
Okaho mendarat di hadapan mereka semua dengan ekspresi yang terlihat tidak sabar untuk bertarung dengan mereka semua, sepertinya ini pertama kalinya Okaho merasakan semangat untuk bertarung lalu mengalahkan mereka semua dengan mudah. Tetapi terdapat sesuatu yang janggal, mereka tidak mau menyerang karena merasakan aura Okaho yang sangat menyengat.
"Oyaa...?" Okaho tersenyum sadis, "Apakah kalian takut kepada kakak kalian sendiri? Ayolah, aku tidak akan menggigit... aku hanya akan memberi kalian sedikit rasa nyeri."
Okaho menatap ekspresi mereka yang tadinya datar sekarang terlihat seolah-olah waspada dengan diri-nya, sepertinya ilusi yang mengendalikan pikiran mereka tidak selalu membuat ekspresi mereka terlihat datar melainkan ilusi itu dapat membuat mereka seperti seseorang yang biasa.
Okaho merasakan sesuatu yang berbeda dari ekspresi mereka, Korin... ekspresi-nya terlihat seperti merasakan kenikmatan ketika merasakan aura Okaho serta menatap wajah-nya yang sadis. Okaho menatap-nya kembali lalu ia mulai tertarik bahwa Korin memiliki ekspresi yang terlihat berbeda dari yang lain-nya.
"Hohh... Sepertinya dia berbeda, kenapa dengan wajah-nya itu?" Ungkap Okaho hingga ia merasakan reaksi dari ilusi itu mulai membuat mereka menjadi merasa sangat agresif, sepertinya tidak ada lagi rasa waspada dan ketakutan di dalam diri mereka jadi mereka menyerang Okaho secara bersamaan.
"Majulah, kalian...!!!" Okaho melebarkan kedua lengan-nya hingga mereka semua langsung menyerang Okaho dari jarak dekat lalu mundur untuk melepaskan berbagai sihir, Okaho tertawa terbahak-bahak lalu menatap semua sihir itu dengan tatapan yang sangat mengancam hingga mengubah semua sihir itu menjadi udara dan gelembung.
"Itu saja yang kalian miliki, hah!?" Okaho merasakan keberadaan Rina dari belakang yang melayangkan beberapa pukulan, Okaho segera menahan semua tinju itu dengan hanya menggunakan telapak tangan kanan-nya sambil tersenyum jahat.
Okaho berhasil memegang erat lengan kanan Rina lalu ia melempar-nya ke atas, ia menatap Rina dengan tatapan yang tajam sehingga ia terjebak di dalam tanah, Okaho berubah menjadi udara lalu menyerang Rianna dan Vinna dengan cepat, serangan kasat mata yang tidak dapat mereka rasakan dan lihat begitu saja.
Setelah Okaho berubah kembali ke wujud Legenda-nya, ia berhasil menendang mereka berdua ke depan, Rina kembali menyerang Okaho dengan melayangkan beberapa serangan tetapi semua serangan yang mengenai tubuh Okaho berubah menjadi kelopak bunga yang tidak melukai diri-nya, Rina melebarkan mata-nya lalu ia melompat mundur.
"Dia adalah musuh yang kuat, sama seperti Aiko... dia dapat mengubah realita tetapi tidak ada batasan apapun yang menghalangi diri-nya." Ucap Rina.
"Wah, wah, apakah kalian sudah menyerah begitu saja? Aku baru saja menikmati kekuatan dan kemampuan ini loh, melihat kalian kesulitan menyerang-ku saja sudah memenuhi semangat-ku untuk terus bermain dengan kalian semua." Okaho merasakan serangan yang berasal dari Rivin, ia sepertinya menggunakan ilusi untuk menipu Okaho tetapi ilusi apapun itu...
__ADS_1
Okaho menjentikkan jari-nya sehingga Rivin yang menggunakan ilusi untuk menciptakan bayangan gagal begitu saja, Okaho melihat yang asli lalu ia menunjuk diri-nya sehingga Rivin terlempar ke depan lalu terjatuh. Okaho merasakan sesuatu yang janggal dimana Korin tidak menyerang sama sekali melainkan ia hanya diam di hadapan-nya selagi menunjukkan ekspresi yang penuh dengan nafsu.
"... ..." Okaho tersenyum jahat lalu ia berubah menjadi udara untuk melakukan serangan yang bertubi-tubi kepada Korin sehingga rasa kesakitan yang ia rasakan itu terasa nikmat, "Hyaaahhh~ Nikmat~ Lukai aku lagi~" Korin mengerang keras.
Okaho muncul di atas langit dengan wujud Legenda-nya kembali sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat kebingungan, "Wah, wah... seorang masokis ternyata, pasti menyenangkan!!!" Okaho mendarat di atas Korin lalu ia menendang pantat-nya beberapa kali hingga Korin mengerang penuh dengan kenikmatan ketika merasakan kesakitan tersebut.
"Jangan membuat semua ini menjadi lelucon, sialan!!!" Rina melesat menuju arah Okaho lalu ia berhasil mengenai satu serangan di wajah-nya tetapi Okaho tidak merasakan kesakitan apapun dari tinju yang sudah diselimuti dengan sihir Crimson itu karena ia menggunakan sihir realita untuk mengubah serangan tinju menjadi serangan seperti kertas mengenai wajah-nya.
"Kau juga mau ikutan!?" Okaho tersenyum sadis sehingga ia memegang kaki Rina lalu menghantam-nya kepada Korin beberapa kali, Rina hanya merasakan kesakitan sedangkan Korin hanya merasakan kenikmatan semakin ia terus tersiksa.
"Apa yang kau dapatkan lakukan dengan realita? Tentu saja, mengubah apapun yang aku mau, seperti ini...!!!" Beberapa tentakel muncul di belakang punggung-nya lalu memegang kaki Rivin, Vinna, dan Rianna secara bersamaan, ketika mereka sudah terikat dengan tentakel tersebut... Okaho menghantam mereka semua kepada Korin beberapa kali.
"Okaho... h-h-hentikan... m-m-mereka... s-s-s-sudah k-kalah..." Honoka mulai berbicara di dalam pikiran Okaho.
"Tenang saja, Honoka-ku tercinta, inilah yang mereka dapatkan ketika masuk ke dalam wilayah yang salah. Mama sudah mempercayai-ku sebagai penjaga gerbang maka aku harus bisa membuat diri-nya bangga!!! Hahahahaha!!!" Okaho menambahkan kecepatan seluruh tentakel tersebut hingga mereka mulai beradu dengan Korin beberapa kali.
"Okaho, cukup!" Seru Konari yang baru saja datang, ia mendarat di belakang Okaho sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat serius. Okaho terkejut ketika melihat Konari, ia juga bisa disebut sebagai pengganti Korrina ketika ia sedang tidak ada yang mengartikan bahwa dia adalah Mama-nya juga.
"Sial--- Honoka, bergantian!" Okaho berhenti mengendalikan tubuh Honoka hingga ia sekarang terkejut setengah mati ketika tidak bisa menghentikan tentakel di belakang-nya, Konari menghela nafas-nya lalu ia menepuk wajah-nya pelan sambil menggunakan sihir realita-nya untuk menghilangkan tentakel yang ada di belakang punggung-nya.
"M-M-Maaf, Mama..." Honoka menundukkan kepala-nya beberapa kali kepada Konari, "Tenang saja, yang penting kalian tidak membunuh mereka." Konari mengelus kepala Honoka lalu ia menggunakan sihir telekinesis-nya untuk melayangkan mereka di atas udara.
__ADS_1
Terlihat mereka mencoba untuk melepaskan diri mereka dari sihir telekinesis itu, sepertinya pikiran mereka masih dikendalikan ilusi milik Komi, berbeda dengan Korin yang terlihat seperti bernafas berat sambil menunjukkan ekspresi yang merasakan kenikmatan dari tersiksa. Konari menunjuk mereka semua lalu mencabut sihir ilusi yang berada di dalam pikiran mereka.
"Aahh..." Rina menggelengkan kepala-nya karena ia terasa pusing sekarang, setelah itu mereka kembali seperti semula sambil menatap Konari dengan ekspresi yang terkejut. Mereka bertanya-tanya kenapa bisa mereka tersesat di tempat seperti ini.
Konari menghela nafas-nya lalu ia menjelaskan mereka semua tentang Komi yang sebenarnya, jati diri-nya langsung Konari jelaskan kepada mereka semua tanpa harus langsung kepada inti-nya karena mereka semua harus tau bahwa Komi sudah bukan lagi Korrina Comi yang dulu, jika mereka kembali sekarang maka kesempatan besar Komi akan membunuh mereka tanpa keseganan apapun.
Rina tidak mempercayai apa yang baru saja Konari katakan, ketidakpercayaan itu membuat Konari menunjukkan ekspresi yang kesal sehingga ia menyuruh kepada Okaho untuk menggunakan sihir realita-nya lalu membuka sebuah celah dimana Komi membantai seluruh dewa-dewi di dimensi palsu, bukan hanya itu... dia juga membunuh beberapa populasi palsu yang tidak mau bekerja sama dengan diri-nya.
Mereka semua tidak bisa mengatakan apapun kecuali diam, berbeda dengan Korin yang saat ini masih menikmati injakan Okaho. Rivin, Rianna, dan Vinna bisa menerika fakta dan bukti yang baru saja Konari katakan karena mereka sudah bisa merasakan sesuatu yang aneh dan janggal, Rina masih tidak mempercayai hal itu sehingga ia terbang pergi meninggalkan mereka semua dengan air mata yang meneteskan di mata-nya.
"Kakak...!" Rianna mencoba untuk mengejar-nya tetapi Konari menghalang diri-nya untuk tidak mengejar diri-nya, "Terbunuh atau tersiksa? Itu adalah dua hal yang akan kau rasakan jika kau melarikan diri atau mengejar Rina, sudah saat-nya untuk meningkat dan melupakan-nya..." Kata Konari.
Rianna hanya diam ketika mendengar Konari mengatakan hal seperti itu, sudah saat-nya dia tidak mengikuti jejak Komi... sekarang dia harus mengikuti jejak Korrina Comi yang asli dimana dia benar-benar berbeda diri-nya, Okaho menunjukkan bukti lainnya kepada mereka sehingga Rianna mengerang keras untuk berhenti menunjukkan bukti lain-nya.
"Lagian kau terlalu keras kepala untuk menyadari-nya... Berbeda seperti Korin yang sudah mau menjadi adik-ku." Ucap Okaho sambil menendang-nendang pantat Korin.
Rianna tiba-tiba bersujud kepada Konari, "Maafkan aku... aku mohon... bawalah diri-ku bersama saudara-saudaraku kepada jalan yang benar..."
"...kami benar-benar tersesat." Rianna mulai menangis.
"Tenang saja, kalian aman bersama-ku dengan Korrina." Konari tersenyum.
__ADS_1