Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 77 - Jauh Tetapi Melindungi


__ADS_3

"Kenapa kamu ada disini, Haruka...? Bukannya sekarang masih siang...? Kembali tidur siang yuk, sayang."


Korrina menggendongnya dan Haruka segera menggelengkan kepalanya karena ia tidak mau tidur siang sebelum Korrina berhenti menangis.


"Mohhh..." Haruka menggelengkan kepalanya.


"Mau susu?"


"Mmmmm...!" Haruka menggelengkan kepalanya lebih cepat.


"Hari ini kan hari ulang tahun-mu... Tidur dulu ya? Biar malam kamu kita bisa merayakannya bersama, Haruka." Korrina memberi sebuah kecupan di bagian pipi Haruka.


"Buuuu..." Haruka menggembungkan pipinya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil memegang baju Korrina erat.


"Gak mau ya... Baiklah..."


Korrina pergi menghampiri kamar-nya untuk menemani Haruka sampai ia tertidur di kasur-nya. Haruka menatap wajah Korrina yang masih terdapat rasa kesedihan, air matanya juga masih bisa terlihat sehingga Haruka menyentuh pipi Korrina.


"Hmm...? Ada apa, malaikat kecilku?"


"Iirrrr... Uuuu..." Haruka mulai menyentuh pipi Korrina menggunakan kedua telapak tangannya, ia mulai mengusap-usapnya mencoba untuk menghapus semua air mata itu.


"Mama baik-baik saja kok, hehehe..."


"Mama... Edih..." Haruka mulai berbicara sampai membuat Korrina hanya bisa tersenyum pahit.


"... ..."


Haruka memberi sebuah kecupan di bagian pipi Korrina untuk menenangkannya, Korrina hanya bisa tersenyum sambil memejamkan kedua matanya.


Setelah masuk ke dalam kamar, Korrina segera berbaring di atas kasurnya dan menepatkan Haruka di atas kasur. Korrina tidak pergi melainkan ia menemani Haruka agar ia bisa tertidur.


"Mmmmm..." Haruka terlihat seperti tidak mau tidur.


"Hehehe" Korrina tersenyum.


"Waahhhh..." Haruka memeluk wajah Korrina.


"Aduhhh... Kamu gak mau diem ya..."


Haruka berbaring malas di atas kasur sambil membuat wajah yang lelah, Korrina mengusap-usap perut-nya menggunakan jari telunjuknya, membuat Haruka tertawa terbahak-bahak.


Melihat Haruka yang tertawa dan tersenyum itu mampu membuat suasana hati Korrina membaik, Korrina ikut tersenyum dan Haruka meraih jari telunjuk Korrina lalu tersenyum.


"Guhhhh~" Haruka tersenyum lebar.


Korrina dan Haruka sama-sama tersenyum, tak lama kemudian mereka berdua sama-sama tertidur cukup damai berbeda dari Korrina yang mengalami mimpi buruk dimana ia sedang bersama Alvin.


"Kapan kamu akan pulang...?" Tanya Korrina.


"Tidak akan lama kok."


"Aku mengerti kok, kamu tidak bisa pulang karena kamu memiliki tugas untuk melindungi kita semua." Korrina mengelus-elus kepala Alvin dengan pelan.


"Maaf..."


"Tidak apa-apa."


"Aku tidak bisa menjadi normal."


"Normal...? Apa yang kamu perbicarakan, kamu selalu normal kok."


"Hanya di pandangan-mu saja..." Alvin menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Jangan terlihat putus asa seperti itu, kamu normal kok. Walaupun kamu ini seorang dewa, di dalam dirimu terdapat perasaan yang sama dengan Mortal yaitu normal." Korrina tersenyum.


"Apakah normal tidak mempunyai teman atau kenalan...? Atau... Mereka semua membencimu dan menatapmu rendah...?"


"Itu normal, lagipula... Kamu memiliki-ku."


"Hanya dirimu saja..." Alvin tersenyum pahit.


"Anak-anak---" Korrina segera menunjukkan ekspresi yang sedih ketika mengatakan anak-anak mereka, wajah Alvin terlihat seperti lelah.


Korrina hanya bisa diam merasakan kesedihan yang berbeda dengan Alvin, anak-anaknya tidak menganggap Alvin normal bahkan tidak ada menyukai dirinya seperti mereka menyukai ibu-nya sendiri.


"Anak-anak ya... Mereka lebih menyayangimu kok. Mereka mempercayai dirimu bahwa kamu dapat melindungi mereka dari dekat, Korrina." Alvin terkekeh kecil.


"Tapi... Berkat dirimu, kita semua terselamatkan dari ancaman dewa-dewi yang ada di wilayah Crimson."


Alvin menggelengkan kepalanya, "Memang tidak ada tempat yang pantas untuk dewa sepertiku..."


"Jangan mengatakan hal itu... Mereka menyayangimu kok---"


Korrina melebarkan matanya melihat Alvin yang tadi terlihat bersih sekarang terlihat kotor dipenuhi dengan darah dan luka, ia bahkan bisa melihat kedua lengan-nya yang sudah tidak ada.


Alvin tersenyum sambil memejamkan mata kanan-nya, "Aku lelah, Korrina. Aku membutuhkan istirahat sebelum aku bisa disayangi oleh mereka."


"Tapi..." Korrina sudah kehabisan kata-kata.


"Haruka tidak membencimu kok, dia juga menganggapmu normal!" Korrina tersenyum lebar.


"Hmm... Belum waktunya dia mengenalku." Alvin mengangguk.


Korrina meraih pipi Alvin dan ia bisa merasakan pipinya yang kasar itu, semua luka yang ia lihat ternyata nyata. Semua luka itu pasti perjuangan yang dia alami mencoba untuk melindungi keluarganya dan pulang.


"... ..." Korrina mencoba untuk menyembuhkan Alvin, tetapi tidak bisa. Ia bisa melihat beberapa darah mulai mengalir keluar melalui mulutnya.


"Iya... Aku baik-baik saja."


"Satu nyawa lebih baik dari jutaan nyawa yang penting 'kan..?" Tanya Alvin.


"Pengorbanan tidak selalu berakhir baik---"


Korrina melotot melihat anak-anaknya yang membelakangi Alvin, Korrina tiba di belakang anak-anak itu lalu ia mengalihkan pandangannya ke belakang, melihat Alvin yang menahan banyak kesakitan demi melindungi keluarganya sendiri.


"... ..." Korrina mengalihkan pandangannya ke anak-anaknya dan mereka semua pergi meninggalkan Alvin sendirian.


"Anak-anak..."


Korrina mulai menyentuh punggung Alvin dan Alvin segera melirik ke belakang lalu tersenyum, "Percayalah..."


***


"... ..." Korrina membuka kedua matanya lebar dengan beberapa air mata yang mengalir deras, ia melihat sekeliling dan sadar bahwa dirinya ikut tertidur dengan Haruka.


"Hiks... Hiks..." Korrina mulai menangis mengeluarkan suara yang menyedihkan, Haruka masih tertidur dengan damai memegang erat jari Korrina. Ia tidak sadar bahwa sesosok ibunya menangis di depannya karena merasa sedih.


Korrina bangun dari kasurnya meninggalkan Haruka sendirian di atas kasur, ia pergi ke kamar mandi untuk membasahkan mukanya lalu menatap dirinya sendiri di depan cermin.


"... ..." Korrina menatap dirinya sendiri di cermin.


"Hweeeeehhhhhh....!!!! Hweeeeehhhhhhhh...!!!"


"... ..." Korrina segera menghampiri suara tangisan Haruka, sepertinya mimpi buruknya menular kepada Haruka dan itu bukanlah hal baik.


"Haruka... Sudah, jangan menangis. Cup, cup, cup... Mama disini kok, gak akan pergi."

__ADS_1


Korrina mengangkat Haruka dan segera menyusui-nya untuk membuatnya berhenti menangis, Korrina juga bergerak kecil agar ia bisa kembali tidur.


"... ..." Haruka menatap Korrina dan Korrina membalas tatapan itu dengan senyuman sambil memejamkan kedua mata.


Korrina mundur beberapa langkah dan tidak sengaja mengenai kardus mainan Haruka.


"Aduh..."


Haruka berhenti meminum susu milik Korrina karena perhatiannya terambil alih oleh kardus berisi mainan itu.


"Gahhhhh~~~" Haruka mengulurkan kedua lengannya ke arah kardus itu.


Korrina duduk sila di atas karpet dan menepatkan Haruka di atas karpet itu, ia merangkak menuju kardus itu dan mengeluarkan mainan yang berbeda.


Sepertinya Korrina tidak bisa meninggalkan Haruka sendiri ketika ia sedang bermain. Korrina memilih untuk duduk dan menemani Haruka yang sedang bermain.


Haruka mengambil sebuah tongkat yang mengeluarkan suara, setiap suara yang keluar mampu membuat Haruka tertawa terbahak-bahak. Korrina senang melihatnya dan ia mulai menyisir rambut Haruka serta merapihkannya.


"Mmmmm~"


"... ..." Korrina tersenyum.


"Guuuu...?" Haruka tiba-tiba mengambil beberapa mainan yang Alvin berikan kepada Rina, Agfi, Yuuki, dan Rexa sebelumnya. Semua mainan itu sudah rusak bahkan kotor karena tidak pernah di mainkan lagi.


Korrina hanya bisa diam melihat semua mainan itu yang pernah di buang oleh anak-anaknya. Haruka mengambil sebuah kalung yang dulunya diberikan hanya untuk Rina.


"Wahhhhhh~"


Korrina mengelus kepala Haruka, daritadi Korrina tidak mengeluarkan suara apapun karena ia hanya ingin menenangkan pikiran dengan hanya melihat Haruka.


"Gwa gwa gwa~ Kyaaahhh~" Haruka mulai bermain dengan semua bekas hadiah yang pernah diberikan oleh Alvin. Korrina cukup lega melihat Haruka menyukai semua mainan itu.


"... ..."


"Haruka."


"Hm?"


"Apakah kamu menyayangi Papa?"


"Guhhhhhh~" Haruka mengangguk cepat.


"Cayang.... Papa..."


"Benarkah...? Walaupun dia tidak pernah pulang...? Dia tidak pernah kembali lagi bukan...?"


"Papa tak pulang... Papa melindungi... Ari auh..." Haruka menunjuk ke atas sambil tersenyum lebar.


"Papa melindungi dari jauh ya...? Ahahaha... Tapi, apakah Haruka membenci Papa?"


Haruka menggelengkan kepalanya, "Haruka... Tidak pernah membenci Papa kok..."


"Ehh...?" Korrina melotot ketika mendengar suara Haruka yang terdengar seperti gadis kecil berusia 13 tahun.


"Haru... Ka...?"


Korrina bisa melihat Haruka yang tersenyum, "Beru... Uha...! Beruuha...! Hehehe~ Beruuuhaaaa..."


Korrina tidak bisa mengerti apa yang baru saja Haruka katakan dan ketika ia mengatakan hal itu, Korrina hanya bisa tersenyum dan memeluk Haruka seerat mungkin.


"Mama menyayangi Papa juga..."


"Yeyyy~"

__ADS_1


__ADS_2