunya seperti seorang Kakak yang tidak ingin adiknya sakit.


Shinobu memotong batang pohon itu lalu memasukkannya ke dalam lubang itu agar mereka dapat menciptakan api kecil yang dapat menghangatkan tubuh.


Koizumi melihat banyak sekali dedaunan emas mulai menghalang tanah dan batu-batuan itu agar mereka dapat berbaring dengan baik tanpa menerima rasa pegal dari batu.


Koizumi menempati Hinoka di atas daun itu lalu ia mengeringkan kepalanya menggunakan tapak kanannya yang mengeluarkan aura merah.


Konomi yang baru saja selesai mengeringkan tubuhnya bersama Ako mulai menyalakan sebuah api di atas batang itu sampai ruangan di lubang tersebut terasa sangat hangat.


Shinobu masuk ke dalam sambil membawa beberapa sayuran yang sempat ia tumbuhkan menggunakan kemampuan cahayanya juga, ia menempatinya di atas dedaunan itu.


Ruangan di dalam lubang itu cukup luas jadi mereka tidak bisa merasa sempit, Koizumi mendekati Shinobu yang basah kuyup lalu ia mengeringkan tubuhnya dengan memeluknya erat.


"Kerja yang bagus... dengan ini kita bisa bertahan selama satu hari, kalian semua memang bekerja cukup baik." Koizumi menghormati mereka semua karena sudah bekerja cukup baik sebagai seorang pemberontak.


"Untuk sekarang, kita terpaksa harus berlindung di dalam lubang ini sampai besok... semoga saja hari esok cuaca bisa secepatnya cerah." Koizumi duduk di sebelah Hinoka yang masih tertidur.


"Shinobu, sini..." Koizumi mulai menepuk daun di sebelahnya agar Shinobu mau duduk dekat dirinya agar mereka bisa saling membagi kehangatan itu.


Kedua saudara kembar itu duduk berdekatan, di dalam lubang itu dipenuhi dengan rasa kepedulian seorang sepupu dan saudara sampai yang paling tua perlu mengorbankan apapun untuk yang kecil.

__ADS_1


"Ini Ako... kamu bisa menghangatkan tubuhmu dengan Kisetsu ini." Konomi melepas Kisetsu itu lalu ia mengenakannya kepada Ako sebagai selimut agar ia bisa tetap merasa hangat.


"Kakak nanti masuk angin..." Ako menatap Konomi.


"Santai saja, aku hanya tidak ingin melihat adikku yang sudah seharian di gigit piranha kedinginan juga." Jawab Konomi.


Koizumi mulai melepas bajunya untuk menjadikannya sebagai selimut hangat untuk Shinobu, "Kakak bisa... masuk angin jika mengenakan kaos dalam saja..."


"Tidak masalah, cuaca ekstrem seperti ini tidak akan menghentikan diriku karena aku sudah terbiasa." Kata Koizumi selagi mengelus kepala Shinobu.


"Kalau begitu, kita makan dengan apa yang kita milik!" Kata Koizumi yang mulai mengambil semua sayuran yang berhasil Shinobu tumbuhkan dalam beberapa detik karena kemampuan cahaya itu.


"Kita bikin sup... Koneko bisa mengubah salah satu tangan ini... menjadi sebuah wadah seperti panci." Shinobu mulai menekan sebuah tombol di lengan kirinya.


Tapak dari tangan kirinya mulai masuk ke dalam lengannya sampai mengeluarkan sebuah panci, mereka semua terkesan melihatnya sampai bertepuk tangan karena kedua tangan Shinobu yang canggih sekali.


Shinobu tersipu lalu ia segera berdiri untuk mengambil air hujan itu menggunakan tangan pancinya tetapi Tech langsung memperingati suhu air itu yang sangat dingin.


Shinobu melebarkan matanya ketika melihat pancinya sampai membeku seketika, ia menatap ke depan dan melihat tetesan hujan biasa tetapi ketika ia mencoba untuk menyentuh menggunakan tangan lain.


Tangan itu mulai membeku sampai Shinobu terkejut karena cuaca yang terjadi saat ini sangat aneh, tetesan hujan biasa terasa seperti salju yang dapat mengubah apapun menjadi es lebih cepat.


"K-Kakak..." Shinobu melapor kepada Koizumi tentang pancinya yang mengumpulkan banyak sekali bongkahan es.


"Es...? Apa?"


Koizumi memasang ekspresi kebingungan, ia mulai berdiri lalu mengulurkan lengan kanannya ke depan sampai ia bisa merasakan tetesan air itu terasa seperti es yang mengenai tubuhnya.


"Cuaca hari ini benar-benar aneh... untungnya kita tidak melanjutkan perjalanan."


"Tetesan air hujan es, kabut yang menghalangi jalan, dan awan-awan hitam menghalangi pancaran sinar bulan." Kata Koizumi.


"Mengerikan sekali... musim sejuk seharusnya sudah berakhir karena Hallowe---" Koizumi secara refleks menutup mulut Ako dengan cepat.


"Memangnya kenapa, Koizumi...? Ada apa dengan Halloween...?" Tanya Konomi pelan.


"Halloween adalah hari amarah terbesar Hinoka... rasa traumanya akan bertambah lebih buruk seperti tadi di kerajaan Lesolvia..."


"...sejak ia berumur 3 tahun dan mengetahui hari ini adalah Halloween."


"Hinoka mengamuk dan menjerit keras sampai menghancurkan beberapa planet dengan mengubah realitas apapun menjadi ledakan."


Ako dan Konomi langsung merinding ketika mendengarnya, ia pernah mendengar tentang ledakan planet itu sebelumnya dari ibu mereka tetapi entah siapa yang menjadi penyebabnya.


Selama ini Hinoka yang melakukan ledakan itu, terdengar cukup mengerikan sampai merasa malang untuk Hinoka yang tidak dapat menikmati hari Halloween di masa kecilnya.


"Masa kecil Hinoka dipenuhi dengan trauma karena keguguran dari Ibu... aku harap kalian tidak membicarakan tentang hari itu..."


"...Ibunya yang bernama Honoka Comi sempat mengatakan sesuatu kepada Hinoka ketika tubuhnya yang sudah hancur dan dipenuhi darah..."


"...Hinoka sempat bertanya... kenapa dia tidak memiliki kaki dan lengan lagi bahkan tubuhnya juga dipenuhi dengan darah berbau melati."


"Di saat itulah Tante Honoka menjawab... dia melakukannya untuk hari Halloween... dia gugur di hari perayaan Halloween sampai Hinoka menganggap hari itu..."


"...sebagai hari yang dipenuhi penderitaan sampai membangkitkan traumanya sampai besok, untungnya ayahnya berhasil menenangkan dirinya dengan membuatnya pingsan karena itu satu-satunya cara."


Koizumi menatap Hinoka yang masih tertidur dengan damai, "Malang sekali, Hinoka..."


Ako merasa sedih ketika mendengarnya bahkan ia sampai meneteskan beberapa air mata, "Dia tidak dapat... hiks... merasakan kasih sayang seorang ibu dalam waktu yang lama..."


"Itu benar... setiap hari Ibu, Hinoka selalu menangis sendirian karena merindukan ibunya, rasa trauma itu tidak bangkit melainkan rasa kesedihan dan tangisannya."


"Hari ini kebetulan perayaan Halloween... Hinoka masih belum menyadarinya karena perhatiannya mudah teralihkan oleh sesuatu yang bodoh."


"Sebodoh-bodohnya Hinoka... aku tetap menyayangi dirinya seperti adikku sendiri."

__ADS_1


"Tetapi tetap saja dia sangat bodoh... otaknya kecil dan sikapnya yang menyebalkan..." Koizumi tersipu karena sadar bahwa dirinya baru saja menunjukkan rasa sayangnya kepada Hinoka.


Koizumi mulai memegang lengan kiri Shinobu lalu membakar bongkahan es itu menjadi air yang mulai menguap sampai Shinobu menempati panci itu di atas api untuk memanaskan air tersebut.


Shinobu memasukkan beberapa sayuran ke dalam lalu ia mulai mengubah jari di lengan kanannya menjadi botol yang mengeluarkan beberapa garam.


"Sh-Shinobu... ternyata kamu benar-benar mempersiapkan semuanya di dalam tangan ini ya." Melihatnya saja membuat Koizumi terkejut.


"B-Benar... hebat sekali, Shinobu." Ako bertepuk tangan.


"Kamu memang selalu bisa di andalkan ya." Konomi terkekeh.


Shinobu tersipu dan ekornya mulai bergerak cepat karena pujian itu memuat dirinya merasa sangat bahagia sampai ia mulai menyerahkan masakan itu kepada Koizumi yang mahir dalam memasak.


Menghabiskan waktu selama beberapa menit untuk membuat sup itu, mereka menikmati makanan hangat itu dengan lahap karena rasanya tidak buruk, cukup untuk menghilangkan rasa lapar.


Hinoka masih tertidur dan itu adalah tanda yang bagus karena Koizumi menginginkan dirinya untuk beristirahat agar bisa melupakan sesuatu yang terjadi sebelumnya.


Setelah mereka menikmati sup itu, para gadis kecil itu berbaring di atas daun untuk beristirahat dengan tidur agar mereka dapat melanjutkan perjalanan di esok hari.


Mereka semua tidur lebih dahulu, berbeda dengan Koizumi yang melakukan beberapa pemanasan karena ia tidak ingin tubuhnya menjadi lembek, tiada hari tanpa latihan bagi dirinya.


Koizumi yang baru saja selesai latihan mulai melihat Konomi dan Ako yang tertidur dengan nyenyak sebagai saudara kembar, ia mulai menatap kedua sepupunya yang tidur bersebelahan.


Hal yang mengejutkan adalah Hinoka dan Shinobu menyediakan tempat tidur di bagian tengah agar Hinoka dan Shinobu dapat memeluk dirinya, melihatnya saja membuat dirinya tersenyum.


"Dasar Hinoka... gunakan Kisetsu yang aku berikan ini sebagai selimut..." Koizumi menghela nafasnya lalu membenarkan Kisetsu itu untuk menutup tubuhnya.


"Shinobu juga... astaga... posisi tidurmu salah, bisa saja menyebabkan pegal ketika sudah bangun." Koizumi membenarkan posisi tidur Shinobu.


Tindakannya saat ini seperti Kakak yang sangat peduli, hanya saja semua rasa peduli dan kasih sayang itu selalu ia sembunyikan dari semua orang.


Koizumi menunjukkan semua itu ketika ia sendiri bahkan diri sempat menatap sekeliling agar tidak ada yang melihat dirinya, ia mulai mendekati bibirnya kepada kening mereka.


"Tidur yang nyenyak ya...  kedua sepupuku yang aku sayangi..." Koizumi tersenyum lembut lalu ia memberi Hinoka dan Shinobu sebuah kecupan di kening.


Setelah itu langsung berbaring di tengah mereka, menarik kedua tubuh sepupunya mendekat agar bisa saling membagi kehangatan itu, ia langsung memejamkan matanya untuk tidur.


...


...


...


"... ..." Tauros yang berada di atas awan buatannya melihat kelima gadis itu sudah tertidur di dalam lubang itu.


Dia datang tidak sendirian karena dirinya membawa kedua gadis kecil berzirah di belakangnya yang sedang bermain-main di badai hujan.


"Dengar, anak-anak..."


""Yaaaa~""


"Kita akan memulai rencana ketika salah satu dari mereka bangun dan ingin buang air kecil..."


"...itu artinya kesempatan yang kita miliki bisa di bilang lima puluh, hanya saja kalian bisa menjalankan strategi kalian untuk menjebak Hinoka dan Shinobu."


"Siap~"


"Kami akan menjebak Hinoka dan Koizumi di dalam dunia mimpi agar mereka bisa mati di sana~"


"Bagus... aku hanya perlu menunggu salah satu dari ketiga gadis itu untuk bangun dan buang air kecil..."


"...di saat itulah mereka akan lari sampai kehabisan tenaga dan Lenergy untuk bergerak."


l

__ADS_1


__ADS_2